LOGIN[How do you avoid the darkly handsome Beta that wants to... eat you?] Camilla: I was sent to Alpha Jackal’s mansion to pay off my foster parent’s debt. It wasn’t something I feared until I learned that Rin, the pack's Beta, is a powerful demon. Now I'm stuck under the same roof as Rin, and there is no chance of avoiding him. I wish I could. Why? Because a demon murdered my parents in cold blood. I fear Rin. Demons are monstrous, which is why it must be one of life's cruel jokes to have inserted Rin into my life. Rin: I should stay away from the new housekeeper, but how could I possibly keep away from the seductive she-wolf? She is gorgeous, and my Alpha would punish me if he knew badly I wanted her to sit on my face, squirming and moaning my name. He can never know the truth, especially not since he seems interested in her too.
View More“Sheza agak cemberut gue tinggal touring. Padahal pulang touring gue janji bakal ngajak makan malam di luar. Dio juga udah rewel banget minta mainan VR.” Prabu harus sedikit berteriak agar Satria menangkap suaranya dari balik helm.
“Kenapa nggak bilang kalau lo punya janji di rumah? Dua minggu lagi ada touring lain. Harusnya kita bisa ikut yang itu aja. Gue jadi nggak enak, Prabu …. Kan gue yang ngajak. Ck!” Satria mengacungkan tinjunya. “Gue cuma kasian sama duda kalau nggak ada yang nemenin. Coba Roman doyan motor dan masuk club kita. Bisa berduaan terus lo berdua karena berstatus pria single,” seru Prabu lagi. “Roman, sih, doyannya night club, bukan club motor!” balas Satria, terbahak di motornya. “Atau sekali-kali lo ikut Roman ke night club. Biar aura lajang Roman nular. Lo nggak kayak duda anak satu lagi!” Prabu lalu tertawa terbahak-bahak. Setengah jam saling berbalas omongan, jalan yang ditempuh semakin mendaki. Permainan gas, kopling dan rem dilakukan dengan handal oleh peserta tour agar motor tetap stabil di tanjakan. Jalan berliku-liku dan mereka nyaris tiba di titik istirahat pertama saat hujan mulai turun. Awalnya hujan tipis, namun kemudian semakin deras. Airnya meluncur membasahi jaket kulit yang membalut rapat tubuh mereka. Dua pria bertubuh nyaris sama tinggi dan tegapnya saling pandang. Satria melirik langit. Terlihat awan gelap bergulung makin menebal. Di sisi kirinya, Prabu menoleh sambil tertawa kecil. "Gas, nggak?" "Tunggu reda dikit, Bu. Anginnya kenceng banget. Neduh dulu, yuk.” Satria menyalakan lampu sen, menuju bawah jembatan kecil. Satria tidak punya firasat apa pun. Pagi itu semuanya normal dan semuanya baik-baik saja. Prabu ada janji dengan keluarga kecilnya dan ia sendiri berjanji akan menjemput Nayla; putrinya di rumah mantan istrinya. Akhir pekan adalah giliran ia menjalankan co-parenting untuk gadis kecil semata wayangnya. Bagi Satria sendiri, ia merasa tidak ada yang berbeda dengannya. Prabu juga cerita seperti biasa. Kecuali kalau boleh dibilang agak berbeda, Prabu memang kadang-kadang diam dan mengecek ponselnya sedikit lebih lama. Prabu kadang berdecak dan menghela napas panjang. Meski sepintas, Satria melihat perubahan wajah sahabatnya itu. “Ada masalah?” tanya Satria saat mereka berdiri bersisian di bawah jembatan. “Nggak adalah. Memangnya muka gue keliatan muka pria ada masalah?” Prabu meninju lengan Satria sambil tertawa. Sama cerianya seperti kemarin-kemarin. "Itu yang lain udah pada jalan. Ada iring-iringan club mobil juga kayaknya. Kita ikut aja. Biar cepet sampai." Prabu naik ke motor dan menyalakannya. "Udah, santai aja. Kita nggak perlu nyusulin yang lain. Masih deras,” kata Satria, berjalan ke tepi jembatan dan mendongak. “Ayo, deh. Gue nggak mau kalau Sheza dan Dio nunggu gue kelamaan.” Prabu bersiap-siap memakai sarung tangannya. Satria meraih lengan Prabu, menahannya. Rautnya jadi ikut gelisah. “Lo tuh, ya. Kalau memang ada janji sama Sheza dan Dio harusnya nggak perlu iyain kalau gue ajak. Asli gue jadi kasian sama mereka. Mau digas sekarang juga jalanan licin, Bu.” Jawaban Prabu saat itu hanya mengangkat bahu. Ia menepuk lengan Satria sebelum melaju. “Ayo, Sat! Gue tinggal juga, nih,” katanya. Entah karena memang firasat, atau entah karena ia yang ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk bercakap-cakap sesama pria. Yang jelas, tak ada alasan lagi untuk berdiri di bawah jembatan kecil itu tanpa Prabu. Satria segera menyalakan motor dan melesat untuk memperpendek jarak dengan sahabatnya. Tikungan sempit. Aspal basah. Kabut putih menelan pandangan. Satria menahan napas. Ia tak melihat lampu belakang motor Prabu. Tangan kanannya menekan gas tapi kemudian urung karena dari arah berlawanan terlihat padat. Ketika pikiran ragu-ragu itu muncul, sebuah bunyi memekakkan telinga membuat matanya terpejam sepersekian detik. BRAAAK! Raungan klakson panjang. Suara besi menghantam besi. Suara yang membuat ulu hati siapa pun mencelos. Satria baru saja keluar dari tikungan ketika dunia dirasanya melambat. Ia melihat sesuatu terlempar ke udara. Sebentuk siluet yang sangat ia kenal. Helm pecah dan serpihannya melayang bersama air hujan. Mata Satria tertuju pada sesuatu. Motor Prabu yang menghantam pembatas jalan, lalu tergilas keras oleh truk kontainer yang tak sempat mengerem. Dentuman logam menggemuruh membuat detik itu tangannya reflek menarik rem. Semua kendaraan di depannya kini terhenti dan gaduh. Satria melompat turun dari motornya. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia berlari dengan teriakan tanpa suara. Tak tahu harus berlari ke mana. Darah di mana-mana. Helm Prabu pecah. Ringsek. Tangannya terangkat ke atas. Gemetar menggapai udara. Memegangi kepalanya dengan linglung. “PRABU!” jerit Satria. “Prabu …!” Satria kembali menjerit. Tubuh sahabatnya itu tergeletak di bawah truk. Masih bernapas. Ia masih melihat Prabu menghela napas meski kepayahan. Matanya separuh terbuka. Bibirnya terbuka pelan. Mencoba mengatakan sesuatu yang tak bisa ditangkap telinga. “Tolong! Tolong!” jerit Satria, meraba-raba ponsel dan menekan nomor darurat yang bisa diingatnya saat itu. ***** (IGD Rumah Sakit Pinggiran Kota) Satria berdiri membeku. Bajunya basah kuyup. Sepatunya berlumpur. Jaket kulitnya tertempel bercak darah yang sudah mengering. Sejak tadi tatapannya tak beranjak dari sosok tampan yang kini bergeming dengan wajah penuh luka lecet. Bagian sisi kanan kepalanya ada jahitan besar. Seorang dokter menutup catatan medis, suaranya datar. “Kepalanya parah, ada pendarahan masif. Kami sudah berusaha, Pak.” Kalimat itu seperti palu godam, tapi Satria bergeming. Rahangnya mengeras, matanya memerah. Ia hanya menatap kain putih yang kini menutupi sahabatnya hingga dada. Tangan Prabu sudah rapi disedekapkan. Suster berjalan pelan ke arahnya. "Bapak kenal korban?" Satria mengangguk seraya menelan ludah. Rahangnya tiba-tiba saja mengeras. "Saya kenal istrinya. Biar saya yang kasih tau,” ucapnya. Entah sudah berapa kali ia mengusap wajahnya sejak tadi. Air mata yang berusaha dihalaunya tak kunjung berhenti. “Bapak telepon atau kita….” “Saya yang kabari langsung. Saya ke rumahnya sekarang.” Satria menggigit bibir bawahnya. “Sekalian urus surat-suratnya juga,” tambahnya pelan. Kali ini sepertinya ia harus benar-benar meninggalkan perawat itu. …CamillaMy lips part. I know what Rin tried to say. He can’t say the word “mate,” but that’s exactly what he was trying to say. Now he is intently staring at me, waiting for either my acceptance or my rejection.And the truth?I don’t know what I want. I’m a werewolf, and while he used to be a werewolf, he is now a demon—could there ever be trust between us? He manipulated me into making love to him. He took away my fear of him, and...it was the best thing in the world. His touch. His kisses. His everything could easily become an addiction, but I’m afraid.If I accept him as my mate and the curse and contract on his breaks, will Rin still be nice to me? He could be pretending to be nice right now. It would surprise me—demons are tricky creatures, and I know how much Rin wishes to be free of the contract he has formed with Alpha Jackal.My inner wolf sighs. ‘But look at him, look at those eyes—even though they are red, they are filled with love. And you can’t fake that emotion, right?’
CamillaMy head is spinning with questions. Is the demon that murdered my parents a friend of Rin? Does he know their name? Rin is a demon, and I have no clue if they have packs or clans like us werewolves, but it’s a possibility.Gosh, how much does he know?I’m so messed up that I can barely keep my voice calm when I repeat the previous question with a different choice of words. This time, I hope he answers. “Rin...do you know who murdered my parents?”He furrows his eyebrows, and my heart falters when I realize he really can’t answer that question. The hold Alpha Jackal got on him is too strong, and Rin quickly averts his eyes so he won’t have to face me. “I have to go.”“Wait, what?” I widen my eyes. “Where?”But Rin is already slipping into the earth and disappearing through the floor. I stare at him until he is gone and then sink down against the wall. Alone again. Just how long is that bastard Alpha Jackal going to keep me locked up in here?As I sit there, wondering about Rin’
CamillaRin’s words feel genuine, and when I look up at him and see the softness in his eyes, I realize that he isn’t lying to me at all. He is speaking the truth.I’m not sure what to do with that information. There are flutters in my chest, and while blushing, I shove my hand into his warm palm and shyly look away.“A-as you may know, I’m not very experienced with men,” I swallow thickly and nervously laugh at the weird things coming out of my mouth. “I mean, of course, you know—you’re the only man I’ve ever kissed. And...shit...”Rin chuckles. “Am I making you nervous?”I nod, unable to ignore the beating of my heart. Rin moves around in the prison cell, seeming to study the chains that are keeping me a prisoner.“Because I am Alpha Jackal’s contracted demon, I cannot release you from your chains, and for that, I sincerely apologize. However, there is something else I can offer you that might make this night better.”I lean forward in anticipation, my eyes searching his. “And what
CamillaWhen I wake up, my head pounds with a ferocity that reverberates through every fiber of my being. Groaning, I crack open my eyes, only to realize I’m confined in what has to be Alpha Jackal’s mansion. After fighting off my dizziness, my gaze falls upon Rin.He is standing behind metallic prison bars, looking as mesmerizing as ever with his exquisite suit and fixed hair. His ice-blue eyes meet mine, and he gives me an assessing look.“How are you feeling?”I scowl at him, unable to form words out of fear of bursting into tears. He grimaces in return and releases a long sigh before continuing. “I know you must think I’m the enemy, but I’m not. Alpha Jackal is my master, and I’m his contracted demon. I had to lock you up when he ordered me to.”“I know that! I’m just...” A frustrated sound leaves my lips, and I lean my forehead against the bars as I glare down at my naked feet, realizing why I’m cold. My clothes have been removed. “I’m just angry at life right now.”Rin falls sil






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews