Beranda / Romansa / The Back-up Plan / Me and The Infidelity

Share

Me and The Infidelity

Penulis: Miss Wicked
last update Tanggal publikasi: 2026-09-27 12:24:17

Aku membalas senyuman dua orang pramugari saat melewati pintu keluar pesawat dan berjalan di garbarata, menyalip orang-orang yang berjalan santai dan langsung memasuki gedung utama bandara. Beruntung aku hanya membawa satu koper kabin, jadi aku bisa langsung keluar dari kerumunan yang masih Aku membalas senyuman dua orang pramugari saat melewati pintu keluar pesawat dan berjalan di garbarata, menyalip orang-orang yang berjalan santai dan langsung memasuki gedung utama bandara. Beruntung aku hanya membawa satu koper kabin, jadi aku bisa langsung keluar dari kerumunan yang menunggu bagasi.

Scott mendadak ada pekerjaan yang tak bisa ditunda. Yang artinya, kami langsung mengurus berkas pembelian dan menyelesaikan semuanya. Bahkan sebelum matahari terbenam. Selain itu, ia begitu sibuk hingga kami hanya bertemu di lobi kantornya.

Setelah selesai mengurus berkasnya, aku langsung menuju bandara, mengambil penerbangan pertama dan pulang. Aku sungguh tak sabar ingin segera bertemu Josh dan melihat sendiri wajah terkejutnya nanti.

Sebelum meninggalkan gedung utama bandara, aku menyempatkan diri untuk masuk ke bilik toilet wanita, mengganti pakaian kerja dengan lingerie dress Agent Provocateur. Aku mengambil fotoku mengenakan lingerie itu dan langsung mengirimkannya pada Josh. Lalu keluar setelah melapisi tubuhku dengan coat berwarna krem yang sudah kuikat kuat.

Aku cukup percaya diri dengan tubuhku, tapi bukan berarti aku akan memamerkannya dengan gratis, sukarela ataupun tidak.

Terlebih lagi, suhu di New York mulai turun dan sekarang pukul 10 malam, yang artinya udaranya akan semakin dingin.

Aku berjalan keluar bandara sambil mengecek ponselku beberapa kali, menunggu balasan Josh atau setidaknya panggilan darinya. Tapi belum ada. Lalu aku mengecek lokasinya di aplikasi yang kami bagikan bersama. Tanda lingkaran itu berada di lokasi yang aku kenal, ia masih berada di kantor.

Baiklah, aku akan mengejutkannya di kantor.

Josh bekerja di sebuah firma hukum yang tidak terlalu besar, tapi ia menjadi salah satu pengacara yang cukup berhasil dengan persentase kemenangan kasus 70%. Aku mengenal pemilik firma hukum tempat Josh bekerja, ia dan Zach—bosku, berteman dekat. Aku dan Josh bertemu di pesta yang diadakan keduanya dan berkenalan di sana. Jujur saja, akulah yang mengejarnya di awal. Ia memiliki senyum manis yang ramah dan menyenangkan, cara bicaranya yang agak kikuk dan canggung saat berkenalan membuatku menyukainya. Setelah beberapa kali berkencan, ia pun mulai membuka diri. Sampai akhirnya kami berpacaran dan bertahan hingga tahun kedua.

Setelah mendapatkan taksi, aku langsung memintanya mengantarku ke kantor Josh. Dan seakan semesta memberkati, perjalananku sangat lancar meski jalanan agak padat.

"Simpan saja kembaliannya," ujarku seraya turun dari taksi sambil mengangkat koperku turun.

Aku mendorong pintu kaca kantor Josh dan mendekati petugas yang berjaga malam itu, seorang pria bertubuh gempal yang tengah menyeruput sesuatu di gelasnya.

"Miss Magnusson," ujarnya terkejut.

"Halo Pete, maaf mengagetkanmu. Aku titip koperku sebentar. Josh masih di atas kan?"

"Umh, yeah... Aku rasa masih."

"Okkie dokkie," jawabku riang, langsung memasuki lift yang pintunya terbuka.

Sesampainya di lantai tiga, aku langsung disambut oleh deretan meja dan kursi yang sudah berbaris rapi. Sebagian besar staf sudah pulang, sehingga lampu banyak yang sudah dimatikan. Hanya tersisa satu lampu di bilik dekat ruangan Josh yang kutahu sebagai meja dari junior-nya.

Aku berjalan mendekati ruangan dengan dinding kaca yang ditutupi tirai abu-abu, lalu melihat layar komputer di meja yang masih terang itu dalam posisi terjaga dan mengabaikannya.

Sambil menahan senyum yang kian lebar, aku mulai mengurai simpul coat yang aku kenakan. Saat langkahku kian dekat dengan ruangan Josh, sayup-sayup bisa kudengar suara desahan.

Apa Josh sedang menonton video porno?

Aku kembali melangkah hingga berdiri di depan pintu ruangannya, dan suara desahan itu kian jelas terdengar.

"Oh, Josh. Lagi... Lagi..."

"Ashley, itu luar biasa."

Itu jelas-jelas bukan video porno. Tanpa menunggu lagi, aku langsung memutar kenop pintu. pegangannya terasa sangat dingin, seakan mencoba memperingatkanku akan sesuatu.

Josh dan junior-nya tengah berdiri berhadapan dalam posisi cabul yang menjijikkan. Josh memegang sebelah kaki perempuan itu, sementara celana hitam yang kukenal sudah melorot di antara kedua kakinya.

Aku terlalu tertegun untuk mengatakan apa pun dan memilih langsung pergi.

"Davina, Davina tunggu!"

Alih-alih menunggu lift, aku memilih menggunakan tangga yang berada di sebelahnya. Tak sanggup menunggu lebih lama dan ingin segera pergi dari dua orang menjijikkan itu.

Nafasku memburu seiring dengan kecepatan langkahku. Ada rasa sesak di dada saat adegan yang baru saja kulihat terus berputar di dalam kepalaku.

"Pete, tolong carikan taksi untukku," ujarku pada Pete. Lelaki kyu langsung keluar pintu kaca dan melambaikan tangan di trotoar, mencoba menghentikan taksi untukku.

"Davina, Dave... Tunggu." Josh menyusul, melihat setelannya yang tidak terlihat rapi membuatku ingin muntah.

Sekarang semua yang aku lihat antara Josh dan wanita itu akan terpatri di ingatanku entah sampai kapan. Seketika, aku merasa perutku bergejolak, isi perutku seakan berusaha berontak dari tempatnya.

"Jangan mendekat," ujarku kecewa, mengulurkan tanganku padanya, meminta jarak.

Josh menghela napas, kekecewaan juga terlihat di wajahnya. "Maafkan aku, Davina..." Terdengar jeda lama, dan entah kenapa aku menunggu sesuatu keluar dari bibirnya selain sekadar permintaan maaf. "Kau berhak mendapatkan yang lebih baik."

"Tentu aku berhak mendapatkan yang lebih baik," bentakku.

Josh menggosok wajahnya, terlihat frustasi, "Aku sungguh-sungguh minta maaf, Davina." Terdengar kesungguhan dari suaranya dan itu nyaris membuatku luluh.

Aku terlalu mencintai lelaki ini.

Josh berhubungan seks dengan perempuan lain tak pernah ada dalam daftar kekhawatiranku saat mengencaninya. Ini membuat rasa marah dan sakit hatiku terasa kian menusuk. Ia ternyata sama saja dengan mantanku sebelumnya, hanya saja ia pandai menutupi kesalahannya dengan wajah polosnya itu.

Kali ini aku tak dapat menahan diri dan langsung menangis, "Dua tahun, Josh. Kenapa kau tega menghancurkan semuanya?"

"Aku... Aku tidak tahu."

Aku mendekat pada Josh dan mendorong dadanya, "Kau tidak tahu? Teganya kau melakukan ini semua padaku tanpa alasan yang jelas?" Suaraku nyaris seperti teriakan dengan suara yang tercekat di tenggorokan.

"Sejujurnya, Dave... Aku merasa tak pantas menjadi kekasihmu."

Aku meledakkan tawa di sela-sela isak tangis yang mulai berhenti, "Kau penuh omong kosong, Josh."

"Tidak semua yang aku ucapkan omong kosong, Dave. Aku sungguh mencintaimu."

Aku tak percaya ia masih berani mengucapkan kalimat itu setelah mengkhianatiku, "Kau bilang kita akan menikah dan punya anak bersama."

Josh menarik napas berat, "Ya, aku tahu."

"Kau tahu kan betapa aku menginginkan sebuah keluarga?"

Mata Josh memerah, suaranya ikut bergetar. "Maafkan aku, Davina."

"Sejak awal kau tidak serius denganku, ya kan?"

"Aku serius. Tidak sulit mencintaimu, Dave. Kau perhatian, kau sangat cantik, luar biasa cantik malah... Dan kau sangat tulus."

"Tapi kau tetap selingkuh." Potongku sambil memalingkan wajah, menatap Pete yang masih berusaha menghentikan taksi di trotoar.

"Kau di luar jangkauanku, Dave, aku tidak bermaksud menyakitimu seperti ini."

Sebelum aku sempat bertanya maksud dari kalimatnya, Pete sudah membuka pintu kaca kembali. "Miss, taksimu sudah menunggu," ujar sang sekuriti sambil membuka pintu kembali.

Aku menyeka air mataku, kembali menatap Josh yang kini juga berlinang air mata. "Kirim kembali semua barangku, terutama espadrille Dior-ku. Dan jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi padaku." Aku tak menunggu jawabannya dan langsung berjalan ke taksi yang pintunya ditahan oleh Pete.

Aku melesakkan tubuhku ke jok kulit berwarna hitam yang beraroma masam dan menutup pintu, “Tolong bawa aku pergi dari sini,” ujarku pada sang supir. Seakan memahami keadaanku, mobil itu melesat cepat menjauhi Josh yang masih berdiri di trotoar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • The Back-up Plan   Me and The Permission

    Sejak kecil, Papa dan Mama selalu mengatakan bahwa keajaiban itu tidak ada. Bagi mereka, keajaiban hanyalah bualan dari para pemalas. Dan menurut mereka, hasil selalu berbanding lurus dengan usaha, itu lah kenapa mereka selalu menunjukkan bekerja keras itu seperti apa.Jadi saat aku melihat Deacon di sana, aku mulai mempertanyakan keberadaan keajaiban. Apakah ia sebenarnya ada? Apakah keajaiban juga bisa terwujud asalkan aku merapalkan keinginanku terus-menerus? Persis seperti yang aku lakukan tadi malam sambil menghabiskan seperempat liter es krim Ben and Jerry's.Aku menerima uluran tangan Deacon, membiarkan tangan besar dan kasar itu merengkuhku sekali lagi."Deacon, benar?"Jantungku tiba-tiba berdenyut lebih cepat. Entah karena keajaiban ini, senyumannya atau gabungan dari semuanya."Ya," jawabnya singkat. "Dengar, aku tidak tahu apa yang dikatakan Shelby. Tapi aku tidak setuju bergabung di suite-mu.""Oh, Deacon. Ayo lah! Aku sudah membayangkan mendengar banyak cerita soal kau d

  • The Back-up Plan   Me and the new guy again.

    "...Please check your personal belongings before leaving the aircraft. Thank you for flying with us, and we hope to see you again soon."Pilot yang membawaku terbang dari JFK ke Miami baru saja mengumumkan kedatangan kami, namun beberapa penumpang sudah bangkit meski lampu indikator pemakaian sabuk pengaman baru saja mati beberapa detik yang lalu. Aku mengamati beberapa penumpang yang tengah menurunkan bagasi kabin mereka, beberapa berpakaian dengan pakaian bermotif ramai dan cerah, atau menenteng topi besar. Sepertinya aku akan berjumpa dengan mereka di kapal pesiar nanti.Saat setengah dari penumpang sudah turun, aku pun mulai bangkit dan keluar dari pesawat, langsung menuju ruangan klaim bagasi bersama puluhan penumpang lain yang menunggu dengan tak sabar. Aku berdiri di salah satu tikungan baggage carousel sambil mengaktifkan kembali layanan selular ponselku. Seketika terdengar suara dentingan berturut-turut diikuti getar pendek-pendek dari benda di tanganku. Aku memandangi banner

  • The Back-up Plan   Me and the memories

    Aku dan Shelby sudah sangat menantikan liburan ini Awalnya kami berpikir untuk menghabiskan waktu di estate kenalanku di Hampton. Lalu Shelby memberikan ide lain, ia ingin pergi ke tempat yang agak jauh karena mertuanya bersedia menjaga anaknya. Shelby tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Beberapa kota terkenal masuk ke dalam daftar kami. Sardinia, Lisbon, Mallorca sampai French Riviera. Lalu Carsson, suami Shelby, mengatakan bahwa Ritz-Carlton akan melayarkan kapal pesiar pertama mereka menuju Karibia. Setelah melihat webnya bersama, kami pun langsung setuju dan memilih Karibia sebagai destinasi liburan kami.Kami sangat bersemangat. Kami sungguh-sungguh tak berhenti membicarakan liburan ini sejak saat itu. Kami saling mengirimi gambar pakaian yang akan kami kenakan, membuat daftar tempat yang akan kami datangi, melihat-lihat fasilitas di kapal. Semuanya.Termasuk Josh.Ia memang bukan alasan utama dibalik liburan ini, tapi aku sudah ratusan kali membayangkan ia juga berada di dala

  • The Back-up Plan   Me and my bestie

    "That despicable geek cheated on you?"Aku biasanya menegur Shelby jika ia meledek Josh dengan panggilan 'geek', tapi tidak kali ini. Bahkan saat ia menambahkan kata 'despicable' di depannya.Aku menjawab dengan anggukan dan melepaskan kacamata polarized aviator-ku. Shelby langsung melotot kaget saat melihat mataku yang bengkak dengan lingkaran gelap di sekelilingnya.Ya, aku tak memegang janjiku pada Deacon untuk tidak menangisi Josh."That pfft..." Shelby bahkan tak sanggup mengeluarkan umpatannya saking kesalnya. "Aku sungguh ingin menancapkan hak sepatu Louboutin-ku ke tengkoraknya."Aku tertawa kecil mendengarnya.Aku membuka tasku dan mengambil surat itu, "Ia menulis surat ini saat mengembalikan barang-barangku kemarin."Shelby langsung menarik surat itu dari tanganku dan membukanya, "Dear Davina, ratusan permintaan maaf tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku. Tapi aku ingin kau tahu bahwa perselingkuhanku tidak ada hubungannya dengan dirimu. Aku hanya terlalu pengecut untuk

  • The Back-up Plan   Me and the new guy (2)

    "Jadi, Davina," ujar Deacon setelah menyesap vodkanya, "Apa ceritamu?""Aku berkencan dengan laki-laki ini selama lebih dari dua tahun. Lalu, hari ini... Baru saja, aku melihatnya sedang berselingkuh dengan rekan kerjanya." Aku menyesap wine-ku, "Kau?""Aku menjalani hubungan jarak jauh dengan seorang wanita. Aku baru tiba tadi pagi untuk memberikannya kejutan. Saat aku mendatangi rumahnya, ternyata ia sudah bertunangan dengan pria lain.""Aku meringis pedih."Yah, begitulah kurang lebih rasanya." Deacon kembali menyesap vodkanya. "Menyedihkan, bukan?""Menurutku ceritaku lebih menyedihkan," ujarku yakin, karena sudah pasti cerita putusku yang paling mengerikan di sini, "Mau bertaruh?"Deacon tampak menggumam lama, "Ronde kedua, es krim." Alisnya bergerak saat ia mengatakan kalimat terakhirnya.Aku mengulurkan tanganku padanya, "Hanya jika es krimnya dairy-free."Deacon menerima jabatan tanganku, "Tentu." Kami lalu melepaskan jabatan tangan.Damn, his hand is huge."Aku melihat kekas

  • The Back-up Plan   Me and the new guy

    Aku menghabiskan dua menit pertama di dalam taksi sambil menangis, menumpahkan kesedihan dan rasa sakit hati hingga merasa lelah. Sampai akhirnya aku bisa mengendalikan diri kembali dan membalas tatapan supir taksi yang duduk di depanku."Maaf, aku tadi—""Kau tak perlu menceritakannya nak, tak apa." Lelaki paruh baya itu menjawab dengan suara beratnya. "Ke Wilshire Apartment, benar?""Ya, terima kasih." Aku menyeka ujung mataku lagi dan menatap ke luar jendela.Dua tahun dan semuanya hancur begitu saja. Aku tak pantas untuknya, katanya? Tentu saja aku tak pantas diperlakukan begini. Aku memberikan segalanya. Perhatianku, waktuku, bahkan aku belajar memasak untuknya, menyiapkan masakan untuknya setiap akhir pekan.Dan begini ia membalasku?Saat air mataku sungguh-sungguh sudah berhenti, aku mendekat ke pengemudi taksi, "Tolong turunkan saja aku di The Champagne Bar?""The Plaza?""Ya, betul.""Oke.""Sopir itu membelokkan mobilnya ke kiri dan aku pun langsung turun. Angin dingin malam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status