Beranda / Romansa / The Back-up Plan / Me and the new guy (2)

Share

Me and the new guy (2)

Penulis: Miss Wicked
last update Tanggal publikasi: 2026-09-27 17:08:05

"Jadi, Davina," ujar Deacon setelah menyesap vodkanya, "Apa ceritamu?"

"Aku berkencan dengan laki-laki ini selama lebih dari dua tahun. Lalu, hari ini... Baru saja, aku melihatnya sedang berselingkuh dengan rekan kerjanya." Aku menyesap wine-ku, "Kau?"

"Aku menjalani hubungan jarak jauh dengan seorang wanita. Aku baru tiba tadi pagi untuk memberikannya kejutan. Saat aku mendatangi rumahnya, ternyata ia sudah bertunangan dengan pria lain."

"Aku meringis pedih.

"Yah, begitulah kurang lebih rasanya." Deacon kembali menyesap vodkanya. "Menyedihkan, bukan?"

"Menurutku ceritaku lebih menyedihkan," ujarku yakin, karena sudah pasti cerita putusku yang paling mengerikan di sini,

"Mau bertaruh?"

Deacon tampak menggumam lama, "Ronde kedua, es krim." Alisnya bergerak saat ia mengatakan kalimat terakhirnya.

Aku mengulurkan tanganku padanya, "Hanya jika es krimnya dairy-free."

Deacon menerima jabatan tanganku, "Tentu." Kami lalu melepaskan jabatan tangan.

Damn, his hand is huge.

"Aku melihat kekasihku, oh tunggu... Mantan kekasihku, sedang berhubungan seks dengan selingkuhannya."

"Oh, sial," ujar Deacon setengah meringis, setengah tertawa, "Maaf, tidak bermaksud menertawakan. Tapi, gila... Itu menyakitkan sekali."

"Aku pergi untuk perjalanan bisnis. Menyelesaikannya dengan cepat, lalu pulang dengan penerbangan pertama sore tadi." Aku mengangkat sedikit bagian atas coat-ku, tapi mata gelap lelaki itu masih terus terpaku pada mataku. "Mengganti pakaianku di toilet bandara, untuk kau tahu, mengejutkannya."

Deacon menggelengkan kepalanya berulang kali, "Dan ternyata malah kau yang terkejut."

"Yep," ujarku, "Aku bahkan tidak tahu sejak kapan ia mulai selingkuh."

Deacon mengedikkan bahunya, kembali meneguk vodkanya sampai habis. "Mungkin mereka awalnya hanya berteman, setidaknya pada kasusku seperti itu."

"Yeah, teman." Ujarku setuju dengan nada mengejek, lalu menyesap habis wine di gelas ketigaku. Atau mungkin empat? "Bermula dari 'Hey, ayo kita makan siang bersama,' dan berakhir dengan 'Hey, ayo bercinta di meja kerjaku saat kantor sepi.'"

"Tunggu, mereka berhubungan seks di kantor?" tanya Deacon kaget. Aku menuangkan kembali wine ke gelasku.

"Ya, aku belum mengatakannya?" Deacon menjawab dengan gelengan kepala. "Mereka bercinta di atas meja kerja. Aku bahkan bisa mendengar desahan mereka dari luar ruangan, tapi aku berpikir mantanku sedang menonton video porno."

Deacon kembali tertawa, aku juga ikut tertawa bersamanya. Entah mengapa aku ikut tertawa bersamanya, seharusnya aku merasa marah. Atau jengkel. Tapi membicarakan ini dengan lelaki baru ini membuatku merasa kisahku tak terlalu menyakitkan.

"Astaga, Davina, aku akan mentraktirmu banyak es krim. Itu sungguh kejam." Deacon meneguk habis vodkanya dan mengulurkan gelasnya padaku, aku menyambutnya dengan mengisi gelasnya dengan wine milikku.

"Yeah, aku tak menyangka ia bisa bersikap sekejam itu. Maksudku, ia terlihat manis. Aku merasa ia tak akan memiliki kemampuan untuk berselingkuh."

Deacon tertawa, "Kau tak akan pernah tahu isi hati seseorang."

"Kau benar." Aku memainkan pinggiran kaki gelas dengan jemariku, "Bagaimana denganmu?"

"Kami memulai hubungan sebelum aku berangkat ke Kuwait, sebagai dokter bedah lapangan." Aku memandangi wajahnya saat ia bicara, matanya menatap jauh ke arah deretan alkohol yang berbaris di belakang Marvin. Tatapannya sendu dan lemah. "Aku selalu ingin menjadi dokter bedah militer, aku juga menceritakan itu padanya. Ia mendukungku, kami membicarakannya, memahami konsekuensinya, semuanya tampak baik dan tidak ada masalah. Sampai akhirnya aku pergi. Masalah kecil mendadak menjadi besar. Hal kecil, seperti terlambat menelepon bisa menjadi perdebatan yang panjang dan melelahkan."

Tiba-tiba kedua mataku terasa panas, bisa memahami yang dirasakan Deacon.

"Beberapa bulan terakhir ia menuntut lebih. Ia ingin aku pulang, sementara aku menyukai pekerjaanku di sana. Lalu intensitas komunikasi kami mulai berkurang, aku merasa ia menjauh dan itu membuatku memikirkan semua hal, termasuk mempertanyakan keputusanku."

"Apa kau harus pulang atau tidak?" Deacon menganggukkan kepalanya lemah, "Dan akhirnya kau pulang."

"Sama sepertimu, aku juga berniat memberikan kejutan padanya. Namun saat aku menghampirinya, seorang pria tak kukenal membukakan pintu untukku. Aku yakin kau bisa menebak bagaimana selanjutnya."

Aku tanpa sadar menyentuh dadaku, ada sesuatu yang menusuk dan tak terlihat di sana. "Mereka bisa saja mengatakan pada kita jika memang tidak lagi ingin berada di dalam hubungan."

"Apa kau mau menerima jika mantanmu mengajak putus?"

"Tentu saja, untuk apa mempertahankan hubungan jika hanya satu orang yang ingin bertahan."

Deacon menatapku dengan alis berkerut, "Waw, kau terdengar berani."

"Aku akan menangis dan bersedih tentu saja." Aku tertawa pelan, "Memangnya kau tidak mau melepaskan kekasihmu jika ia bilang ia tak mencintaimu lagi?"

Deacon menggelengkan kepalanya sambil menahan senyum malu, ia melirik pelan ke arahku.

"Tapi kenapa? Bukankah itu hanya akan menyiksamu?"

"Aku selalu yakin perasaan bisa selalu berubah."

"Yeah, itu benar." Aku memegang gelasku dan menatap warna pink-nya yang cantik, "Tapi apakah kau tidak merasa takut, jika suatu hari nanti ia tetap akan meninggalkanmu?"

"Aku akan menahannya, mengubah perasaannya lagi."

Aku tertawa, "Kau akan melakukannya terus-menerus?"

Deacon mengangguk berkali-kali sambil kembali tersenyum malu. "Menurutku, perasaan itu selalu berubah-ubah, selalu ada sesuatu di baliknya. Jika masih bisa diubah, artinya masih bisa diperbaiki."

Kini Davina menggelengkan kepalanya, "Bagaimana jika pada akhirnya kekasihmu tetap meninggalkanmu?"

"Tak masalah, aku sudah melakukan yang terbaik."

"Kau tidak menyesal sudah menghabiskan waktumu untuk sesuatu yang sia-sia?"

"Deacon menumpukan kaki kanan ke atas kaki kirinya, lalu memajukan tubuhnya. "Apa kau merasa sia-sia karena memperjuangkan sesuatu yang kau yakini akan baik-baik saja?"

Aku menatap mata cokelat gelapnya yang dihiasi bulu mata panjang yang tidak lentik, tapi cukup menyempurnakan fitur wajahnya.

"Bagaimana, Davina? Menurutmu akan sia-sia?"

Aku mengerjapkan mataku dan tersenyum, "Tidak." Jawabku singkat, meneguk wine dari gelasku. Kepalaku mulai terasa ringan.

"Orang luar pasti akan melihatnya sebagai kesia-siaan. Tapi bagiku, orang yang menjalaninya sendiri, apa pun yang terjadi tetap ada kepuasan tersendiri." Ia menggerakkan kepalanya ke arahku, "Meskipun hasilnya tidak sesuai dengan harapanku."

Aku menghela napas, "Ya, benar. Tapi bagiku tetap ada kesia-siaan." Deacon menaikkan alisnya sebelah, "Umurku sudah tidak muda dan aku sangat ingin punya anak dari rahimku sendiri."

"Oh... Itu memang masalah."

"Itulah mengapa aku merasa sangat kecewa diselingkuhi. Kami bahkan sudah membahas soal memiliki anak, akan tinggal di mana, di rumah seperti apa. Ahh..." aku menutup kalimatku dengan geraman kesal.

"Kau bisa saja membekukan sel telurmu."

"Efektivitasnya tidak 100% dan ada kemungkinan gagal. Selain itu, harganya cukup mahal. Aku tidak sekaya itu. Belum sekaya itu."

Deacon tersenyum, "Oh, atau kau bisa melakukan donor sperma,"

"Benar, tapi aku juga membutuhkan seksnya."

Deacon meledakkan tawa lepas yang renyah.

"Apa? Aku mengatakan hal yang sejujurnya."

"Ini memang sifat aslimu atau karena pengaruh alkohol?" tanya Deacon, masih tertawa lepas.

Aku menghela nafas, "Entahlah. Sepertinya aku sudah terlalu banyak minum."

Deacon menarik botol besar berwarna coklat itu ke arahnya, mengamankan benda itu dari jangkauanku.

"Aku suka anak-anak, aku ingin melihat anak kecil yang mirip denganku. Tapi aku juga butuh seks yang penuh hasrat dan mendebarkan." Aku menggumam lama sambil memutar mataku ke langit-langit bar yang berwarna gading. "Atau mungkin aku juga butuh seseorang yang bisa kuandalkan."

Deacon tertawa, "Kau butuh suami, Davina."

"Oh, kau benar." Aku meneguk habis wine-ku dan menatap jam tanganku yang menunjukkan pukul 11 malam. "Bagaimana denganmu? Apa kau akan memohon pada mantanmu dan memintanya kembali."

Deacon tertawa getir, "Tentu saja tidak, aku sudah selesai dengannya. Selain itu aku punya hal lain untuk dipikirkan."

"Yang adalah?"

"Aku pengangguran, sebaiknya aku fokus ke situ terlebih dahulu."

Aku tersenyum menatap wajahnya yang tampan, tampak bersemangat meski baru saja mengalami putus cinta yang mengerikan.

Aku juga pasti bisa merasa setenang dan selega itu. Benar, bukan?

"Menurutmu masih ada gerai es krim yang buka jam segini?" tanya Deacon seraya menghabiskan isi gelasnya

"Yep, Ben & Jerry's. Mereka buka 24 jam di dekat Times Square." Aku melirik lagi jam tanganku.

"Kau yakin masih kuat? Ini cukup larut."

Aku tertawa pelan, "Mind if I take a rain check for the ice cream?. Aku harus bekerja pagi-pagi sekali besok." tanyaku sambil menatap bartender dan mengangkat jariku.

"Tentu, tak masalah. Tempat tinggalmu jauh dari sini?"

Aku menggelengkan kepala, "Hanya berjalan sekitar 5 menit."

"Aku akan mengantarmu." Deacon lalu bangkit dan mengeluarkan kartunya pada Marvin, "Gabungkan bill kami."

Dengan cepat aku mengulurkan tanganku dan mengayunkannya, "Tidak perlu, aku bisa—"

"Aku mohon, sebagai tanda terima kasihku untuk obrolannya. Aku pikir malamku akan sangat membosankan dan menyedihkan di sini."

Aku menatap wajah Deacon yang begitu berharap, lalu menatap Marvin yang menunggu jawabanku.

"Baiklah." Ujarku cepat, "Terima kasih juga karena telah menemaniku malam ini. Kau menyelamatkanku dari ini." Aku mengangkat botol wine di tanganku, "Ini, kau akan membutuhkannya." Aku mengarahkan botol itu pada Deacon dan ia menerimanya.

Deacon mengangguk, masih menahan senyumnya, "Thank you."

Aku turun dari kursi tinggi sambil merapikan coat double-breasted Chloé-ku dan mengikat ulang tali pinggangnya. Setelah menyelesaikan pembayaran, kami langsung keluar dan berjalan di trotoar. Suara kendaraan yang lalu-lalang masih terdengar jelas meski waktu menunjukkan hampir tengah malam, tipikal malam di Manhattan.

"Ngomong-ngomong, kau bermalam di mana?"

"Aku tinggal di sana sebenarnya." Deacon menggerakkan kepalanya ke arah gedung The Palace.

Oh!

"Aku bosan di kamar dan turun untuk bersantai." Ia lalu menoleh ke arahku, berkat stiletto delapan senti-ku perbedaan tinggi kami tidak terlalu jauh, jadi aku bisa melihat dengan jelas mata gelapnya yang misterius, atau ikal rambutnya yang begitu rapi, "Aku senang kau menyolekku tadi dan menawarkan salad."

Aku tertawa sambil menyapu rambut bagian depan wajahku ke balik telinga. Lalu kami terdiam, fokus berjalan. Yang terdengar hanya suara hak sepatu kami membentur lantai beton dan suara kendaraan yang diiringi klakson mobil.

"Itu gedungku."

"Gedung yang sangat cantik."

"Yep," ujarku singkat, "So, kau mau mampir?" ujarku basa-basi demi menjaga sopan santun.

"Aku akan senang sekali. Tapi tidak, terima kasih," balas Deacon cepat, ia memajukan tubuhnya dan berbisik. "Aku tidak mau memanfaatkan wanita yang dorongan seksnya sedang sangat tinggi."

Aku meledakkan tawa, "Kau tahu, mungkin aku yang malah akan memanfaatkanmu.

Deacon tersenyum, "Aku tak akan keberatan, tapi tidak malam ini." Ia terlihat menahan senyum manisnya, "Masuklah, kau terlihat lelah."

Aku tersenyum, merasakan gelenyar di perutku karena gugup. Dua tahun lebih, aku tak pernah mendengar Josh menunjukkan perhatiannya seperti yang Deacon lakukan padaku barusan.

Aku mengangguk dan berjalan pelan memasuki pintu apartemen yang dijaga sekuriti.

"Davina." Deacon meneriakkan namaku.

Oh, aku suka bagaimana namaku meluncur keluar dari bibirnya. Aku menoleh sejenak sebelum masuk.

"Berhenti menangisinya."

Aku tak menjawab, hanya tersenyum sambil memandanginya selama beberapa detik untuk terakhir kali. Lalu aku masuk ke pintu yang dijaga oleh petugas apartemenku.

"Miss Magnusson, ada paket untukmu." Petugas tadi tampak menunduk seperti mengambil sesuatu. Lalu ia menarik sebuah koper berwarna ungu tua.

"Oh, sial." Aku melupakan koper yang kubawa dari perjalanan.

"Tuan Josh mengantarnya sendiri tadi ke sini. Ia sempat menunggu di lobi, tapi memutuskan pergi sebelum anda kembali."

Pertemuan singkatku dengan Deacon sempat membuatku merasa bahwa perselingkuhan yang Josh lakukan tidak lah nyata. Bahwa itu hanya lah sebuah momen kecil yang akan segera terlupakan. Tapi tidak, kejadian itu sangat nyata. Begitu juga dengan rasa pedih di dada yang kembali menyelinap masuk.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • The Back-up Plan   Me and The Permission

    Sejak kecil, Papa dan Mama selalu mengatakan bahwa keajaiban itu tidak ada. Bagi mereka, keajaiban hanyalah bualan dari para pemalas. Dan menurut mereka, hasil selalu berbanding lurus dengan usaha, itu lah kenapa mereka selalu menunjukkan bekerja keras itu seperti apa.Jadi saat aku melihat Deacon di sana, aku mulai mempertanyakan keberadaan keajaiban. Apakah ia sebenarnya ada? Apakah keajaiban juga bisa terwujud asalkan aku merapalkan keinginanku terus-menerus? Persis seperti yang aku lakukan tadi malam sambil menghabiskan seperempat liter es krim Ben and Jerry's.Aku menerima uluran tangan Deacon, membiarkan tangan besar dan kasar itu merengkuhku sekali lagi."Deacon, benar?"Jantungku tiba-tiba berdenyut lebih cepat. Entah karena keajaiban ini, senyumannya atau gabungan dari semuanya."Ya," jawabnya singkat. "Dengar, aku tidak tahu apa yang dikatakan Shelby. Tapi aku tidak setuju bergabung di suite-mu.""Oh, Deacon. Ayo lah! Aku sudah membayangkan mendengar banyak cerita soal kau d

  • The Back-up Plan   Me and the new guy again.

    "...Please check your personal belongings before leaving the aircraft. Thank you for flying with us, and we hope to see you again soon."Pilot yang membawaku terbang dari JFK ke Miami baru saja mengumumkan kedatangan kami, namun beberapa penumpang sudah bangkit meski lampu indikator pemakaian sabuk pengaman baru saja mati beberapa detik yang lalu. Aku mengamati beberapa penumpang yang tengah menurunkan bagasi kabin mereka, beberapa berpakaian dengan pakaian bermotif ramai dan cerah, atau menenteng topi besar. Sepertinya aku akan berjumpa dengan mereka di kapal pesiar nanti.Saat setengah dari penumpang sudah turun, aku pun mulai bangkit dan keluar dari pesawat, langsung menuju ruangan klaim bagasi bersama puluhan penumpang lain yang menunggu dengan tak sabar. Aku berdiri di salah satu tikungan baggage carousel sambil mengaktifkan kembali layanan selular ponselku. Seketika terdengar suara dentingan berturut-turut diikuti getar pendek-pendek dari benda di tanganku. Aku memandangi banner

  • The Back-up Plan   Me and the memories

    Aku dan Shelby sudah sangat menantikan liburan ini Awalnya kami berpikir untuk menghabiskan waktu di estate kenalanku di Hampton. Lalu Shelby memberikan ide lain, ia ingin pergi ke tempat yang agak jauh karena mertuanya bersedia menjaga anaknya. Shelby tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Beberapa kota terkenal masuk ke dalam daftar kami. Sardinia, Lisbon, Mallorca sampai French Riviera. Lalu Carsson, suami Shelby, mengatakan bahwa Ritz-Carlton akan melayarkan kapal pesiar pertama mereka menuju Karibia. Setelah melihat webnya bersama, kami pun langsung setuju dan memilih Karibia sebagai destinasi liburan kami.Kami sangat bersemangat. Kami sungguh-sungguh tak berhenti membicarakan liburan ini sejak saat itu. Kami saling mengirimi gambar pakaian yang akan kami kenakan, membuat daftar tempat yang akan kami datangi, melihat-lihat fasilitas di kapal. Semuanya.Termasuk Josh.Ia memang bukan alasan utama dibalik liburan ini, tapi aku sudah ratusan kali membayangkan ia juga berada di dala

  • The Back-up Plan   Me and my bestie

    "That despicable geek cheated on you?"Aku biasanya menegur Shelby jika ia meledek Josh dengan panggilan 'geek', tapi tidak kali ini. Bahkan saat ia menambahkan kata 'despicable' di depannya.Aku menjawab dengan anggukan dan melepaskan kacamata polarized aviator-ku. Shelby langsung melotot kaget saat melihat mataku yang bengkak dengan lingkaran gelap di sekelilingnya.Ya, aku tak memegang janjiku pada Deacon untuk tidak menangisi Josh."That pfft..." Shelby bahkan tak sanggup mengeluarkan umpatannya saking kesalnya. "Aku sungguh ingin menancapkan hak sepatu Louboutin-ku ke tengkoraknya."Aku tertawa kecil mendengarnya.Aku membuka tasku dan mengambil surat itu, "Ia menulis surat ini saat mengembalikan barang-barangku kemarin."Shelby langsung menarik surat itu dari tanganku dan membukanya, "Dear Davina, ratusan permintaan maaf tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku. Tapi aku ingin kau tahu bahwa perselingkuhanku tidak ada hubungannya dengan dirimu. Aku hanya terlalu pengecut untuk

  • The Back-up Plan   Me and the new guy (2)

    "Jadi, Davina," ujar Deacon setelah menyesap vodkanya, "Apa ceritamu?""Aku berkencan dengan laki-laki ini selama lebih dari dua tahun. Lalu, hari ini... Baru saja, aku melihatnya sedang berselingkuh dengan rekan kerjanya." Aku menyesap wine-ku, "Kau?""Aku menjalani hubungan jarak jauh dengan seorang wanita. Aku baru tiba tadi pagi untuk memberikannya kejutan. Saat aku mendatangi rumahnya, ternyata ia sudah bertunangan dengan pria lain.""Aku meringis pedih."Yah, begitulah kurang lebih rasanya." Deacon kembali menyesap vodkanya. "Menyedihkan, bukan?""Menurutku ceritaku lebih menyedihkan," ujarku yakin, karena sudah pasti cerita putusku yang paling mengerikan di sini, "Mau bertaruh?"Deacon tampak menggumam lama, "Ronde kedua, es krim." Alisnya bergerak saat ia mengatakan kalimat terakhirnya.Aku mengulurkan tanganku padanya, "Hanya jika es krimnya dairy-free."Deacon menerima jabatan tanganku, "Tentu." Kami lalu melepaskan jabatan tangan.Damn, his hand is huge."Aku melihat kekas

  • The Back-up Plan   Me and the new guy

    Aku menghabiskan dua menit pertama di dalam taksi sambil menangis, menumpahkan kesedihan dan rasa sakit hati hingga merasa lelah. Sampai akhirnya aku bisa mengendalikan diri kembali dan membalas tatapan supir taksi yang duduk di depanku."Maaf, aku tadi—""Kau tak perlu menceritakannya nak, tak apa." Lelaki paruh baya itu menjawab dengan suara beratnya. "Ke Wilshire Apartment, benar?""Ya, terima kasih." Aku menyeka ujung mataku lagi dan menatap ke luar jendela.Dua tahun dan semuanya hancur begitu saja. Aku tak pantas untuknya, katanya? Tentu saja aku tak pantas diperlakukan begini. Aku memberikan segalanya. Perhatianku, waktuku, bahkan aku belajar memasak untuknya, menyiapkan masakan untuknya setiap akhir pekan.Dan begini ia membalasku?Saat air mataku sungguh-sungguh sudah berhenti, aku mendekat ke pengemudi taksi, "Tolong turunkan saja aku di The Champagne Bar?""The Plaza?""Ya, betul.""Oke.""Sopir itu membelokkan mobilnya ke kiri dan aku pun langsung turun. Angin dingin malam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status