Home / Romansa / The Back-up Plan / Me and the new guy again.

Share

Me and the new guy again.

Author: Miss Wicked
last update publish date: 2026-10-03 11:31:23

"...Please check your personal belongings before leaving the aircraft. Thank you for flying with us, and we hope to see you again soon."

Pilot yang membawaku terbang dari JFK ke Miami baru saja mengumumkan kedatangan kami, namun beberapa penumpang sudah bangkit meski lampu indikator pemakaian sabuk pengaman baru saja mati beberapa detik yang lalu. Aku mengamati beberapa penumpang yang tengah menurunkan bagasi kabin mereka, beberapa berpakaian dengan pakaian bermotif ramai dan cerah, atau menenteng topi besar. Sepertinya aku akan berjumpa dengan mereka di kapal pesiar nanti.

Saat setengah dari penumpang sudah turun, aku pun mulai bangkit dan keluar dari pesawat, langsung menuju ruangan klaim bagasi bersama puluhan penumpang lain yang menunggu dengan tak sabar. Aku berdiri di salah satu tikungan baggage carousel sambil mengaktifkan kembali layanan selular ponselku. Seketika terdengar suara dentingan berturut-turut diikuti getar pendek-pendek dari benda di tanganku. Aku memandangi banner yang muncul di bagian atas ponsel. Melihat nama pengirim pesan terus bergantian masuk, lalu satu nama muncul yang membuat seluruh tubuhku kaku.

Josh dengan emoji hati berwarna putih.

Aku menghela nafas dan mengunci ponselku kembali, menatap jalur konveyor yang mesinnya mulai berbunyi. Seketika merasa tidak nyaman.

Tidak apa Davina, perlahan saja.

Aku mengetukkan kakiku yang dibalut espadrille Dior berwarna beige, menghitung sampai sepuluh hingga rasa gugup itu perlahan menghilang. Aku akhirnya membuka ponselku kembali, mengabaikan yang mengganggu perasaanku dan langsung masuk ke kolom pesan Shelby.

Shelby: Kabari aku jika sudah sampai.

Aku memegang ponselku dengan kedua tangan dan langsung mengetik balasan.

Davina: Bagasiku belum keluar. Kau di mana? Aku lapar sekali.

Tidak lupa menambahkan emoji sedih, karena aku sungguh-sungguh merasa lapar. Sejak pagi aku sibuk membongkar kembali koperku untuk mengecek beberapa barang, lalu kembali merapikan apartemen sebelum benar-benar meninggalkannya selama tujuh hari.

Ponselku bergetar kembali, pesan dari Shelby masuk menunjukkan nama sebuah ruang santai yang berada di Terminal A kedatangan. Aku mengirimkan emoji padanya dan kembali menatap mesin konveyor yang mulai diisi oleh bagasi-bagasi besar, bersiap untuk dijemput pemiliknya. Aku memandangi satu per satu tas yang keluar, mencari Rimowa-ku yang berwarna jingga terang. Setelah dua puluh menit menunggu, akhirnya koperku terlihat. Aku mengangkat koper besar itu dan mendorongnya keluar dari terminal kedatangan, langsung menuju tempat yang disebutkan Shelby.

"Selamat datang di Lounge MSY, apakah anda anggota?"

"Bukan," jawabku pendek, "Tapi temanku sudah ada di dalam."

"Boleh aku meminta nama teman anda?"

Aku pun menyebutkan nama suami Shelby, karena biasanya ia yang mengurus hal seperti ini.

"Sebelah sini Miss Magnusson, koper anda akan disimpan di sebelah sini bersama koper lain. Ini kartu untuk mengambil koper anda nanti." Petugas tersebut berjalan lebih dulu, membawaku masuk ke area luas dengan pencahayaan redup dan hiasan bunga berwarna-warni.

"Oh itu temanku." Aku mendahului petugas tersebut dan langsung bertemu pandang dengan Shelby.

"Girl!" pekik Shelby saat aku memasuki ruangan. Bangkit dari kursinya sembari melempar serbet ke atas meja. Terlihat begitu bersemangat, membuatku merasakan hal yang sama.

"It's happening." Kami berpelukan seperti dua orang yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu.

"I know." Ia menarik kursi di sampingnya untukku duduk. Tapi perhatianku justru langsung tertuju pada dua piring lain di meja yang sudah tandas isinya. Apa Carsson bertemu rekan kerjanya? "Dimana Carsson?"

"Umh, sedang mengambil kopi sepertinya." Shelby menatap ke sekeliling ruangan, mencari suaminya yang bertubuh ramping dengan rambut pirang seperti dirinya. Aku ikut menatap ke arah matanya namun tak menemukannya. "Kau lapar? aku memesan beignet untukmu. Masih hangat," ujarnya manis, mendorong piring putih ke arahku.

Aku menatap piring kecil berisi bagels dengan isian salmon dan saus putih, lalu ada sayuran di sisi lainnya. Air liur seketika membanjiri rongga mulutku. "Oh, yum!"

Aku dengan cepat mengambil garpu dan pisau, lalu memotong donat besar itu ke dalam ukuran yang bisa masuk ke dalam mulutku. "Enaknya..."

"Uhuh." Shelby menganggukkan kepalanya tanda setuju, memandangiku dengan serius.

"Oh, aku lapar sekali," ujarku pelan, menyuapkan potongan beignet lain ke mulutku.

"Bagaimana penerbangannya?"

"Okay." Jawabku setelah menelan makanan di mulutku, lalu meletakkan alat makan di sisi piring. "Sepertinya banyak penumpang kapal pesiar dalam penerbangan yang sama denganku."

Shelby tertawa, "Yeah, aku juga." Shelby terus memandangiku seakan aku adalah anak kecil yang tengah menikmati kue cokelat pertamanya.

"Oh, sebentar. Aku akan mengambil minum."

"Di pojok sebelah sana." Shelby menunjuk ke arah belakang punggungku.

Aku bangkit dari kursi dan berjalan ke arah yang ditunjuk Shelby sebelumnya. Di meja panjang yang bersandar ke tembok, terdapat minuman dalam dispenser kaca dengan berbagai warna. Aku mengambil gelas ramping di kolongnya dan mengantri. Rasa lapar yang mulai hilang kini digantikan dengan keinginan untuk memakan makanan manis, mataku menatap satu per satu makanan yang berada di dekatku.

Oh, itu dia Carsson. Ia bersandar di pagar balkon sambil memegang cerutu, terlihat tengah bicara dengan pria tapi aku hanya bisa melihat punggungnya. Aku lalu beralih pada mesin dispenser minuman dan mengisi gelasku dengan sari buah apel. Aku kembali ke meja dengan gelas di tangan kiri dan mangkuk kecil berisi potongan kue kecil di tangan kanan.

"Oh, eclair mereka enak sekali. Terutama yang tiramisu."

Aku menatap mangkuk di tanganku yang berisi choux coklat, "Oh, benarkah? Nanti akan aku coba."

"Bagaimana keadaanmu?" Shelby memangku wajahnya di atas meja, menatapku dengan mata biru lembutnya.

"Yeah, lebih baik aku rasa." Aku meneguk jus apel dan memotong beignet lagi, "Setelah dua hari mogok makan, setidaknya selera makanku kembali."

Shelby menyeka rambutku ke balik bahu, "Wajahmu terlihat agak tirus." Nada suaranya begitu menenangkan.

Aku tersenyum menatapnya sebelum menyuapkan beignet ke mulutku lagi. Kami sudah berteman sejak sepuluh tahun lalu, dan aku akhirnya menyadari bahwa Shelby adalah sosok kakak yang selama ini selalu aku inginkan.

"Aku akan merasa lebih baik seiring dengan berjalan ya waktu."

"Oh tentu saja. Terutama setelah perjalanan ini." Aku mengangguk menyetujui kalimatnya. "Itu lah kenapa, aku ingin membahas sesuatu padamu sebelum perjalanan ini dimulai."

Aku meletakkan alat makanku dan mengunyah, siap mendengarkan apapun yang kakak cantik dan baik ini akan ucapkan.

Shelby menggigit bibirnya pelan, tanda bahwa dia sedang agak gugup. "Jadi, begini..."

Aku mengerutkan kening. Aku sudah berteman dengannya cukup lama, dan aku merasa bahwa sebentar lagi ia akan mengatakan hal-hal yang agak tidak masuk akal. Aku tahu. Aku bisa merasakannya. Terutama jika kalimat itu dimulai dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan.

"Apa pesanan kamarku dibatalkan?" Aku menutup mulutku

Shelby tertawa canggung, "Oh, tidak. Itu aman. Tapi masalahnya berada di area itu."

"Oh, ayolah cepat katakan. Kau membuatku khawatir." Aku menyuapkan sepotong bagel lagi.

Shelby kini meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Carsson sempat mengajak salah satu teman lamanya untuk ikut ke dalam perjalanan ini, tapi dia menolak karena alasan pribadi. Lalu beberapa hari yang lalu, ia menghubungi Carsson lagi dan mengatakan akan ikut ke dalam perjalanan ini."

Oh, aku sungguh berpikir terjadi sesuatu yang buruk pada perjalanan ini. Selama perjalanan ini tidak dibatalkan makan semua baik-baik saja. Aku sungguh membutuhkan liburan ini untuk mengalihkan pikiranku.

"Okay, lalu?" Aku mengambil alat makanku lagi dan memotong beignetnya.

"Sayangnya, semua kamar sudah penuh dan—"

"Kau tidak mungkin berpikir aku mau berbagi kamar dengannya, kan?"

Shelby terkekeh, "Ya, itu satu-satunya jalan sebenarnya."

"Shelby, apa kau sudah—"

"Tidak, tidak. Dengar—"

"Aku tidak mau sekamar dengan orang asing," potongku cepat tanpa menunggu Shelby menyelesaikan kalimatnya.

"Ia sahabat Carsson," potong Shelby santai. "Aku memang baru beberapa kali bertemu dengannya, tapi menurutku dia baik." Shelby menutup kalimat sambil tersenyum manis.

"Kau sungguh sudah kehilangan akal sehatmu. Bagaimana jika ia psikopat yang suka mencincang wanita?" ujarku panik, agak histeris.

"Tidak, tidak, tidak. Ia orang yang baik. Sangat baik, sangat ramah, kami mengobrol sepanjang penerbangan menuju kemari."

"Ia sudah berada di sini?" Aku melempar serbet ke atas meja. "Oh, kau dan Carsson sudah tidak waras."

Shelby kembali tersenyum lebar, "Apakah aku sudah bilang ia sahabat Carsson?"

Aku mengerutkan kening, "Sahabatnya yang mana? Kau sudah memperkenalkan kepadaku semua teman-temannya."

"Namanya Deacon. Ia super sopan, juga super tampan..." Shelby mengedipkan sebelah matanya padaku. "Aku yakin ia bisa akur denganmu."

Ada bel yang berdenting di dalam kepalaku saat Shelby menyebutkan sebuah nama.

"Siapa namanya, katamu?"

"Deacon. Ia dan Carsson satu sekolah saat SMA," ulang Shelby.

Sebelum aku sempat mencerna ucapan Shelby, karena tiba-tiba aku bisa merasakan bayangan besar menutupi cahaya lampu dariku. Saat aku hendak menoleh, suara itu menyebutkan namaku. Bukan dengan cara yang familiar, tapi entah bagaimana aku menyukai suaranya saat memanggil namaku.

"Davina."

Aku menengadah ke arah suara, mencoba mencari tahu apakah aku sedang berhalusinasi atau tidak.

"Aku mendengar banyak hal baik tentangmu," ujarnya lagi.

Senyum itu, bulu mata lentik itu, dan rambut ikal itu.

Oh, ya ampun, kami membahas Deacon yang sama!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Back-up Plan   Me and The Permission

    Sejak kecil, Papa dan Mama selalu mengatakan bahwa keajaiban itu tidak ada. Bagi mereka, keajaiban hanyalah bualan dari para pemalas. Dan menurut mereka, hasil selalu berbanding lurus dengan usaha, itu lah kenapa mereka selalu menunjukkan bekerja keras itu seperti apa.Jadi saat aku melihat Deacon di sana, aku mulai mempertanyakan keberadaan keajaiban. Apakah ia sebenarnya ada? Apakah keajaiban juga bisa terwujud asalkan aku merapalkan keinginanku terus-menerus? Persis seperti yang aku lakukan tadi malam sambil menghabiskan seperempat liter es krim Ben and Jerry's.Aku menerima uluran tangan Deacon, membiarkan tangan besar dan kasar itu merengkuhku sekali lagi."Deacon, benar?"Jantungku tiba-tiba berdenyut lebih cepat. Entah karena keajaiban ini, senyumannya atau gabungan dari semuanya."Ya," jawabnya singkat. "Dengar, aku tidak tahu apa yang dikatakan Shelby. Tapi aku tidak setuju bergabung di suite-mu.""Oh, Deacon. Ayo lah! Aku sudah membayangkan mendengar banyak cerita soal kau d

  • The Back-up Plan   Me and the new guy again.

    "...Please check your personal belongings before leaving the aircraft. Thank you for flying with us, and we hope to see you again soon."Pilot yang membawaku terbang dari JFK ke Miami baru saja mengumumkan kedatangan kami, namun beberapa penumpang sudah bangkit meski lampu indikator pemakaian sabuk pengaman baru saja mati beberapa detik yang lalu. Aku mengamati beberapa penumpang yang tengah menurunkan bagasi kabin mereka, beberapa berpakaian dengan pakaian bermotif ramai dan cerah, atau menenteng topi besar. Sepertinya aku akan berjumpa dengan mereka di kapal pesiar nanti.Saat setengah dari penumpang sudah turun, aku pun mulai bangkit dan keluar dari pesawat, langsung menuju ruangan klaim bagasi bersama puluhan penumpang lain yang menunggu dengan tak sabar. Aku berdiri di salah satu tikungan baggage carousel sambil mengaktifkan kembali layanan selular ponselku. Seketika terdengar suara dentingan berturut-turut diikuti getar pendek-pendek dari benda di tanganku. Aku memandangi banner

  • The Back-up Plan   Me and the memories

    Aku dan Shelby sudah sangat menantikan liburan ini Awalnya kami berpikir untuk menghabiskan waktu di estate kenalanku di Hampton. Lalu Shelby memberikan ide lain, ia ingin pergi ke tempat yang agak jauh karena mertuanya bersedia menjaga anaknya. Shelby tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Beberapa kota terkenal masuk ke dalam daftar kami. Sardinia, Lisbon, Mallorca sampai French Riviera. Lalu Carsson, suami Shelby, mengatakan bahwa Ritz-Carlton akan melayarkan kapal pesiar pertama mereka menuju Karibia. Setelah melihat webnya bersama, kami pun langsung setuju dan memilih Karibia sebagai destinasi liburan kami.Kami sangat bersemangat. Kami sungguh-sungguh tak berhenti membicarakan liburan ini sejak saat itu. Kami saling mengirimi gambar pakaian yang akan kami kenakan, membuat daftar tempat yang akan kami datangi, melihat-lihat fasilitas di kapal. Semuanya.Termasuk Josh.Ia memang bukan alasan utama dibalik liburan ini, tapi aku sudah ratusan kali membayangkan ia juga berada di dala

  • The Back-up Plan   Me and my bestie

    "That despicable geek cheated on you?"Aku biasanya menegur Shelby jika ia meledek Josh dengan panggilan 'geek', tapi tidak kali ini. Bahkan saat ia menambahkan kata 'despicable' di depannya.Aku menjawab dengan anggukan dan melepaskan kacamata polarized aviator-ku. Shelby langsung melotot kaget saat melihat mataku yang bengkak dengan lingkaran gelap di sekelilingnya.Ya, aku tak memegang janjiku pada Deacon untuk tidak menangisi Josh."That pfft..." Shelby bahkan tak sanggup mengeluarkan umpatannya saking kesalnya. "Aku sungguh ingin menancapkan hak sepatu Louboutin-ku ke tengkoraknya."Aku tertawa kecil mendengarnya.Aku membuka tasku dan mengambil surat itu, "Ia menulis surat ini saat mengembalikan barang-barangku kemarin."Shelby langsung menarik surat itu dari tanganku dan membukanya, "Dear Davina, ratusan permintaan maaf tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku. Tapi aku ingin kau tahu bahwa perselingkuhanku tidak ada hubungannya dengan dirimu. Aku hanya terlalu pengecut untuk

  • The Back-up Plan   Me and the new guy (2)

    "Jadi, Davina," ujar Deacon setelah menyesap vodkanya, "Apa ceritamu?""Aku berkencan dengan laki-laki ini selama lebih dari dua tahun. Lalu, hari ini... Baru saja, aku melihatnya sedang berselingkuh dengan rekan kerjanya." Aku menyesap wine-ku, "Kau?""Aku menjalani hubungan jarak jauh dengan seorang wanita. Aku baru tiba tadi pagi untuk memberikannya kejutan. Saat aku mendatangi rumahnya, ternyata ia sudah bertunangan dengan pria lain.""Aku meringis pedih."Yah, begitulah kurang lebih rasanya." Deacon kembali menyesap vodkanya. "Menyedihkan, bukan?""Menurutku ceritaku lebih menyedihkan," ujarku yakin, karena sudah pasti cerita putusku yang paling mengerikan di sini, "Mau bertaruh?"Deacon tampak menggumam lama, "Ronde kedua, es krim." Alisnya bergerak saat ia mengatakan kalimat terakhirnya.Aku mengulurkan tanganku padanya, "Hanya jika es krimnya dairy-free."Deacon menerima jabatan tanganku, "Tentu." Kami lalu melepaskan jabatan tangan.Damn, his hand is huge."Aku melihat kekas

  • The Back-up Plan   Me and the new guy

    Aku menghabiskan dua menit pertama di dalam taksi sambil menangis, menumpahkan kesedihan dan rasa sakit hati hingga merasa lelah. Sampai akhirnya aku bisa mengendalikan diri kembali dan membalas tatapan supir taksi yang duduk di depanku."Maaf, aku tadi—""Kau tak perlu menceritakannya nak, tak apa." Lelaki paruh baya itu menjawab dengan suara beratnya. "Ke Wilshire Apartment, benar?""Ya, terima kasih." Aku menyeka ujung mataku lagi dan menatap ke luar jendela.Dua tahun dan semuanya hancur begitu saja. Aku tak pantas untuknya, katanya? Tentu saja aku tak pantas diperlakukan begini. Aku memberikan segalanya. Perhatianku, waktuku, bahkan aku belajar memasak untuknya, menyiapkan masakan untuknya setiap akhir pekan.Dan begini ia membalasku?Saat air mataku sungguh-sungguh sudah berhenti, aku mendekat ke pengemudi taksi, "Tolong turunkan saja aku di The Champagne Bar?""The Plaza?""Ya, betul.""Oke.""Sopir itu membelokkan mobilnya ke kiri dan aku pun langsung turun. Angin dingin malam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status