Home / Romansa / The Back-up Plan / Me and my bestie

Share

Me and my bestie

Author: Miss Wicked
last update publish date: 2026-09-28 07:57:53

"That despicable geek cheated on you?"

Aku biasanya menegur Shelby jika ia meledek Josh dengan panggilan 'geek', tapi tidak kali ini. Bahkan saat ia menambahkan kata 'despicable' di depannya.

Aku menjawab dengan anggukan dan melepaskan kacamata polarized aviator-ku. Shelby langsung melotot kaget saat melihat mataku yang bengkak dengan lingkaran gelap di sekelilingnya.

Ya, aku tak memegang janjiku pada Deacon untuk tidak menangisi Josh.

"That pfft..." Shelby bahkan tak sanggup mengeluarkan umpatannya saking kesalnya. "Aku sungguh ingin menancapkan hak sepatu Louboutin-ku ke tengkoraknya."

Aku tertawa kecil mendengarnya.

Aku membuka tasku dan mengambil surat itu, "Ia menulis surat ini saat mengembalikan barang-barangku kemarin."

Shelby langsung menarik surat itu dari tanganku dan membukanya, "Dear Davina, ratusan permintaan maaf tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku. Tapi aku ingin kau tahu bahwa perselingkuhanku tidak ada hubungannya dengan dirimu. Aku hanya terlalu pengecut untuk bertahan dan bersanding dengan wanita mandiri, penyayang, dan kuat sepertimu. Aku tak bisa menghitung berapa kali aku membayangkan kau meninggalkanku untuk lelaki yang lebih tampan dan kaya. Bayangan itu terus muncul di dalam kepalaku dan membuatku menjadi seorang pengecut. Aku mohon maafkan aku, dan jika rasa benci padaku sudah berkurang, aku harap kita bisa bertemu."

Shelby menghela napas, mengalihkan mata biru cemerlangnya padaku, "Aku tidak menduga isinya akan begitu."

Aku menyeruput smoothie-ku lagi, "Aku merasa kasihan padanya." Aku tak menyangka aku membuatnya begitu menderita selama ini.

"Well, jika ia mencintaimu, ia seharusnya berusaha memperbaiki diri agar tidak merasa insecure dengan kesuksesanmu." Shelby meletakkan surat itu di meja.

"Haruskah aku menemaninya bertemu konsultan karier?" Aku sepertinya mengenal beberapa orang yang tahu soal hal itu, atau jika aku tidak menemukannya, aku yakin G****e bisa membantuku.

Shelby menatapku tajam, "Lalu apa? Kau mau kembali lagi padanya?"

Aku terdiam sejenak, seketika terbayang senyumannya dan mendadak merindukan pelukannya. "Mungkin," ujarku pelan.

"Kau diselingkuhi, astaga... kau harus punya harga diri, sayang." Shelby meninggikan nada suaranya, ia tampaknya sudah mulai kesal.

Aku menarik napas panjang sambil berusaha menahan air mata yang meleleh di dalam kelopak mataku.

"Dengar, satu-satunya masalah di hubungan kalian adalah Josh dan rasa rendah dirinya."

Aku menatap langit Manhattan yang cerah pagi ini, masih berusaha menahan agar air di dalam kelopak mataku tidak tumpah. Kalimat Shelby terus terngiang di dalam kepalaku. Benarkah begitu? Satu-satunya masalah adalah dia, bukan aku?

"Apa karena aku membawa topik soal pernikahan dan anak? Seharusnya aku tidak membahas itu di usia hubungan yang baru berumur dua tahun, ya, kan?"

Shelby menghela napas, "Tidak, Dave, kau bukan masalahnya di sini."

"Lalu kenapa ia selingkuh?"

"Karena ia tidak merasa nyaman dengan pencapaianmu, astaga... Tidakkah kau mendengarkan aku saat membacakan suratnya?" Shelby tampak terdengar kehabisan kesabarannya. "Bajingan itu menulis ini."

Aku mengeluarkan sapu tangan dari dalam tas dan menyeka pelan kedua mataku. "Sial, maafkan aku. Aku terdengar sangat kekanak-kanakan."

Shelby mengulurkan tangannya, "Tidak, aku minta maaf. Harusnya aku bisa lebih sabar denganmu."

Lalu kami diam.

Shelby benar, aku bukanlah masalahnya. Jika Josh benar-benar mencintaiku, ia harusnya mencari jalan keluar atau setidaknya mengajakku bicara untuk mencari solusi.

"Sangat normal bagi wanita jika ingin memiliki keluarga dan anak. Itu bukan masalahnya."

"Aku hanya mengasihaninya, kau tahu. Ia sepertinya memikul beban besar saat mengencaniku."

Shelby mendenguskan tawa, "Kau bukan Kim K dan aku tak paham beban yang kau maksud itu apa."

Aku menahan tawa malu. Shelby benar, itu konyol sekali. Aku kembali terdiam, mencoba berpikir seakan aku berada di sepatu Josh dan menjalani hubungan yang mengintimidasi. Tapi aku tetap tak mengerti, aku tak pernah merasa terintimidasi dengan kesuksesan orang lain. Iri mungkin, dalam artian yang baik, tapi bukan insecure.

Shelby menjentikkan jemari lentiknya yang berbentuk almond di depan wajahku, "Hei, berhenti mencari tahu alasannya. Kau bukan Josh, kau tak akan pernah paham dan bukan tugasmu untuk terus-menerus memahaminya. Apa ia bahkan berusaha memahamimu?"

"Ya, ia sangat suportif soal pekerjaanku."

"Josh bukan suportif, ia hanya melakukan itu untuk menutupi rasa cemasnya. Aku yakin ia hanya mengulang kalimat yang sama setiap kau pergi bertemu klien."

Aku menatap sinis ke arah Shelby dan mengecek ponselku.

Sial, ia benar.

Shelby menyeruput café latte-nya, "Aku tahu tatapan itu. Aku benar, bukan?"

Aku meletakkan ponselku dan memangku wajah.

"Berhenti mencari tahu, terima saja bahwa ia berkhianat karena ia rendah diri dan lanjutkan hidupmu. Kau tak akan bisa memahaminya meski kau tahu alasannya."

Aku melirik Shelby dan memberikan tatapan pasrah. Ia benar, aku tak akan pernah mengerti alasannya.

"Berhenti mengasihaninya dan fokuslah pada kebahagiaanmu sendiri." Nada suara Shelby melembut, seperti saat ia berbicara kepada anaknya, "Tidakkah kau kasihan pada dirimu sendiri?"

Aku menarik napas panjang, "Well, aku kasihan pada sel telurku yang tak kunjung dibuahi."

"Bekukan saja telurmu. Aku yakin kau punya uang untuk itu, atau kau mau aku yang membayarkannya untukmu?"

Aku mendenguskan tawa, "Sebenarnya itu sudah masuk ke dalam rencana cadanganku." Aku meneguk lagi minumanku, seketika teringat percakapanku dengan Deacon tadi malam, "Tapi sejujurnya, aku lebih memikirkan seksnya. Kau tahu... Josh tidak terlalu jago dalam hal itu."

"Nah, sekarang adalah waktu yang tepat untuk kau mengasihani vajayjay-mu."

"Sial, Shelby. Pelankan suaramu, ini masih pukul 8 pagi." Ujarku sambil menahan tawa, aku kembali memakai kacamata hitamku untuk menutupi separuh wajahku dari rasa malu. Karena sudah bisa kupastikan empat atau lima orang yang duduk tak jauh dari kami bisa mendengar semua yang Shelby ucapkan.

"Dengar, tugasmu sekarang adalah menerima semuanya, tak perlu berusaha mengerti, lanjutkan saja hidupmu. Saat kau sudah merasa seperti dirimu kembali, find some mature dick to ride on."

"Ya Tuhan, Shelby, mulutmu." Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, "Apa itu bahkan sebuah kata?" Bisikku menahan tawa. Entah dari mana ia mendapatkan ide soal kata itu.

Shelby tak perlu menahan tawanya, ia memang senang menggodaku dengan kata dan kalimat 'vulgar' semacam itu.

"Okay, okay. Tenang." Ia menyeruput espressonya, "Setidaknya lusa kita akan berkeliling Karibia dan kau tidak akan sedih."

"Aku membayar dua puluh ribu dollar lebih untuk satu kamar di kapal pesiar Ritz-Carlton dan harus menikmatinya sendiri. Bagaimana mungkin aku tidak sedih? Seharusnya kami mencoba berbagai gaya seks di kapal itu dan berharap aku hamil." Aku menghela napas berat.

"Berbagai gaya seks? Kau yakin, sayang? Kau mengatakan seksnya tak begitu baik." Shelby kini berbisik, menutupi sisi bibir dengan telapak tangannya. "Apa ia tak bisa bertahan lebih dari 60 detik? 40 detik? 20?" tanyanya terus-menerus.

Aku tersenyum kecil, tak ingin menjawab pertanyaan Shelby dan memilih menyeruput smoothie-ku lagi.

"Baiklah, jika kau tak mau mengatakannya. Aku sudah cukup senang kau tak harus menghabiskan seluruh hidupmu dengan lelaki yang merasa rendah diri begitu."

Aku mengaduk minumanku, berusaha mencerna kalimat Shelby.

"Davina, dengar... Kau cantik dan jaringan pertemananmu luas. Aku yakin Josh akan tergantikan dalam satu atau dua bulan." Shelby menatapku serius, "Mark dari divisi desainku masih menanyaimu terus, kau tahu? Aku bisa menjodohkan kalian jika kau mau."

Aku menggumam lama, "Akan aku pikirkan setelah kita kembali dari Karibia. Untuk sementara ini aku ingin membersihkan diri dari sisa-sisa Josh."

"Itu baru Davina yang aku kenal," balas Shelby bangga.

"Sial, apa yang harus kulakukan selama di kapal dengan kamar sebesar itu?"

"Santai, itu Ritz-Carlton. Kau akan menemukan kegiatan di sana. Jika pun tidak, kau akan bertemu lelaki tampan di sana atau di pulau yang kita singgahi."

"Yeah, mungkin." Aku mengetukkan jariku di meja, "Untuk keadaan darurat, aku akan menyewa dua jenis vibrator."

"Sial, Davina. Ini masih jam 8 pagi." Balas Shelby, mengulang kalimatku dan menyeruput kopinya dengan santai, matanya dengan santai melirik ke kanan dan ke kiri. Ia berhasil membalasku.

"Fuck you." Aku berbisik sambil menggelengkan kepala, Shelby tertawa lebar saat mendengarku mengumpat.

"Jika kau butuh waktu lagi dan ingin menjual tiket kapal pesiarnya, kabari aku saja, ya? Aku bisa menemukan seseorang yang mau membeli kamarmu."

"Tidak, tidak akan." Aku menggerakkan jari telunjukku ke kiri dan ke kanan berulang kali, "Ini liburan pertama kita setelah dua tahun terakhir kau disibukkan mengurus anak pertamamu. Perang Dunia Ketiga pun tak akan membuatku mundur dari perjalanan ini," ujarku mantap. Sudah merasa jauh lebih baik setelah obrolanku dengan Shelby.

Shelby mengulurkan tangannya mengajakku high five, "Aku tak sabar mengenakan baju-baju yang kita beli bersama."

Aku menyambut tangannya, "Ahh, aku juga. Ayo, aku harus berangkat sekarang," ujarku sambil menghabiskan smoothie-ku.

"Baiklah, sampai bertemu di bandara." Kamu bertukar kecupan di pipi.

"Bye!"

Kami berdua pun berpisah. Shelby langsung menaiki mobil yang dikendarai supirnya, sementara aku berjalan kembali ke apartemenku.

Kembali merasa sedikit bersemangat untuk perjalanan wisata kami bersama. Ini akan menyenangkan, sangat menyenangkan. Aku yakin begitu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Back-up Plan   Me and The Permission

    Sejak kecil, Papa dan Mama selalu mengatakan bahwa keajaiban itu tidak ada. Bagi mereka, keajaiban hanyalah bualan dari para pemalas. Dan menurut mereka, hasil selalu berbanding lurus dengan usaha, itu lah kenapa mereka selalu menunjukkan bekerja keras itu seperti apa.Jadi saat aku melihat Deacon di sana, aku mulai mempertanyakan keberadaan keajaiban. Apakah ia sebenarnya ada? Apakah keajaiban juga bisa terwujud asalkan aku merapalkan keinginanku terus-menerus? Persis seperti yang aku lakukan tadi malam sambil menghabiskan seperempat liter es krim Ben and Jerry's.Aku menerima uluran tangan Deacon, membiarkan tangan besar dan kasar itu merengkuhku sekali lagi."Deacon, benar?"Jantungku tiba-tiba berdenyut lebih cepat. Entah karena keajaiban ini, senyumannya atau gabungan dari semuanya."Ya," jawabnya singkat. "Dengar, aku tidak tahu apa yang dikatakan Shelby. Tapi aku tidak setuju bergabung di suite-mu.""Oh, Deacon. Ayo lah! Aku sudah membayangkan mendengar banyak cerita soal kau d

  • The Back-up Plan   Me and the new guy again.

    "...Please check your personal belongings before leaving the aircraft. Thank you for flying with us, and we hope to see you again soon."Pilot yang membawaku terbang dari JFK ke Miami baru saja mengumumkan kedatangan kami, namun beberapa penumpang sudah bangkit meski lampu indikator pemakaian sabuk pengaman baru saja mati beberapa detik yang lalu. Aku mengamati beberapa penumpang yang tengah menurunkan bagasi kabin mereka, beberapa berpakaian dengan pakaian bermotif ramai dan cerah, atau menenteng topi besar. Sepertinya aku akan berjumpa dengan mereka di kapal pesiar nanti.Saat setengah dari penumpang sudah turun, aku pun mulai bangkit dan keluar dari pesawat, langsung menuju ruangan klaim bagasi bersama puluhan penumpang lain yang menunggu dengan tak sabar. Aku berdiri di salah satu tikungan baggage carousel sambil mengaktifkan kembali layanan selular ponselku. Seketika terdengar suara dentingan berturut-turut diikuti getar pendek-pendek dari benda di tanganku. Aku memandangi banner

  • The Back-up Plan   Me and the memories

    Aku dan Shelby sudah sangat menantikan liburan ini Awalnya kami berpikir untuk menghabiskan waktu di estate kenalanku di Hampton. Lalu Shelby memberikan ide lain, ia ingin pergi ke tempat yang agak jauh karena mertuanya bersedia menjaga anaknya. Shelby tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Beberapa kota terkenal masuk ke dalam daftar kami. Sardinia, Lisbon, Mallorca sampai French Riviera. Lalu Carsson, suami Shelby, mengatakan bahwa Ritz-Carlton akan melayarkan kapal pesiar pertama mereka menuju Karibia. Setelah melihat webnya bersama, kami pun langsung setuju dan memilih Karibia sebagai destinasi liburan kami.Kami sangat bersemangat. Kami sungguh-sungguh tak berhenti membicarakan liburan ini sejak saat itu. Kami saling mengirimi gambar pakaian yang akan kami kenakan, membuat daftar tempat yang akan kami datangi, melihat-lihat fasilitas di kapal. Semuanya.Termasuk Josh.Ia memang bukan alasan utama dibalik liburan ini, tapi aku sudah ratusan kali membayangkan ia juga berada di dala

  • The Back-up Plan   Me and my bestie

    "That despicable geek cheated on you?"Aku biasanya menegur Shelby jika ia meledek Josh dengan panggilan 'geek', tapi tidak kali ini. Bahkan saat ia menambahkan kata 'despicable' di depannya.Aku menjawab dengan anggukan dan melepaskan kacamata polarized aviator-ku. Shelby langsung melotot kaget saat melihat mataku yang bengkak dengan lingkaran gelap di sekelilingnya.Ya, aku tak memegang janjiku pada Deacon untuk tidak menangisi Josh."That pfft..." Shelby bahkan tak sanggup mengeluarkan umpatannya saking kesalnya. "Aku sungguh ingin menancapkan hak sepatu Louboutin-ku ke tengkoraknya."Aku tertawa kecil mendengarnya.Aku membuka tasku dan mengambil surat itu, "Ia menulis surat ini saat mengembalikan barang-barangku kemarin."Shelby langsung menarik surat itu dari tanganku dan membukanya, "Dear Davina, ratusan permintaan maaf tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku. Tapi aku ingin kau tahu bahwa perselingkuhanku tidak ada hubungannya dengan dirimu. Aku hanya terlalu pengecut untuk

  • The Back-up Plan   Me and the new guy (2)

    "Jadi, Davina," ujar Deacon setelah menyesap vodkanya, "Apa ceritamu?""Aku berkencan dengan laki-laki ini selama lebih dari dua tahun. Lalu, hari ini... Baru saja, aku melihatnya sedang berselingkuh dengan rekan kerjanya." Aku menyesap wine-ku, "Kau?""Aku menjalani hubungan jarak jauh dengan seorang wanita. Aku baru tiba tadi pagi untuk memberikannya kejutan. Saat aku mendatangi rumahnya, ternyata ia sudah bertunangan dengan pria lain.""Aku meringis pedih."Yah, begitulah kurang lebih rasanya." Deacon kembali menyesap vodkanya. "Menyedihkan, bukan?""Menurutku ceritaku lebih menyedihkan," ujarku yakin, karena sudah pasti cerita putusku yang paling mengerikan di sini, "Mau bertaruh?"Deacon tampak menggumam lama, "Ronde kedua, es krim." Alisnya bergerak saat ia mengatakan kalimat terakhirnya.Aku mengulurkan tanganku padanya, "Hanya jika es krimnya dairy-free."Deacon menerima jabatan tanganku, "Tentu." Kami lalu melepaskan jabatan tangan.Damn, his hand is huge."Aku melihat kekas

  • The Back-up Plan   Me and the new guy

    Aku menghabiskan dua menit pertama di dalam taksi sambil menangis, menumpahkan kesedihan dan rasa sakit hati hingga merasa lelah. Sampai akhirnya aku bisa mengendalikan diri kembali dan membalas tatapan supir taksi yang duduk di depanku."Maaf, aku tadi—""Kau tak perlu menceritakannya nak, tak apa." Lelaki paruh baya itu menjawab dengan suara beratnya. "Ke Wilshire Apartment, benar?""Ya, terima kasih." Aku menyeka ujung mataku lagi dan menatap ke luar jendela.Dua tahun dan semuanya hancur begitu saja. Aku tak pantas untuknya, katanya? Tentu saja aku tak pantas diperlakukan begini. Aku memberikan segalanya. Perhatianku, waktuku, bahkan aku belajar memasak untuknya, menyiapkan masakan untuknya setiap akhir pekan.Dan begini ia membalasku?Saat air mataku sungguh-sungguh sudah berhenti, aku mendekat ke pengemudi taksi, "Tolong turunkan saja aku di The Champagne Bar?""The Plaza?""Ya, betul.""Oke.""Sopir itu membelokkan mobilnya ke kiri dan aku pun langsung turun. Angin dingin malam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status