LOGINSejak kecil, Papa dan Mama selalu mengatakan bahwa keajaiban itu tidak ada. Bagi mereka, keajaiban hanyalah bualan dari para pemalas. Dan menurut mereka, hasil selalu berbanding lurus dengan usaha, itu lah kenapa mereka selalu menunjukkan bekerja keras itu seperti apa.Jadi saat aku melihat Deacon di sana, aku mulai mempertanyakan keberadaan keajaiban. Apakah ia sebenarnya ada? Apakah keajaiban juga bisa terwujud asalkan aku merapalkan keinginanku terus-menerus? Persis seperti yang aku lakukan tadi malam sambil menghabiskan seperempat liter es krim Ben and Jerry's.Aku menerima uluran tangan Deacon, membiarkan tangan besar dan kasar itu merengkuhku sekali lagi."Deacon, benar?"Jantungku tiba-tiba berdenyut lebih cepat. Entah karena keajaiban ini, senyumannya atau gabungan dari semuanya."Ya," jawabnya singkat. "Dengar, aku tidak tahu apa yang dikatakan Shelby. Tapi aku tidak setuju bergabung di suite-mu.""Oh, Deacon. Ayo lah! Aku sudah membayangkan mendengar banyak cerita soal kau d
"...Please check your personal belongings before leaving the aircraft. Thank you for flying with us, and we hope to see you again soon."Pilot yang membawaku terbang dari JFK ke Miami baru saja mengumumkan kedatangan kami, namun beberapa penumpang sudah bangkit meski lampu indikator pemakaian sabuk pengaman baru saja mati beberapa detik yang lalu. Aku mengamati beberapa penumpang yang tengah menurunkan bagasi kabin mereka, beberapa berpakaian dengan pakaian bermotif ramai dan cerah, atau menenteng topi besar. Sepertinya aku akan berjumpa dengan mereka di kapal pesiar nanti.Saat setengah dari penumpang sudah turun, aku pun mulai bangkit dan keluar dari pesawat, langsung menuju ruangan klaim bagasi bersama puluhan penumpang lain yang menunggu dengan tak sabar. Aku berdiri di salah satu tikungan baggage carousel sambil mengaktifkan kembali layanan selular ponselku. Seketika terdengar suara dentingan berturut-turut diikuti getar pendek-pendek dari benda di tanganku. Aku memandangi banner
Aku dan Shelby sudah sangat menantikan liburan ini Awalnya kami berpikir untuk menghabiskan waktu di estate kenalanku di Hampton. Lalu Shelby memberikan ide lain, ia ingin pergi ke tempat yang agak jauh karena mertuanya bersedia menjaga anaknya. Shelby tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Beberapa kota terkenal masuk ke dalam daftar kami. Sardinia, Lisbon, Mallorca sampai French Riviera. Lalu Carsson, suami Shelby, mengatakan bahwa Ritz-Carlton akan melayarkan kapal pesiar pertama mereka menuju Karibia. Setelah melihat webnya bersama, kami pun langsung setuju dan memilih Karibia sebagai destinasi liburan kami.Kami sangat bersemangat. Kami sungguh-sungguh tak berhenti membicarakan liburan ini sejak saat itu. Kami saling mengirimi gambar pakaian yang akan kami kenakan, membuat daftar tempat yang akan kami datangi, melihat-lihat fasilitas di kapal. Semuanya.Termasuk Josh.Ia memang bukan alasan utama dibalik liburan ini, tapi aku sudah ratusan kali membayangkan ia juga berada di dala
"That despicable geek cheated on you?"Aku biasanya menegur Shelby jika ia meledek Josh dengan panggilan 'geek', tapi tidak kali ini. Bahkan saat ia menambahkan kata 'despicable' di depannya.Aku menjawab dengan anggukan dan melepaskan kacamata polarized aviator-ku. Shelby langsung melotot kaget saat melihat mataku yang bengkak dengan lingkaran gelap di sekelilingnya.Ya, aku tak memegang janjiku pada Deacon untuk tidak menangisi Josh."That pfft..." Shelby bahkan tak sanggup mengeluarkan umpatannya saking kesalnya. "Aku sungguh ingin menancapkan hak sepatu Louboutin-ku ke tengkoraknya."Aku tertawa kecil mendengarnya.Aku membuka tasku dan mengambil surat itu, "Ia menulis surat ini saat mengembalikan barang-barangku kemarin."Shelby langsung menarik surat itu dari tanganku dan membukanya, "Dear Davina, ratusan permintaan maaf tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku. Tapi aku ingin kau tahu bahwa perselingkuhanku tidak ada hubungannya dengan dirimu. Aku hanya terlalu pengecut untuk
"Jadi, Davina," ujar Deacon setelah menyesap vodkanya, "Apa ceritamu?""Aku berkencan dengan laki-laki ini selama lebih dari dua tahun. Lalu, hari ini... Baru saja, aku melihatnya sedang berselingkuh dengan rekan kerjanya." Aku menyesap wine-ku, "Kau?""Aku menjalani hubungan jarak jauh dengan seorang wanita. Aku baru tiba tadi pagi untuk memberikannya kejutan. Saat aku mendatangi rumahnya, ternyata ia sudah bertunangan dengan pria lain.""Aku meringis pedih."Yah, begitulah kurang lebih rasanya." Deacon kembali menyesap vodkanya. "Menyedihkan, bukan?""Menurutku ceritaku lebih menyedihkan," ujarku yakin, karena sudah pasti cerita putusku yang paling mengerikan di sini, "Mau bertaruh?"Deacon tampak menggumam lama, "Ronde kedua, es krim." Alisnya bergerak saat ia mengatakan kalimat terakhirnya.Aku mengulurkan tanganku padanya, "Hanya jika es krimnya dairy-free."Deacon menerima jabatan tanganku, "Tentu." Kami lalu melepaskan jabatan tangan.Damn, his hand is huge."Aku melihat kekas
Aku menghabiskan dua menit pertama di dalam taksi sambil menangis, menumpahkan kesedihan dan rasa sakit hati hingga merasa lelah. Sampai akhirnya aku bisa mengendalikan diri kembali dan membalas tatapan supir taksi yang duduk di depanku."Maaf, aku tadi—""Kau tak perlu menceritakannya nak, tak apa." Lelaki paruh baya itu menjawab dengan suara beratnya. "Ke Wilshire Apartment, benar?""Ya, terima kasih." Aku menyeka ujung mataku lagi dan menatap ke luar jendela.Dua tahun dan semuanya hancur begitu saja. Aku tak pantas untuknya, katanya? Tentu saja aku tak pantas diperlakukan begini. Aku memberikan segalanya. Perhatianku, waktuku, bahkan aku belajar memasak untuknya, menyiapkan masakan untuknya setiap akhir pekan.Dan begini ia membalasku?Saat air mataku sungguh-sungguh sudah berhenti, aku mendekat ke pengemudi taksi, "Tolong turunkan saja aku di The Champagne Bar?""The Plaza?""Ya, betul.""Oke.""Sopir itu membelokkan mobilnya ke kiri dan aku pun langsung turun. Angin dingin malam







