Beranda / Romansa / The Back-up Plan / Me and the memories

Share

Me and the memories

Penulis: Miss Wicked
last update Tanggal publikasi: 2026-09-29 20:38:05

Aku dan Shelby sudah sangat menantikan liburan ini Awalnya kami berpikir untuk menghabiskan waktu di estate kenalanku di Hampton. Lalu Shelby memberikan ide lain, ia ingin pergi ke tempat yang agak jauh karena mertuanya bersedia menjaga anaknya. Shelby tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Beberapa kota terkenal masuk ke dalam daftar kami. Sardinia, Lisbon, Mallorca sampai French Riviera. Lalu Carsson, suami Shelby, mengatakan bahwa Ritz-Carlton akan melayarkan kapal pesiar pertama mereka menuju Karibia. Setelah melihat webnya bersama, kami pun langsung setuju dan memilih Karibia sebagai destinasi liburan kami.

Kami sangat bersemangat. Kami sungguh-sungguh tak berhenti membicarakan liburan ini sejak saat itu. Kami saling mengirimi gambar pakaian yang akan kami kenakan, membuat daftar tempat yang akan kami datangi, melihat-lihat fasilitas di kapal. Semuanya.

Termasuk Josh.

Ia memang bukan alasan utama dibalik liburan ini, tapi aku sudah ratusan kali membayangkan ia juga berada di dalam liburan itu, bersamaku. Aku ingin menikmati liburan ini dengannya, membuat kenangan bersamanya, mengisi hari dengan membicarakan masa depan bersama-sama. Dan sekarang, setelah semua yang terjadi, aku harus melupakan semua rencana itu. Tak hanya melupakannya, aku juga harus menikmati liburan itu dengan sisa-sisa kepingan dan kewarasan yang tampaknya tak tersisa banyak.

Ponselku berdenting, nama Shelby muncul di layar. Bukan nama yang aku harapkan muncul, jujur saja. Tapi aku tetap membuka pesannya. Ia mengirimkan kutipan dari gambar yang aku yakin ia temukan dari P*******t.

Forget what you feel, remember what you deserve.

Ini kutipan kelima yang Shelby kirim sejak pagi, dan sekarang aku mulai merasa... entahlah, aku tak bisa mendeskripsikannya. Aku merasa sedih, itu jelas. Ada rasa sesak yang muncul setiap kali aku melihat barang-barang milik Josh di sini. Ada rasa muak yang juga muncul setiap kali aku termenung dan teringat pada adegan menjijikkan yang aku lihat beberapa malam lalu. Tapi aku tidak bisa menangis meski aku ingin. Seakan-akan seluruh cadangan air mataku sudah habis untuk dikeluarkan.

Aku mengetuk pesan Shelby dua kali, tanda hati merah seketika muncul. Aku kembali mengabaikan ponselku sampai layarnya berubah gelap, dan beralih pada mangkuk kaca kecil berisi overnight oats yang berada di sebelahnya. Hawa dingin yang dibawanya dari kulkas telah menguap, menyisakan bulir-bulir air di bagian luar mangkuknya. Aku masih kehilangan selera makan. Satu-satunya makanan yang masuk ke tubuhku sejak kemarin hanyalah kacang-kacangan yang aku makan satu sampai tiga butir saat perutku terasa perih dan tubuhku terasa lemas. Aku tahu ini tidak sehat, tapi setidaknya aku tidak menenggelamkan diri dalam alkohol seperti kemarin malam. Atau nekat membalas pesan yang dikirim Josh sejak dua hari lalu.

Aku memandangi gelas kaca sambil menatap lapisan demi lapisan overnight oats di tanganku. Puding yogurt biji chia, potongan strawberry kering, rolled oats dan kacang almond. Itu semua adalah makanan yang aku suka. Tapi bahkan makanan secantik dan selezat ini tak mampu menggerakkan nafsu makanku. Karena tak peduli secantik apapun dirimu, kau tak akan bisa mengubah ketertarikan seseorang. Benar begitu bukan?

Hah, aku konyol sekali. Aku pasti sudah gila sampai memproyeksikan kisah percintaanku yang sudah kandas ini dengan semangkuk yogurt.

Tidak, aku akan menghargai keberadaanmu wahai overnight oats. Kau telah menjadi makanan yang menemaniku selama beberapa tahun terakhir, kau adalah pilihan utamaku setiap hari sebelum memulai hari. Dan hari ini, kau akan mendampingiku membuang seluruh barang-barang milik Josh yang tersisa di sini.

Aku menusuk bagian pinggir mangkuk dengan sendok dan mencungkilnya, cepat-cepat aku mengarahkan sendok setengah penuh itu ke dalam mulutku sebelum aku berubah pikiran. Saat indera pengecapku menerima makanan itu, air liur langsung membanjiri rongga mulutku. Perutku bergetar dan aku memejamkan mataku untuk mensyukuri betapa nikmat rasa makanan itu.

This too shall pass.

Aku ingat gambar yang dikirim Shelby pagi tadi. Ia benar, ini juga akan terlewati. Just fake it till

you make it.

Aku menyuapkan satu sendok penuh overnight oats ke dalam mulutku dan membiarkan mereka semua meleleh dalam mulutku. Lalu aku berjalan ke lukisan abstrak yang berada di sisi tv. Menariknya dari tembok dan membantingnya ke dalam kardus coklat besar.

Itu adalah lukisan yang dibuat oleh aku dan Josh dalam salah satu kencan kami. Dan sejujurnya, aku tak pernah menyukai lukisan itu. Entah kenapa aku mau merusak estetika apartemenku yang minimalis ini dengan warna mencolok seperti itu. Aku seketika teringat pada barang berikutnya; cangkir. Aku berjalan ke dapur dan mengambil mug besar milik Josh di dalam lemari gantung. Aku mengangkat tinggi-tinggi gelas dengan nama firma hukum tempat Josh bekerja, bersiap membantingnya ke dalam kardus. Tapi aku batalkan, aku menyimpannya perlahan ke dalam kardus. Aku memang marah dan Josh jelas salah, tapi bukan berarti aku harus menghancurkan semuanya.

Kau melakukannya dengan baik, Davina. Keep going.

Aku kembali ke dapur dan mengambil semua barang milik Josh yang ada di sana. Lalu beralih ke kamar mandi dan begitulah seterusnya. Aku menyusuri setiap sudut rumah, menyapu setiap rak, hingga membongkar tempat yang paling jarang aku buka sekalipun. Semua barang milik Josh ataupun pemberian dari Josh, harus keluar dari apartemenku hari ini.

Tiga jam kemudian aku baru benar-benar berhenti, semua barang milik Josh terkumpul dalam satu boks berukuran sedang yang nyaris tak bisa ditutup. Aku juga akhirnya menghabiskan overnight oats-ku, karena beberapa kali aku merasa pusing saat bangkit dari posisi jongkok ke posisi duduk.

Aku baru keluar dari kamar mandi saat ponselku berdenting beberapa kali, sebuah pesan masuk lewat aplikasi layanan jasa antar. Aku membalas pesannya dan langsung berpakaian, dalam sepuluh menit aku sudah berada di lobby untuk menyerahkan boks tersebut.

"Untukmu," ujarku sembari mengulurkan selembar uang. "Nomor teleponnya sudah aku tulis. Jika ia tidak mengangkat, titip saja pada penjaga. Jika ia menolak menerimanya, berikan saja barang itu pada siapapun yang kau temui. Asal tidak mengembalikannya padaku."

"Yes, Ma'am." Lelaki itu tersenyum lebar saat menerima uang tip dariku dengan jumlah yang cukup besar. Tak lama ia pun pergi dengan motor listriknya.

Aku menatap kendaraan kecil itu melesat pergi tanpa suara, menatap boks yang duduk di belakang tubuh sang pengendara dengan tegak. Aku pernah berharap Josh membawa boks berisi barang miliknya untuk masuk ke dalam hidupku, tapi malah berakhir mengirimkan barang-barang miliknya kembali.

"Davina..."

Aku dengan cepat menoleh, telat menyadari betapa familiar suara itu. Suara yang biasanya datang bersamaan dengan aroma musk yang selalu menemaniku selama dua tahun terakhir.

Lalu mata kami bertemu. Josh berdiri tak jauh dariku, mengenakan jaket parka yang selalu terlihat cocok dikenakan di tubuh rampingnya. Di depan tubuhnya, ia memangku sebuah boks berukuran kecil yang tidak tertutup rapat.

"Oh, aku baru saja mengirim barang-barangmu," ujarku santai. Nyaris tak dapat percaya betapa santai dan tenangnya aku saat seluruh kalimat itu keluar dari mulutku.

"Aku tau, aku melihatnya tadi." Josh membalas kalimatku dengan senyum tipis yang teduh. Memberikan kilasan akan apa yang selalu aku rindukan selama ini.

Aku mengangguk canggung, menunggu Josh bicara lagi. Tapi nampaknya ia tak akan mulai bicara. Jadi aku mengambil inisiatif.

"Apa itu barang-barangku?"

"Y-ya," ujar Josh cepat. "Tapi sepertinya aku lupa memasukkan gaun ungumu."

Aku mengerutkan kening, "Gaun ungu?"

"Ya, gaun yang kau kenakan saat bertemu keluargaku."

Oh.

Aku tersenyum kecil, teringat pada begitu bersemangatnya aku hari itu. Menghabiskan satu minggu mencari gaun yang tepat untuk dikenakan pada acara keluarganya.

"Tidak apa."

"Jika kau mau, aku bisa—"

"Aku bisa membeli yang baru." Aku menutup kalimat itu dengan senyum tipis.

Aku tidak berniat terdengar kasar atau sombong, tapi aku tidak mau Josh mengulur waktu dengan urusan pengembalian barang yang tidak kunjung usai.

Josh masih mematung di tempatnya, senyumnya perlahan memudar dan digantikan dengan matanya yang mulai memerah.

"Boleh aku, ambil?" Aku mengambil dua langkah lebih dekat.

"Aku tahu ini akan terdengar egois, tapi aku tak akan bisa tenang jika pergi dari sini tanpa bertanya padamu soal ini." Josh menarik nafas panjang, "Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?"

Angin senja bertiup saat kalimat Josh sampai di telingaku, dan tubuhku nyari oleng dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Kesepuluh jemariku terasa gatal di dalam oversize sweater, seakan ingin meraih sesuatu. Sementara gigiku menggigit bagian dalam bibirku untuk menahannya agar tidak mengikuti kata hati.

"Tidak Josh," ujarku pada akhirnya. "Aku tak bisa melakukan itu."

Josh mengeluarkan tawa ringan, lalu melayangkan pandangannya ke arah lain sambil sedikit menengadah. Seakan menahan sesuatu agar tidak jatuh . "Seharusnya aku tidak bertanya itu, maaf Dave."

"Aku tidak membencimu, aku hanya tidak lagi ingin melakukan hal-hal yang tidak aku sukai."

Josh mengangguk, bibirnya terlihat bergetar, "Aku mengerti."

Aku diam sejenak, menunggu kalimatnya yang terdengar menggantung dan gerak-geriknya yang terlihat masih ingin berbicara. Tapi tak ada kalimat yang kunjung keluar dari bibirnya.

"Boleh aku, ambil?" tanyaku canggung, langsung mengambil boks di tangannya tanpa aba-aba.

Josh melepaskan boks itu dengan sangat perlahan hingga aku bisa benar-benar memegangnya.

"Aku minta maaf, Dave."

Aku mengangguk, "Semoga kau berbahagia dengan—"

"Aku sudah mengakhirinya." Potong Josh cepat. Aku bisa melihat matanya kian merah.

Aku kembali mematung, lalu tersenyum padanya. "Kalau begitu, semoga kau selalu bahagia."

Tanpa menunggu jawabannya aku langsung menaiki tangga dan masuk kembali ke dalam apartemen, meninggalkan Josh yang mungkin saat ini sedang merasa sangat bersalah.

Oh, kepalaku pusing sekali.

"Miss Magnusson!" Ujar Wes, penjaga yang berdiri di balik meja lobi.

Aku menoleh sembari menghela nafas. Ayolah, aku ingin segera merebahkan diri di kasur.

"Ada seseorang mengirimkan paket untukmu."

Aku mendekati meja Wes dan meletakkan boksku di sana.

"Ia bilang tak mau mengganggumu dan memintaku menyerahkan ini padamu saat kau kembali." Wes mengeluarkan sebuah tas thermal dengan merek es krim yang terkenal di depannya. di bagian depannya terdapat secarik kertas yang ditulis dengan tinta hitam.

'Hutangku lunas.

ps. kau tampak menggemaskan dengan sweater yang kebesaran itu.'

Sebuah nama langsung muncul di kepalaku, dan aku menahan dorongan yang sangat kuat untuk tidak berlari kembali ke trotoar untuk mengejarnya. Tidak. Aku hanya tersenyum. Berterima kasih pada Wes, dan kembali ke atas. Siap menghabiskan satu ember kecil berisi es krim yang secara kebetulan adalah rasa kesukaanku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • The Back-up Plan   Me and The Permission

    Sejak kecil, Papa dan Mama selalu mengatakan bahwa keajaiban itu tidak ada. Bagi mereka, keajaiban hanyalah bualan dari para pemalas. Dan menurut mereka, hasil selalu berbanding lurus dengan usaha, itu lah kenapa mereka selalu menunjukkan bekerja keras itu seperti apa.Jadi saat aku melihat Deacon di sana, aku mulai mempertanyakan keberadaan keajaiban. Apakah ia sebenarnya ada? Apakah keajaiban juga bisa terwujud asalkan aku merapalkan keinginanku terus-menerus? Persis seperti yang aku lakukan tadi malam sambil menghabiskan seperempat liter es krim Ben and Jerry's.Aku menerima uluran tangan Deacon, membiarkan tangan besar dan kasar itu merengkuhku sekali lagi."Deacon, benar?"Jantungku tiba-tiba berdenyut lebih cepat. Entah karena keajaiban ini, senyumannya atau gabungan dari semuanya."Ya," jawabnya singkat. "Dengar, aku tidak tahu apa yang dikatakan Shelby. Tapi aku tidak setuju bergabung di suite-mu.""Oh, Deacon. Ayo lah! Aku sudah membayangkan mendengar banyak cerita soal kau d

  • The Back-up Plan   Me and the new guy again.

    "...Please check your personal belongings before leaving the aircraft. Thank you for flying with us, and we hope to see you again soon."Pilot yang membawaku terbang dari JFK ke Miami baru saja mengumumkan kedatangan kami, namun beberapa penumpang sudah bangkit meski lampu indikator pemakaian sabuk pengaman baru saja mati beberapa detik yang lalu. Aku mengamati beberapa penumpang yang tengah menurunkan bagasi kabin mereka, beberapa berpakaian dengan pakaian bermotif ramai dan cerah, atau menenteng topi besar. Sepertinya aku akan berjumpa dengan mereka di kapal pesiar nanti.Saat setengah dari penumpang sudah turun, aku pun mulai bangkit dan keluar dari pesawat, langsung menuju ruangan klaim bagasi bersama puluhan penumpang lain yang menunggu dengan tak sabar. Aku berdiri di salah satu tikungan baggage carousel sambil mengaktifkan kembali layanan selular ponselku. Seketika terdengar suara dentingan berturut-turut diikuti getar pendek-pendek dari benda di tanganku. Aku memandangi banner

  • The Back-up Plan   Me and the memories

    Aku dan Shelby sudah sangat menantikan liburan ini Awalnya kami berpikir untuk menghabiskan waktu di estate kenalanku di Hampton. Lalu Shelby memberikan ide lain, ia ingin pergi ke tempat yang agak jauh karena mertuanya bersedia menjaga anaknya. Shelby tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Beberapa kota terkenal masuk ke dalam daftar kami. Sardinia, Lisbon, Mallorca sampai French Riviera. Lalu Carsson, suami Shelby, mengatakan bahwa Ritz-Carlton akan melayarkan kapal pesiar pertama mereka menuju Karibia. Setelah melihat webnya bersama, kami pun langsung setuju dan memilih Karibia sebagai destinasi liburan kami.Kami sangat bersemangat. Kami sungguh-sungguh tak berhenti membicarakan liburan ini sejak saat itu. Kami saling mengirimi gambar pakaian yang akan kami kenakan, membuat daftar tempat yang akan kami datangi, melihat-lihat fasilitas di kapal. Semuanya.Termasuk Josh.Ia memang bukan alasan utama dibalik liburan ini, tapi aku sudah ratusan kali membayangkan ia juga berada di dala

  • The Back-up Plan   Me and my bestie

    "That despicable geek cheated on you?"Aku biasanya menegur Shelby jika ia meledek Josh dengan panggilan 'geek', tapi tidak kali ini. Bahkan saat ia menambahkan kata 'despicable' di depannya.Aku menjawab dengan anggukan dan melepaskan kacamata polarized aviator-ku. Shelby langsung melotot kaget saat melihat mataku yang bengkak dengan lingkaran gelap di sekelilingnya.Ya, aku tak memegang janjiku pada Deacon untuk tidak menangisi Josh."That pfft..." Shelby bahkan tak sanggup mengeluarkan umpatannya saking kesalnya. "Aku sungguh ingin menancapkan hak sepatu Louboutin-ku ke tengkoraknya."Aku tertawa kecil mendengarnya.Aku membuka tasku dan mengambil surat itu, "Ia menulis surat ini saat mengembalikan barang-barangku kemarin."Shelby langsung menarik surat itu dari tanganku dan membukanya, "Dear Davina, ratusan permintaan maaf tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku. Tapi aku ingin kau tahu bahwa perselingkuhanku tidak ada hubungannya dengan dirimu. Aku hanya terlalu pengecut untuk

  • The Back-up Plan   Me and the new guy (2)

    "Jadi, Davina," ujar Deacon setelah menyesap vodkanya, "Apa ceritamu?""Aku berkencan dengan laki-laki ini selama lebih dari dua tahun. Lalu, hari ini... Baru saja, aku melihatnya sedang berselingkuh dengan rekan kerjanya." Aku menyesap wine-ku, "Kau?""Aku menjalani hubungan jarak jauh dengan seorang wanita. Aku baru tiba tadi pagi untuk memberikannya kejutan. Saat aku mendatangi rumahnya, ternyata ia sudah bertunangan dengan pria lain.""Aku meringis pedih."Yah, begitulah kurang lebih rasanya." Deacon kembali menyesap vodkanya. "Menyedihkan, bukan?""Menurutku ceritaku lebih menyedihkan," ujarku yakin, karena sudah pasti cerita putusku yang paling mengerikan di sini, "Mau bertaruh?"Deacon tampak menggumam lama, "Ronde kedua, es krim." Alisnya bergerak saat ia mengatakan kalimat terakhirnya.Aku mengulurkan tanganku padanya, "Hanya jika es krimnya dairy-free."Deacon menerima jabatan tanganku, "Tentu." Kami lalu melepaskan jabatan tangan.Damn, his hand is huge."Aku melihat kekas

  • The Back-up Plan   Me and the new guy

    Aku menghabiskan dua menit pertama di dalam taksi sambil menangis, menumpahkan kesedihan dan rasa sakit hati hingga merasa lelah. Sampai akhirnya aku bisa mengendalikan diri kembali dan membalas tatapan supir taksi yang duduk di depanku."Maaf, aku tadi—""Kau tak perlu menceritakannya nak, tak apa." Lelaki paruh baya itu menjawab dengan suara beratnya. "Ke Wilshire Apartment, benar?""Ya, terima kasih." Aku menyeka ujung mataku lagi dan menatap ke luar jendela.Dua tahun dan semuanya hancur begitu saja. Aku tak pantas untuknya, katanya? Tentu saja aku tak pantas diperlakukan begini. Aku memberikan segalanya. Perhatianku, waktuku, bahkan aku belajar memasak untuknya, menyiapkan masakan untuknya setiap akhir pekan.Dan begini ia membalasku?Saat air mataku sungguh-sungguh sudah berhenti, aku mendekat ke pengemudi taksi, "Tolong turunkan saja aku di The Champagne Bar?""The Plaza?""Ya, betul.""Oke.""Sopir itu membelokkan mobilnya ke kiri dan aku pun langsung turun. Angin dingin malam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status