LOGIN
Aku menyusuri setiap sudut rumah yang akan aku tunjukkan pada klienku hari ini. Mencari kejanggalan yang mungkin mengganggu pertemuanku dengan klienku. Menatap gorden yang mungkin tergantung tak rapi atau lampu gantung yang salah satu lampunya tak menyala.
"Oke..." ujarku sambil menuruni tangga. "Sepertinya ini sudah cukup." "Aku berjalan ke cermin besar. Merapikan bralette yang kukenakan dengan memasukkan ujungnya ke dalam celana highwaist-ku, tidak lupa merapikan jasku dan mengancingkannya sampai menutupi belahan payudaraku. Aku punya aset yang layak dipamerkan, tapi bukan berarti aku harus memamerkannya setiap saat. Tak lama, terdengar suara mobil di area parkir. Aku menarik napas panjang dan menatap beberapa orang yang keluar dari dalam SUV besar keluaran produsen asal Amerika. Saat mereka hampir mencapai pintu, aku langsung membukanya dan menampilkan senyum seribu watt-ku. "Halo, Mr. and Mrs. Jeffers. Selamat datang di calon rumah baru kalian." Linda Jeffers berjalan ke tengah ruangan, wajahnya berbinar saat menatap jendela besar dengan kusen berwarna coklat. "Jendelanya besar, aku suka ini..." "Aku ingat kau pernah mengatakannya terakhir kali kita bertemu," ujarku. "Saat kau membeli condominium-mu di Atlanta." Sang wanita tampak kaget. "Tapi itu hampir dua tahun lalu. Benar, bukan, Sayang?" Ia kini menatap suaminya. "Itu yang aku sukai dari Davina. Dia sangat perhatian pada hal-hal kecil." Ia menutup kalimatnya dengan tawa. "Ah, ya, ini anak tertuaku. Scott. Kami sedang mencari rumah untuknya, jadi kau bisa langsung mengobrol dengannya. Aku dan istriku akan melihat-lihat sendiri," balas Tuan Jeffers sambil langsung pergi menggandeng istrinya. Tuan dan Nyonya Jeffers adalah salah satu klien terbaikku. Mereka tidak rewel dan sudah tahu apa yang mereka inginkan saat mencari rumah. Klien seperti mereka adalah kesukaanku. Mereka tidak membuang banyak waktu untuk melihat-lihat dan langsung mengatakan 'suka' atau 'tidak suka'. Selain itu, tidakkah mereka terlihat menggemaskan bersama? Bergandengan tangan sambil berjalan ke kolam besar di halaman belakang. Bercanda sambil berpandangan penuh cinta. Oh... Aku rela membunuh untuk kisah cinta seperti itu. Tidak, aku hanya bercanda. Aku bahkan tidak berani membunuh kecoa. "Ke arah sini, Mr. Jeffers," ujarku, mengarahkan Scott ke tangga. "Scott saja, aku mohon. Aku merasa sangat tua jika orang memanggilku dengan panggilan resmi," balasnya santai, matanya terus-menerus menatapku bolak-balik dari mata ke bagian depan tubuhku. "Apa aku berpakaian terlalu terbuka? Aku bahkan tidak menunjukkan belahan dadaku. "Scott, seorang pria berusia 30-an dengan warna mata dan rambut yang senada, bertubuh ramping dan mengenakan pakaian santai. Setibanya di lantai ketiga, Scott langsung berjalan ke sisi kanan rumah. Three-story home, three bedrooms, two bathrooms and 371 square meters," ulangku saat Scott mendekat. "Ya, aku sudah membaca pesan yang kau berikan ke ayahku," jawab Scott sambil menoleh dan tersenyum padaku. "Aku suka tata ruangnya, mengingatkanku pada rumah lama kami di California." "Oh, benarkah?" "Ya, lantai dan tangga dari kayu. Langit-langit yang tinggi dan halaman yang luas." "Oh, itu pasti cantik sekali." Scott membalas dengan anggukan. "Jadi, kau bekerja di Worcester?" Scott menoleh cepat sambil mengangguk. "Ya, aku baru saja pindah ke sini." "Di sebelah sini adalah kamar anak. Desainnya memang agak terlalu kuno. Maaf, tapi apa kau sudah menikah?" Aku tak melihat ada cincin di jarinya, jadi aku harus bertanya. Scott menggelengkan kepalanya cepat. "Belum." "Oh, okay, baiklah. Aku kenal desainer interior yang bisa membantumu mengubah desain kamarnya nanti jika kau mau." "Terima kasih, aku akan membutuhkannya. Tapi saat ini, aku akan menempati rumah ini sendiri saja, bersama seorang pelayan dan chef yang datang sesekali untuk membuat makanan untukku. Orang tuaku sungguh rewel sekali jika menyangkut soal menikah." "Bukankah setiap orang tua begitu?" Scott tersenyum tipis. "Pernahkah kau bertemu dengan ibuku?" Aku ikut tersenyum dengannya. "Orang tuamu adalah klien kesukaanku. Mereka mudah diajak kerja sama." "Well, ia tidak mudah diajak kerja sama olehku." Scott beralih turun dan memasuki setiap ruangan. Mengecek langit-langitnya, kamar mandi, ruang ventilasi, dan semua hal detail lainnya. "Kamar mandi utamanya terlihat sangat klasik. Seluruh ruangan ini dilapisi marmer Travertine dengan bathtub besar," ujarku seraya menyentuh wastafelnya yang halus dan dingin. "Oh, ini akan menjadi tempat kesukaanku." "Ah, ya, kolam renangnya dilengkapi dengan whirlpool. Kau mau ke sana?" "Tentu," balas Scott. Kami berdua menuruni tangga dan menuju halaman belakang. “Jadi, apa pekerjaanmu, Scott?" "Accountant. Membosankan, ya, bukan?" Aku tertawa. Sangat membosankan. "Itu menjelaskan kenapa kau sangat perhatian pada hal-hal kecil." Scott tersenyum. "Salah satu klien kami membuka kelab malam di sini. Kau bisa bergabung nanti malam jika mau." "Benarkah? Aku akan memikirkan tawaranmu." Aku bohong. Aku sudah pensiun dari dunia malam. "Oh, please do. Kita mungkin bisa membicarakan kesepakatan mengenai pembelian rumah ini." "Oh, jadi kau akan membeli rumah ini?" Scott mendecakkan lidahnya. "Yeah, aku menyukainya. Selain itu, coba lihat kedua orang tua itu. Aku yakin mereka sudah membicarakan untuk mengadakan pesta barbecue di sana," ujar Scott sambil menunjuk ke arah kedua orang tuanya yang tampak sibuk menunjuk ke segala arah. Sepertinya Scott tahu apa yang dilakukan kedua orang tuanya. "Jadi, bagaimana, Davina? Kau akan datang ke kelab?" Oh, sial. Aku dan pekerjaanku yang sangat menuntut ini. Aku tersenyum lebar. "Akan aku kabari kau nanti. Aku harus menemui beberapa klien dulu," ujarku berbohong. "Kau menemui klien di malam hari?" "Ya, ada beberapa rumah yang lebih baik dilihat di malam hari." Lalu kami berhenti di kolam whirlpool. Scott berjalan mengitari kolam, mencoba mengamati area kolam. Sementara aku memilih menjaga jarak dengan air kolam. "Aku suka kolamnya. Haruskah kita mencobanya di malam hari?" tanya Scott santai, mengirimkan senyum lebar padaku. Aku tertawa pelan, mencoba tidak masuk ke dalam perangkapnya. "Jika menurutmu itu perlu." Scott ikut tertawa. "Aku hanya bercanda. Kita bertemu di kelab saja." "Aku akan menghubungimu nanti. Kau membawa kartu nama?" Basa-basi yang menyebalkan, tapi setidaknya ia mungkin berguna suatu hari nanti. Happy client, happy me, more money. Yeay! "Ini kartuku." Scott mengulurkan kartunya dan aku menerimanya. "Kalian tampak sibuk sekali di sana. Sudah bersiap merenovasinya?" Ia berteriak pada orang tuanya. Linda dan Stephen Jeffers tertawa sambil mendekat. "Sejujurnya, ya. Dan jika kau tidak mengambil ini, Scott, ayahmu yang akan membelinya." "Tahan dulu. Aku akan membicarakannya nanti malam dengan Davina. Itu jika ia tidak sibuk." Oh, ya ampun. Lelaki ini pantang menyerah sekali. "Oh, bagus sekali," ujar Linda senang. "Aku akan mempersiapkan berkasnya dan mengirim langsung padamu." Aku mengayunkan kartu namanya. "Kalau begitu, kami akan pamit dulu." "Aku akan antar kalian ke depan." Aku menemani mereka ke halaman depan. Segera setelah mereka pergi, aku langsung mengunci pintu dan duduk di salah satu sofa besar di sana. Aku sudah berada di bisnis ini hampir tujuh tahun, jadi sudah cukup banyak yang aku pelajari. Salah satunya adalah tipe klien yang genit ataupun yang menyusahkan. Kau akan terkejut dengan banyaknya klien yang bisa bersikap tidak sopan atau bahkan kurang ajar. Jadi, menangani klien seperti Scott bukanlah masalah besar bagiku. Aku membuka jasku dan mengeluarkan ponsel, lalu menekan tombol panggilan terakhir dan menekan nama paling atas. Josh. Dengan emoji hati kecil berwarna putih di sebelahnya. Terdengar beberapa kali nada sambung sampai akhirnya panggilan diterima. "Hi beautiful, sudah bertemu kliennya?" Josh bertanya, menyandarkan ponselnya pada layar komputer. "Yeah, sudah. Kau belum istirahat?" Aku mengangkat tanganku dan melirik jarum jamnya. "Sedikit lagi, dan... selesai." Josh akhirnya menoleh dan menatapku lewat layar ponselnya. "Hello, sexy..." pujinya. Aku melemparkan ciuman dari jauh padanya. Ia lalu melepaskan kacamata berbingkai tebalnya, menggosok matanya, lalu mengenakan kacamatanya lagi. Oh, ia terlihat sangat tampan dengan kacamata Tom Ford yang aku belikan untuknya. "Jadi kau pulang besok?" "Ya, aku harus memastikan beberapa hal dengan klienku. Selain itu, malam ini ia mengundangku untuk bertemu dan membicarakan kontrak." "Pergilah, selesaikan pekerjaanmu. Aku yakin kau bisa menjual rumah itu." "Kau yakin? Ia mengajakku ke kelab malam." "Tentu saja." "Kau tidak akan cemburu?" "Aku hanya cemburu pada pakaian yang kau kenakan. Seharusnya kedua tanganku yang menempel di tubuhmu dan, oh... Kau sengaja menggodaku dengan mengenakan atasanmu itu, ya, kan?" Aku mengintip ke balik bralette-ku, menggoda Josh. "Kau mau melihatnya?" "Yes, please. Aku memutuskan kau sebagai makan siangku. Sebentar, aku akan mengunci pintu." Josh terlihat bangkit dari kursinya, sementara aku mencari posisi yang pas untuk menyandarkan ponselku. Saat Josh kembali, ia sudah menurunkan celana kerjanya dan mengambil sesuatu dari laci meja. Aku tertawa kecil saat melihat apa yang dilakukannya. "Kau menyimpan gel pelumas di kantor?" tanyaku setengah tertawa. "Yeah, aku menyimpannya untuk saat-saat seperti ini." Aku merapikan rambutku dan menatapnya. "Kau siap?" "Yeah..." ujar Josh pelan. Aku menarik kedua tali bralette-ku sedikit ke bawah, lalu mendekat ke ponselku untuk menggoda Josh. Sesekali aku mengubah posisi, menikmati tatapan lelaki itu dari balik layar. Oh, that sweet face. "Kau merindukan mereka?" tanyaku pelan. Tatapan lelaki itu berubah seketika. Ia tersenyum, lalu mengangguk. "Ya." Aku mengambil jarak dari ponsel dan kembali menggoda Josh dengan senyum kecil di wajahku. "Atau merindukan ini?" Josh hanya tertawa pelan. Tatapannya tak pernah lepas dariku. "Oh, aku rindu tubuhmu yang indah itu." "Benarkah?" ujarku manja. "Mendekat lagi, babe..." ujar Josh, hasrat yang meningkat terlihat jelas di wajahnya. "Begini?" Aku mendekatkan diri ke kamera, membuat Josh tertawa kecil. Josh menjilat bibirnya perlahan. Sebelah tangannya terlihat bergerak cepat di bawah meja. "Oh, I'm close, Dave..." Aku tersenyum dan meraih kamera. "This close?" Aku mendekatkan tubuhku ke kamera dan seketika terdengar desahan panjang dari Josh. Dan... dia selesai. Yep, secepat itu. Aku bisa mendengar erangannya dari speaker ponselku, menatap wajahnya yang tampak terpuaskan. Ia mengambil beberapa lembar tisu lagi dan mengelap dengan cepat. "Aku hubungi kau lagi nanti, sayang." "Yep," balasku, lalu sambungan telepon langsung diputus. Aku menghela napas saat layar ponsel seketika berubah menjadi barisan nomor panggilan keluar, merasa sedikit kecewa karena kini aku merasa sangat terangsang dan tak ada yang bisa aku lakukan. Begitulah Josh, kekasihku selama dua tahun terakhir ini. Berhubungan seks dengannya memang tak selalu mendebarkan atau membakar gairah, tidak juga menjadi sebuah candu atau sesuatu yang aku nantikan. Namun, dari semua mantan kekasihku, dialah yang paling baik. Ia selalu memberikan support kapan pun aku merasa kesulitan dalam urusan pekerjaan. Terakhir, ia juga bukan tipe lelaki yang suka cemburu. Bagiku yang memiliki pekerjaan yang mengharuskanku berkenalan dengan banyak orang, itu sangatlah melegakan. Kurasa itu harga yang harus kubayar jika ingin terus berada di dalam pekerjaan ini. Aku memungut bralette-ku dan mengenakannya lagi, merasakan sesuatu yang lembap di antara kedua kakiku. Sial, aku lupa membawa vibratorku. Haruskah aku menyewa vibrator atau menghubungi Scott saja?Sejak kecil, Papa dan Mama selalu mengatakan bahwa keajaiban itu tidak ada. Bagi mereka, keajaiban hanyalah bualan dari para pemalas. Dan menurut mereka, hasil selalu berbanding lurus dengan usaha, itu lah kenapa mereka selalu menunjukkan bekerja keras itu seperti apa.Jadi saat aku melihat Deacon di sana, aku mulai mempertanyakan keberadaan keajaiban. Apakah ia sebenarnya ada? Apakah keajaiban juga bisa terwujud asalkan aku merapalkan keinginanku terus-menerus? Persis seperti yang aku lakukan tadi malam sambil menghabiskan seperempat liter es krim Ben and Jerry's.Aku menerima uluran tangan Deacon, membiarkan tangan besar dan kasar itu merengkuhku sekali lagi."Deacon, benar?"Jantungku tiba-tiba berdenyut lebih cepat. Entah karena keajaiban ini, senyumannya atau gabungan dari semuanya."Ya," jawabnya singkat. "Dengar, aku tidak tahu apa yang dikatakan Shelby. Tapi aku tidak setuju bergabung di suite-mu.""Oh, Deacon. Ayo lah! Aku sudah membayangkan mendengar banyak cerita soal kau d
"...Please check your personal belongings before leaving the aircraft. Thank you for flying with us, and we hope to see you again soon."Pilot yang membawaku terbang dari JFK ke Miami baru saja mengumumkan kedatangan kami, namun beberapa penumpang sudah bangkit meski lampu indikator pemakaian sabuk pengaman baru saja mati beberapa detik yang lalu. Aku mengamati beberapa penumpang yang tengah menurunkan bagasi kabin mereka, beberapa berpakaian dengan pakaian bermotif ramai dan cerah, atau menenteng topi besar. Sepertinya aku akan berjumpa dengan mereka di kapal pesiar nanti.Saat setengah dari penumpang sudah turun, aku pun mulai bangkit dan keluar dari pesawat, langsung menuju ruangan klaim bagasi bersama puluhan penumpang lain yang menunggu dengan tak sabar. Aku berdiri di salah satu tikungan baggage carousel sambil mengaktifkan kembali layanan selular ponselku. Seketika terdengar suara dentingan berturut-turut diikuti getar pendek-pendek dari benda di tanganku. Aku memandangi banner
Aku dan Shelby sudah sangat menantikan liburan ini Awalnya kami berpikir untuk menghabiskan waktu di estate kenalanku di Hampton. Lalu Shelby memberikan ide lain, ia ingin pergi ke tempat yang agak jauh karena mertuanya bersedia menjaga anaknya. Shelby tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Beberapa kota terkenal masuk ke dalam daftar kami. Sardinia, Lisbon, Mallorca sampai French Riviera. Lalu Carsson, suami Shelby, mengatakan bahwa Ritz-Carlton akan melayarkan kapal pesiar pertama mereka menuju Karibia. Setelah melihat webnya bersama, kami pun langsung setuju dan memilih Karibia sebagai destinasi liburan kami.Kami sangat bersemangat. Kami sungguh-sungguh tak berhenti membicarakan liburan ini sejak saat itu. Kami saling mengirimi gambar pakaian yang akan kami kenakan, membuat daftar tempat yang akan kami datangi, melihat-lihat fasilitas di kapal. Semuanya.Termasuk Josh.Ia memang bukan alasan utama dibalik liburan ini, tapi aku sudah ratusan kali membayangkan ia juga berada di dala
"That despicable geek cheated on you?"Aku biasanya menegur Shelby jika ia meledek Josh dengan panggilan 'geek', tapi tidak kali ini. Bahkan saat ia menambahkan kata 'despicable' di depannya.Aku menjawab dengan anggukan dan melepaskan kacamata polarized aviator-ku. Shelby langsung melotot kaget saat melihat mataku yang bengkak dengan lingkaran gelap di sekelilingnya.Ya, aku tak memegang janjiku pada Deacon untuk tidak menangisi Josh."That pfft..." Shelby bahkan tak sanggup mengeluarkan umpatannya saking kesalnya. "Aku sungguh ingin menancapkan hak sepatu Louboutin-ku ke tengkoraknya."Aku tertawa kecil mendengarnya.Aku membuka tasku dan mengambil surat itu, "Ia menulis surat ini saat mengembalikan barang-barangku kemarin."Shelby langsung menarik surat itu dari tanganku dan membukanya, "Dear Davina, ratusan permintaan maaf tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku. Tapi aku ingin kau tahu bahwa perselingkuhanku tidak ada hubungannya dengan dirimu. Aku hanya terlalu pengecut untuk
"Jadi, Davina," ujar Deacon setelah menyesap vodkanya, "Apa ceritamu?""Aku berkencan dengan laki-laki ini selama lebih dari dua tahun. Lalu, hari ini... Baru saja, aku melihatnya sedang berselingkuh dengan rekan kerjanya." Aku menyesap wine-ku, "Kau?""Aku menjalani hubungan jarak jauh dengan seorang wanita. Aku baru tiba tadi pagi untuk memberikannya kejutan. Saat aku mendatangi rumahnya, ternyata ia sudah bertunangan dengan pria lain.""Aku meringis pedih."Yah, begitulah kurang lebih rasanya." Deacon kembali menyesap vodkanya. "Menyedihkan, bukan?""Menurutku ceritaku lebih menyedihkan," ujarku yakin, karena sudah pasti cerita putusku yang paling mengerikan di sini, "Mau bertaruh?"Deacon tampak menggumam lama, "Ronde kedua, es krim." Alisnya bergerak saat ia mengatakan kalimat terakhirnya.Aku mengulurkan tanganku padanya, "Hanya jika es krimnya dairy-free."Deacon menerima jabatan tanganku, "Tentu." Kami lalu melepaskan jabatan tangan.Damn, his hand is huge."Aku melihat kekas
Aku menghabiskan dua menit pertama di dalam taksi sambil menangis, menumpahkan kesedihan dan rasa sakit hati hingga merasa lelah. Sampai akhirnya aku bisa mengendalikan diri kembali dan membalas tatapan supir taksi yang duduk di depanku."Maaf, aku tadi—""Kau tak perlu menceritakannya nak, tak apa." Lelaki paruh baya itu menjawab dengan suara beratnya. "Ke Wilshire Apartment, benar?""Ya, terima kasih." Aku menyeka ujung mataku lagi dan menatap ke luar jendela.Dua tahun dan semuanya hancur begitu saja. Aku tak pantas untuknya, katanya? Tentu saja aku tak pantas diperlakukan begini. Aku memberikan segalanya. Perhatianku, waktuku, bahkan aku belajar memasak untuknya, menyiapkan masakan untuknya setiap akhir pekan.Dan begini ia membalasku?Saat air mataku sungguh-sungguh sudah berhenti, aku mendekat ke pengemudi taksi, "Tolong turunkan saja aku di The Champagne Bar?""The Plaza?""Ya, betul.""Oke.""Sopir itu membelokkan mobilnya ke kiri dan aku pun langsung turun. Angin dingin malam







