LOGINAku menghabiskan dua menit pertama di dalam taksi sambil menangis, menumpahkan kesedihan dan rasa sakit hati hingga merasa lelah. Sampai akhirnya aku bisa mengendalikan diri kembali dan membalas tatapan supir taksi yang duduk di depanku.
"Maaf, aku tadi—" "Kau tak perlu menceritakannya nak, tak apa." Lelaki paruh baya itu menjawab dengan suara beratnya. "Ke Wilshire Apartment, benar?" "Ya, terima kasih." Aku menyeka ujung mataku lagi dan menatap ke luar jendela. Dua tahun dan semuanya hancur begitu saja. Aku tak pantas untuknya, katanya? Tentu saja aku tak pantas diperlakukan begini. Aku memberikan segalanya. Perhatianku, waktuku, bahkan aku belajar memasak untuknya, menyiapkan masakan untuknya setiap akhir pekan. Dan begini ia membalasku? Saat air mataku sungguh-sungguh sudah berhenti, aku mendekat ke pengemudi taksi, "Tolong turunkan saja aku di The Champagne Bar?" "The Plaza?" "Ya, betul." "Oke." "Sopir itu membelokkan mobilnya ke kiri dan aku pun langsung turun. Angin dingin malam Manhattan langsung menerpaku. Tubuhku memang dilapisi coat, tapi kakiku tidak dan kini bulu kudukku bangkit saat aku menyeberangi jalan dan memasuki lobi The Plaza. Di dalam hotel mewah itu, aku langsung berbelok ke kanan dan disambut penjaga pintu yang sudah tersenyum padaku dari jauh. "Rough night, Miss? Aku tersenyum membalasnya, "You have no idea." Penjaga itu mendecakkan lidahnya dan segera menghapus senyumnya. "Thank you," ujarku saat ia membukakan pintu untukku. Di dalam ruangan, aku langsung disambut oleh arsitektur mewah dari abad ke-20. Dengan langit-langit tinggi penuh ukiran melingkar dan aksen emas. Lampu gantung kristal besarnya menjadi daya tarik di ruangan ini, memendarkan cahaya hangat yang lembut. Sesuatu yang banyak dicari di malam dingin New York ini. "Hello, Miss Magnusson. What can I get you?" tanya seorang bartender saat aku duduk di salah satu kursi tinggi. "I'll have the Laurent-Perrier Cuvée Rosé." Pelayan itu tersenyum singkat. "Segera datang." Aku mengambil ponselku dan membuka kamera untuk bercermin. Oh, sial, mataku bengkak sekali. Aku menatap bartender yang sedang menyiapkan pesanan orang lain, tak mungkin aku meminta es batu padanya untuk meredakan bengkakku, apalagi memintanya mendinginkan sendok untuk mengompres mataku. Josh. Kau sungguh tega padaku. Aku membuka ponsel dan membuka layar chat Josh, tak ada pesan apapun darinya. Aku menggulirkan kolom chat kami, mencari tanda sejak kapan perselingkuhan ini dimulai. Tapi aku tak menemukan keanehan. Kami memang jarang mengobrol lewat chat, kami lebih sering menelepon atau melakukan panggilan video. Isi chat kami pun hanya sebatas mengabari bahwa kami sudah di rumah, sampai di tempat kerja, atau kabar singkat lainnya. Beberapa kali aku mengirim foto padanya, karena aku senang mengabarinya dan tak ingin ada miskomunikasi, dan Josh selalu membalas dengan jawaban singkat. "Miss..." ujar sang bartender, menyajikan gelas dan sebotol wine yang hanya bisa dibeli per botol, bukan per gelas. Lalu ia menyajikan semangkuk Caesar salad. "Aku tidak memesan ini," ujarku dengan suara parau. Bartender yang kukenal bernama Marvin itu tersenyum, "Kau sepertinya sedang mengalami hari yang berat." Ia menuangkan wine berwarna pink yang cantik ke gelasku. Aku menghela napas, "Kau benar. Terima kasih." Katakan saja jika butuh yang lain." Aku mengangguk lemah dan baru sadar, aku belum makan apa pun sejak siang tadi. Aku terlalu sibuk mengurus berkas milik Scott agar aku bisa langsung kembali ke sini. Demi siapa? Josh tentu saja. Aku langsung menancapkan garpuku ke tumpukan sayuran hijau dan menguncinya dengan roti panggang, lalu menyuapkan ke mulutku. Ohh, ini enak sekali. Lalu aku menyeruput wine-ku dan menikmati aromanya yang khas, warna wine-nya senada dengan lingerie yang aku kenakan di balik coat ini. Aku menunduk untuk melirik tubuhku di balik coat Chloé berwarna krem ini, lalu tersenyum getir. Josh, Kau kehilangan banyak hal bagus dengan menyelingkuhiku. Aku menyumpahinya dalam hati sambil meneguk habis wine di gelas tinggi. Aku tak peduli apa yang akan terjadi pada kepalaku besok, malam ini aku ingin tidur tenang. Aku kembali menyendokkan salad dan kembali menuangkan wine ke gelas, mengunyahnya perlahan sembari merasakan kehangatan yang mulai menjalar dari perutku. Aku tengah mengaduk salad-ku saat pendaran cahaya dari chandelier seketika menghilang, digantikan oleh bayangan gelap yang mendekat. Mengubah udara di sekelilingku menjadi hangat, aku menoleh ke sisi tubuhku. "Moscow Mule, please," ujarnya, ia duduk memunggungiku. Marvin dengan segera merespons lelaki ini dan menyiapkan minumannya. Sementara aku kembali menyibukkan diri dengan memakan salad. "Hei, aku rasa aku akan ikut denganmu..." Terdengar tawa rendah yang dalam dari lelaki di sampingku, "Tidak, ia memilih bertunangan dengan laki-laki lain dan meninggalkanku." Lalu terdengar tawa rendah itu lagi, "Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin memberitahumu soal itu... Ya,ya. Ayo bertemu besok untuk makan siang… Oke, bye." Aku tak dapat menahan diri untuk tak mendengar, selain itu ia duduk tepat di sampingku dan posisinya cukup dekat. Aku menoleh dan melihat wajah lembutnya dari samping. Kesedihan jelas terlihat dari sorot matanya saat ia mengetukkan jemari telunjuknya di atas meja marmer. Malam ini bukan hanya hatiku yang patah, New York memang kejam. Aku menoleh dan mengetuk bahunya yang dibalut oleh sweater cashmere berwarna biru. Lelaki itu menoleh dan menatap sekilas jariku yang dipoles cat kuku berwarna pink nude, lalu beralih menatapku. "Maaf, menguping pembicaraanmu. Tapi, aku juga sedang melewati hal serupa." Aku lalu menatap salad di depanku, "Lapar?" Lelaki itu tersenyum, "Terima kasih, tapi aku masih kenyang," tukasnya. Ia lalu memutar tubuhnya ke arahku, "Tapi mungkin kita bisa mengobrol." "Sir..." ujar Marvin menyajikan minuman yang dipesan lelaki ini sebelumnya. Ia menganggukkan kepalanya pada Marvin, lalu mengulurkan tangannya. "Namaku Deacon." Ia memberikan senyum tipis. "Namamu?"Sejak kecil, Papa dan Mama selalu mengatakan bahwa keajaiban itu tidak ada. Bagi mereka, keajaiban hanyalah bualan dari para pemalas. Dan menurut mereka, hasil selalu berbanding lurus dengan usaha, itu lah kenapa mereka selalu menunjukkan bekerja keras itu seperti apa.Jadi saat aku melihat Deacon di sana, aku mulai mempertanyakan keberadaan keajaiban. Apakah ia sebenarnya ada? Apakah keajaiban juga bisa terwujud asalkan aku merapalkan keinginanku terus-menerus? Persis seperti yang aku lakukan tadi malam sambil menghabiskan seperempat liter es krim Ben and Jerry's.Aku menerima uluran tangan Deacon, membiarkan tangan besar dan kasar itu merengkuhku sekali lagi."Deacon, benar?"Jantungku tiba-tiba berdenyut lebih cepat. Entah karena keajaiban ini, senyumannya atau gabungan dari semuanya."Ya," jawabnya singkat. "Dengar, aku tidak tahu apa yang dikatakan Shelby. Tapi aku tidak setuju bergabung di suite-mu.""Oh, Deacon. Ayo lah! Aku sudah membayangkan mendengar banyak cerita soal kau d
"...Please check your personal belongings before leaving the aircraft. Thank you for flying with us, and we hope to see you again soon."Pilot yang membawaku terbang dari JFK ke Miami baru saja mengumumkan kedatangan kami, namun beberapa penumpang sudah bangkit meski lampu indikator pemakaian sabuk pengaman baru saja mati beberapa detik yang lalu. Aku mengamati beberapa penumpang yang tengah menurunkan bagasi kabin mereka, beberapa berpakaian dengan pakaian bermotif ramai dan cerah, atau menenteng topi besar. Sepertinya aku akan berjumpa dengan mereka di kapal pesiar nanti.Saat setengah dari penumpang sudah turun, aku pun mulai bangkit dan keluar dari pesawat, langsung menuju ruangan klaim bagasi bersama puluhan penumpang lain yang menunggu dengan tak sabar. Aku berdiri di salah satu tikungan baggage carousel sambil mengaktifkan kembali layanan selular ponselku. Seketika terdengar suara dentingan berturut-turut diikuti getar pendek-pendek dari benda di tanganku. Aku memandangi banner
Aku dan Shelby sudah sangat menantikan liburan ini Awalnya kami berpikir untuk menghabiskan waktu di estate kenalanku di Hampton. Lalu Shelby memberikan ide lain, ia ingin pergi ke tempat yang agak jauh karena mertuanya bersedia menjaga anaknya. Shelby tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Beberapa kota terkenal masuk ke dalam daftar kami. Sardinia, Lisbon, Mallorca sampai French Riviera. Lalu Carsson, suami Shelby, mengatakan bahwa Ritz-Carlton akan melayarkan kapal pesiar pertama mereka menuju Karibia. Setelah melihat webnya bersama, kami pun langsung setuju dan memilih Karibia sebagai destinasi liburan kami.Kami sangat bersemangat. Kami sungguh-sungguh tak berhenti membicarakan liburan ini sejak saat itu. Kami saling mengirimi gambar pakaian yang akan kami kenakan, membuat daftar tempat yang akan kami datangi, melihat-lihat fasilitas di kapal. Semuanya.Termasuk Josh.Ia memang bukan alasan utama dibalik liburan ini, tapi aku sudah ratusan kali membayangkan ia juga berada di dala
"That despicable geek cheated on you?"Aku biasanya menegur Shelby jika ia meledek Josh dengan panggilan 'geek', tapi tidak kali ini. Bahkan saat ia menambahkan kata 'despicable' di depannya.Aku menjawab dengan anggukan dan melepaskan kacamata polarized aviator-ku. Shelby langsung melotot kaget saat melihat mataku yang bengkak dengan lingkaran gelap di sekelilingnya.Ya, aku tak memegang janjiku pada Deacon untuk tidak menangisi Josh."That pfft..." Shelby bahkan tak sanggup mengeluarkan umpatannya saking kesalnya. "Aku sungguh ingin menancapkan hak sepatu Louboutin-ku ke tengkoraknya."Aku tertawa kecil mendengarnya.Aku membuka tasku dan mengambil surat itu, "Ia menulis surat ini saat mengembalikan barang-barangku kemarin."Shelby langsung menarik surat itu dari tanganku dan membukanya, "Dear Davina, ratusan permintaan maaf tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku. Tapi aku ingin kau tahu bahwa perselingkuhanku tidak ada hubungannya dengan dirimu. Aku hanya terlalu pengecut untuk
"Jadi, Davina," ujar Deacon setelah menyesap vodkanya, "Apa ceritamu?""Aku berkencan dengan laki-laki ini selama lebih dari dua tahun. Lalu, hari ini... Baru saja, aku melihatnya sedang berselingkuh dengan rekan kerjanya." Aku menyesap wine-ku, "Kau?""Aku menjalani hubungan jarak jauh dengan seorang wanita. Aku baru tiba tadi pagi untuk memberikannya kejutan. Saat aku mendatangi rumahnya, ternyata ia sudah bertunangan dengan pria lain.""Aku meringis pedih."Yah, begitulah kurang lebih rasanya." Deacon kembali menyesap vodkanya. "Menyedihkan, bukan?""Menurutku ceritaku lebih menyedihkan," ujarku yakin, karena sudah pasti cerita putusku yang paling mengerikan di sini, "Mau bertaruh?"Deacon tampak menggumam lama, "Ronde kedua, es krim." Alisnya bergerak saat ia mengatakan kalimat terakhirnya.Aku mengulurkan tanganku padanya, "Hanya jika es krimnya dairy-free."Deacon menerima jabatan tanganku, "Tentu." Kami lalu melepaskan jabatan tangan.Damn, his hand is huge."Aku melihat kekas
Aku menghabiskan dua menit pertama di dalam taksi sambil menangis, menumpahkan kesedihan dan rasa sakit hati hingga merasa lelah. Sampai akhirnya aku bisa mengendalikan diri kembali dan membalas tatapan supir taksi yang duduk di depanku."Maaf, aku tadi—""Kau tak perlu menceritakannya nak, tak apa." Lelaki paruh baya itu menjawab dengan suara beratnya. "Ke Wilshire Apartment, benar?""Ya, terima kasih." Aku menyeka ujung mataku lagi dan menatap ke luar jendela.Dua tahun dan semuanya hancur begitu saja. Aku tak pantas untuknya, katanya? Tentu saja aku tak pantas diperlakukan begini. Aku memberikan segalanya. Perhatianku, waktuku, bahkan aku belajar memasak untuknya, menyiapkan masakan untuknya setiap akhir pekan.Dan begini ia membalasku?Saat air mataku sungguh-sungguh sudah berhenti, aku mendekat ke pengemudi taksi, "Tolong turunkan saja aku di The Champagne Bar?""The Plaza?""Ya, betul.""Oke.""Sopir itu membelokkan mobilnya ke kiri dan aku pun langsung turun. Angin dingin malam







