로그인After three years of marriage, Blake and Avery face difficult occurrences that will measure how strong their love for each other is. Will Blake ever have his possession until the end?
더 보기Dengan dress putih tema yang dipilih keluarganya, Fiona datang ke pernikahan sang adik yang sudah direncanakan dengan baik.
Fiona tersenyum lebar. Bukan menandakan kebahagiaan. Namun, kebebasan. Kebebasan menjadi bayang-bayang negatif sang adik yang selama ini selalu diberikan kepadanya. Hendak melangkah menuju ruang pengantin wanita, Fiona dibuat tersentak melihat mamanya tengah menangis tersedu di dalam sana. Badannya membeku seketika. Hanna, ibunya- menoleh ke arah Fiona yang baru datang. Sambil berderai air mata, Hanna memegang kedua lengan Fiona dengan kuat sambil berucap dengan nada menyakitkan. “Nak! Fiona! Ibu mohon… bantu ibu Nak!” serunya seraya menangis. Dari tatapannya, Fiona mendapatkan sinyal negatif yang menembus akal sehatnya. “Hazel kabur. Ibu kira, yang tadi pagi menjemputnya itu Darren, Tetapi, ternyata ia kabur dengan pria lain,” jelas Hanna, singkat. DEGHHH. Jantung Fiona langsung terasa sakit. Ia sudah memungkinkan kemungkinan terburuk yang akan ditujukan kepadanya. Tetapi, ingatan sehari sebelumnya kembali menggema di dalam kepala. itu bukan ucapan tersirat atau sekedar kalimat yang terlontar. Melainkan, itu adalah fakta yang diberitahukan Hazel. “Kalau aku tak datang, kamu yang gantikan aku.” Ibunya masih tersedu di depan matanya. Namun, tatapan Hanna yang semula meringis sakit, kini tertuju kembali pada Fiona dengan penuh ambisi. “Nak! Bagaimana kalau kamu yang gantikan Hazel untuk jadi pengantin Darren?!” seru Hanna. Permintaan di luar akal itu membuat Fiona hendak menepis kedua tangan Hanna yang memegangnya. Namun, justru tangan itu semakin memegangnya dengan kuat, bahkan terkesan mencengkram dirinya dengan begitu menyakitkan. Kini hanya menatap Fiona dengan nanar. Ia seperti tengah mengancam Fiona untuk tak menolak. “Jangan membantah, Fiona. Ini perintah, bukan permintaan!” “Kalian! Cepat riasi dia!” perintah Hanna pada para perias yang ada di sana. Fiona tak bisa mengelak. Pintu keluar mendadak dijaga oleh para bodyguard, yang membuatnya tak mungkin bisa kabur. Pakaian putih yang seharusnya membuat dirinya menjadi pendamping pengantin, kini berubah menjadi gaun yang membuat Fiona merasa tak nyaman. Ia disiapkan secara paksa untuk menikah, tanpa diberi kesempatan untuk memberikan perlawanan. Ketika pintu altar terbuka, terlihat jelas bahwa orang-orang kaget melihat sosok pengantin tak seperti yang tersebar di undangan. Bahkan, Darren menatap Fiona dengan tatapan yang nanar. Ketika mengucap janji suci, terlihat bahwa Darren jijik memegangi tangannya. Kalau bukan karena mereka menjadi pusat, Darren sudah pasti akan menepisnya. Semua berjalan begitu cepat, membuat Fiona tak sempat memproses kejadian barusan. Bajunya yang sudah dikemasi, disiapkan untuk dibawa ke kediaman Darren. Seolah Fiona sudah siap diusir dari rumahnya. ‘Apa pria ini sungguh menerima pernikahan kita hari ini?’ batin Fiona, sembari menarik kopernya dan berjalan di belakang Darren. Ketika sudah masuk ke dalam apartemen pria di depannya, mendadak saja dia berhenti, membuat Fiona ikut berhenti melangkah. “Dimana Hazel? Kenapa justru kamu yang muncul dengan gaun itu?” tanya Darren, tanpa menoleh ke belakang. Suaranya terdengar tegas dan mengancam. Fiona sempat gugup selama beberapa saat, sampai akhirnya Fiona memberanikan diri menjawab. “A- Aku tak tahu. Saat aku datang tadi, aku melihat ibu menangis. Ibu bilang, ada seorang pria yang menjemputnya pagi ini, dan ibu mengira itu kamu,” jelas Fiona dengan sedikit gagap. Suasana yang kembali hening, membuat Fiona menelan salivanya dengan kasar. Tiba-tiba… PRYANGGG…. BUAGHHH…. BUGH…. CTANGGG…. Di depan matanya, Fiona melihat Darren mengamuk dan memecahkan barang-barang yang ada di dekatnya. Badan Fiona bergetar hebat. ‘Ini lagi? Kejadian seperti ini lagi?!’ batinnya. Tangannya mengepal di depan dada menahan diri. Tepat saat itu, Darren menoleh ke arah Fiona dengan tatapan nanar, emosi besar yang tak terkendali. Dengan begitu kasar, Darren menarik kerah bajunya, membuat Fiona kesulitan bernapas. “Aku takkan membiarkan wanita sialan itu hidup bebas! Sudah kuberikan semuanya, tapi dia memilih kabur?” “A- Aku tak bisa bernapas,” ucap Fiona sambil mencoba melepaskan tangan Darren yang menariknya. Senyum seringai liciknya terlihat jelas. “Yah, memang. Aku akan selalu membuatmu kesulitan bernapas.” Cengkeraman Darren mulanya makin lama makin kuat. Namun, saat melihat Fiona semakin tak bisa menarik napasnya, Darren melepaskan kerah baju Fiona, membuat wanita itu terjatuh. Fiona menarik napas dengan segera, mengaturnya terengah-engah. Kepalanya mendongak ke atas, wajah Darren tampak menyeramkan dari tempatnya duduk. “Tidur di kamar bawah tangga! Jangan berani naik ke atas! Kupatahkan kakimu kalau sampai berani naik!” pekik Darren, seraya naik ke atas meninggalkan Fiona. Fiona hanya menatap nanar kepergian Darren. Isi pikirannya kacau, membayangkan bahwa ia akan menjadi istri dari pria gila yang berani mencekik wanita yang baru saja dinikahi. ‘Lalu kenapa Helen mau dengannya? Apa selama ini dia selalu diperlakukan seperti ini juga?’ batin Fiona. Ia hiraukan pikiran kacaunya. Fiona menuju kamar bawah yang ditunjuk oleh Darren. Betapa hinanya ini. yang dia dapatkan adalah sebuah gudang dengan kasur kecil di dalamnya. Debu yang tebal, bahkan barang-barang tak berguna dikumpulkan menjadi satu. Jantungnya berdegup semakin kencang, napasnya memburu merasa sakit yang tak terkira. Fiona tak menyangka, nasib hidupnya semakin memburuk seiring waktu. Malam yang sunyi terasa akrab bagi Fiona. Ia memilih merapikan gudang itu, membuatnya menjadi tempat layak baginya tertidur. Barang-barang tak tertata ia letakkan pada sudut ruangan, dan tak lupa membuat kamar tersebut sebagai tempat perlindungan. Keringat Fiona menggucur begitu deras, ia pakai celana pendek serta baju lengan pendek untuk mengurangi rasa gerahnya. JDUGHHH. Tanpa sadar, Fiona yang sedang keluar berjalan mundur membawa kardus itu menabrak satu-satunya orang yang satu rumah dengannya. “Ah, Ma- Maaf,” Fiona sontak berucap sambil menjauh. Pria itu menatap dingin pada Fiona. Dipandanginya dari atas sampai bawah tubuh wanita mungil yang tengah ketakutan. Dengan sekali helaan napas, Darren berjalan, sengaja menyenggol Fiona. Kardus yang dibawanya langsung terjatuh, berserakan di mana-mana isinya. Fiona hanya bisa menahan rasa kaget. Ia menoleh, dan melihat pria itu berjalan tanpa rasa bersalah. ‘Apa sih! Aku kan sudah minta maaf!’ kesalnya. Fiona kembali memungut barang-barang yang terjatuh. Ia mencoba melebarkan kesabarannya. Sadar bahwa dia sudah masuk ke jenjang pernikahan yang membuatnya terjerat. Esok paginya, Fiona berusaha melupakan kejadian kemarin, meski masih merasa takut. Dengan dapur yang luas, dan hanya ia seorang yang berada di sini, membuat Fiona merasa leluasa memasak. Ia buat sarapan seraya bersenandung, membuat Fiona merasa punya rumah. “Ahhhhh, ini aroma yang kusuka,” ucap Fiona seorang diri, sambil menghirup manisnya bau sup buatannya. “Apa yang kamu lakukan?” Suara dingin itu memecah kesenangan Fiona sesaat. Fiona segera berbalik badan dengan mangkuk besar di tangannya. Ia lihat pria itu sudah berpakain rapi dengan jasnya. “Sup. Kamu… mau?” Fiona menawarkan dengan ragu. Langkah Darren seperti sebuah ancaman bagi Fiona. Darren berhenti di meja makan, melihat lauk yang ada di atasnya. Fiona merasa berdebar. Bahkan keringat dingin memenuhi tubuhnya karena merasa seperti disidang. Hanya dengan satu kali lirikan dari Darren, semuanya berubah menjadi kekacauan tak terduga. PRYANGGGGGG. Lauk yang ada di atas meja dilemparkan ke arah Fiona, mengenai mangkuk yang dipegang, dan membuat semua berjatuhan Wajah Fiona penuh dengan lauk buatannya. Supnya jatuh ke lantai, nyaris mengenai kaki Fiona. Beruntungnya, ia bisa menghindari, meski masih tetap terkena kuahnya. “ARGHHH!” kaget Fiona. “Jangan hidangkan makanan sampahmu di atas meja! Sampahpun tak sudi disandikan dengan makananmu!”Trevor had given more than enough face by driving the car himself. He was the quickest person, always the one who could not stay idle. Through the rearview mirror, he saw Angie's indifferent and calm face."Aiyo, Miss Lopez seems to be in good shape today. It looks like she's not sick. I was still worried when we arrived. If you go crazy in my car, I'll directly push you out of the car or send you to a mental hospital."His joke made Angie's face change, "I'm not crazy."Trevor shrugged his shoulders and laughed, thinking: When she went crazy, he was a madman."Did Blake ask you to come to me?" Angie asked again."Do you think I'm willing?" Trevor was still smiling mischievously.However, Trevor, who was in front of her, suddenly splashed a bucket of cold water. "Miss Lopez, don't be so emotional. Mr. Anderson fears you will have a sickness that will hurt his precious little face."Angie's rosy complexion immediately became pale, her fists clenched tightly. She swore that she would ta
Blake was silent for a moment. His tall and big body was utterly shrouded in darkness, "What if I say that I don't care?""Do you know what you're talking about, Blake?" Even Esme, who was pointing at his arm, was trembling slightly. “I think that girl completely bewitches you. Do you know what bloodlines are? When you get to my age, it'll be too late to regret it. ""I won't regret it." Blake's words were firm, and each word was loud and clear. He would never regret loving Avery.After speaking, he picked up his suit jacket from the sofa. It was already very late, and he still had to rush back to get Avery up and take some medicine. Aunt, Dad, I didn't come back to quarrel. I know that you all are doing this for my good, but you all have never understood what I need. I am thrilled to be together with Avery. "And this kind of happiness was enough to make up for all the shortcomings in his life."What do you know? Do you think saying sweet words when the two of them are in the prime o
The two of them dined in a Western restaurant with a candlelit dinner. It was a romantic and cozy dinner. Under the candlelight, the bright red wine in the wine cup shone brilliantly. Beside the dining table, a professional violinist was playing the violin. The sound of the violin was so long that it was intoxicating.After dinner, Blake drove Avery back to the villa. He stayed with her, watching her sleep.Avery's sleeping visage was quiet, her delicate, long eyelashes casting a shadow over her skin.He carefully covered the corner of her blanket, his movements extremely gentle. He was afraid that he would wake the sleeping girl. Avery, good night, a good dream. "He bent over and kissed Avery's forehead, then stood up and left.The car broke through the night and sped along the road, its destination being the villa at Anderson Family.Blake walked into the house. In the living room, General Anderson and Esme were talking, and the niece was playing with bricks by the side. She wore a
Prof. Johnson shook his head and sighed. He didn't know if he should call her stubborn or stupid. "80%." The professor of Prof. Johnson answered in a straight line.Avery was motionless, with a frown between her brows, when she heard Prof. Johnson add, "Mortality rate is 80%, so I hope you won't take the risk. To exchange one's life for another is, in medicine, an act of folly. "Walking out of the hospital's gate, Avery looked up at the sky, her small face pale to the point of transparency. It was obviously warm, like spring, but Avery suddenly felt cold. Her lead white hands gripped her collar tightly, pulling her outer robes tightly, still feeling cold."Ma'am, shall we go back?" The driver came over.Avery shook her head, "Take me to the amusement park. I want to relax.""Alright, alright." The driver eagerly opened the door for Avery.The amusement park had always been a paradise for children, but it was also spring. The children's laughter could be heard constantly from the amus
So it was a different time.Now, she was crowned with such a big hat in the name of love. Even more so, Avery couldn't bear it. The noble ladies of the upper class were naturally qualified politicians. If Avery still didn't leave after taking her big hat, she would become the executioner who destroye
Laughing and noisy sounds entered Avery’s ears word by word, and the magazine held in her hand slipped to the ground.She was utterly stupefied. Only a trace of bright red remained in her clear eyes. The redness was gorgeous, and the redness was dazzling.Occasionally, a bashful and playful sound woul
Dina did not care about the Lee family members and pounced towards Quizza's face but was stopped by a cold voice."Dina." Avery, who had been silent all this time, had finally opened her mouth. She stood up and slowly walked over, her beautiful eyes slightly narrowed, and the gaze that landed on Quiz
It turned out that the night had already begun to sink.“You’re back.” She gave him a soft, gentle smile.Blake squatted before her and gently caressed her pale face with his palm. How long have you been here? “My body is so cold.”“It wasn’t long. The room is too stuffy, so I came out to get some fres






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
리뷰더 하기