Share

The CEO'S Forbidden Bride
The CEO'S Forbidden Bride
Author: DF Handayani

1. Salah Kamar

Author: DF Handayani
last update publish date: 2025-05-23 00:24:09

"Cinta datang tanpa peringatan, dari luka yang tak pernah sembuh dan dari musuh yang tak seharusnya disentuh." (Sunrise White)

---

Crown's Hotel and Suites, Zurich-Switzerland. Hampir tengah malam, pukul 23.35.

Swiss telah memasuki musim dingin, udara di luar nyaris membeku. Seorang lelaki berpostur tinggi dan gagah berjalan lelah menyusuri lantai lorong hotel yang sunyi, sambil menahan dingin telapak tangannya di balik coat luxury hitamnya yang dilapisi bulu domba terbaik. Menunjukkan siapa pemiliknya tanpa perlu orang bertanya.

Khairen Crown, seorang old money, pewaris tunggal Crown's Company yang artinya pemilik hotel mewah ini.

Room 1101, Presidential Suites.

Khairen, mengeluarkan Mastercard Privilege dari dalam sakunya. Menempelkannya pada ganggang pintu yang otomatis membuka segel pintu kamar yang jarang dihuni. Ia mendorong pintu dengan sedikit lelah karena jetlag. Perjalanan bisnis yang panjang membuatnya ingin segera merebahkan badan.

Namun, tanpa ia sadari. Sejak tadi, ada seorang wanita misterius yang terus mengintainya dari kejauhan, membuntuti dengan langkah hampir tanpa suara.

Khairen baru melangkahkan kaki ke dalam kamar, segera wanita misterius tadi berjalan cepat menuju kamar yang masih belum sempat tertutup. Ia mendorong kuat pintu tersebut dengan kakinya.

Pintu kamar hotel terbuka dengan kasar, membentur punggung Khairen dengan sangat keras hingga membuatnya terkejut dan hampir tersungkur. Khairen berbalik, menegakkan kembali tubuhnya, ia memicing mencoba mengenali sosok yang telah lancang dan brutal masuk ke dalam kamarnya.

Seorang wanita bertubuh tinggi berdiri di ambang pintu. Sorot matanya dipenuhi dengan kemarahan dan kebencian yang mendalam, tersembunyi di balik masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya.

Rambut pirangnya yang panjang dikuncir dengan rapi, memperlihatkan garis-garis wajahnya yang tegas. Dia mengenakan pakaian one set hitam yang ketat, menyembunyikan tubuhnya yang proporsional dan sexy.

Belum sempat Khairen bicara, wanita itu langsung menyerang Khairen yang berdiri di depannya, tamparan keras menghantam pipi Khairen dengan suara yang nyaring. Menciptakan jiplakan jari merah di wajah tampannya. Rambutnya yang hitam dan tersisir rapi ke belakang pun berantakan, menutupi dahinya yang lebar.

"Bajingan!" teriak wanita itu dengan penuh kebencian, suaranya menggema di ruangan hotel yang mewah. Tinjunya membabi buta, menghantam dada dan wajah tampan Khairen tanpa ampun, hingga membuat tubuh tegap Khairen tersungkur ke lantai.

"Ini balasan untuk lelaki brengsek yang berani menyentuh dan mempermainkan adikku!" pekiknya yang kemudian menindih dada Khairen dengan lututnya.

Khairen terkejut, tapi tidak melawan. Dia hanya menatap sang wanita dengan sorot mata tajamnya yang tenang, tanpa ekspresi di wajah tegasnya. Namun, ada sesuatu yang terlintas di pikirannya, sesuatu yang membuatnya penasaran tentang sosok wanita brutal yang menghajarnya tanpa ampun dan tanpa alasan.

"Berani kau menyentuhnya lagi, aku tak segan menghabisimu!" ancamnya penuh tekanan dengan melayangkan satu pukulan lagi di hidung Khairen yang menjulang tinggi dan tegas.

Setelah puas, wanita itu berhenti menghajarnya. Dia menatap Khairen dengan mata yang masih menyala, lalu berdiri dan berbalik. Berjalan pergi dengan langkah tegap, seolah-olah dia telah memenangkan pertarungan.

"Dasar pengecut!" umpatnya dengan nada penuh kebencian, sebelum menghilang di balik pintu.

Khairen hanya bisa menontonnya pergi dengan pikirannya yang masih kacau, ia pun tersenyum samar penuh arti. Khairen tidak mengatakan apa-apa, hanya membiarkannya pergi begitu saja.

Dia mencoba untuk bangkit perlahan, meringis menahan perih di wajahnya. Darah segar pun menetes dari hidungnya yang mancung. Ia berjalan menuju cermin di kamarnya, mencoba untuk memeriksa wajahnya yang babak belur.

"Dia sangat barbar!" umpat Khairen namun dengan senyum tipis.

Sementara itu, di luar kamar, wanita tadi berhenti sejenak lalu melihat nomor kamar di pintu. Ia mengeluarkan ponselnya untuk membalas pesan singkat yang dikirimkan adiknya tadi.

("Aku baru saja selesai menghajarnya! Awas saja jika kau kembali berulah, kau yang akan kuhajar!") balasnya di pesan singkat.

Seketika wajahnya berubah menjadi pucat pasi ketika dia menyadari bahwa dia telah salah masuk kamar. Di pesan terakhir adiknya tertulis nomer 1011.

("Kak, sekarang dia ada di Crown's Hotel and Suites, kamar 1011!")

"1011?!" gumam wanita itu dengan mata birunya yang terbelalak. Dia merasa seperti telah melakukan kesalahan besar, kesalahan yang tidak bisa diperbaiki.

Kembali menatap nomer kamar di depannya, 1101. Ia menelan ludahnya paksa. "Oh no..." bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar.

Tanpa banyak berpikir, ia langsung berlari menuju lift, wajahnya penuh dengan ketakutan dan kecemasan. Dia tidak ingin bertemu lagi dengan lelaki yang sudah dibuatnya babak belur, dan tidak ingin menjelaskan apa-apa.

Jarinya yang dingin menekan tombol lift berkali-kali dengan panik. Ketika lift tiba, ia langsung masuk dan kembali menekan tak sabaran tombol lantai dasar dengan jari yang bergetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, takut melihat lelaki tadi mengejarnya. Jantungnya benar-benar bertalu cepat, melihat angka di layar lift yang seperti bergerak lamban menuju lantai dasar.

Sedangkan Khairen masih tersenyum di depan cermin, melihat kebodohannya sendiri yang justru terpesona pada wanita aneh yang baru saja menghajarnya. Wanita aneh berambut pirang bermata biru yang justru meninggalkan kesan istimewa pada dirinya. Dan dia tidak sabar untuk mengetahui siapa wanita itu sebenarnya.

Setelah beberapa saat termenung di depan cermin, Khairen berjalan menuju meja dan mengambil ponselnya. Dia menekan nomor yang tertera di layarnya.

"Berikan aku rekaman CCTV sepuluh menit yang lalu dari waktu sekarang, di seluruh sudut hotel tanpa terkecuali!" perintahnya tegas dan dominan pada seseorang di seberang teleponnya. Dia tersenyum lagi, kali ini dengan sedikit kepuasan.

"Wanita yang menarik!" katanya pada dirinya sendiri, sebelum membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi dia yakin bahwa pertemuan itu bukanlah kebetulan belaka. Dan malam yang beku itu telah menyalakan api yang tak akan mudah padam bagi keduanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The CEO'S Forbidden Bride    140. Aku Mencintaimu, Khairen. (TAMAT)

    Angin malam menyelinap lembut melalui celah jendela kabin. Sunrise memejamkan mata, menghirup aroma laut yang asin dan hangat. Pelukan Khairen dari belakang terasa seperti jangkar kokoh, menenangkan, sebuah janji tanpa kata bahwa ia tak lagi harus berdiri sendiri menghadapi dunia.Malam itu mereka tak terburu tidur. Ellion tertidur lebih dulu, tubuh kecilnya meringkuk di ranjang dengan boneka di pelukan, senyumnya tersisa seolah mimpi pun ikut merayakan kebahagiaan.Sunrise menarik selimutnya perlahan dan mencium dahi anak itu, lalu berdiri di sisi Khairen. Mereka menatap Ellion lama, menyaksikan napasnya yang teratur.“Dia nampak bahagia,” bisik Sunrise.“Itu yang terpenting.” timpal Khairen.Mereka duduk berdampingan di sofa kecil kabin. Keheningan terasa nyaman. Sunrise memutar cincin di jarinya, mengingat perjalanan panjang yang membawanya ke titik ini.Luka yang pernah mengurung, ketakutan yang pernah menenggelamkan, hingga keberanian kecil yang tumbuh perlahan dan akhirnya cukup

  • The CEO'S Forbidden Bride    139. Menikahlah Denganku, Sekali Lagi!

    Kabut Albinen perlahan menjadi kenangan ketika pagi itu mereka meninggalkan desa kecil di pegunungan untuk pergi berlibur.Mobil melaju tenang, Ellion duduk di kursi belakang diapit nenek dan tante, matanya tak berhenti menempel ke jendela, menghitung terowongan, menebak gunung mana yang akan mereka lewati.Sunrise duduk di samping Khairen, tangannya terlipat di pangkuan, hatinya terasa ringan dengan cara yang asing, penuh harapan baru yang selama ini ia kubur rapat.Ini bukan perjalanan biasa. Tapi awal dari segalanya.Bandara menjadi dunia baru bagi Ellion. Ia berlari kecil, kagum pada pesawat-pesawat raksasa yang berjejer seperti burung logam. Untuk pertama kalinya, ia menggenggam paspor kecil dengan namanya tercetak rapi. Khairen berjongkok di hadapannya, menyamakan tinggi badan mereka.“Siap terbang jauh, Kapten Ellion?”Ellion mengangguk penuh semangat. “Daddy, nanti kita lihat laut?”Khairen tersenyum, menatap Sunrise sekilas. “Bukan cuma laut. Kita akan melihat dunia.”Venice

  • The CEO'S Forbidden Bride    138. Mengakhiri Kesalahan

    Setelah sarapan yang penuh kecanggungan, mereka bersiap meninggalkan rumah. Udara dingin Albinen menyambut dengan aroma kayu basah dan roti hangat dari kejauhan.Sunrise mengancingkan pakaian Ellion, sementara Khairen berdiri di dekat pintu, menunggu dengan kesabaran yang jarang ia perlihatkan pada dunia.“Daddy bantu Mommy di toko, ya?” Ellion berkata polos sambil meraih tangan Khairen.Khairen mengangguk, menatap Sunrise sekilas. “Tentu.”"Ellion, di rumah dengan nenek dan tante ya." Sunrise berpesan."Ellion akan menunggu Daddy dan Mommy pulang." ucapnya antusias. "Byee..." Ia melambaikan tangan.Toko roti itu masih sunyi ketika mereka tiba. Pintu dibuka, lonceng kecil berdenting, dan kehangatan langsung menyergap, aroma mentega, vanila, dan adonan yang baru matang. Sunrise menggantung mantel, lalu mengikat celemeknya. Khairen mengamati sejenak, lalu ikut meraih celemek cadangan tanpa diminta.Sunrise tersenyum kecil saat melihat Khairen yang biasanya memimpin rapat dewan dengan se

  • The CEO'S Forbidden Bride    137. Malam yang Panas

    Khairen menutup pintu kamar dengan punggungnya, suaranya nyaris tak terdengar. Sunrise masih berada dalam gendongannya, tubuhnya ringan namun getarnya terasa jelas, seperti seseorang yang telah terlalu lama menahan diri dan akhirnya berhenti melawan.Ia menurunkannya perlahan ke ranjang. Sprai putih berkerut di bawah tubuh Sunrise, berkilau dengan rambut pirangnya yang tergerai. Khairen tidak langsung menjauh. Ia tetap di sana, satu tangan menopang tubuhnya, yang lain menyentuh pinggang Sunrise, sebuah sentuhan pelan, seolah bertanya sekali lagi apakah ia benar-benar diizinkan.Sunrise menarik napas panjang. Dadanya naik turun, matanya berkabut.“Jika kau pergi setelah ini…” suaranya nyaris tak terdengar, “aku tak tahu apakah aku sanggup bertahan lagi.”Khairen menunduk, dahinya menyentuh dahi Sunrise. “Aku tidak datang sejauh ini untuk melukaimu lagi.”Ciuman mereka kali ini berbeda. Lebih dalam. Lebih jujur. Tak ada lagi kemarahan, tak ada sindiran. Hanya dua orang dewasa yang akhir

  • The CEO'S Forbidden Bride    136. Ya, Aku Cemburu!

    Sunrise berdiri terpaku beberapa detik setelah Ardelia pergi, langkah wanita itu menjauh dengan anggun, seolah tak pernah meninggalkan bom waktu di belakangnya. Lorong samping resort kembali lengang, hanya suara tawa anak-anak dari taman depan yang samar terdengar.Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan."Jika Nona sudah tak menginginkannya, bolehkah saya merebutnya?"Kalimat itu berulang di kepalanya seperti jarum yang menusuk pelan tapi dalam. Sunrise menutup mata sejenak, menekan telapak tangannya ke dada, mencoba meredam rasa panas yang menjalar hingga tenggorokan.“Aku baik-baik saja,” gumamnya lirih, lebih seperti usaha meyakinkan diri sendiri.Namun kebohongan itu runtuh saat ia kembali ke area utama. Dari kejauhan, ia melihat Khairen berdiri bersama Ellion dan beberapa anak panti asuhan. Lelaki itu berjongkok, membiarkan Ellion menarik ujung jasnya, tertawa kecil saat bocah itu memamerkan mainan baru. Pemandangan itu membuat dada

  • The CEO'S Forbidden Bride    135. Cemburu Itu Nyata

    Mobil melaju menuruni jalanan Albinen yang masih diselimuti kabut tipis. Pepohonan pinus berdiri diam, seolah menjadi saksi bisu dari kepergian Khairen.Di dalam mobil, keheningan menyelimuti. Hanya suara mesin yang sesekali memecah udara.Nick melirik tuannya lewat kaca spion. Rahangnya mengeras sesaat sebelum akhirnya ia membuka suara, kali ini lebih hati-hati.“Tuan… maaf, jika tadi lancang mengatakannya. Saya tak seharusnya berbicara sejauh itu.”Khairen tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, fokus pada jalanan berkelok, namun pikirannya melayang jauh. Kata-kata Nick barusan terus terngiang di kepalanya, berputar seperti gema yang tak mau reda."Masih belum terlambat… memulai kembali…" “Kau benar.” jawab Khairen akhirnya, suaranya datar. “Kau hanya mengatakan apa yang memang sudah kupikirkan.”Nick menghela napas lega, meski ada sesuatu di balik sorot matanya. Ia tahu, ketika Khairen berkata demikian, artinya perang batin tuannya justru baru dimulai.Beberapa jam set

  • The CEO'S Forbidden Bride    83. Malam yang Canggung

    Sunrise bangkit dari ranjangnya, berjalan dan berdiri di dekat jendela, membiarkan cahaya lampu taman menyentuh wajahnya. Malam terasa sunyi, hening perlahan meresap ke dada.Tak ia pungkiri jika kamar ini terasa begitu tenang.Ia berbalik, menatap sekeliling. Setiap sudut terasa ramah, s

  • The CEO'S Forbidden Bride    82. Satu Bukti Perasaan Khairen

    “Mulai malam ini, kau tinggal di mansion sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” kata Khairen dingin. Nada suaranya datar. “Aku tidak ingin berdebat soal ini. Pergilah ke kamarmu!”"Kamarmu?" Kata itu membuat Sunrise tersenyum pahit. Ingin berteriak memberontak. Ingin melemparkan semua kem

  • The CEO'S Forbidden Bride    81. Cinta Terhalang Benci

    Sunrise berdiri di hadapan Khairen dengan bahu tegang. Ia sudah terlalu sering berdiri seperti ini sebagai istri di atas kertas, sebagai perempuan yang selalu menjaga jarak dari suaminya sendiri.“Cukup Khairen!” ucapnya pelan sambil mendorong tubuh Khairen yang begitu dekat dengannya. “Aku t

  • The CEO'S Forbidden Bride    80. Kita Tinggal Bersama

    Mobil Sunrise meluncur membelah pagi dengan keheningan yang menekan. Summer duduk di sampingnya, menatap lurus ke depan. Kartu identitas magang CNC tergantung rapi di lehernya. Sunrise menggenggam setir erat, seolah sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.Gedung CNC menjulang, kaca-kacanya mem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status