ログイン"Sial! Mengapa aku bisa sebodoh ini!" Ia mengumpati dirinya sendiri yang begitu ceroboh. Mungkin ini akan menjadi kesalahan terbesar di sepanjang hidupnya.
Ia berlari tergesa keluar dari lift sambil mengamati sekeliling sudut basement. Mengambil jalan blind spot yang tak terekam CCTV, seakan ia sudah hapal seluruh sudut hotel ini. Sunrise White, siapa yang tak mengenal sosok wanita berambut pirang dengan mata jernih sebiru laut. Dia adalah ekspatriat muda yang terkenal cerdas, ambisius, independen, dan visioner. Layak ia dinobatkan sebagai karyawan berprestasi di perusahaan raksasa paling elite di kota Zurich, dan wajahnya sering kali muncul di media sosial dunia korporat. Ketika Sunrise sampai di motor sport hitam kebanggaanya, segera ia mengeluarkan kunci kontak dari saku celananya. Jarinya yang masih bergetar mencoba memasukkan kunci dengan tepat. "Ini semua gara-gara kau, Summer!" Kembali ia mengumpat. Menyebut nama adiknya yang selalu saja melibatkannya dalam situasi sulit. Muak, tapi ini salah satu bentuk tanggungjawab dan rasa terima kasihnya pada keluarga yang telah membesarkannya dengan baik. Mesin menyala, ia menunggangi motor dengan gagah bak lelaki sambil mengenakan helm di kepalanya. Segera ia melesat pergi meninggalkan tempat yang akan menjadi sejarah panjang baginya. Sementara itu, masih di kamar 1101. Sambil mengobati luka di wajahnya, Khairen mengecek tablet dengan rasa tak sabar dan penuh penasaran. Berharap segera mendapatkan jawaban, siapa wanita misterius yang berani mengobrak-abrik malam pertamanya di Zurich. Jauh-jauh ia datang dari Rusia hanya untuk menghadiri acara seremonial perusahaan. Serah terima jabatan serta pemberian reward bagi para karyawan terbaik yang sudah memberikan banyak dedikasi. Ia terpaksa melakukannya, untuk menggantikan ayahnya yang sudah tak lagi sehat. "Ada harga setiap jengkal luka yang kau tinggalkan di tubuhku!" geramnya kesal sambil menekan kompres di sudut bibirnya yang robek. Meringis perih, merasakan nyeri yang menusuk ke dalam kulitnya. Namun, ada senyum tipis yang mengembang di sana. Khairen memejamkan matanya sejenak untuk meredakan rasa kesalnya. Tetapi bukannya mereda, justru bayangan kejadian tadi bergelut kembali di dalam ingatannya. Sentuhan kasar, suara lantang, dan aroma feminim yang manis dari wanita bermata biru semakin mengganggu pikirannya. Aneh, bukankah seharusnya ia melaporkan kejadian brutal barusan pada petugas keamanan hotel, bisa saja ia melakukannya. Sebagai orang yang cukup berpengaruh di negaranya, mudah baginya untuk menjebloskan seseorang pada jeruji besi. Tapi, apa yang terjadi pada dirinya saat ini? Ia sama sekali tak memiliki niat untuk melakukannya. Ia justru menikmati setiap detail kejadian tadi. Bagai sebuah hipnotis yang membingungkan. Atau mungkinkah ini efek karena dirinya sama sekali belum pernah disentuh wanita asing? Sebagai pemimpin perusahaan raksasa, Khairen memang tak pernah peduli dengan urusan yang melibatkan wanita, percintaan adalah hal yang tak pernah terlintas di pikirannya. Hidupnya hanya untuk dunia bisnis. Belum ada pesan masuk di tabletnya, membuat Khairen menjadi gusar. Tak pernah ia segelisah ini menunggu pesan. "Aku tak akan pernah melepaskanmu rambut pirang!" tandasnya bersumpah pada dirinya sendiri. --- Keesokan harinya. Tower CNC, Crown's Nexus Companion. Gedung pencakar langit ikonik berdiri angkuh di tengah kota Zurich seolah menunjukkan kekuasaannya. Perusahaan raksasa yang bergerak di bidang real estate futuristik, mengedepankan kecanggihan teknologi dan smart infrastruktur. Di sanalah Sunrise bekerja. Tak sembarang orang bisa bekerja di sana. Perusahaan CNC memiliki standard tinggi untuk karyawannya. Dengan seleksi yang super ketat, tentu hanya orang-orang pilihan berkompeten handal yang dapat bergabung di dalam perusahaan CNC. Seharusnya hari ini menjadi hari bahagia bagi Sunrise. Sudah bertahun-tahun ia menantikan hari ini. Hari dimana tujuannya hampir tercapai. Ia bekerja keras untuk sampai di titik ini. Kepala Divisi Teknologi adalah jabatan yang dipromosikan untuknya. Sunrise bersiap-siap dengan pakaian terbaiknya. Ia bahkan rela membeli setelan pakaian mahal untuk acara istimewanya. Ia tak pernah gagal dalam berpakaian, selalu terlihat rapi dan profesional. Langkahnya tak setegas biasanya, senyum di bibirnya pun redup. Ini semua karena kejadian semalam. Rasa bersalah sungguh mengusik ketenangannya. Merusak suasana hatinya. Ada perasaan tidak enak menyiksa, hingga membuatnya tak tidur semalaman. Kacau! "Sunrise!" teriak seseorang yang tak asing di telinganya. Ia berlari kecil tak sabar untuk memberikan ucapan selamat. Dia adalah Carmen teman satu divisi juga sahabatnya. "Hei, ada apa dengan wajahmu?" Niatnya mengucapkan selamat pun terlupakan. Carmen menatap tak biasa pada wajah cemas Sunrise. Ekspresi yang hampir tak pernah ia lihat pada diri sahabatnya. Seperti biasa, jawaban Sunrise tak pernah panjang. "Sedikit gugup." jawabnya singkat. Tentu jawaban yang membuat Carmen mengernyit tak percaya. Seorang Sunrise gugup? Itu bahkan sesuatu yang lebih konyol dari teori evolusi. "Diamlah!" titah Sunrise dengan mata menajam. Kode keras yang tak bisa dibantah. Dan seketika berhasil membuat Carmen kicep. Sunrise berjalan pergi menuju ballroom di mana acara seremonial diadakan. Sedang Carmen membuntut di belakangnya seperti anak itik. Mereka tiba di ballroom, banyak orang yang sudah hadir di sana. Kursi-kursi telah penuh dengan undangan. Hanya kursi para komisaris yang belum terisi. Kabarnya, Presiden Direktur perusahaan itu juga sudah hadir, tapi Sunrise tidak begitu peduli dengan berita tersebut. Ia pun berjalan menuju kursi yang sudah tertera namanya di sana. Sunrise tersenyum bangga saat melihat namanya tersemat di papan meja dengan jabatan baru yang akan diterimanya sebentar lagi. Ia duduk dengan dengan anggun, penuh wibawa seperti biasa. Tak sedikit yang menyapanya untuk memberikan selamat atau hanya sekedar mencari muka. Tak berselang lama, rombongan komisaris telah tiba di tempat. Semua mata tertuju pada mereka, serempak semua orang berdiri menyambut hormat kedatangan Tuan Crown, komisaris utama sekaligus pendiri perusahaan CNC. Pria tua yang hampir seluruh rambutnya memutih, tetapi tak memudarkan wibawanya. Tetapi kali ini bukan Tuan Crown yang menjadi pusat perhatian, melainkan sosok pria asing dengan tubuh gagah nan menawan yang berdiri tepat di belakang Tuan Crown. Sosok itu hampir menggemparkan seisi ballroom karena wajah tampannya. Ya siapa lagi, dialah satu-satunya pewaris tunggal CNC yang baru pertama kali menunjukkan wajahnya di hadapan publik. Tidak terkecuali Sunrise, ia pun antusias untuk melihat bagaimana sosok yang selama ini bersembunyi di balik suksesnya CNC. Meskipun, tak begitu jelas tapi mata biru Sunrise bisa menangkap nyata siapa sosok pria itu. Dengan keyakinan dan kesadaran penuh. "Di...dia..." batin Sunrise syok. Seketika, Sunrise merasa seperti tersengat listrik. Sekujur tubuhnya menegang hebat, mematung, dan membisu. Benar, pria itu adalah, Khairen Crown. Pria yang sama yang telah dia hajar di kamar hotel semalam.Langkah Sunrise menggema di koridor panjang mansion Khairen. Namun ia menolak menoleh, tidak ingin memberi Khairen harapan sekecil apa pun meski ia tahu, lelaki itu tetap mengawasinya sampai mobil melaju meninggalkan gerbang besi tinggi itu. "Aku membencimu Khairen Crown, dan akan tetap seperti itu seumur hidupku!" runtuk Sunrise sepanjang hentakan kakinya. Sunrise menyetir sendiri mobilnya. Ia menolak sopir tanpa memberi kesempatan untuk membantah, menutup pintu dengan keras. Di dalam mobil, Sunrise menutup mata. Tangannya mengepal di pangkuan, menahan gemetar yang belum sepenuhnya hilang. Nama itu kembali terngiang. Eleonora. Ia menggigit bibirnya. Nama itu seharusnya mati. Dikubur bersama api, darah, dan jeritan yang membelah malam bertahun-tahun lalu. Sunrise White adalah satu-satunya identitas yang ia akui. Yang lain hanyalah bayangan yang ingin ia hapus. Ia melajukan kendaraan menembus jalanan pagi yang masih lengang. Tangannya mencengkeram setir terlalu erat, rahangn
Suara tangis Sunrise menggema pelan di dada Khairen, seolah setiap isakan membawa pecahan masa lalu yang selama ini ia kubur sendiri. Nama itu "Eleonora" masih menggantung di antara mereka.Khairen tidak bergerak. Ia membiarkan Sunrise meluapkan segalanya, membiarkan kemeja hitamnya basah oleh air mata perempuan yang seharusnya ia jadikan musuh, namun justru menjadi berarti di hidupnya.“Aku benci nama itu…” bisik Sunrise di sela isak, suaranya tercekik. “Aku menguburnya bersama keluargaku. Bersama malam itu.”Khairen terdiam. Tangannya di belakang kepala Sunrise sedikit mengerat, menahan dirinya sendiri agar tidak kehilangan kendali.“Aku tahu,” jawabnya lirih. “Dan aku bersumpah tak akan menyebutnya lagi kecuali kau mengizinkannya.”Sunrise hanya tertawa pahit di dalam pelukan lelaki yang seharusnya ia benci sepenuh jiwa.Khairen menghela napas panjang. Perlahan, ia menurunkan dagunya, keningnya menyentuh rambut Sunrise.Tangisnya mulai mereda menjadi sesenggukan kecil. Jari-jarinya
Gerbang besi kediaman pribadi Khairen Crown terbuka perlahan saat mobil Sunrise berhenti tepat di depannya. Tak ada penjaga yang menghentikan. Tak ada interogasi. Seolah kedatangannya sudah dinanti. Hal itu justru membuat dada Sunrise semakin sesak.Ia turun dari mobil dengan langkah gemetar, menahan badai emosi yang siap meledak kapan saja. Lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan bangunan besar yang terasa lebih seperti penjara daripada rumah."Selamat datang kembali Nyonya. Tuan sudah menunggu Anda di ruang kerjanya." ucap Kepala Pelayan dengan hormat dan menuntun Sunrise berjalan menuju ruang kerja.Sunrise berjalan lurus dengan wajah penuh amarah mengikuti Kepala Pelayan.Pintu ruangan terbuka. Khairen berdiri di sana. Sorot matanya gelap namun begitu tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja membongkar luka terdalam seseorang.“Kau wanita yang tak sabaran Sunrise? Aku tak menyangka kau akan datang secepat ini." ucapnya datar. "Untuk apa kau datang kemari tenga
Nick berdiri di sisi meja kerja Khairen dengan tablet di tangannya. Nada laporannya terdengar profesional, tapi kegelisahan jelas terpancar dari matanya.“Laporan audit Nyonya Sunrise sudah masuk,” ucapnya. “Seduai harapan, strukturnya rapi. Analisisnya tajam. Tapi ada satu laporan yang sengaja tidak ia lanjutkan.”Khairen mengangkat pandangan. “Tentang apa?” ucapnya datar.Nick memperbesar grafik. “Analisis berhenti tepat sebelum membentuk kesimpulan besar. Padahal Nyonya sangat mampu. Dugaan saya, Nyonya sengaja menahan informasi.”Khairen tetap tenang. Seolah ia tak mengetahui apapun.“Dan menurutmu apa alasannya?” tanyanya pelan.“Mungkin tujuan pribadi, dengan Steve. Seperti yang Tuan katakan.” jawab Nick hati-hati. “Dan, ada sesuatu yang ia lindungi. Saya rasa Nyonya perlu diwaspadai.”Hening menyelimuti ruangan.Lalu Khairen tersenyum tipis, senyum yang membuat tengkuk Nick terasa dingin. Tatapan matanya pun tak biasa. Bukan seperti Tuannya yang puas dengan jawaban yang selalu
Pesan singkat Nick masuk ketika Sunrise sudah hampir tiba di apartemennya.Nick: CEO minta laporan progres audit internal. Sore ini. Harus ada di mejanya sebelum malam.Sunrise menghentikan mobil di tepi jalan. Mesin masih menyala. "Sore ini?" gerutunya pelan. Ia menghela napas kesal. Lalu membalas singkat.Sunrise: Baik.Ia menatap ke depan beberapa detik, kemudian memutar setir dengan terpaksa. CNC Tower kembali menjadi tujuan. Mobil berbelok, meninggalkan arah pulang.CNC Tower kembali menjulang di kejauhan, semakin gelap seiring matahari turun. Gedung itu selalu terlihat seperti benteng kokoh, megah, dan penuh rahasia yang tidak pernah benar-benar tidur.Langit sudah menggelap ketika ia tiba. Sunrise masuk lewat akses karyawan, menyapa sekuriti dengan anggukan singkat, lalu naik ke lantai divisi teknologi.Saat Sunrise melangkah masuk, suasana sudah berubah. Ruangan-ruangan yang biasanya ramai kini lengang. Suara langkah sepatunya menggema lebih jelas, seperti penanda bahwa ia da
Steve melangkah lebih dulu, seolah keputusan Sunrise barusan adalah kepastian yang sejak awal ia miliki. Sunrise mengikutinya dengan jarak setengah langkah, pikirannya masih berputar cepat. Setiap denting hak sepatunya di lantai marmer CNC Tower terdengar seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tak bisa ia batalkan.Lift privat menutup pintu dengan suara halus. Di dalam, hening terasa menekan. Steve bersandar santai, menatap angka lantai yang menurun, sementara Sunrise berdiri tegak dengan tangan terlipat di depan tubuhnya. Wajahnya kembali netral, topeng profesional yang selama ini menyelamatkannya.“Kau terlihat begitu khawatir." ujar Steve ringan, memecah sunyi. “Tenang saja, aku sudah memikirkan semuanya.”Sunrise tidak menjawab. Ia menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap. Perempuan di sana terlihat dingin, terkendali, jauh dari Sunrise yang beberapa menit lalu hampir runtuh di sky lounge.Ia bertanya pada dirinya sendiri, sejak kapan ia begitu mudah didorong k







