Home / Romansa / The CEO'S Forbidden Bride / 15. Saling Menguntungkan

Share

15. Saling Menguntungkan

Author: DF Handayani
last update publish date: 2025-06-11 01:29:02

"Tiga tahun, itu bukan waktu yang singkat." Sunrise menarik napasnya panjang.

Di sudut rest area kecil yang menjadi tempat pelarian dari kepenatan kantor pusat, Sunrise White duduk dengan tangan menggenggam cangkir berisi kopi yang sudah dingin. Di hadapannya, berkas kontrak laknat tergelak di atas meja.

Dibacanya lagi dengan hati-hati, bahkan untuk ketiga kalinya. Bukan karena tidak mengerti isi syaratnya, tapi karena tidak percaya Khairen benar-benar menyodorkannya begitu saja.

Sebuah pernika
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Juhaina R
ada kejadian yg mmbuat trauma rupanya.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • The CEO'S Forbidden Bride    136. Ya, Aku Cemburu!

    Sunrise berdiri terpaku beberapa detik setelah Ardelia pergi, langkah wanita itu menjauh dengan anggun, seolah tak pernah meninggalkan bom waktu di belakangnya. Lorong samping resort kembali lengang, hanya suara tawa anak-anak dari taman depan yang samar terdengar.Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan."Jika Nona sudah tak menginginkannya, bolehkah saya merebutnya?"Kalimat itu berulang di kepalanya seperti jarum yang menusuk pelan tapi dalam. Sunrise menutup mata sejenak, menekan telapak tangannya ke dada, mencoba meredam rasa panas yang menjalar hingga tenggorokan.“Aku baik-baik saja,” gumamnya lirih, lebih seperti usaha meyakinkan diri sendiri.Namun kebohongan itu runtuh saat ia kembali ke area utama. Dari kejauhan, ia melihat Khairen berdiri bersama Ellion dan beberapa anak panti asuhan. Lelaki itu berjongkok, membiarkan Ellion menarik ujung jasnya, tertawa kecil saat bocah itu memamerkan mainan baru. Pemandangan itu membuat dada

  • The CEO'S Forbidden Bride    135. Cemburu Itu Nyata

    Mobil melaju menuruni jalanan Albinen yang masih diselimuti kabut tipis. Pepohonan pinus berdiri diam, seolah menjadi saksi bisu dari kepergian Khairen.Di dalam mobil, keheningan menyelimuti. Hanya suara mesin yang sesekali memecah udara.Nick melirik tuannya lewat kaca spion. Rahangnya mengeras sesaat sebelum akhirnya ia membuka suara, kali ini lebih hati-hati.“Tuan… maaf, jika tadi lancang mengatakannya. Saya tak seharusnya berbicara sejauh itu.”Khairen tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, fokus pada jalanan berkelok, namun pikirannya melayang jauh. Kata-kata Nick barusan terus terngiang di kepalanya, berputar seperti gema yang tak mau reda."Masih belum terlambat… memulai kembali…" “Kau benar.” jawab Khairen akhirnya, suaranya datar. “Kau hanya mengatakan apa yang memang sudah kupikirkan.”Nick menghela napas lega, meski ada sesuatu di balik sorot matanya. Ia tahu, ketika Khairen berkata demikian, artinya perang batin tuannya justru baru dimulai.Beberapa jam set

  • The CEO'S Forbidden Bride    134. Belum Terlambat Untuk Memulai

    Pintu kamar Ellion tertutup pelan di belakang Sunrise. Ia berdiri sejenak di balik pintu, punggungnya bersandar pada dinding kayu yang dingin, napasnya tertahan. Detak jantungnya belum juga melambat, seolah tubuhnya masih terjebak di dekapan Khairen.Ia menekan telapak tangan ke dada, merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang. Ciuman, dekapan hangat, dan sentuhan itu... membuat kewarasannya hampir hilang.Di kamar Ellion, cahaya lampu tidur jatuh lembut di wajah bocah itu. Sunrise berjalan pelan mendekati Ellion. Ia duduk di sisi ranjang, mengusap rambutnya perlahan. Ellion bergumam kecil dalam tidur, alisnya berkerut sejenak, lalu kembali damai. Sunrise tersenyum getir menatapnya.“Maafkan Mommy,” bisiknya lirih, entah pada siapa.Ia berbaring di sisi ranjang hingga napas Ellion kembali teratur dan dadanya terasa sedikit lebih ringan. Namun rasa bersalah tetap menggantung. Ia tahu, yang terjadi barusan bukan sekadar godaan sesaat. Itu adalah sisa cinta yang belum pernah benar-

  • The CEO'S Forbidden Bride    133. Hampir Kehilangan Kendali

    Paku itu menancap perlahan, nyaris tanpa suara. Summer berjongkok di samping mobil Khairen, jantungnya berdetak cepat saat udara dingin Albinen menusuk tulang.Ia memastikan lubang kecil itu cukup untuk membuat ban kehilangan tekanan, tapi tidak cukup mencurigakan. Ketika desis halus terdengar, ia menutup mata sesaat, lalu berdiri, menyelipkan paku itu ke saku jaketnya.“Maaf,” bisiknya sekali lagi, sebelum melangkah kembali ke dalam rumah.Pagi belum benar-benar datang ketika Khairen berdiri di teras, mantel tebal sudah dikenakan, tas kecil tergantung di bahu. Kabut tipis kembali merayap di lembah.Sunrise mengantarnya sampai ke halaman, tangan mereka nyaris bersentuhan, namun tak ada yang berani memulai.“Aku harus berangkat sekarang,” ucap Khairen, suaranya datar, berusaha tenang.Sunrise mengangguk. “Hati-hati.”Kalimat itu sederhana, namun sarat makna yang tak terucap. Khairen membuka pintu mobil, duduk, menyalakan mesin. Lampu depan memotong kabut. Ia melambaikan tangan singkat,

  • The CEO'S Forbidden Bride    132. Rencana Kecil Summer dan Ellion

    Kabut di lembah Albinen perlahan menipis ketika percakapan itu berakhir, namun di sudut rumah kecil itu, ada sepasang telinga yang sejak tadi menahan napas.Summer berdiri di balik pintu taman yang sedikit terbuka. Tangannya menutup mulut, matanya basah. Setiap kata Khairen menembus dadanya, setiap isak Sunrise terasa seperti miliknya sendiri.Ia mengenal kakaknya. Ia tahu bagaimana Sunrise mencintai Khairen. Dan ia juga melihat, dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa Khairen mencintai Sunrise dengan cara yang sama-sama menyakitkan.Mereka bukan tidak saling mencintai. Mereka hanya terlalu takut untuk mengakui bahwa cinta itu masih hiduo di hatinya.Summer menghela napas panjang. Ide cemerlang lahir begitu saja, tanpa rencana matang, tanpa perhitungan rumit. Hanya satu keyakinan sederhana yang terngiang di otaknya, jika tidak ada yang mendorong mereka sekarang, mereka akan terus menjauh. demi alasan yang terdengar tak masuk akal, namun sesungguhnya hanya saling menutupi perasaan.Ia

  • The CEO'S Forbidden Bride    131. Hidupku Adalah Kalian

    Udara Albinen terasa segar, membawa aroma tanah basah dan bunga liar dari luar jendela. Sunrise terbangun perlahan, dengan kesadaran penuh bahwa tubuhnya masih berada di antara dua kehangatan, Ellion yang meringkuk di sisinya, dan Khairen yang duduk bersandar di kepala ranjang.Ellion mendengkur kecil, satu tangannya mencengkeram kemeja Khairen, seolah takut lelaki itu akan menghilang jika dilepaskan. Sunrise mengamati pemandangan itu lama, dadanya terasa penuh.Selama enam tahun, ia terbiasa menjadi satu-satunya penopang bagi Ellion. Kini, ada sosok lain yang dengan begitu alami mengisi ruang itu, menjadi bagian yang seharusnya memang ada.Khairen membuka mata, menangkap tatapan Sunrise. Mereka saling diam, berbagi keheningan yang canggung. Ada banyak hal yang ingin diucapkan.“Aku buatkan sarapan,” bisik Khairen akhirnya, suaranya serak karena baru bangun tidur. Ia perlahan melepaskan diri dari genggaman Ellion, menata ulang selimut agar anak itu tetap hangat.Sunrise menatap tak pe

  • The CEO'S Forbidden Bride    100. Kelemahan CNC

    "Aku kembali ke kamar." Sunrise memilih masuk ke kamar tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup perlahan. Pria itu tetap berdiri di teras, menatap punggung Sunrise yang menghilang, dengan rahang mengeras dan dada penuh pertanyaan.Sunrise tak pernah sedingin ini padanya.Di dalam kamar, Sunrise bersandar

  • The CEO'S Forbidden Bride    99. Rahasia Sunrise Tentang Khairen

    Mobil melaju membelah jalanan luar kota, pepohonan berganti ladang-ladang beku yang masih diselimuti sisa kabut pagi. Sunrise memejamkan mata, namun bayangan yang muncul bukan pemandangan di luar sana melainkan wajah Khairen, sorot matanya yang menahan banyak hal, dan suara napasnya yang tertahan s

  • The CEO'S Forbidden Bride    98. Saling Menjaga dan Percaya

    Sunrise menuruni mobil dengan langkah yang sedikit lebih lambat dari biasanya. Rasa perih juga remuk masih terasa di sekujur tubuhnya. Begitu pintu mobil tertutup, pandangannya langsung tertambat pada sosok yang berdiri di depan unitnya.Lucas.Pria itu bersandar santai di dinding koridor, tangan d

  • The CEO'S Forbidden Bride    97. Pagi Yang Hangat

    Cahaya pucat menyelinap melalui celah tirai, menyentuh sudut ranjang dan lantai marmer dengan warna keemasan. Sunrise terbangun lebih dulu. Napasnya terhenti sesaat ketika ia menyadari posisi tubuhnya, kepalanya masih bersandar di dada Khairen, satu lengan pria itu melingkar di pinggangnya, hangat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status