Home / Romansa / The CEO'S Forbidden Bride / 15. Saling Menguntungkan

Share

15. Saling Menguntungkan

Author: DF Handayani
last update Last Updated: 2025-06-11 01:29:02

"Tiga tahun, itu bukan waktu yang singkat." Sunrise menarik napasnya panjang.

Di sudut rest area kecil yang menjadi tempat pelarian dari kepenatan kantor pusat, Sunrise White duduk dengan tangan menggenggam cangkir berisi kopi yang sudah dingin. Di hadapannya, berkas kontrak laknat tergelak di atas meja.

Dibacanya lagi dengan hati-hati, bahkan untuk ketiga kalinya. Bukan karena tidak mengerti isi syaratnya, tapi karena tidak percaya Khairen benar-benar menyodorkannya begitu saja.

Sebuah pernika
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Juhaina R
ada kejadian yg mmbuat trauma rupanya.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • The CEO'S Forbidden Bride    108. Tertangkap Basah

    Di kediaman ibunya, suasana berubah mencekam sejak kabar itu tiba.Lucas berdiri di ruang tengah dengan rahang mengeras, telapak tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. “Dia kabur,” ucapnya dingin, seperti vonis. “Pergi tanpa izin. Tanpa penjelasan.”Sang ibu duduk kaku di sofa, wajahnya pucat. Di sampingnya, Summer berdiri dengan dada naik turun, jelas menahan amarah yang selama ini ia simpan.“Bukan kabur,” potong Summer tajam. “Sunrise pergi karena dia memilih hidupnya sendiri.”Lucas menoleh cepat. “Kau membelanya?” Nada suaranya meninggi. “Setelah semua yang kita lakukan? Setelah semua rencana itu?”“Justru karena semua itu,” jawab Summer tanpa gentar. “Sudah cukup Sunrise berkorban. Sudah cukup dia menderita demi rencana yang bahkan bukan pilihannya sejak awal.” Ia melangkah mendekat, menatap Lucas lurus dengan air mata yang menggenang. “Kita tidak berhak mengatur hidupnya. Dia butuh hidupnya sendiri, kebahagiaannya sendiri”Lucas tertawa pendek, “Dia memili

  • The CEO'S Forbidden Bride    107. Melindungimu adalah Tugasku

    Cahaya pagi menyusup perlahan, membelah tirai dengan garis keemasan yang lembut. Sunrise terbangun lebih dulu. Ia tidak langsung bergerak, hanya memandangi wajah Khairen yang tertidur di sampingnya.Pria itu terlihat berbeda dalam tidur tidak ada ketegangan di rahang, tidak ada dahi yang berkerut menahan beban dunia. Hanya napas teratur dan garis wajah yang akhirnya beristirahat.Sunrise mengangkat tangan, ragu sejenak, lalu menyentuh pipi Khairen dengan ujung jarinya, begitu hangat. Rahangnya tegas ditumbuhi jambang yang terawat rapi, membuatnya nampak tampan. Ia menelan ludah, menahan gelombang emosi yang kembali menguat.Namun, ada ketakutan yang masih tersisa, bersembunyi di sudut-sudut hatinya.Khairen bergerak, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka. Tatapannya langsung menemukan Sunrise. Sekilas, kebingungan melintas. Lalu matanya melembut, dan senyum kecil terukir, senyum yang jarang ia berikan pada siapa pun.“Kau masih di sini,” ucapnya lirih, seperti menguji keny

  • The CEO'S Forbidden Bride    106. Rindu dan Gairah

    Dunia Khairen seolah berhenti. Ia mendongak. Matanya membesar, lalu menyipit, seolah takut ini hanya bayangan.“Sunrise?” panggilnya lirih.Ia berdiri setengah, terhuyung, lalu duduk kembali. Sunrise mendekat dan berlutut di depannya. Khairen mengangkat tangan, menyentuh wajahnya dengan ragu, seolah memastikan ia nyata.“Kau… kembali,” bisiknya. "Benarkah ini kau? Aku tidak sedang bermimpi?Sunrise memegang tangan itu, menempelkannya ke pipinya. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. “Aku di sini.”Sekejap kemudian, Khairen memeluknya begitu erat, seperti seseorang yang baru saja selamat dari tenggelam. Napasnya berantakan.“Jangan pergi lagi,” pintanya parau. “Aku tidak peduli pada siapa pun. Jangan tinggalkan aku.”Sunrise membalas pelukan itu, menyembunyikan wajahnya di dada Khairen. “Aku tidak akan pergi.”Ciuman mereka terjadi tanpa kata. Awalnya gemetar, penuh rindu dan ketakutan. Lalu berubah semakin dalam, semakin menuntut, seolah keduanya berusah

  • The CEO'S Forbidden Bride    105. Pilihan Sunrise

    Lampu kamar Sunrise redup. Tirai jendela setengah terbuka, membiarkan cahaya kota menyusup samar ke lantai marmer. Sunrise duduk di tepi ranjang, punggungnya bersandar pada sandaran kepala ranjang, ponsel berada di tangannya sejak satu jam lalu, layarnya mati, tak ada notifikasi, tak ada pesan.Tidak ada nama Khairen yang muncul.Dadanya terasa sesak. Ia tahu pria itu tak mungkin diam tanpa alasan. Amarah yang tak bisa dikendalikan dan kekecewaan yang terlalu dalam untuk diucapkan. Serangan di CNC pagi tadi bukan kebetulan. Ia terlibat, meski tidak sepenuhnya seperti yang orang-orang bayangkan. Namun di mata Khairen, keterlibatan tetaplah pengkhianatan.Sunrise memejamkan mata. Bayangan wajah Khairen yang dingin, tajam, dan penuh kendali kembali terlintas. Ia menarik napas panjang, menekan perasaan bersalah yang menggerogoti dadanya.Di sisi lain rumah, di ruang kerja Lucas, suasana jauh dari tenang.Lucas berdiri di dekat jendela, punggungnya tegak, tangan

  • The CEO'S Forbidden Bride    104. Saling Menyerang

    Sunrise menarik napas panjang. “Aku butuh udara,” katanya dingin.Sunrise berjalan keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup pelan di belakangnya.Koridor AndersonNet sunyi. Lampu-lampu putih menyinari dinding logam yang dingin. Ia berjalan beberapa langkah sebelum berhenti.“Steve.”Langkah di belakangnya ikut berhenti. Steve muncul dari pintu ruangan tadi dan menutupnya kembali. Wajahnya masih dengan ekspresi tenang seperti biasa.Sunrise menoleh perlahan. Tatapannya tajam. “Aku ingin bicara denganmu.”Steve menatapnya beberapa detik sebelum mengangguk. Ia berjalan mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah darinya.“Silakan.”Sunrise menatap lurus ke matanya. “Apa kau memberi tahu kakakku tentang pernikahanku dengan Khairen?”Pertanyaan itu keluar tanpa ragu.Steve tidak langsung menjawab. Ia malah menyandarkan punggungnya ke dinding koridor dan memasukkan tangan ke saku celana.Sunrise menunggu.Beberapa detik berlalu sebelum Steve akhirnya berkata pelan.“Ti

  • The CEO'S Forbidden Bride    103. Serangan Awal untuk Crown

    Sunrise tidak bergerak. Tatapannya masih terpaku pada sosok yang berdiri di ambang pintu.Lampu ruang kerja AndersonNet yang redup membuat bayangan Steve memanjang di lantai marmer. Wajahnya tenang seperti biasa, sama seperti saat ia membahas kesepakatan dengannya.“Steve?” suaranya rendah.Steve mengangguk pelan dengan seringainya yang khas. “Apa kabar, Nona Eleonora?”Lucas yang berdiri di dekat jendela tersenyum samar. Ia menyesap anggurnya dengan santai seolah sedang menikmati sebuah pertunjukan yang sudah lama ia tunggu.Sunrise masih tidak bergerak.“Kenapa kau ada di sini?”Steve melangkah masuk sepenuhnya ke dalam ruangan. Pintu di belakangnya tertutup pelan.“Lucas yang memintaku datang,” jawab Steve tenang.Sunrise menoleh perlahan ke arah kakaknya. Tatapannya tajam.“Jelaskan padaku, apa maksud semua ini?”Lucas tidak langsung menjawab. Ia memutar gelas anggurnya perlahan, memperhatikan cairan merah itu berputar seperti pusaran kecil.“Steve bekerja untukku.”Sunrise tertaw

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status