Se connecter"Coba cerita ke aku," potong Javier tanpa basa-basi, begitu Raia baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi sebuah kafe. "Apa yang terjadi tadi pagi di kantor? Apa yang dia lakuin atau ucapin ke kamu?"Raia menarik napas panjang, mencondongkan tubuhnya ke depan agar suaranya tak terdengar pengunjung lain. Jemarinya yang dingin meremas cangkir kopi erat-erat."Tadi pagi... dia manggil aku ke ruangannya buat ngomongin hal gila, Jav," bisik Raia dengan suara bergetar, matanya melirik ke kanan dan kirim memastikan tak ada yang mendengar ucapannya. "Ibunya sempet maksa aku buat jodohin sama anak temen keluarganya... supaya dia gak jadi mengambil jalan hidup buat jadi pastor."Javier mengangkat kedua alisnyia terkejut dengan apa yang diucapkan Raia, pria itu tidak menyela, memberi ruang bagi Raia untuk menumpahkan seluruh isi kepalanya."Tapi dia nolak keras," lanjut Raia dengan napas terengah. "Dia bilang dia cuma mau aku. Ibunya gak setuju sama sekali sama aku, tapi dia mendesak... Dia maksa
"G-Gavi...?" beo Raia gugup, tenggorokannya mendadak terasa kering."Iya, Gavi. Kalian kan sekantor," potong Javier cepat. "Kamu satu perusahaan, satu gedung sama dia. Maksud aku... orang yang bikin kamu tertekan setengah mati ini ada hubungannya sama Gavi atau enggak? Apa dia tahu kondisi kamu sekarang?" Lsnjut Javier, mencoba menggali informasi lebih lanjut.Raia menggeleng cepat, meski Javier tidak bisa melihatnya di seberang telepon. Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya."Enggak, Jav…," bisik Raia pelan, suaranya terdengar begitu putus asa. "Enggak ada yang tahu... Gavi pun enggak tahu apa-apa.""Bagus kalau Gavi gak tahu," cetus Javier lugas.Raia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi di belakangnya, ia memejamkan mata. membuat salah satu bayangan pendek dari kantor tadi siang mendadak melintas di kepalanya."Sebenernya... cuma Sinta yang mulai curiga, Jav," bisik Raia lirih."Sinta? Temen kamu itu?" tanya Javier memastikan.S
Setiap kali Raia mencoba menelan masakan yang diantarkan ke apartemennya, makanan itu terasa tak ubahnya seperti pasir kering—kasar dan keras. Aroma sajian berkelas yang memenuhi meja makan miliknya justru terasa seperti teror baginya. Makanan itu bukan sekadar bentuk perhatian, melainkan penanda bahwa sang bos bisa menjangkau dan mengarahkan hidupnya kapan saja ia mau.Napas Raia mulai memburu, ia butuh pertolongan. Ia butuh seseorang yang mengerti kesehatan jiwa, seseorang yang berada jauh di luar lingkaran beracun Vaneric Group.Di tengah kepanikan yang ia rasakan, satu nama mendadak terlintas di benak Raia.Javier.Teman dekatnya sejak masa kuliah dulu yang kini berprofesi sebagai seorang psikolog klinis. Javier—atau yang biasa disapa Javi—adalah sosok yang memiliki ketenangan luar biasa, punya pemikiran kritis, pendengar yang luar biasa baik, dan satu-satunya orang yang pernah menjadi tempat Raia bersandar saat masa-masa paling kelam di kampus.Dengan jemari gemetar, Raia meraih
Dua jam berada di balik kubikelnya, Raia merasa gedung Vaneric Group mulai memeras seluruh udara dari paru-parunya. Layar monitor di hadapannya menayangkan deretan angka laporan keuangan yang mendadak kabur, tak ada satu pun yang sanggup dicerna oleh otaknya.Ia tidak bisa terus berada di sini. Dinding-dinding kaca kantor ini rasanya bagai sangkar yang kian menyempit dan menyiksa.Dengan jemari yang bergetar, Raia membuka sistem kalender digital untuk memeriksa agenda Leo. Kosong. Hanya ada peninjauan berkas internal rutin tanpa ada rapat direksi atau janji temu penting dengan klien setelah makan siang.Begitu jam istirahat berakhir, Raia mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang tersisa. Ia bangkit dengan langkah gontai, lalu mengetuk pintu ruangan Leo cukup pelan."Masuk." Suara bariton dari dalam memberi izin.Raia mendorong pintu dengan pelan. Pria itu menghentikan ketukan pulpennya begitu mendapati Raia berdiri kaku di dekat ambang pintu."Pak Leo...," bisik Raia amat pelan, menu
"Raia, dengarkan saya sebentar," panggil Leo, menghalangi langkah Raia yang hendak meninggalkannya.Raia menggeleng, matanya menatap lantai dengan berkaca-kaca. Namun, Leo tidak membiarkan perempuan itu pergi dalam keadaan kalut. Pria itu paham betul bagaimana Raia—kelembutan hati dan empati perempuan itu yang tak pernah tega melihat orang lain hancur, sebuah kebaikan yang kini kembali dieksploitasi oleh keadaan."Saya tahu kamu marah. Tapi saya juga tahu persis siapa kamu, Raia," ucap Leo rendah. "Kamu tidak akan pernah tega membiarkan Vaneric Group hancur. Kamu tahu sendiri betapa kerasnya Mama menjaga kehormatan keluarga ini. Kamu pasti nggak akan sampai hati melihat beliau sedih dan hancur kalau sampai tahu kebenarannya, apalagi kalau Vaneric sampai jatuh ke tangan Sandy."Napas Raia tertahan. Kata-kata Leo menghantam tepat di bagian tersulit dari nuraninya. Ia benci diintimidasi, tapi ia jauh lebih benci melihat seorang ibu dihancurkan oleh kekecewaan—dan Leo tahu betul kelemahan
"Kamu ... kenapa jawabnya sampai gemetaran dan pucat begitu, Raia? Kamu tidak sedang bohong sama saya, kan?"Leo merangsek maju dan berdiri pasang badan di depan Raia. Pria itu menggenggam tangan Raia yang terasa dingin.“Raia gemetaran karena dia takut sama Mama," potongnya. "Mama tahu sendiri gimana wibawa Mama di rumah ini. Dia cuma cemas Mama nggak akan pernah mau menerima dia sebagai calon menantu Mama," terangnya, mengusap punggung tangan Raia dengan lembut.Bu Rica menyilangkan tangannya di dada, menatap keduanya dengan senyum tipis di bibirnya. "Mama cuma nggak mau kamu mengambil keputusan yang salah karena emosi sesaat, Leo.” Wanita itu mengambil napas panjang. Berusaha menetralkan emosinya. “Kamu tahu posisi kamu di Vaneric Group!" tukasnya tegas."Leo nggak gegabah, Ma," sela Leo tegas. "Leo janji sama Mama... Leo bakal buktikan kalau keputusan Leo untuk memilih Raia bukan main-main. Leo bakal buktikan kalau Raia adalah satu-satunya wanita yang layak berdiri di samping Leo,







