ログインLorenzo melepaskan rentetan tembakan ke arah barisan depan, memaksa Alfonso dan Francesco untuk tetap menunduk di balik perlindungan mereka. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Belladonna. Dia kembali berlari. Dia meloncati tumpukan kursi yang terguling. Kakinya yang tanpa alas kini mulai terasa perih karena serpihan kaca kecil, namun dia tidak peduli. Rasa sakit yang dirasakannya adalah bukti bahwa dirinya masih hidup.Setelah mencapai pintu besar katedral, dengan sekuat tenaga Belladonna mendorong daun pintu yang sangat berat itu. Udara segar Reggio Calabria menerpa wajahnya. Sinar matahari siang itu terasa begitu menyilaukan setelah kegelapan dan kepulan asap di dalam sana.Di luar katedral, pelataran yang tadinya tenang kini dipenuhi oleh pengawal Valenti yang mulai menyadari ada yang tidak beres di dalam. Namun, perhatian mereka terpecah. Sebuah mobil hitam dengan kaca gelap tiba-tiba menderu naik ke atas pelataran, menabrak barisan pot bunga besar.Pintu pengemudi terbuk
Francesco membeku. Wajah tampannya yang tadi memancarkan arogansi kini memucat, lalu perlahan berubah menjadi merah padam yang mengerikan. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya terlihat jelas. Dia melihat tangannya yang baru saja disentak oleh Belladonna, tangan yang kini terasa kosong dan dipermalukan."Kau..." Francesco mendesis, suaranya parau oleh murka yang meluap. "Apa yang kau lakukan, Belladonna? Kau baru saja menandatangani surat kematianmu sendiri!"Di barisan depan, Alfonso bangkit dari kursi dengan sentakan kasar. Dia melihat ke sekeliling, menyadari bahwa dalam hitungan detik martabat keluarga Valenti telah menjadi bahan cemoohan bagi ratusan pemimpin klan mafia yang hadir.Sedangkan Caterina memegang dadanya. Wanita itu seperti akan mendapat serangan jantung. Melihat istrinya, Alfonso urung memerintahkan pengawal untuk menangkap Belladonna dan mencoba menenangkan istrinya.Uskup Agung mundur teratur. Wajahnya pucat pasi seputih jubahnya. Dia melakukan tanda
Katedral Reggio Calabria hari ini terlihat berbeda dari biasanya karena hari ini pernikahan Belladonna dan Francesco akan diselenggarakan. Ratusan tamu undangan yang terdiri dari pria-pria berjas mahal dengan tatapan sedingin es dan wanita-wanita bergaun indah yang memamerkan perhiasan berlian duduk di barisan kursi. Mereka bukan tamu biasa. Mereka adalah para pemimpin dan petinggi klan mafia terkuat di seluruh Italia. Di barisan depan, Alfonso dan Caterina duduk dengan senyum kemenangan yang dipoles begitu sempurna. Mereka sangat menikmati momen kejayaan keluarga mereka. Belladonna berdiri di depan altar. Dia tampak seperti patung lilin yang indah namun rapuh dalam balutan gaun pengantin putihnya yang cantik. Ekor gaun sepanjang tujuh meter menyapu lantai di belakangnya seperti sungai putih yang memisahkan barisan kursi tamu. Di sampingnya, Francesco Valenti berdiri tegap dengan setelan tuxedo hitam. Wajahnya yang tampan memancarkan arogansi dan kepuasan yang tidak terbendung. Ta
Hari itu kediaman Lorenzo menerima sesuatu dari pihak Francesco. Matteo segera memberikannya pada sang tuan. "Don, ada kiriman khusus dari Calabria. Langsung dari tangan kurir pribadi Francesco Valenti." Lorenzo tidak bergerak. Tatapannya terus tertuju ke luar jendela. "Buka," perintahnya singkat. Matteo meletakkan kotak di atas meja dan segera membukanya. Di dalam kotak tersebut terdapat sebuah undangan pernikahan yang sangat mewah. Nama Francesco Valenti dan Belladonna Valenti terukir timbul di sana. Namun, ada detail yang jauh lebih menyakitkan. Sebuah foto prewedding terselip di dalamnya. Foto tersebut menunjukkan Belladonna yang berdiri dengan anggun mengenakan gaun berwarna putih. Di belakangnya, Francesco berdiri dengan senyum kemenangan. Pria itu memeluk Belladonna dengan sangat mesra. Telapak tangannya menempel posesif di atas perut Belladonna yang besar, tempat di mana benih Lorenzo sedang tumbuh. Matteo menahan napas, menunggu ledakan murka Lorenzo. Ia sudah mem
Belladonna segera menghapus air matanya dengan kasar begitu mendengar derap langkah sepatu yang sangat dia kenali di lorong. Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggila. Dengan tergesa Belladonna masuk ke kamar lalu mengambil botol parfum di atas meja rias, sebuah pengalih perhatian yang payah, namun hanya itu yang terpikirkan olehnya.Pintu pun terbuka. Francesco masuk dengan wajah yang tampak jauh lebih rileks."Hei," sapa pria itu lembut lalu berjalan mendekat dan berdiri di belakang Belladonna, menatap pantulan wajah wanita itu melalui cermin. "Maaf membuatmu menunggu. Urusan pelabuhan memang tidak pernah ada habisnya."Belladonna memaksa sudut bibirnya terangkat, menciptakan senyum tipis yang dia harap tidak terlihat gemetar. "Tidak apa-apa. Aku baru saja ingin bersiap tidur."Francesco meletakkan tangannya di bahu Belladonna, lalu perlahan turun mengusap perutnya yang besar. "Tadi itu makan malam yang menyenangkan, bukan? Ayah dan Ibu sanga
Francesco tidak membuang waktu. Pria itu membawa Belladonna ke Villa Valenti, kediaman utama keluarga besar mereka tempat orang tua Francesco tinggal."Tenanglah, mereka akan menyukaimu," bisik Francesco sambil menggenggam tangan Belladonna di dalam mobil yang melaju tenang.Belladonna hanya diam. Dia tahu, di dunia seperti ini, menyukai adalah kata yang punya banyak lapisan makna. Dia membelai perutnya, merasakan kegelisahan yang sama dari janin di dalamnya.Sesampainya di sana, kedua orang tua Francesco yaitu Alfonso dan Caterina langsung menyambut. Alfonso adalah pria tua dengan rambut perak yang disisir rapi, tatapannya tajam namun bibirnya tersenyum ramah. Sementara Caterina tampak sangat anggun dengan gaun beludru hitam dan kalung mutiara yang melingkar di lehernya."Ah, ini dia wanita yang membuat putraku rela membakar dunia," suara Alfonso menggelegar ramah. Dia merentangkan tangan, menyambut Belladonna seolah wanita itu adalah menantu kesayangan yang sudah lama dinanti.