공유

Part 83

last update 게시일: 2026-04-02 20:30:44

Malam di pesisir Calabria terasa mencekam saat mobil hitam anti peluru itu membelah kegelapan jalan. Matteo sengaja menyetir sendiri. Dia menginstruksikan para pengawal dan anak buahnya untuk menunggu di perbatasan kota. Dia tidak ingin ada mata-mata lain yang melihat betapa hancurnya kondisi istri sang Don, atau lebih buruk lagi, mencium keterlibatan Fiammetta dalam drama pelarian ini. Dalam dunia mafia, memiliki kekasih di wilayah tugas bisa dianggap sebagai kelemahan atau pelanggaran profesi
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • The Devil's Obsession   Tamat

    Hari-hari pertama memulai pekerjaan sebagai petani anggur, Lorenzo tidak tahu cara mengayunkan cangkul dengan benar. Telapak tangannya yang halus langsung melepuh. Cairan bening keluar dari luka-lukanya, namun dia tidak berhenti. Dia merasa malu jika harus mengeluh di depan Allegra yang terlihat lebih tangguh dari dirinya.​Setiap gerakan Lorenzo terasa kaku. Saat dia mencoba memperbaiki saluran irigasi, dia malah membuat air meluap dan membasahi celananya hingga berlumpur. Dia seringkali berdiri mematung di tengah barisan pohon anggur yang meranggas, memandangdahan-dahan kering itu seolah-olah mereka adalah musuh yang harus dia taklukkan dengan tatapan mata, padahal mereka hanya butuh sentuhan tangan yang ahli.​"Sialan," umpatnya pelan saat punggungnya terasa seolah mau patah setelah dua jam mencangkul. Dia terbiasa dengan kelelahan mental akibat perang saraf mafia, bukan kelelahan otot yang membuat napasnya tersengal-sengal seperti ini. Namun, Lorenzo tidak ingin menyerah. Menjadi

  • The Devil's Obsession   Part 89

    Setelah tiga minggu terombang-ambing di kapal kargo, Lorenzo, Allegra, dan Alessandro mendarat di pelabuhan kecil Bahía Blanca, Argentina. Mereka turun tengah malam lalu menyelinap di antara tumpukan kontainer untuk menghindari petugas pelabuhan. Lorenzo tidak punya rumah mewah yang menunggu. Yang dia miliki hanyalah tas kain berisi uang tunai dalam jumlah besar, beberapa bongkah emas, dan batu berlian.​"Kita tidak punya tempat tujuan, Enzo,” ujar Allegra bingung saat mereka berdiri di pinggir jalan raya yang sepi dan berdebu.​Lorenzo menggeleng, matanya terus waspada memindai sekeliling. "Belum. Tapi kita punya uang, dan di negara ini, uang bisa membeli identitas baru dalam semalam."Lorenzo lalu menyewa sebuah mobil tua dan berkendara menuju Barat, menjauhi hiruk-pikuk ibu kota. Lorenzo sengaja memilih provinsi Mendoza yang jaraknya sekitar lima belas jam perjalanan darat dari Buenos Aires, ibu kota Argentina, sebagai pelarian. Bukan karena dia sudah punya properti di sana, tapi k

  • The Devil's Obsession   Part 88

    Hujan turun seperti air mata yang tumpah dari langit saat mobil yang dikendarai Lorenzo membelah jalan. Lorenzo mengebut dengan tatapan waspada sambil mengawasi kalau ada mobil yang mengikuti di belakangnya. Kalau-kalau Matteo berubah pikiran dan berkhianat.Lorenzo memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi menuju pelabuhan peti kemas di Gioia Tauro. Dia menghindari jalan tol utama, dan lebih memilih jalur tikus yang hanya diketahui oleh para penyelundup. ​"Kenapa kita tidak ke bandara, Enzo?" tanya Allegra dengan suara gemetar sembari memeluk Alessandro yang gelisah dalam tidurnya.​"Bandara adalah jebakan, Cara. Di sana ada kamera biometrik dan petugas yang bisa dibeli. Di pelabuhan kargo, hanya ada uang dan kesetiaan yang bisa disuap," jawab Lorenzo pendek.​Di pelabuhan, Lorenzo menemui kapten kapal. Pria itu pernah dia selamatkan dari eksekusi klan musuh sekitar satu setengah tahun yang lalu. Tanpa paspor, tanpa manifes, Lorenzo menyerahkan jam tangan Patek Philippe seharga ratu

  • The Devil's Obsession   Part 87

    Malam itu, di ruang kerjanya Lorenzo Castellano berdiri mematung. Di atas meja kuno yang telah menjadi saksi bisu ribuan perintah kematian, tergeletak sebuah cincin emas dengan ukiran huruf C, simbol kekuasaan tertinggi klan Castellano.​Pintu terbuka. Matteo masuk dengan langkah tegap, namun wajahnya tampak tegang. Dia sudah mencium aroma kegelisahan sejak satu minggu terakhir.​"Anda memanggil saya, Don?" suara Matteo terdengar.​"Duduklah, Matteo."​Matteo menurut, namun punggungnya tidak menyentuh sandaran kursi. Matanya langsung tertuju pada cincin di atas meja. Jantungnya berdegup kencang. Dalam dunia mereka, cincin yang dilepaskan hanya berarti dua hal, yaitu kematian atau pengkhianatan.​"Satu minggu ini aku tidak bisa menyentuh putraku," Lorenzo memulai. "Setiap kali aku mendekat, Allegra menatapku seolah aku adalah bangkai yang busuk. Dia memanggilku iblis di depan telinga Alessandro."​"Nyonya Allegra sedang emosional, Don. Dia akan luluh seiring berjalannya waktu," sahut M

  • The Devil's Obsession   Part 86

    Lorenzo Castellano tergelak sinis. Dia berdiri dari duduknya. Telapak tangannya menekan meja sambil menatap Belladonna dengan sorot mata yang begitu tajam.​"Kamu memintaku mati, Cara," desisnya. "Tanpa tahta ini, aku hanyalah sasaran empuk. Kamu ingin melihatku digantung di alun-alun kota? Kamu ingin Alessandro melihat kepala ayahnya dikirim dalam kotak kayu oleh klan Valenti?"​Belladonna tidak berkedip. "Aku lebih baik menangisi makam seorang suami yang jujur daripada harus hidup bersamamu tapi jiwaku mati setiap kali kau menyentuhku dengan tangan yang berbau darah keluargaku."​"Jawabannya adalah TIDAK," jawab Lorenzo tegas dengan suara yang begitu keras. "Aku tidak akan membiarkan kalian dalam bahaya hanya karena idealisme butamu."​Belladonna tidak mendebat lagi. Dia hanya menatap Lorenzo dengan tatapan kosong. "Baiklah. Kalau begitu nikmatilah tahtamu yang berdarah itu, Don Lorenzo. Tapi jangan pernah bermimpi untuk menyentuh Alessandro. Jangan pernah berharap bisa mencium bau

  • The Devil's Obsession   Part 85

    Tangis kecil Alessandro membangunkan Belladonna dari tidurnya. Dengan gerakan refleks seorang ibu Belladonna langsung terduduk.“Sshhh... Sayang, Ibu di sini. Ibu di sini," bisik Belladonna lembut. Dia mengangkat Alessandro ke dalam pelukannya lalu menyusuinya.Setelah Alessandro tenang dan kembali terlelap, Belladonna merebahkan anak itu kembali di atas tempat tidur. Dia mengusap pipi putranya sejenak, merasakan kehangatan yang menjadi satu-satunya kekuatannya saat ini.​Saat keluar kamar, dia bertemu dengan Lorenzo yang berdiri di depan pintu entah sejak kapan. ​"Dia kembali tidur?" tanya pria itu.“Iya. Mandilah, Lorenzo," ucap Belladonna dingin tanpa emosi. "Bersihkan aroma alkohol dan kegelapan dari tubuhmu. Aku akan menemuimu di ruang makan dalam tiga puluh menit. Kita akan bicara, dan kau akan mendengar harga yang harus kau bayar untuk kepulanganku."​Lorenzo terdiam, rahangnya mengeras sejenak sebelum dia mengangguk patuh. Sebuah pemandangan langka di mana dia tunduk pada per

  • The Devil's Obsession   Part 15

    Lorenzo menggandeng tangan Allegra, menuntunnya keluar dari kapel. Saat mereka melangkah melewati barisan pria bersetelan hitam, secara serentak para pria itu menundukkan kepala dengan takzim. ​Begitu sampai di luar, matahari sudah semakin tinggi, menyilaukan mata Allegra yang terbiasa dengan tema

  • The Devil's Obsession   Part 14

    Matahari baru saja naik, menyiram Villa dengan cahaya keemasan. Di dalam kamar utama, Allegra berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun pengantin yang telah disiapkan untuknya. Lorenzo berdiri di belakangnya, membantu mengancingkan deretan kancing mutiara di punggung gaun itu.​Gerakan tangan

  • The Devil's Obsession   Part 13

    Lorenzo duduk di balik meja yang besar. Pria itu terlihat gelisah, sebuah pemandangan langka bagi sosok yang biasanya memiliki kendali atas segala hal. Jemarinya yang panjang terus mengusap pinggiran bingkai foto di hadapannya. Foto itu memperlihatkan dirinya dan Allegra dalam balutan pakaian penga

  • The Devil's Obsession   Part 12

    Angin di perkebunan zaitun yang berada tidak jauh dari villa berdesir pelan. Vittoria berjalan di depan dengan langkah gusar, sesekali menghentakkan kaki karena merasa harga dirinya terluka akibat pengusiran Lorenzo.​"Kenapa kita ke sini, Dante? Aku ingin segera pergi dari tempat terkutuk ini dan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status