Share

Part 48

last update publish date: 2026-03-09 15:39:36

Malam semakin larut, namun Francesco tidak segera beranjak. Setelah ketegangan di kaki Belladonna mereda, pria itu meletakkan kembali kaki wanita itu dengan perlahan. Dia bangkit berdiri, merapikan sedikit kemejanya, lalu bersandar pada pagar balkon, menatap kegelapan laut yang memisahkan mereka dengan Sicily.

​"Istirahatlah," ucap Francesco tanpa menoleh. "Besok akan menjadi hari yang lebih panjang jika kau bersikeras menambah porsi pangganganmu."

​Belladonna memperhatikan siluet punggung Fran
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The Devil's Obsession   Part 66

    Katedral Reggio Calabria hari ini terlihat berbeda dari biasanya karena hari ini pernikahan Belladonna dan Francesco akan diselenggarakan. Ratusan tamu undangan yang terdiri dari pria-pria berjas mahal dengan tatapan sedingin es dan wanita-wanita bergaun indah yang memamerkan perhiasan berlian duduk di barisan kursi. Mereka bukan tamu biasa. Mereka adalah para pemimpin dan petinggi klan mafia terkuat di seluruh Italia. Di barisan depan, Alfonso dan Caterina duduk dengan senyum kemenangan yang dipoles begitu sempurna. Mereka sangat menikmati momen kejayaan keluarga mereka. ​Belladonna berdiri di depan altar. Dia tampak seperti patung lilin yang indah namun rapuh dalam balutan gaun pengantin putihnya yang cantik. Ekor gaun sepanjang tujuh meter menyapu lantai di belakangnya seperti sungai putih yang memisahkan barisan kursi tamu. Di sampingnya, Francesco Valenti berdiri tegap dengan setelan tuxedo hitam. Wajahnya yang tampan memancarkan arogansi dan kepuasan yang tidak terbendung. Ta

  • The Devil's Obsession   Part 65

    Hari itu kediaman Lorenzo menerima sesuatu dari pihak Francesco. Matteo segera memberikannya pada sang tuan. ​"Don, ada kiriman khusus dari Calabria. Langsung dari tangan kurir pribadi Francesco Valenti." ​Lorenzo tidak bergerak. Tatapannya terus tertuju ke luar jendela. "Buka," perintahnya singkat. ​Matteo meletakkan kotak di atas meja dan segera membukanya. Di dalam kotak tersebut terdapat sebuah undangan pernikahan yang sangat mewah. Nama Francesco Valenti dan Belladonna Valenti terukir timbul di sana. Namun, ada detail yang jauh lebih menyakitkan. Sebuah foto prewedding terselip di dalamnya. ​Foto tersebut menunjukkan Belladonna yang berdiri dengan anggun mengenakan gaun berwarna putih. Di belakangnya, Francesco berdiri dengan senyum kemenangan. Pria itu memeluk Belladonna dengan sangat mesra. Telapak tangannya menempel posesif di atas perut Belladonna yang besar, tempat di mana benih Lorenzo sedang tumbuh. ​Matteo menahan napas, menunggu ledakan murka Lorenzo. Ia sudah mem

  • The Devil's Obsession   Part 64

    Belladonna segera menghapus air matanya dengan kasar begitu mendengar derap langkah sepatu yang sangat dia kenali di lorong. Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggila. Dengan tergesa Belladonna masuk ke kamar lalu mengambil botol parfum di atas meja rias, sebuah pengalih perhatian yang payah, namun hanya itu yang terpikirkan olehnya.​Pintu pun terbuka. Francesco masuk dengan wajah yang tampak jauh lebih rileks.​"Hei," sapa pria itu lembut lalu berjalan mendekat dan berdiri di belakang Belladonna, menatap pantulan wajah wanita itu melalui cermin. "Maaf membuatmu menunggu. Urusan pelabuhan memang tidak pernah ada habisnya."​Belladonna memaksa sudut bibirnya terangkat, menciptakan senyum tipis yang dia harap tidak terlihat gemetar. "Tidak apa-apa. Aku baru saja ingin bersiap tidur."​Francesco meletakkan tangannya di bahu Belladonna, lalu perlahan turun mengusap perutnya yang besar. "Tadi itu makan malam yang menyenangkan, bukan? Ayah dan Ibu sanga

  • The Devil's Obsession   Part 63

    Francesco tidak membuang waktu. Pria itu membawa Belladonna ke Villa Valenti, kediaman utama keluarga besar mereka tempat orang tua Francesco tinggal.​"Tenanglah, mereka akan menyukaimu," bisik Francesco sambil menggenggam tangan Belladonna di dalam mobil yang melaju tenang.​Belladonna hanya diam. Dia tahu, di dunia seperti ini, menyukai adalah kata yang punya banyak lapisan makna. Dia membelai perutnya, merasakan kegelisahan yang sama dari janin di dalamnya.​Sesampainya di sana, kedua orang tua Francesco yaitu Alfonso dan Caterina langsung menyambut. Alfonso adalah pria tua dengan rambut perak yang disisir rapi, tatapannya tajam namun bibirnya tersenyum ramah. Sementara Caterina tampak sangat anggun dengan gaun beludru hitam dan kalung mutiara yang melingkar di lehernya.​"Ah, ini dia wanita yang membuat putraku rela membakar dunia," suara Alfonso menggelegar ramah. Dia merentangkan tangan, menyambut Belladonna seolah wanita itu adalah menantu kesayangan yang sudah lama dinanti.​

  • The Devil's Obsession   Part 62

    ​Belladonna sontak bangkit dari tempat tidur. Ditatapnya Francesco dengan mata membulat sempurna. Sebenci-bencinya Belladonna kepada Lorenzo, dia tidak mungkin menerima ide gila itu. ​"Menikah? Apa kau gila? Kau lupa statusku, Francesco? Di mata seluruh klan di Italia, aku adalah istri sah Lorenzo Castellano. Kita berada di tanah yang menjunjung tinggi sakralnya pernikahan, bahkan jika pernikahan itu dibangun di atas tumpukan kebohongan."Belladonna menjeda kata untuk mengatur napasnya yang sesak.Setelah berhasil menenangkan diri, dia kembali melanjutkan perkataannya. "Lorenzo tidak akan membiarkanmu. Dia akan menggunakan status suami sah untuk melegitimasi pembantaian terhadap klanmu. Kau ingin seluruh dunia melihatmu sebagai pria yang mencuri istri orang lain?"​"Kenapa kau jadi membelanya? Apa kau lupa? Lorenzo menikahimu saat kau amnesia. Dia menipumu. Dia memalsukan persetujuanmu karena kau tidak tahu siapa dirimu sebenarnya. Secara hukum sipil, aku sudah meminta pengacaraku u

  • The Devil's Obsession   Part 61

    Belladonna terbangun oleh tendangan keras di dalam perutnya. Lamat-lamat matanya pun terbuka. Ternyata hari sudah pagi. Belladonna tidak langsung bergerak dari tempat tidurnya. Tubuhnya terasa berat, seolah kelelahan emosional semalam telah menyedot seluruh energi fisiknya. Dia membetulkan posisi berbaring dengan menumpuk bantal sedikit lebih tinggi.Bersandar pada tumpukan bantal lembut, Belladonna menyapukan telapak tangan di atas permukaan perutnya yang buncit. Gerakan janin di dalamnya berangsur tenang. Lalu pikirannya kembali pada kejadian kemarin malam. Pada saat dia menyakiti Lorenzo dengan cara melumat bibir Francesco dengan begitu mesra.Dia ingat tatapan mata Lorenzo yang memerah dan menyiratkan luka sedalam samudera. Belladonna tahu persis, di dunia mafia yang brutal, penghinaan seperti itu jauh lebih menyakitkan daripada peluru tajam yang menembus daging. Dia sengaja melakukannya. Dia ingin Lorenzo merasakan penderitaan yang sama dengan apa yang dirasakannya saat mengetahu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status