Compartilhar

Part 82

last update Data de publicação: 2026-04-01 20:29:49

Belladonna memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air mata keputusasaan membasahi pipinya.

​Dia tahu Matteo tidak sedang membual. Jika bukan Matteo yang menemukannya, maka regu pengejar lain, pria-pria yang tidak mengenal Fiammetta dan tidak memiliki secercah pun empati, akan menyeretnya dengan cara yang jauh lebih brutal. Dia bisa saja melompat dari jendela, namun risiko bagi Alessandro terlalu besar. Pikirannya berputar liar, membayangkan wajah Lorenzo yang penuh amarah, namun juga menginga
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (2)
goodnovel comment avatar
Miumiu Dara
pov Lorenzo kenapa bunuh bapak nya belladonna
goodnovel comment avatar
Nyonya Juna
kan lorenzo sngat cinta..belladona hrs manfaatin itu..suruh lorenzo insyaf kek apa gmn biar gk jd ketua genk atau apalah itu namanya...
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • The Devil's Obsession   Tamat

    Hari-hari pertama memulai pekerjaan sebagai petani anggur, Lorenzo tidak tahu cara mengayunkan cangkul dengan benar. Telapak tangannya yang halus langsung melepuh. Cairan bening keluar dari luka-lukanya, namun dia tidak berhenti. Dia merasa malu jika harus mengeluh di depan Allegra yang terlihat lebih tangguh dari dirinya.​Setiap gerakan Lorenzo terasa kaku. Saat dia mencoba memperbaiki saluran irigasi, dia malah membuat air meluap dan membasahi celananya hingga berlumpur. Dia seringkali berdiri mematung di tengah barisan pohon anggur yang meranggas, memandangdahan-dahan kering itu seolah-olah mereka adalah musuh yang harus dia taklukkan dengan tatapan mata, padahal mereka hanya butuh sentuhan tangan yang ahli.​"Sialan," umpatnya pelan saat punggungnya terasa seolah mau patah setelah dua jam mencangkul. Dia terbiasa dengan kelelahan mental akibat perang saraf mafia, bukan kelelahan otot yang membuat napasnya tersengal-sengal seperti ini. Namun, Lorenzo tidak ingin menyerah. Menjadi

  • The Devil's Obsession   Part 89

    Setelah tiga minggu terombang-ambing di kapal kargo, Lorenzo, Allegra, dan Alessandro mendarat di pelabuhan kecil Bahía Blanca, Argentina. Mereka turun tengah malam lalu menyelinap di antara tumpukan kontainer untuk menghindari petugas pelabuhan. Lorenzo tidak punya rumah mewah yang menunggu. Yang dia miliki hanyalah tas kain berisi uang tunai dalam jumlah besar, beberapa bongkah emas, dan batu berlian.​"Kita tidak punya tempat tujuan, Enzo,” ujar Allegra bingung saat mereka berdiri di pinggir jalan raya yang sepi dan berdebu.​Lorenzo menggeleng, matanya terus waspada memindai sekeliling. "Belum. Tapi kita punya uang, dan di negara ini, uang bisa membeli identitas baru dalam semalam."Lorenzo lalu menyewa sebuah mobil tua dan berkendara menuju Barat, menjauhi hiruk-pikuk ibu kota. Lorenzo sengaja memilih provinsi Mendoza yang jaraknya sekitar lima belas jam perjalanan darat dari Buenos Aires, ibu kota Argentina, sebagai pelarian. Bukan karena dia sudah punya properti di sana, tapi k

  • The Devil's Obsession   Part 88

    Hujan turun seperti air mata yang tumpah dari langit saat mobil yang dikendarai Lorenzo membelah jalan. Lorenzo mengebut dengan tatapan waspada sambil mengawasi kalau ada mobil yang mengikuti di belakangnya. Kalau-kalau Matteo berubah pikiran dan berkhianat.Lorenzo memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi menuju pelabuhan peti kemas di Gioia Tauro. Dia menghindari jalan tol utama, dan lebih memilih jalur tikus yang hanya diketahui oleh para penyelundup. ​"Kenapa kita tidak ke bandara, Enzo?" tanya Allegra dengan suara gemetar sembari memeluk Alessandro yang gelisah dalam tidurnya.​"Bandara adalah jebakan, Cara. Di sana ada kamera biometrik dan petugas yang bisa dibeli. Di pelabuhan kargo, hanya ada uang dan kesetiaan yang bisa disuap," jawab Lorenzo pendek.​Di pelabuhan, Lorenzo menemui kapten kapal. Pria itu pernah dia selamatkan dari eksekusi klan musuh sekitar satu setengah tahun yang lalu. Tanpa paspor, tanpa manifes, Lorenzo menyerahkan jam tangan Patek Philippe seharga ratu

  • The Devil's Obsession   Part 87

    Malam itu, di ruang kerjanya Lorenzo Castellano berdiri mematung. Di atas meja kuno yang telah menjadi saksi bisu ribuan perintah kematian, tergeletak sebuah cincin emas dengan ukiran huruf C, simbol kekuasaan tertinggi klan Castellano.​Pintu terbuka. Matteo masuk dengan langkah tegap, namun wajahnya tampak tegang. Dia sudah mencium aroma kegelisahan sejak satu minggu terakhir.​"Anda memanggil saya, Don?" suara Matteo terdengar.​"Duduklah, Matteo."​Matteo menurut, namun punggungnya tidak menyentuh sandaran kursi. Matanya langsung tertuju pada cincin di atas meja. Jantungnya berdegup kencang. Dalam dunia mereka, cincin yang dilepaskan hanya berarti dua hal, yaitu kematian atau pengkhianatan.​"Satu minggu ini aku tidak bisa menyentuh putraku," Lorenzo memulai. "Setiap kali aku mendekat, Allegra menatapku seolah aku adalah bangkai yang busuk. Dia memanggilku iblis di depan telinga Alessandro."​"Nyonya Allegra sedang emosional, Don. Dia akan luluh seiring berjalannya waktu," sahut M

  • The Devil's Obsession   Part 86

    Lorenzo Castellano tergelak sinis. Dia berdiri dari duduknya. Telapak tangannya menekan meja sambil menatap Belladonna dengan sorot mata yang begitu tajam.​"Kamu memintaku mati, Cara," desisnya. "Tanpa tahta ini, aku hanyalah sasaran empuk. Kamu ingin melihatku digantung di alun-alun kota? Kamu ingin Alessandro melihat kepala ayahnya dikirim dalam kotak kayu oleh klan Valenti?"​Belladonna tidak berkedip. "Aku lebih baik menangisi makam seorang suami yang jujur daripada harus hidup bersamamu tapi jiwaku mati setiap kali kau menyentuhku dengan tangan yang berbau darah keluargaku."​"Jawabannya adalah TIDAK," jawab Lorenzo tegas dengan suara yang begitu keras. "Aku tidak akan membiarkan kalian dalam bahaya hanya karena idealisme butamu."​Belladonna tidak mendebat lagi. Dia hanya menatap Lorenzo dengan tatapan kosong. "Baiklah. Kalau begitu nikmatilah tahtamu yang berdarah itu, Don Lorenzo. Tapi jangan pernah bermimpi untuk menyentuh Alessandro. Jangan pernah berharap bisa mencium bau

  • The Devil's Obsession   Part 85

    Tangis kecil Alessandro membangunkan Belladonna dari tidurnya. Dengan gerakan refleks seorang ibu Belladonna langsung terduduk.“Sshhh... Sayang, Ibu di sini. Ibu di sini," bisik Belladonna lembut. Dia mengangkat Alessandro ke dalam pelukannya lalu menyusuinya.Setelah Alessandro tenang dan kembali terlelap, Belladonna merebahkan anak itu kembali di atas tempat tidur. Dia mengusap pipi putranya sejenak, merasakan kehangatan yang menjadi satu-satunya kekuatannya saat ini.​Saat keluar kamar, dia bertemu dengan Lorenzo yang berdiri di depan pintu entah sejak kapan. ​"Dia kembali tidur?" tanya pria itu.“Iya. Mandilah, Lorenzo," ucap Belladonna dingin tanpa emosi. "Bersihkan aroma alkohol dan kegelapan dari tubuhmu. Aku akan menemuimu di ruang makan dalam tiga puluh menit. Kita akan bicara, dan kau akan mendengar harga yang harus kau bayar untuk kepulanganku."​Lorenzo terdiam, rahangnya mengeras sejenak sebelum dia mengangguk patuh. Sebuah pemandangan langka di mana dia tunduk pada per

  • The Devil's Obsession   Part 75

    Assunta menyeka sisa-sisa keringat di dahi Belladonna. Sementara bayi mungil laki-laki itu mulai bergerak-gerak kecil di atas dada ibunya. Belladonna hanya bisa menatapnya dengan pandangan tak percaya. Di dunianya yang penuh dengan pengkhianatan dan pelarian, makhluk kecil ini adalah satu-satunya

  • The Devil's Obsession   Part 74

    Fiammetta mematung selama beberapa detik. Matanya terpaku pada sosok wanita yang merintih di lantai. ​"Fiammetta! Tunggu apa lagi? Cepat bantu aku!" bentakan Assunta menyentak Fiammetta kembali ke realita.​Fiammetta segera melangkah maju, tangannya yang dingin gemetar saat ia menyusupkan lenganny

  • The Devil's Obsession   Part 73

    Tiba-tiba, sebuah sensasi hangat yang tak terkendali mengalir di sela-sela paha Belladonna, membasahi kain celana kusam yang dia kenakan. Ketubannya pecah! Cairan itu terus merembes tanpa bisa ditahan.​"Assunta…,” rintih Belladonna walau tentu saja wanita itu tidak mendengarnya.Dengan susah pay

  • The Devil's Obsession   Part 72

    Dua puluh menit berlalu dan jalan setapak itu belum juga berakhir.Belladonna menggeser posisi duduknya untuk kesekian kalinya, mencoba menemukan posisi yang tidak menyiksa punggung bawahnya. Sia-sia. Kursi mobil ini sepertinya memang dirancang untuk menyiksa orang hamil.Tapi bukan punggungnya yan

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status