로그인Late that night, I came across a post online. [I've been with my boyfriend for seven months. Out of nowhere, he dumped me, saying I got eliminated from the girlfriend selection. That's when I found out that in their rich social circle, it's normal to date a dozen girls at the same time, score them regularly, kick out the lowest, and pick the best one to marry.] It sounded so ridiculous. I couldn't help but jump into the comments and tear into the guy. Then I saw a reply from my boyfriend's secretary, Ayla Butler. [Well, considering his status, it's only fair. For high-value men like him, a selection process makes sense.] I rolled my eyes so hard that it almost hurt. I was just about to fire back when I heard the front door open. Fred Thompson and I had been together for five years. He had always been attentive, gentle, and endlessly patient. I had already made up my mind that the moment he proposed, I would tell him the truth about who I really was, the daughter of the richest man in the country. I never expected to catch a glimpse of his phone lighting up with a message. [You hooked up with Ayla again today? Gave her such a high score, too. Keep this up, and Hannah's gonna lose!]
더 보기-Royal Greens Hospital, Melbourne Australia-
Seorang gadis tengah menatap ke luar jendela. Dari lantai 5 dirinya bisa melihat gedung-gedung tinggi berjajar rapi, ia melihat jalanan yang selalu ramai di luar sana berbeda dengan dirinya yang merasa kesepian dan hampa di ruangan rumah sakit. Pemandangan ini yang selalu mengobati kebosanan di tempat ini.Gadis yang terduduk di atas tempat tidur itu tersenyum getir lalu menghela nafas berat. Kakinya sudah gatal ingin berlarian di luar rumah sakit yang terasa mengurungnya. Gadis yang berkulit putih susu dengan mata biru dan rambutnya berwarna kecokelatan terurai sampai ke punggung terus membayangkan betapa indahnya jika bisa berhasil keluar dari tempat ini.Di ruangan ini memang fasilitasnya lengkap, namun tetap saja gadis ini terus resah ingin segera keluar dan bebas.Pintu terbuka tiba-tiba dan menampilkan seorang dokter wanita dengan berjas putih."Selamat siang, Auristella" Dokter yang bernama Dokter Clara itu tersenyum pada Auristella.Gadis yang sering dipanggil Auris itu membalas senyum, ia membenarkan posisi duduknya dengan berselanjar.Dokter Clara berdiri di samping Auris lalu mengeluarkan stetoskop."Bagaimana hari ini? Ada yang dirasa?" tanya Dokter muda itu.Auris menatap dokternya berkata "Hmm sepertinya aku merasa dadaku sedikit sesak".Dokter Clara meraih tangan Auris dan memeriksa denyut nadinya. Kemudian dia memasangkan stetoskop lalu mulai memeriksa Auris.Gadis itu menahan nafasnya sembari menekuk wajahnya yang merasa kesal."Cobalah untuk rileks" ujar Dokter Clara setelah selesai memeriksa."Aku tidak bisa rileks jika hanya di ruangan ini" Auris terdengar mengeluh Dokter Clara tersenyum."Dokter cantik, bolehkah aku keluar?" Auris berharap Dokter Clara yang menanganinya mengijinkan namun dokternya menggelengkan kepala."Sebentar saja? Ya, dok" Auris menempelkan kedua telapak tangannya memohon."Tidak sekarang Auris. Tubuhmu tidak boleh kelelahan dan kamu harus menjaga detak jantungmu. Satu lagi jangan stress itu membuat detak jantungmu memacu cepat" ucap Dokter Clara, ia menuliskan sesuatu di buku catatan kecilnya."Sebagai Doktermu, aku harap Auris mendengarkan perkataanku"Auris tidak bisa berkata lagi selain menjawab "Iya"."Ohya, dimana walimu?"Di ruangan ini hanya ada mereka berdua tidak ada orang yang menemani Auris."Bibi pulang karena anaknya sakit" jawab Auris."Baiklah aku akan menghubungi keluargamu yang lain""Tidak perlu dok, mereka sibuk. Jika sudah menyelesaikan urusannya pasti kemari, mungkin.." ujar Auris yang tau jika ayah dan ibunya bahkan kakaknya sendiri tidak akan datang kemari. Keluarganya sudah tidak pernah menganggap dirinya ada. Namun disisi lain, Auris yang sudah terbiasa hidup sendiri tanpa orangtuanya tidak mempermasalahkan hal ini. Ia juga senang jika tidak ada yang mengawasinya dan bisa bebas.Selama 23 tahun dirinya dibesarkan oleh seorang pengasuh yang ditugaskan orang tuanya. Seingatnya sampai dewasa dia tak pernah merasakan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya. Ia sangat mandiri bahkan saat acara yang dihadiri orang tua di sekolah, orang tuanya tidak pernah hadir bahkan saat kelulusan sekolah Auris hanya ditemani Bibi Etna yang setia menemaninya dan membantunya.Bibi Etna sudah dianggap sebagai ibunya sendiri. Namun Auris tidak berani memanggil bibinya dengan sebutan ibu.Setelah melamun lama, ternyata tanpa disadari Dokter Clara sudah pergi dan meninggalkan sebuah catatan di tangan kanannya."Auris aku salut terhadap perkembangan dan semangatmu untuk sembuh. Aku akan mencari obat terbaik untukmu".Auris tersenyum setelah membacanya, ia kemudian membuka laci nakas di samping tempat tidurnya lalu menaruh kertas itu. Di dalam lagi sudah banyak catatan yang diberikan Dokter Clara, Auris tidak mau membuangnya dan tetap menyimpan dengan baik.****Di ruang operasi, tim dokter bedah tengah sibuk menjalankan prosedur operasi pada pasien pengangkatan ginjal.Operasi ini dipimpin oleh seorang dari Departemen Dokter Bedah Umum, Arsenio Ivander Kei. Dokter yang sangat dipercaya oleh pihak rumah sakit karena bakat dan keahliannya di meja operasi. Ia juga lulusan dari salah satu universitas ternama di Amerika.Empat jam berlalu, operasi ini akhirnya selesai. Pasien segera dipindahkan ke ruangan dengan pengawasan ketat oleh para dokter.Arsenio Ivander Kei atau yang sering dipanggil Dokter Arsen keluar dari ruang operasi setelah membersihkan tubuhnya dari cipratan darah selama operasi. Ia keluar dengan berpakaian seragam dokter warna hijau kebiruan.Dokter lainnya keluar dan menyapa Arsen."Terimakasih Dokter Arsen, operasi berjalan lancar" ucap seorang Dokter bedah tim Arsen."Semua berkat kalian juga" ucap Arsen yang rendah hati pada ke dua dokter laki-laki dan satu dokter perempuan."Apa Dokter Arsen mau makan bersama kami?" tanya Asisten Dokter"Maaf, sekarang aku belum ingin. Kalian saja" Arsen memint maaf tidak bisa menerima ajakan tersebut.Arsen meninggalkan ke tiga dokter itu dan berjalan menelusuri koridor rumah sakit.Hari sudah sore menjelang malam, Arsen ingin kembali ke ruangannya namun ada suster yang memanggilnya."Dokter Arsen, pasien ruang 602 menunjukkan gejala aneh" ucap suster, Arsen segera berlari ke ruangan pasiennya.Di tempat lain, Auris tengah mengendap-ngendap keluar rumah sakit ini. Ia menutupi pakaian pasien yang dikenakannya dengan jaket panjang selutut yang dibelinya secara diam-diam lewat online. Butuh perjuangan untuk mendapatkan paket jaket ini agar tidak tertangkap oleh suster atau dokter.Saat melewati ruang administrasi di dekat lobi rumah sakit, Auris berjalan dan menyalin orang-orang yang tengah berjalan keluar. Berharap para suster atau petugas rumah sakit tidak menyadarinya.Auris menundukkan kepalanya sembari melihat pintu keluar rumah sakit dengan hati-hati dan tanpa dicurigai.Ia juga mengenakan masker dan topi berwarna hitam layaknya seorang yang telah menjenguk pasien.Tap tap tap...Akhirnya Auris berhasil keluar dari rumah sakit dan sekarang ia berada di halaman rumah sakit. Kakinya berhenti melangkah saat melihat di depan sana tepatnya di gerbang rumah sakit banyak sekali satpam yang berjaga.Auris memukul kepalanya pelan dan mendengus."Aish.. kenapa mereka berdiri disana. Jika seperti itu aku tidak bisa keluar kecuali aku menyelinap naik mobil" gumamnya. Ia mondar mandir sampai ada suatu ide, dirinya langsung berlari ke suatu tempat.Auris ingin pergi dari rumah sakit ini dan kembali sebelum pukul 20.00 Pm karena ada dokter malam yang memeriksanya sebelum itu ia harus pergi dan kembali mumpung hari belum gelap.Butuh 30 menit, Arsen memeriksa pasiennya yang mengalami gejala gatal. Namun beruntung bukan masalah besar, hanya diberikan obat antibiotik yang tepat gejalanya mendingan.Sudah hampir dua hari Arsen berada di rumah sakit ini karena banyak operasi yang dilakukan secara bergantian. Saat operasi semuanya selesai, para dokter diberikan waktu istirahat dan bergantian dengan dokter lain yang bertugas.Teman dokter yang lainnya memilih untuk makan bersama namun Arsen memilih untuk segera pulang dan beristirahat. Sebelum pulang, Arsen mengganti bajunya dengan pakaian switter dan celana panjang.Arsen berjalan menuju tempat parkir menggunakan lift. Parkirannya cukup jauh dan harus melewati jalan pintas agar cepat sampai.Pintu lift terbuka dan langsung berada di tempat parkiran, Arsen berjalan santai menuju mobilnya berwarna biru. Dari sini bisa terlihat mobilnya terparkir di tengah.Sudah sampai di hadapan mobil, Arsen menekan tombol kunci otomatis mobilnya. Ia segera membuka pintu namun saat itu ponselnya bergetar.Arsen mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil yang sudah tidak terkunci lalu mengangkat panggilan itu."Dokter Arsen, apa kau pulang lebih awal?" suara Dokter Laura yang terdengar sedikit menekan.Arsen menjawabnya "Iya""Tadinya aku ingin mengajakmu ke suatu tempat di dekat sini""Lain kali saja aku sangat lelah""Baiklah, selamat beristirahat"Arsen bergumam lalu menutup panggilannya, dan menaruh ponselnya ke saku celana. Ia langsung masuk dan menyalakan mobilnya.Mobil BMW M 2 series berwarna biru itu melesat meninggalkan rumah sakit.Di dalam perjalanan Arsen mencoba untuk tetap fokus meski tubuhnya terasa lelah apalagi kakinya yang seharian berdiri di ruang operasi. Tugasnya sebagai dokter bedah sangat berat dan serius, konsentrasi harus penuh agar tak ada kesalahan atau kecelakaan di dalam operasi.Dirinya harus tetap sehat dan menjaga kebugaran tubuhnya dengan cara diet sehat dan olahraga.Saking fokusnya Arsen menyetir sampai tidak sadar jika dirinya tidak sendirian di mobil. Ada seseorang yang tengah bersembunyi dan berusaha untuk tidak ketahuan. Orang itu adalah Auris yang tadi sudah lama menunggu di parkiran mencari mobil yang terbuka untuk dirinya, saat pria itu menelepon Auris mengambil kesempatan untuk membuka pintu secara perlahan dan masuk mobil.Sepanjang perjalanan Auris berusaha untuk menyembunyikan dirinya di belakang kursi kemudi Arsen. Di sisi lain Auris menyalahkan dirinya yang salah mengambil jalan, bagaimana jika pemilik mobil menuduhnya menyelinap dan melaporkan ke polisi. Auris bertengkar dengan dirinya sendiri dan membenarkan keputusannya. Yang terpenting dirinya bisa menghirup udara segar di luar meski tubuhnya terasa mati rasa karena terus membungkuk untung tubuhnya kecil jadi bisa menyelip diantara kursi.Setengah jam berlalu, Arsen memasuki sebuah kawasan perumahan dan hanya beberapa menit sudah sampai di gerbang rumah minimalisnya.Arsen memasukkan mobilnya ke garasi setelah itu dirinya mematikan mesin mobil."Huffft"Baru saja Arsen berniat membuka pintu namun telinganya mendengar helaan nafas dari belakang kursinya.Arsen langsung berbalik dan mengecek kursi belakang.Betapa kagetnya Arsen mendapati seorang gadis di belakangnya."Siapa kau?!" tegas Arsen.The room erupted into applause.Everyone was on their feet, clapping, voices rising in excitement.Everyone except Fred. He stood there, frozen, as if he couldn't process what he had just heard."That's impossible… It can't be…"His voice was barely more than a whisper, his face drained of color."You're lying… Hannah, you're lying, right? If you had money, then why would you ever…"I looked at him and cut him off quietly, "Have him escorted out.""No. Hannah… I was wrong. I know I was wrong. Please, just give me one more chance. I swear I'll treat you right. I'll…""That's enough." I stepped back, disgust curling in my chest.Easton moved forward, placing himself between us, then gave a small nod to security. "Take him out."Two guards stepped in immediately, grabbing Fred and dragging him toward the exit."Hannah! Hannah!" He struggled, his voice cracking as he shouted, "I love you! I really love you! You can't do this to me…"His voice faded as he was pulled out through
On the day of the wedding, the estate was packed with guests.That invitation had been sent to Fred on purpose.I knew he had been looking for me, so I gave him exactly what he wanted: a front-row seat to my wedding.Soft music filled the air as Easton and I faced each other and exchanged vows.Just as we were about to exchange rings, a voice cut through the moment."I object!"Fred rushed forward like he had lost his mind.Every head turned.He stared straight at me, his eyes wild, almost unhinged."Hannah, you're my girlfriend! We were together for five years. How can you just marry someone else, like it means nothing? I know you're just mad at me. I'll change, I swear. I've already cut Ayla off. I don't even talk to those guys anymore. Let's go home, okay?"He was breathing hard, reaching for me.Easton stepped in front of him, blocking him without hesitation.I looked at Fred and let out a small, cold laugh."Which part of 'we're done' do you not understand? It's over
Fred hadn't slept in three days.It wasn't that he didn't want to. Every time he closed his eyes, all he saw was Hannah's face.After that night, his PR team pulled an emergency meeting and worked nonstop, trying everything to contain the damage.But it didn't matter. The situation online had already spun out of control.Videos from the gala and all the evidence spread everywhere. His company's stock crashed. Partners started pulling out one after another. Reporters camped outside the office every day.The friends he used to call brothers turned on him without hesitation, pushing all the blame onto him to save themselves."The whole selection thing was Fred's idea. We were just dragged into it.""Yeah, he threatened to cut off business ties if we didn't go along. We're victims, too."The same people who used to laugh and drink with him now acted as if they had never known him.But what broke him the most was that he couldn't find Hannah.He searched everywhere, but there was
The plane cut through the clouds, a sky full of stars stretching out beyond the window.I leaned back in my seat, closed my eyes, and finally let out a long breath.I had turned my phone off before takeoff, but I could already imagine the chaos online.My mind drifted back five years. On a whim, I had decided to go abroad and make something of myself. My father didn't stop me. He just said that if I ever got tired, I could come home anytime.That was when I met Fred.He was attentive and thoughtful. He would bring me late-night takeout when I worked overtime, drive across the city just to deliver my favorite flowers, and stay up all night by my bedside when I was sick.Back then, I thought I was the luckiest girl in the world.Now, I knew better. It had all been an act.The burns on my legs had mostly healed, but faint scars remained. It served as a reminder of a lesson I would never forget.By the time we landed, it was already late at night.At the arrivals gate, a tall f
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.