เข้าสู่ระบบSi Amanda Violet Chua ay isang gobernador sa lalawigan ng Alfonso. Simula nang mamatay ang kanyang ama sa isang engkwentro ay namuo ang galit at pagkamuhi sa kalooban ng dalaga na nagsanhi ng paghihigante at pagtugis niya sa taong pumatay sa kanyang ama. Subalit gano'n na lamang ang takot na namayani sa babae nang naulit muli ang engkwentrong iyon habang tinatahak niya ang daan pauwi sa kanilang mansyon. Mabuti na lang ay may sumagip sa kanya—si Pierre Quintavious De La Fontaine. Sa takot na maulit muli ang trahedya ay agad niyang kinuha ito bilang bodyguard niya. Hindi niya alam na may sekreto pala itong tinatago sa pagkatao niya. Mayroon bang pagmamahalan na mabubuo sa kanila o habang papalapit si Amanda sa katotohanan ay pagkamuhi ang babalot sa kalooban niya?
ดูเพิ่มเติม"Ugh!" Suara lenguhan panjang terdengar memenuhi ruang kamar saat Andi menyelesaikan permainannya.
"Enak," ucap Andi, merasakan nikmat yang tiada tara. Namun berbeda dengan Febby yang tidak merasakan klimaks sama sekali. Wajahnya menyiratkan kekecewaan mendalam. "Sudah keluar Mas? Kok cepet banget, ngga sampai satu menit. Perasaan baru masuk." Febby mengeluh sambil menghela napas panjang. Sudah sering dia mengatakan kalau dia tidak pernah puas dengan permainan suaminya. Dia juga tidak pernah merasa ada yang keluar dari bagian inti tubuh, yang menandakan dia belum mencapai puncak. Namun Andi seolah masa bodo. Yang penting nafsunya tersalurkan. "Aku lelah. Tadi itu aku udah berusaha untuk lama, tapi malah keluarnya cepet." Selesai melampiaskan hasrat, Andi berbaring di sebelah istrinya tanpa merasa bersalah sama sekali. Raut kesal dan kecewa terlihat jelas di wajah Febby, yang selama dua tahun menjadi istri sah Andi. Selama dua tahun itu dia tidak pernah merasakan klimaks saat berhubungan dengan suaminya. Kenikmatan hanya dirasakan oleh Andi, bahkan Andi tidak pernah membuatnya nyaman di atas ranjang. Andi juga kurang perhatian, hanya memikirkan diri sendiri. Pernikahan dua tahun terasa semakin hambar bagi Febby. Namun tidak ada yang bisa dilakukan. Toh Febby yang memilih laki-laki itu menjadi suaminya dan mereka sedang menjalani program kehamilan. Ya, Andi dan Febby sudah didesak oleh kedua orang tua mereka agar secepatnya memiliki anak, tetapi sampai detik ini tidak ada tanda-tanda Febby mengandung buah cinta mereka. "Kamu mau langsung tidur Mas?" tanya Febby pada suaminya yang baru saja pulang kerja dan meminta dilayani. Selesai dilayani, Andi berbaring di ranjang sambil memejamkan mata. "Iya, aku ngantuk. Kamu masak makan malam aja dulu. Kalau udah mateng semua, bangunin." Febby menghela napas panjang, turun dari ranjang lalu memakai pakaian satu per satu. Matanya melirik Andi yang terlelap, padahal baru saja kepala suaminya itu bersandar ke atas bantal. Tidak ada ucapan terima kasih. I love you. Atau gombalan yang keluar dari mulut Andi, membuat Febby merasa tidak dicintai sama sekali. "Mandi dulu dong Mas, masa langsung tidur." "Hem," sahut Andi datar. Selesai memakai pakaian, Febby melangkah mendekati pintu lalu keluar. Sedangkan Andi sudah jauh mengarungi mimpi. Langkah kaki Febby dihentikan oleh ibu mertua di ambang pintu dapur. Wanita paruh baya itu menatap wajah menantunya yang lesu sambil mengerutkan kening. "Kamu kenapa, Feb?" "Ngga apa-apa Bu," jawab Febby, pelan, melanjutkan langkah kakinya mendekati kulkas. Ratih mengikuti Febby ke dapur, membantu menantunya menyiapkan bahan makanan. Sejak kemarin wanita paruh baya itu menginap di rumah kontrakan dua kamar tersebut. Satu bangunan rumah yang baru dua bulan ditempati itu berada di komplek perumahan Melati. Rencananya Andi ingin mencicil rumah yang mereka tempati sekarang agar tidak bayar kontrakan lagi. "Suami kamu mana, Feb?" tanya Ratih. "Mas Andi tidur Bu. Katanya capek," jawab Febby seraya mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas dua pintu. Beberapa jenis sayur dan ikan segar dia letakan di dekat wastafel untuk dibersihkan. "Kamu udah konsultasi lagi ke Dokter Kandungan?" tanya Ratih pada menantunya. "Udah Bu, katanya aku sama Mas Andi harus sering minum vitamin biar subur. Aku udah dikasih resep vitamin itu. Semoga aja ada kabar baik bulan depan." "Amin," ucap Ratih. "Selain berkonsultasi ke Dokter, kamu juga harus pergi ke Dukun beranak. Atau ke mana kek. Biar kamu cepet isi." "Udah Bu, tapi emang dasarnya belum dikasih aja. Kalau memang belum rejekinya, ya mau gimana lagi." "Kalau gitu, coba kamu konsultasi ke Dokter lain. Misalnya ke Dokter Dirga. Dia sepupunya Andi. Siapa tahu dia bisa bantu kalian. Kasih saran apa untuk membantu mempercepat kehamilan kamu." Febby terdiam. Sebenarnya sudah beberapa kali mereka gonta-ganti dokter, tetapi tidak ada perubahan sama sekali. Beberapa dokter juga menyarankan untuk memeriksa kesuburan satu sama lain, namun Andi selalu menolak dan mengatakan kalau dia sehat. Sementara, selama berhubungan Febby tidak pernah merasa puas. Bahkan durasinya hanya sebentar, tidak sampai tiga menit langsung crott. "Lebih baik kamu coba dulu saran Ibu," ucap Ratih yang selalu mendesak Febby agar cepat hamil. Andai kehamilan bisa dibeli, Febby akan membelinya agar bisa secepatnya memberi gelar ayah pada sang suami. "Kalau kamu ragu, mending komunikasikan dulu sama Andi. Biar kalian lebih yakin. Ibu sih percaya sama Dokter Dirga. Banyak kok pasien dia yang berhasil hamil." Febby menghela napas panjang. "Nanti aku coba bicarakan sama Mas Andi. Kalau dia mau, besok aku dan Mas Andi ke tempat praktek Dokter itu." Ratih tersenyum, "Nanti alamatnya Ibu kasih ke kamu. Kamu dan Andi langsung ke sana aja. Nanti Ibu bikin janji biar kalian ngga antri." "Iya Bu, makasih." Saat sedang berbincang, Andi datang mendekati kedua wanita di dapur. Pria yang memiliki tinggi 170cm itu duduk di depan meja makan dengan lesu. "Bikinin aku kopi," katanya memerintah Febby. "Tunggu sebentar Mas. Aku lagi masak." "Ck! Aku maunya sekarang!" Andi mengeraskan suaranya, membuat Febby terhenyak kaget. Ratih dan Febby saling tatap, Ibu mertuanya itu memutar bola mata meminta Febby menurut saja. "Biasa aja dong Mas, jangan marah begitu," sahut Febby kesal. "Kamu ini. Suami minta kopi malah nanti-nanti. Utamakan melayani suami dulu, baru yang lain! Gimana sih!" cecar Andi memarahi Febby. Ratih hanya diam, tak membela menantunya ataupun menasehati Andi. Baginya pemandangan seperti itu sudah biasa terjadi. Dia pun mengalami di rumah. "Sabar Mas." Terpaksa Febby menunda masakannya dan membuat kopi untuk Andi yang sudah tidak sabar. Dengan perasaan kesal, Febby meletakkan kopi hitam pesanan suaminya ke atas meja. "Mau apa lagi Mas? Sekalian aja, aku mau masak." Andi melotot, menatap istrinya seperti ingin menelan hidup-hidup. "Kamu ngga iklhas?" "Bukan ngga ikhlas Mas, aku kan cuma nanya sama kamu. Kamu mau apa lagi? Biar aku ambilin sekalian." "Ngga ada, aku cuma mau kopi." "Ya udah," sahut Febby pelan. Ia kembali melanjutkan memasak makan malam, meski perasaannya kesal. Sikap dingin Andi sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Tanpa alasan yang jelas, Andi tiba-tiba jadi kasar dan bahasanya tidak pernah lembut seperti dulu. Febby curiga suaminya memiliki wanita idaman lain di luar sana, namun ia tidak pernah mendapatkan bukti apapun perselingkuhan itu. Suasana hening. Di ruang dapur yang tidak luas itu hanya terdengar suara dentingan sendok dan panci. "Mumpung ada Andi di sini. Ibu ngomong aja langsung sama kalian berdua." Ratih membuka pembicaraan di ruang sunyi itu. Andi mendongak, "Ngomong apa Bu?" tanyanya datar. "Ibu mau ngasih saran, gimana kalau kamu dan Febby konsultasi aja ke Dokter Dirga. Sepupu kamu itu. Dia kan Dokter kandungan terkenal. Kebetulan dia buka praktek di Jakarta. Kalian bisa ke sana. Kalau kamu mau, nanti Ibu bikin janji sama dia. Biar kalian ngga antri panjang. Maklum, pasien dia kan banyak." Andi manggut-manggut. "Oke, aku setuju. Aku dan Febby akan ke sana." Ratih tersenyum. Ia tatap menantunya yang tengah sibuk mengaduk sayur di dalam panci. "Kamu dengar kan. Suami kamu setuju. Kamu juga setuju kan?" tanya Ratih pada menantunya itu. "Iya Bu, aku setuju," jawab Febby.Ngayon idinaraos ang fiesta sa bayan ng Alfonso. Hindi magkamayaw ang mga tao dahil sa sobrang dami ng mga events at palaro. Halos lahat ay sobrang busy lalong-lalo na ang bagong Mayor ng Alfonso na si Amanda. Samantalang si Pierre na kaniyang bodyguard ay palaging nakabantay sa babae. Sobrang pogi nito sa kaniyang black suit attire na bumagay sa lalaki dahil halatang-halata ang muscle ay kaseksihan nito. Halos hindi nga maalis sa isipan ng babae ang porma nito kahit na sobrang busy siya sa kapitolyo. Buong araw rin siyang naiinis sa mga babaeng tingin ng tingin sa bodyguard niya at panay bulungan. Halos naiirita na ang kaniyang tainga dahil sa paulit-ulit na sinasabi ng kababaihan. 'Ang Hot at ang pogi ng kaniyang kasama' Nakasalubong ni Amanda si Mr. Gidon habang pabalik siya sa kaniyang opisina. Nakangisi ang lalaki at huminto muna para batiin siya. "Magandang hapon, Mayor. Bakit parang badtrip ka ngayon?" tanong nito. Napatingin si Gidon sa kaniyang likod at nagtanong ulit. "A
NAGISING siya dahil sa sikat ng araw na dumadampi sa kaniyang pisngi. Bigla siyang umungol dahil sa matinding sakit sa katawan. Nilibot niya ang kaniyang paningin, nagulat siya dahil nasa kwarto na niya siya. Bigla siyang napabalikwas dahil sa kalituhan. Bakit nasa sariling kwarto na siya? Hindi ba nasa bahay siya ng isang estranghero? At ano nga ulit ang pangalan niya? Bigla niyang tinampal ang kaniyang noo dahil nakalimutan niyang tanungin ang lalaki. “Diyos ko, anak! Bakit mo naman tinatampal ang noo mo? Hindi ka pa okay alam mo ba iyon?” tanong ng kaniyang ina kaya nagulat siya. Eksato kasing pagpasok nito ay nakita siyang tinampal niya ang sarili niya.“P-Paano po ako n-nakauwi rito?” tanong niya sa kaniyang ina. Napahinga ito ng malalim at napaiwas ng tingin. “Mas mabuti pang kumain ka na muna ng almusal, mamaya na natin iyon pag-usapan,” seryosong wika ng kaniyang ina ngunit nagmatigasa siya. “Mom, gusto ko pong malaman ang totoo ngayon na,” saad niya ngunit hindi siya pina
RAMDAM niya ang malamig na simoy ng hangin na bumalot sa kaniyang katawan. Napaigtad siya nang marinig ang kulog sa madalim na kalangitan. Hindi niya napansin na ilang oras na rin pala siyang nakatambay sa puntod ng kaniyang ama. Dali-dali siyang nagpaalam at sumakay sa kotse para hindi siya abutan ng malakas na ulan. Ayaw niyang magkasakit dahil kinabukasan ay may duty siya sa kapitolyo. “Shit!” mura niya nang saktong bumuhos ang ulan habang pinapaandar niya ang kaniyang kotse. Aalis na sana siya ngunit para bang may nahagip siya sa gilid ng kaniyang mata, parang pigura ng isang tao, nakatingin ito sa loob ng sasakyan niya. Nang lumingon siya sa deriksyong iyon ay bigla itong nawala. Bigla siyang kinabahan ngunit pinilit niyang maging kalmado. Agad niyang pinaandar ang kotse at hindi na lamang pinansin ang taong nakita. Siguro ay guni-guni niya lang iyon. Tama, sobrang dami lang kasi ng iniisip niya kaya kung ano-ano na ang nakikita niya. Nang makarating siya sa isang intersection
“Congratulations, Ms. Chua!” Malaki ang ngiti ni Amanda dahil siya ang hinirang na Gobernador sa bayan ng Alfonso kung saan siya ipinanganak. Landslide ang nasabing eleksyon dahil halos lahat ng tao sa Alfonso ay s’ya ang binoto. Marami ang natuwa dahil siya ang naging Governor ngunit iilan din ang nagalit lalong-lalo na iyong nagboto sa kalaban niya. Ngayon ang unang araw ng kaniyang termino kaya dapat lang na maging produktibo ang araw na ito. “Salamat sa suporta niyo, hindi ako mananalo kung wala kayo,” ngiting sambit ni Amanda sa kaniyang ka-alyado. “Kayo lang ang nakikita naming walang halong bahid ng korapsyon at puro ang paglilingkod sa bayan kaya deserve niyo ang posisyong ito,” saad ng isa sa mga trabahante sa kapitolyo. Ngumiti lamang si Amanda sa sinabi nito at magalang na tumango. Masaya siya dahil siya ang nanalo ngunit mayroong kaba pa rin sa puso niya dahil mas malaki na ang responsibilidad kaysa dati. Dati ay nasa munispyo lamang siya ngunit ngayon ay sa buong lal






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
ความคิดเห็น