Mag-log in
"Bagaimana, Rose?"
Rosene terdiam. Untuk saat ini, membelot atau jadi mata-mata. Sama saja hasil akhirnya, yaitu hilang nyawa. "Jangan mau Rose, kau bisa mati oleh mereka!" Melanie berteriak. Rosene mengumpat. Ia tahu itu. Markus melihat Jack. Pria itu segera mengongkang senjata dan mengacungkan ke arah Melanie.Tetapi, Rosene juga tidak ingin mati sia-sia. Karena melawan Rossmoss, itu sama sekali tidak mungkin. Sedangkan pergi ke Daredevil, bukan juga pilihan yang baik. Tapi setidaknya dia harus mencoba, demi Melanie. "Kau terlalu lama membuang waktuku!" Markus menoleh. "Jack!" panggilnya. Pria itu mengangguk. Kepala Melanie menjadi sasaran moncong senjata Jack. "Aku bersedia!" Rosene segera berteriak. Seruan itu menarik perhatian semuanya termasuk Jack. Melanie membulatkan mata. Sementara Markus tertawa. "Turunkan senjatamu, Jack." Markus memberi perintah. Pria itu mengangguk. Sapu tangan di saku jas ditarik, lalu dibebatkan ke paha Melanie. "Bebaskan adikku. Dia tidak tahu apapun." "Hahahaha!" Tawa Markus memenuhi ruangan. "Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan, Sayang." Markus berdiri lalu berjalan menuju Rosene. Rosene menatap Markus dengan berani, saat pria itu menarik dagunya. "Kau memang keras kepala!" Sepersekian detik, Markus menyentakkan dagu itu. "Sesungguhnya aku punya pilihan ketiga, tapi aku ragu untuk mengatakannya," bisik Markus tepat di telinga Rosene. Rosene terdiam mendengarnya. Ini seperti bukan Markus yang selalu mengutarakan keinginannya tak peduli di segala situasi. "Kau ingin mendengarnya, Rosene?" "Ya, Tuan." Markus menarik sebelah sudut bibirnya. Lalu berkata."Tidurlah denganku."Rosene refleks mengangkat kedua tangannya. Tubuhnya menegang seketika kala mendengar suara itu. “Dia…ini tidak mungkin?” batin Rosene. Jantungnya berdegup kencang. Mendadak dalam perutnya serasa bergerak. Lebih aktif dari biasanya. “Awh!” pekik Rosene. “Letakkan senjatamu, atau peluru ini akan menembus kepalamu.” Kedua mata Rosene terpejam. Perlahan ia membuang napas kasar, lalu berbalik. Seketika itu tatapannya bertemu dengan dua bola mata tajam milik seorang pria.Tatapan Rosene sontak membesar. “Kau…?” “Rosene!” Aaron terperangah. Ia tak ubahnya seperti Rosene. Kedua bola matanya seolah nyaris lepas. Dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Waktu seolah berhenti, bumi seolah tak lagi berputar. Hening sejenak, baik Rosene maupun Aaron tidak ada yang bergerak. Detik selanjutnya, Aaron menurunkan senjatanya. Aaron bahkan nyaris tidak mempercayai pandangannya. Wanita yang ia cari selama ini, kini justru berdiri di hadapannya. Lalu tatapan Aaron tertuju pada perut Rosene yang bun
Bab 119. “Tidak!” Teriakan Rosene tak mampu menghentikan gerakan tangan Frank yang kini mengarahkan senjata tajam ke arah perut Melanie. Rosene bisa saja menggagalkan mereka. Tetapi ia sadar, tindakannya itu hanya akan melukai dirinya. Bila bertindak gegabah, justru akan membuat celaka keduanya. Sesaat Rosene tidak bisa berpikir. Ketika melihat senjata tajam itu hendak menyentuh kulit Melanie, Rosene pun berteriak. “Aku akan melayanimu!” pekik Rosene. Ia tak punya pilihan. Ia tidak bisa melihat Melanie mati. Rosene merasakan ujung matanya memanas. Entah mengapa ia kembali mengalami kejadian serupa. Dulu ia melakukan hal yang sama, semua demi Melanie. “Tahan, Frank!” kata Luis. Ia tersenyum tipis. Sudah ia duga, sekeras apa pun wanita itu, pasti akan luluh bila orang yang disayanginya terancam. “Harusnya aku gunakan cara ini sejak tadi,” gumam Luis. Ia menatap Rosene yang masih memegang lampu tidur. Sepertinya wanita itu masih belum sadar dengan keputusannya. “Turunkan benda di
Bab 118. Rosene seketika membulatkan matanya. Bahkan bola matanya nyaris melompat keluar. Apa yang baru saja dikatakan oleh pria itu? Apa yang ingin mereka lakukan? Frank mengangguk, lantas melangkah mendekati Rosene. Refleks wanita itu bergerak mundur. “Apa yang akan kau lakukan?” cecar Rosene dengan tatapan tajam. Bola matanya yang merah berkilat amarah. Luis mengerutkan keningnya, bola matanya memindai setiap jengkal bagian tubuh Rosene. Jika dilihat posturnya sangat tinggi, tubuhnya tegap. Di balik kemeja yang menutupi lengannya, Luis dapat melihat otot-otot yang menegang. Penampilannya tak seperti wanita pada umumnya. Dia memang seksi, entah kenapa Luis merasa tubuh itu seperti telah mendapatkan pelatihan yang sangat ketat. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Luis. Rosene adalah salah satu anggota rahasia Rossmoss. Keberadaannya tidak pernah terekspos. Hanya anggota Rossmoss yang mengetahui wajah Rosene. Akan tetapi, Rosene tahu siapa Luis, pemimpin tertinggi klan Black Devil.
Seorang pria botak dengan gambar ular melingkar di lehernya tengah menatap penuh kemenangan. Rosene pernah melihat wajah itu beberapa kali karena dia cukup terkenal di dunia bawah. Frank–tangan kanan sekaligus orang kepercayaan Luis–pemimpin Black Devil. Pria dengan sejuta talenta dan pandai mengendalikan berbagai macam senjata. Didukung oleh kemampuan beladiri yang cukup tinggi. Dia setara dengan Ben yang dimiliki Dare Devil. Sial sekali, Rosene bertemu pria ini di sini. "Siapa mereka, Tuan?" tanya salah satu anak buah. "Dasar bodoh, kalian tidak lihat. Mereka wanita. Selama ini Tuan selalu membutuhkan wanita. Karena di sini tidak ada wanita cantik sebaiknya kita bawa mereka." "Tapi, Tuan. Mereka sedang mengandung." Si pria botak mengalihkan pandangan pada perut kedua wanita di hadapannya. "Itu bukan masalah besar, bukankah wanita hamil memiliki rasa yang sedikit berbeda. Aku rasa Tuan tidak masalah." Telinga Rosene memanas, begitu juga hati dan pikirannya seolah terbakar amara
Lupakan sejenak soal pencarian calon mempelai pengantin yang hilang. Kini saat Aaron kembali fokus pada tujuan klan yaitu, menjadi penguasa dunia bawah. Sudah tidak diragukan lagi. Informasi yang Nick berikan memang sangat akurat. Aaron cukup puas dengan kinerja anak buahnya yang satu ini. Dan menurut Aaron, Nick adalah salah satu bawahan yang paling berpengaruh besar terhadap stabilitas wilayah kekuasaan Dare Devil karena posisinya sebagai agen rahasia. "Kerja bagus, Nick," kata Aaron dengan kedua tangan memegangi teropong yang dia tempelkan di dekat kedua mata. Nampak aktifitas yang dilaporkan Nick tengah berlangsung saat ini. Dan Aaron sangat benci dengan para penghianat. "Jadi apa kita langsung serang saja, Tuan?" Ben meminta persetujuan dari atasannya. "Kita bagi dua tim," kata Aaron. "Bukankah Nick bilang mereka memiliki markas rahasia di Pulau Lemnos? Kita harus serang secara bersamaan. Dan buat mereka terkejut dengan aksi kita." "Baik, Tuan." Mendapat perintah begitu, Be
Ini pertama kalinya Janeth berkunjung di kediaman resmi seorang Aaron Salvatore. Janeth jelas tidak tahu alasannya dipanggil kemari. Namun, saat di perjalanan Ben melakukan sesuatu yang perlahan mulai membuatnya mengerti. Dari memerintahkan dirinya untuk berganti pakaian dan berias. Jelas saja pikiran Janeth tidak jauh-jauh soal itu. Dan benar saja. Begitu sampai, Ben langsung menggiringnya menuju kamar pribadi pria itu. Namun, sebelum itu Ben harus memberikan peringatan kepada wanita itu. "Aku peringatkan, sebaiknya jangan mengeluarkan kata-kata apapun." Janeth melihat Ben. Tatapannya menyiratkan sebuah pertanyaan. Dan Ben perlu menjawab itu. "Kau akan tahu setelah berada di dalam. Terakhir kali aku mengingatkanmu, jaga bicaramu." "Ya baiklah." Pintu dibuka, Janeth melangkah memasuki kamar sang Tuan. Aroma maskulin seketika menguar. Aroma yang sedikit asing bagi Janeth, atau karena ia terlalu terobsesi dengan aroma parfum Jack. Hanya sekedar mengingatkan kalau Janeth belum bisa







