LOGINRosene Marino, otak dari segala kemenangan Klan Rossmoss harus bertekuk lutut di hadapan lawan karena misi penyamarannya yang gagal. Segala konsekuensi akan ia terima termasuk mati ditangan Aaron Sang Penguasa dunia bawah yang kejam. "Aku siap mati di tanganmu." "Aku tidak akan membunuhmu, kau akan menjadi penghangat ranjangku." Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
View MoreRosene refleks mengangkat kedua tangannya. Tubuhnya menegang seketika kala mendengar suara itu. “Dia…ini tidak mungkin?” batin Rosene. Jantungnya berdegup kencang. Mendadak dalam perutnya serasa bergerak. Lebih aktif dari biasanya. “Awh!” pekik Rosene. “Letakkan senjatamu, atau peluru ini akan menembus kepalamu.” Kedua mata Rosene terpejam. Perlahan ia membuang napas kasar, lalu berbalik. Seketika itu tatapannya bertemu dengan dua bola mata tajam milik seorang pria.Tatapan Rosene sontak membesar. “Kau…?” “Rosene!” Aaron terperangah. Ia tak ubahnya seperti Rosene. Kedua bola matanya seolah nyaris lepas. Dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Waktu seolah berhenti, bumi seolah tak lagi berputar. Hening sejenak, baik Rosene maupun Aaron tidak ada yang bergerak. Detik selanjutnya, Aaron menurunkan senjatanya. Aaron bahkan nyaris tidak mempercayai pandangannya. Wanita yang ia cari selama ini, kini justru berdiri di hadapannya. Lalu tatapan Aaron tertuju pada perut Rosene yang bun
Bab 119. “Tidak!” Teriakan Rosene tak mampu menghentikan gerakan tangan Frank yang kini mengarahkan senjata tajam ke arah perut Melanie. Rosene bisa saja menggagalkan mereka. Tetapi ia sadar, tindakannya itu hanya akan melukai dirinya. Bila bertindak gegabah, justru akan membuat celaka keduanya. Sesaat Rosene tidak bisa berpikir. Ketika melihat senjata tajam itu hendak menyentuh kulit Melanie, Rosene pun berteriak. “Aku akan melayanimu!” pekik Rosene. Ia tak punya pilihan. Ia tidak bisa melihat Melanie mati. Rosene merasakan ujung matanya memanas. Entah mengapa ia kembali mengalami kejadian serupa. Dulu ia melakukan hal yang sama, semua demi Melanie. “Tahan, Frank!” kata Luis. Ia tersenyum tipis. Sudah ia duga, sekeras apa pun wanita itu, pasti akan luluh bila orang yang disayanginya terancam. “Harusnya aku gunakan cara ini sejak tadi,” gumam Luis. Ia menatap Rosene yang masih memegang lampu tidur. Sepertinya wanita itu masih belum sadar dengan keputusannya. “Turunkan benda di
Bab 118. Rosene seketika membulatkan matanya. Bahkan bola matanya nyaris melompat keluar. Apa yang baru saja dikatakan oleh pria itu? Apa yang ingin mereka lakukan? Frank mengangguk, lantas melangkah mendekati Rosene. Refleks wanita itu bergerak mundur. “Apa yang akan kau lakukan?” cecar Rosene dengan tatapan tajam. Bola matanya yang merah berkilat amarah. Luis mengerutkan keningnya, bola matanya memindai setiap jengkal bagian tubuh Rosene. Jika dilihat posturnya sangat tinggi, tubuhnya tegap. Di balik kemeja yang menutupi lengannya, Luis dapat melihat otot-otot yang menegang. Penampilannya tak seperti wanita pada umumnya. Dia memang seksi, entah kenapa Luis merasa tubuh itu seperti telah mendapatkan pelatihan yang sangat ketat. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Luis. Rosene adalah salah satu anggota rahasia Rossmoss. Keberadaannya tidak pernah terekspos. Hanya anggota Rossmoss yang mengetahui wajah Rosene. Akan tetapi, Rosene tahu siapa Luis, pemimpin tertinggi klan Black Devil.
Seorang pria botak dengan gambar ular melingkar di lehernya tengah menatap penuh kemenangan. Rosene pernah melihat wajah itu beberapa kali karena dia cukup terkenal di dunia bawah. Frank–tangan kanan sekaligus orang kepercayaan Luis–pemimpin Black Devil. Pria dengan sejuta talenta dan pandai mengendalikan berbagai macam senjata. Didukung oleh kemampuan beladiri yang cukup tinggi. Dia setara dengan Ben yang dimiliki Dare Devil. Sial sekali, Rosene bertemu pria ini di sini. "Siapa mereka, Tuan?" tanya salah satu anak buah. "Dasar bodoh, kalian tidak lihat. Mereka wanita. Selama ini Tuan selalu membutuhkan wanita. Karena di sini tidak ada wanita cantik sebaiknya kita bawa mereka." "Tapi, Tuan. Mereka sedang mengandung." Si pria botak mengalihkan pandangan pada perut kedua wanita di hadapannya. "Itu bukan masalah besar, bukankah wanita hamil memiliki rasa yang sedikit berbeda. Aku rasa Tuan tidak masalah." Telinga Rosene memanas, begitu juga hati dan pikirannya seolah terbakar amara
Lupakan sejenak soal pencarian calon mempelai pengantin yang hilang. Kini saat Aaron kembali fokus pada tujuan klan yaitu, menjadi penguasa dunia bawah. Sudah tidak diragukan lagi. Informasi yang Nick berikan memang sangat akurat. Aaron cukup puas dengan kinerja anak buahnya yang satu ini. Dan menur
Ini pertama kalinya Janeth berkunjung di kediaman resmi seorang Aaron Salvatore. Janeth jelas tidak tahu alasannya dipanggil kemari. Namun, saat di perjalanan Ben melakukan sesuatu yang perlahan mulai membuatnya mengerti. Dari memerintahkan dirinya untuk berganti pakaian dan berias. Jelas saja pikir
Secara pribadi, Aaron memang tidak membenci pria ini. Hanya saja ia enggan saling berhadapan seperti ini. Terlebih mengingat apa yang pernah dia lakukan terhadap dirinya dan ibunya. Aaron tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Terlalu panjang dan rumit. Dan semua terjadi begitu saja tanpa bisa dic
Aaron melepaskan tembakan sebanyak dua kali dan membuat sang wanita terkapar dengan luka tembak di perut. Ia benci wanita yang lebih banyak bicara dari pada kerja, tidak tahu diri, dan juga serakah. Mendengar suara tembakan, Ben segera melesat masuk dan seketika terdiam melihat pemandangan yang ters






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore