Home / Mafia / The Mafia's Deceptive Bride / BAB 13 - SENJATA DI SAKU

Share

BAB 13 - SENJATA DI SAKU

Author: Shiva Jodi
last update Last Updated: 2025-12-26 23:00:29

“Lepas.” Alana berkata ke teleponnya, bukan pada suara di ujung sambungan yang baru berdering, tetapi pada teror fisiknya. Peluru yang mengenai bahu Julian Varma merobek malam, mengirim pecahan kaca beterbangan. Pengawal Varma berhamburan. Pria yang menembak menghilang dengan cepat, melompat di balik truk kontainer. Semua mata tertuju pada Julian yang merangkak kesakitan di lantai gudang, mengira itu adalah bagian dari permusuhan internal lama Varma, bukan pertolongan untuk Alana.

Ia menyambar koin-koin berat di saku dan menyelinap kembali ke selokan. Keunggulan sisa sepuluh detik yang diperkirakan tadi tiba-tiba memanjang hingga satu menit. Seluruh operasi Julian beralih fokus menjadi penangkapan si penembak atau penstabilan Tuan Mudanya. Kesempatan langka itu terlalu mahal untuk dilewatkan.

Ia tidak merangkak keluar sampai subuh, memilih jalur terowongan yang bahkan lebih bau dan sempit yang mengarah jauh dari pemukiman ke arah yang lebih terbuka. Dia berjalan terhuyung. Ketika caha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
sharmeela
untung tidak ketahuan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 42 - Jeda Berdarah

    Kegelapan menelan kabin Nomar VII. Pistol di tangan Atlas Varma yang diarahkan padanya terasa berat, menantang semua kalkulasi digital Alana. Itu adalah bahasa lama Konsorsium, kekerasan emosional. Dan ini adalah bahasa yang harus ia taklukkan. “Turunkan senjatanya, Nomar,” kata Alana Varma, suaranya sedingin beton. Ia menyentuh laci di bawah kursinya—tempat Bi Inah menyimpan pistol beretta kecil. “Aku punya pilihan untuk tidak menunggumu melompat. Aku punya kode darurat untuk melepas landas pesawat tanpa awak. Kamu harus sadar, di antara kita, aku adalah satu-satunya yang tidak terikat secara emosional pada Kepulauan Riau.” Alana Varma melihat mata Atlas, mencari tanda-tanda rasionalitas yang telah direbut kepanikan Seroja dan pengkhianatan Julian. “Kamu bisa menembakku sekarang. Tapi begitu kamu melakukannya, Matriark akan mengklaim Seroja. Dan Collective akan menyentuh seluruh warisan Varma. Apa yang kamu pertaruhkan unt

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 41 - Batasan Etika

    Aroma oli bekas dari mesin jet Nomar VII yang terpaksa di daratkan secara diam-diam bercampur dengan bau darah segar di ruang isolasi kedap suara. Tempat itu adalah bunker logistik Manila Varma yang lama, kini telah diubah oleh Atlas menjadi ruang interogasi darurat. Sekitar delapan sisa personel Collective yang tertangkap saat operasi Manila Gear Works terikat, dan satu unit kolektif yang berhasil Alana tembak di lutut sedang dihadapkan ke kursi logam. Nomar VII belum terbang, mesinnya masih bergetar rendah di apron tersembunyi. “Seroja sedang menuju Kepulauan Riau! Mereka harus membayarnya sekarang, Alana!” raung Atlas Varma. Dia tidak memakai jas mahalnya. Hanya kaus hitam tipis, dan otot lengannya menegang. Pistol terarah tepat ke kening sandera itu. Dia akan meledak jika tidak melampiaskan amarahnya. Alana masuk ke dalam ruang, menutup pintu kedap suara, wajahnya tanpa emosi. Rasa dingin strategi menutupi ketakutannya atas ledakan kekejia

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 40 - Perburuan di Manila

    “PERANGKAP ITU TIDAK TERBANGUN DENGAN UANG! BUKA KUNCI BAJAMU, NOMAR!” raung Alana Nareswari, membanting pukulan terakhirnya ke konsol baja. Ledakan frustrasi yang brutal menyertai getaran mesin yang dipaksa Atlana berhenti di dalam bunker Benteng Bogor. Dia tidak memiliki kekuatan fisik seperti Atlas, tetapi kemarahannya pada tindakan bodoh Atlas akibat panik telah melepaskan energi yang efektif untuk melumpuhkan tombol pertahanan yang Atlana kembangkan sendiri.Pintu baja raksasa terbuka dengan desisan dramatis. Atlas berdiri di luar, memegang ransel militernya, keningnya basah oleh keringat, matanya membara oleh dendam pada Julian dan Collective.“Aku sudah memesan jet. Riau adalah titik lemah, Alana! Dan Matriark sudah merilis kodenya ke Collective, aku tidak mau membiarkan Matriark dan Seo menggunakan Kakakku!” balas Atlas Varma, nada suaranya kering dan mematikan, terhimpit antara logika dan obsesi keluarga.Alana bergerak melampauinya

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 39 - Ancaman Kolektif

    Kepala Dasa, pengawal pribadi Agra Varma, dicampakkan dengan brutal di lantai lobi peresmian. Di bawah cahaya sorot kamera wartawan Forbes, genangan darahnya memantul, merah pekat, menodai marmer abu-abu gading yang baru dipasang.Alana berdiri, matanya tertuju pada kartu nama berdarah di sebelah kepala itu: "Ini adalah hadiahmu, Alana Varma. Matriark adalah korban, bukan Penjamin.""Matriark berusaha membingungkan kita. Kartu nama ini konyol," bisik Alana Varma, suaranya tenang, mengabaikan teriakan jurnalis di belakangnya yang kini menjadi panik, menyadari mereka tidak berada di yayasan filantropi, tetapi di zona perang."Mereka bilang Matriark itu korban?" Atlas bergegas maju, menghalangi pandangan Alana, tubuhnya merespons ancaman fisik itu dengan kecepatan penuh. Matanya membidik sudut-sudut lapangan. "Ini cara mereka membuat kita berpihak ke Collective. Jangan tertipu, Sayang!""Ini bukan upaya membingungkan, Atlas. Ini p

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 38 - Proyek Monumen

    Sejumlah alat berat mengerang di latar belakang, merobek sisa-sisa reruntuhan bekas benteng utama Bogor. Debu dari bebatuan yang dihancurkan bercampur dengan kabut pagi yang lembap. Alana berdiri di area yang dulunya merupakan sayap timur perpustakaan Atlas, kini ditandai dengan kerangka baja baru yang mengkilap dan garis-garis modern. Enam minggu telah berlalu sejak serangan Collective yang terselubung dan konfrontasi sengit Alana dengan Matriark di pelabuhan; Matriark menarik pasukannya di detik-detik terakhir sebelum Collective bisa menjamin Alana tewas, membeli keamanan Seroja. Nomar Baru selamat, namun nyaris. Selama enam minggu itu, Alana mengubur setiap sentimeter penderitaan yang ia alami, menuangkannya ke dalam konstruksi baru yang megah. Dia mengenakan sepatu bot baja dan topi keras dengan lambang Nomar, memancarkan aura Komandan Lapangan yang teliti, jauh dari citra artis yang rapuh. “Aku sudah memperingatkanmu, Alana,” desis Atlas Varma, berdiri di sampingnya dengan jas m

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 37 - Senjata Kelemahan

    “RISA!” raung Alana, amarah akibat pengkhianatan dan teror itu pecah dalam kendaraan anti-balistik, saat mereka melaju dari Jakarta Pusat menuju Koperasi Laut Selatan--pusat operasi kotor Agra yang kini diincar Collective. Atlas, yang mencengkeram Datapad itu, hampir melumpuhkan jarinya karena ketegangan. “Risa? Nenekku menanam Risa ke dalam jaringan kita sejak kapan? Sialan! Ini berarti seluruh skema Nomar Baru kita—uang yang kita gerakkan, dokumen yang kita bakar—diketahui Matriark!” “Dia pandai sekali pura-pura taat dan setia,” kata Alana, nafasnya sesak. Mata tajamnya menatap ke spion, yang memperlihatkan mobil-mobil Syndicate mengekori mereka. “Matriark membiarkan kita berkuasa. Dia membiarkan kita bergerak, meyakinkan Agra kita berbahaya, dan Matriark mengumpulkan intel tentang strategi Cleaner-ku melalui Risa. Itu sebabnya dia menawari aku janji kemitraan domestik.” “Danu pasti tahu!” tukas Atlas, memutar Datapad. “Ayahmu selalu tahu, atau dia paranoid dan telah memasang p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status