LOGINAlana Nareswari melangkah keluar dari mobil, wajahnya sedingin baja, kakinya menginjak genangan air kotor, ia siap berhadapan langsung dengan Pemilik Sindikat Asia. “Justru aku akan menggunakan kartu liar terakhirku, Nomar.” Ia berjalan, mengenakan pantsuit couture Varma yang baru. Berbeda dari gaya Varma sebelumnya, pakaiannya sekarang dipotong dengan presisi fungsional yang memungkinkan pergerakan bebas. Suasana di depan Four Seasons Jakarta terasa ganjil, dipenuhi suara sirene samar dari lalu lintas yang jauh dan keheningan brutal yang dipancarkan oleh tiga mobil van hitam. Semua bayangan tersaring; tidak ada pejalan kaki yang lewat. Atlas menyentuh pergelangan tangannya. "Sialan, Alana! Mereka sudah punya perwakilan di Jakarta! Kita belum punya kontak intel lokal. Aku bisa menemani kamu dengan identitas Risa yang kita tangani—” “Aku pergi sendiri. Sebagai Nyonya Varma, pewaris Danu Nareswari yang tak terbantahkan.” Alana menyentakkan tangannya. Matanya berkilat, dingin seperti
“Apa rencanamu!” tanya Atlas. Panik karena kehilangan besar.Alana mengangguk dingin, air matanya (atau mungkin hanya tetesan bius Dasa) mengering di sudut matanya, meninggalkan jejak kekejaman di kulitnya. Mobil Vantage anti-balistik yang mereka gunakan bergetar di tengah pelarian mendesak itu, menembus kabut lembap dari Bogor ke Jakarta. Mereka memegang semua data Varma lama, dan tidak memiliki satupun uang tunai yang bersih untuk memulai ulang, tetapi Atlas tahu ancaman terbesar adalah yang diculik Seroja.“Aku butuh peta keuangan Kolektif sekarang. Kita tidak melawan faksi domestik lagi, Nomar,” kata Alana, memutar tangannya di sekitar kepala Atlas. Matanya berkilauan dalam pantulan lampu jalan yang basah. Dia memaksakan kedekatan fisik saat strategis. “Aku harus mendapatkan aset Agra Varma sebesar USD 87 juta di Koperasi Laut Selatan sebelum Collective merebutnya. Mereka sudah tahu aset Agra itu penting bagi Nomar Baru.”“Mengambil aset Agra saat Collective mencurinya di markas A
“Sesuai aturanku,” kata Alana, tangannya melingkar kuat di belakang leher Atlas, memastikan suaminya tunduk, saat Matriark Varma tanpa diduga mengaktifkan darurat ‘Fire-Exit’ di gedung mereka, memaksa Alana menyadari Matriark sedang memposisikan dirinya di atas reruntuhan yang baru mereka ciptakan.Alana tersentak. Alarm Fire-Exit itu bukan ancaman ledakan; itu kode darurat keamanan tertinggi, yang menandakan bahwa ruang itu harus dibersihkan, didukung oleh Matriark. Itu perintah politik, bukan militer. Mereka disuruh bergerak. Lagi-lagi. Seolah Alana dan Atlas hanyalah bidak catur yang diizinkan untuk membersihkan Dewan, tetapi tidak diizinkan untuk berdiam di singgasananya terlalu lama.“Kita diusir dari zona abu kita, Nareswari.” Atlas memiringkan kepala, meskipun matanya dipenuhi gairah setelah ciuman penguasaan itu, naluri pengawalnya sudah bereaksi. “Kita berhasil mengamankan Seroja dan melumpuhkan Ayah, tapi kita tidak diperbolehkan tinggal. Itu kehendak Matriark. Matriark sela
Alana mengawasi asap yang mengepul perlahan dari sudut balkon yang retak di Safe House Menteng. Satu minggu. Tujuh hari sejak ia berdiri berlumuran darah di Perpustakaan Arsip Agra Varma, berdarah dari tikaman pisau dan kepanikan Atlas mengetahui Seroja diculik. Api telah dipadamkan, bau mesiu telah menghilang, dan tukang bersih profesional sudah membersihkan sisa-sisa peluru Varma lama.Ruangan itu sekarang dihiasi karpet beludru abu-abu, meredam suara, membuat keadaan menjadi sepi dan waspada. Seminggu telah berlalu sejak perang Varma antara saudara. Julian diserahkan, identitasnya dienkripsi dan diamankan dalam kekuasaan Matriark Varma. Varma yang tidak kompeten dan mentalnya pun hancur. Agra? Hilang. Ia melarikan diri dari Jakarta, menjadi hantu tanpa dana, dikejar Matriark dan Jaringan Mafia Internasional. Mereka terkejut karena Pembongkaran BAP yang dilalukan oleh Alana. Tim Collective yang menculik Seroja kini memiliki kekuatan negosiasi, tetapi belum menang. Sedangkan Alana be
Dan kemudian... suara listrik padam sepenuhnya, lift darurat Agra meluncur ke bawah, terputus dari rantai. Lima tembakan datang, tetapi tidak ditujukan ke Alana, melainkan ke arah punggung Agra Varma yang berada di depan mereka. DUAR! DUAR! Suara pistol yang bukan pistol Varma. Serangan kejutan itu merobek jubah hitam pengawalnya, mengejutkan Matriark’s Watchdog. Matriark sedang bermain.Kegelapan kembali menyelimuti mereka. Bau mesiu dari senapan Alana dan kawat tembaga dari Vault Card Julian telah memenuhi atmosfer pengap. Alana memanfaatkan kegelapan ini. Ia menjerit, bukan karena terkejut, melainkan perintah tempur.“Agra akan terluka karena Watchdog Matriark ada di sini!” seru Alana. Ia melompat di atas tubuh Atlas yang jatuh, pistol kecilnya (kini kehabisan amunisi) membentur kepala salah satu Pengawal Agra yang terdekat, ia hanya mengandalkan senjata Atlas yang kini tergeletak di lantai marmer dingin. “Fokus ke data! Lindungi terminal!”“Terlambat! Peluru Matriark itu hanya mem
Alana meraih earpiece Atlas, menanggalkan kabelnya dari tubuh Atlas dan membuangnya ke jok belakang.“Kamu tidak membutuhkan ancaman saat berburu, Pemilikku,” ujar Alana. Ia melilitkan kawat tipis dari saku tas malamnya yang kotor ke jari-jari. “Cukup berikan aku Ayahmu.”Atlas mengemudi tanpa earpiece, suara ancaman Collective Timur yang menargetkan 'hati suaminya' telah dilepaskan Alana dari pikiran mereka, digantikan oleh obsesi baru yang beracun. Dia melesat di jalan tol pinggiran Menteng, fokusnya hanya pada satu koordinat yang Alana tunjuk di GPS: Perpustakaan Arsip Agra di lantai enam Gedung Sentral Varma. Tempat perlindungan Ayahnya yang rahasia, kini terlihat.“Aku sudah menyalurkan data Pembongkaran BAP itu melalui Matriark Varma, sehingga Matriark berpikir Ayahku sengaja melakukannya untuknya, Alana. Strategi kamu kejam. Tapi jika Collective menyerang Matriark untuk menekan kita, seluruh rantai Nomar Varma akan hancur,” Atlas berujar, melajukan mobil anti-balistik itu sampa