Home / Mafia / The Mafia's Deceptive Bride / Bab 36 - Negosiasi Darah Dingin

Share

Bab 36 - Negosiasi Darah Dingin

Author: Shiva Jodi
last update Last Updated: 2026-01-05 21:25:19

Alana Nareswari melangkah keluar dari mobil, wajahnya sedingin baja, kakinya menginjak genangan air kotor, ia siap berhadapan langsung dengan Pemilik Sindikat Asia. “Justru aku akan menggunakan kartu liar terakhirku, Nomar.”

Ia berjalan, mengenakan pantsuit couture Varma yang baru. Berbeda dari gaya Varma sebelumnya, pakaiannya sekarang dipotong dengan presisi fungsional yang memungkinkan pergerakan bebas. Suasana di depan Four Seasons Jakarta terasa ganjil, dipenuhi suara sirene samar dari lalu lintas yang jauh dan keheningan brutal yang dipancarkan oleh tiga mobil van hitam. Semua bayangan tersaring; tidak ada pejalan kaki yang lewat.

Atlas menyentuh pergelangan tangannya. "Sialan, Alana! Mereka sudah punya perwakilan di Jakarta! Kita belum punya kontak intel lokal. Aku bisa menemani kamu dengan identitas Risa yang kita tangani—”

“Aku pergi sendiri. Sebagai Nyonya Varma, pewaris Danu Nareswari yang tak terbantahkan.” Alana menyentakkan tangannya. Matanya berkilat, dingin seperti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 40 - Perburuan di Manila

    “PERANGKAP ITU TIDAK TERBANGUN DENGAN UANG! BUKA KUNCI BAJAMU, NOMAR!” raung Alana Nareswari, membanting pukulan terakhirnya ke konsol baja. Ledakan frustrasi yang brutal menyertai getaran mesin yang dipaksa Atlana berhenti di dalam bunker Benteng Bogor. Dia tidak memiliki kekuatan fisik seperti Atlas, tetapi kemarahannya pada tindakan bodoh Atlas akibat panik telah melepaskan energi yang efektif untuk melumpuhkan tombol pertahanan yang Atlana kembangkan sendiri.Pintu baja raksasa terbuka dengan desisan dramatis. Atlas berdiri di luar, memegang ransel militernya, keningnya basah oleh keringat, matanya membara oleh dendam pada Julian dan Collective.“Aku sudah memesan jet. Riau adalah titik lemah, Alana! Dan Matriark sudah merilis kodenya ke Collective, aku tidak mau membiarkan Matriark dan Seo menggunakan Kakakku!” balas Atlas Varma, nada suaranya kering dan mematikan, terhimpit antara logika dan obsesi keluarga.Alana bergerak melampauinya

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 39 - Ancaman Kolektif

    Kepala Dasa, pengawal pribadi Agra Varma, dicampakkan dengan brutal di lantai lobi peresmian. Di bawah cahaya sorot kamera wartawan Forbes, genangan darahnya memantul, merah pekat, menodai marmer abu-abu gading yang baru dipasang.Alana berdiri, matanya tertuju pada kartu nama berdarah di sebelah kepala itu: "Ini adalah hadiahmu, Alana Varma. Matriark adalah korban, bukan Penjamin.""Matriark berusaha membingungkan kita. Kartu nama ini konyol," bisik Alana Varma, suaranya tenang, mengabaikan teriakan jurnalis di belakangnya yang kini menjadi panik, menyadari mereka tidak berada di yayasan filantropi, tetapi di zona perang."Mereka bilang Matriark itu korban?" Atlas bergegas maju, menghalangi pandangan Alana, tubuhnya merespons ancaman fisik itu dengan kecepatan penuh. Matanya membidik sudut-sudut lapangan. "Ini cara mereka membuat kita berpihak ke Collective. Jangan tertipu, Sayang!""Ini bukan upaya membingungkan, Atlas. Ini p

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 38 - Proyek Monumen

    Sejumlah alat berat mengerang di latar belakang, merobek sisa-sisa reruntuhan bekas benteng utama Bogor. Debu dari bebatuan yang dihancurkan bercampur dengan kabut pagi yang lembap. Alana berdiri di area yang dulunya merupakan sayap timur perpustakaan Atlas, kini ditandai dengan kerangka baja baru yang mengkilap dan garis-garis modern. Enam minggu telah berlalu sejak serangan Collective yang terselubung dan konfrontasi sengit Alana dengan Matriark di pelabuhan; Matriark menarik pasukannya di detik-detik terakhir sebelum Collective bisa menjamin Alana tewas, membeli keamanan Seroja. Nomar Baru selamat, namun nyaris. Selama enam minggu itu, Alana mengubur setiap sentimeter penderitaan yang ia alami, menuangkannya ke dalam konstruksi baru yang megah. Dia mengenakan sepatu bot baja dan topi keras dengan lambang Nomar, memancarkan aura Komandan Lapangan yang teliti, jauh dari citra artis yang rapuh. “Aku sudah memperingatkanmu, Alana,” desis Atlas Varma, berdiri di sampingnya dengan jas m

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 37 - Senjata Kelemahan

    “RISA!” raung Alana, amarah akibat pengkhianatan dan teror itu pecah dalam kendaraan anti-balistik, saat mereka melaju dari Jakarta Pusat menuju Koperasi Laut Selatan--pusat operasi kotor Agra yang kini diincar Collective. Atlas, yang mencengkeram Datapad itu, hampir melumpuhkan jarinya karena ketegangan. “Risa? Nenekku menanam Risa ke dalam jaringan kita sejak kapan? Sialan! Ini berarti seluruh skema Nomar Baru kita—uang yang kita gerakkan, dokumen yang kita bakar—diketahui Matriark!” “Dia pandai sekali pura-pura taat dan setia,” kata Alana, nafasnya sesak. Mata tajamnya menatap ke spion, yang memperlihatkan mobil-mobil Syndicate mengekori mereka. “Matriark membiarkan kita berkuasa. Dia membiarkan kita bergerak, meyakinkan Agra kita berbahaya, dan Matriark mengumpulkan intel tentang strategi Cleaner-ku melalui Risa. Itu sebabnya dia menawari aku janji kemitraan domestik.” “Danu pasti tahu!” tukas Atlas, memutar Datapad. “Ayahmu selalu tahu, atau dia paranoid dan telah memasang p

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 36 - Negosiasi Darah Dingin

    Alana Nareswari melangkah keluar dari mobil, wajahnya sedingin baja, kakinya menginjak genangan air kotor, ia siap berhadapan langsung dengan Pemilik Sindikat Asia. “Justru aku akan menggunakan kartu liar terakhirku, Nomar.” Ia berjalan, mengenakan pantsuit couture Varma yang baru. Berbeda dari gaya Varma sebelumnya, pakaiannya sekarang dipotong dengan presisi fungsional yang memungkinkan pergerakan bebas. Suasana di depan Four Seasons Jakarta terasa ganjil, dipenuhi suara sirene samar dari lalu lintas yang jauh dan keheningan brutal yang dipancarkan oleh tiga mobil van hitam. Semua bayangan tersaring; tidak ada pejalan kaki yang lewat. Atlas menyentuh pergelangan tangannya. "Sialan, Alana! Mereka sudah punya perwakilan di Jakarta! Kita belum punya kontak intel lokal. Aku bisa menemani kamu dengan identitas Risa yang kita tangani—” “Aku pergi sendiri. Sebagai Nyonya Varma, pewaris Danu Nareswari yang tak terbantahkan.” Alana menyentakkan tangannya. Matanya berkilat, dingin seperti

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 35 - Mengais Sisa Perang

    “Apa rencanamu!” tanya Atlas. Panik karena kehilangan besar.Alana mengangguk dingin, air matanya (atau mungkin hanya tetesan bius Dasa) mengering di sudut matanya, meninggalkan jejak kekejaman di kulitnya. Mobil Vantage anti-balistik yang mereka gunakan bergetar di tengah pelarian mendesak itu, menembus kabut lembap dari Bogor ke Jakarta. Mereka memegang semua data Varma lama, dan tidak memiliki satupun uang tunai yang bersih untuk memulai ulang, tetapi Atlas tahu ancaman terbesar adalah yang diculik Seroja.“Aku butuh peta keuangan Kolektif sekarang. Kita tidak melawan faksi domestik lagi, Nomar,” kata Alana, memutar tangannya di sekitar kepala Atlas. Matanya berkilauan dalam pantulan lampu jalan yang basah. Dia memaksakan kedekatan fisik saat strategis. “Aku harus mendapatkan aset Agra Varma sebesar USD 87 juta di Koperasi Laut Selatan sebelum Collective merebutnya. Mereka sudah tahu aset Agra itu penting bagi Nomar Baru.”“Mengambil aset Agra saat Collective mencurinya di markas A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status