Home / Mafia / The Mafia's Deceptive Bride / Bab 45 - Runtuhnya Varma Lama

Share

Bab 45 - Runtuhnya Varma Lama

Author: Shiva Jodi
last update Last Updated: 2026-02-07 13:25:16

Kaca jendela temper setebal tiga sentimeter itu pecah berkeping-keping, menghujani lantai marmer dengan kristal tajam yang berkilauan di bawah lampu darurat yang berkedip merah. Di luar, Jakarta sedang menangis. Hujan lebat menghapus garis cakrawala, menyisakan deru air yang beradu dengan suara rentetan tembakan dari lantai bawah.

"Atlas! Berlindung!" teriak seorang pria paruh baya dari balik meja mahogani besar yang kini terbalik.

Atlas Varma merapatkan punggungnya ke pilar beton. Napasnya mem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 46 - Keberangkatan ke Seoul

    Layar monitor di depan Alana memantulkan cahaya biru pucat pada wajahnya yang kaku. Di sekeliling mereka, dinding gudang yang lembap berbau solar dan debu lama. Suara tetesan air dari atap yang bocor terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur sisa waktu mereka di tanah ini."Satu klik lagi, dan kita resmi menjadi hantu," bisik Alana. Jarinya menggantung di atas tombol enter.Atlas berdiri di belakangnya, tangannya masih dibalut perban kasar yang sedikit merembeskan darah. "Lakukan. Kita butuh peluru cair ini untuk bertahan hidup di Seoul. Tanpa modal, kita hanya target yang menunggu dieksekusi."Alana menekan tombol itu. Angka di layar berputar cepat, melakukan enkripsi berlapis melalui tujuh server proxy di Karibia sebelum akhirnya mendarat di dompet kripto anonim. Seratus empat puluh tiga juta dolar. Sebuah angka yang cukup untuk membeli sebuah negara kecil, atau dalam kasus mereka, membeli kesempatan untuk bernapas satu hari lagi."Transfer selesai," ujar Alana datar. Matan

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 45 - Runtuhnya Varma Lama

    Kaca jendela temper setebal tiga sentimeter itu pecah berkeping-keping, menghujani lantai marmer dengan kristal tajam yang berkilauan di bawah lampu darurat yang berkedip merah. Di luar, Jakarta sedang menangis. Hujan lebat menghapus garis cakrawala, menyisakan deru air yang beradu dengan suara rentetan tembakan dari lantai bawah."Atlas! Berlindung!" teriak seorang pria paruh baya dari balik meja mahogani besar yang kini terbalik.Atlas Varma merapatkan punggungnya ke pilar beton. Napasnya memburu, uap panas keluar dari mulutnya yang gemetar. Ia menggenggam glock hitam dengan tangan yang basah oleh keringat dan sisa air hujan. "Mereka sudah melewati perimeter lobi, Ayah! Tim keamanan tidak menjawab!"Agra Varma, sang raksasa bisnis yang kini terlihat rapuh, hanya tertawa kecil. Tawa itu terdengar kering, penuh dengan kepahitan. Ia menyeka darah yang mengalir dari pelipisnya. "Tentu saja mereka tidak menjawab. Mereka dibayar untuk membunuh, bukan untuk mati demi pecundang sepertiku."

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 44 - Kedatangan Kolektif

    “Seo! Seo ada di sini!” raung Atlas Varma, mencengkeram lengan kursi Nomar VII. Seluruh jet terasa membeku dalam momen bahaya yang melompat langsung dari Jakarta ke Manila. Pesan terenkripsi dari Kolektif itu merusak kokpit, membuat seluruh lampu alarm menyala merah menyala.“Sst, Sayang, dengarkan aku,” kata Alana Varma, suaranya kini mendesah, kelelahannya disembunyikan di balik ketenangan. Dia mematikan semua layar Nomar, kecuali Datapad Project Phoenix yang sudah menampilkan skema penyerangan ke Hotel Anambas. “Seo tidak pernah menelponmu jika dia ingin membunuh. Dia akan mengirim Matriark. Seo memberimu sinyal radio keras seperti ini, karena dia ingin kamu berbalik dan kembali.”“Kembali untuk apa, Alana? Untuk dibantai oleh agen Varma lama di Benteng? Agra sekarang bertarung melawan Collective di Jakarta berkat umpan busukmu!” raung Atlas.Alana menghela napas, rasa panas dari jet yang hampir mati membuatnya berkeringat di punggung.“Kepala Collective tidak pernah bertarung dala

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 43 - Pengkhianatan Internal

    “Apa ini? Proyek Phoenix Nareswari? Kamu meluncurkan apa!” raung Atlas Varma, terkejut total. Datapad itu masih menyala di depan wajahnya, menyinari ekspresi ngeri karena apa yang telah dilakukan Alana. Alana telah memicu kekacauan mutlak, menghubungkan Nomar Baru mereka dengan sebuah entitas yang sangat jauh—Seoul.“Aku bilang aku ingin semuanya,” kata Alana Varma, suaranya dipenuhi kemenangan dingin, menjauhkan Datapad yang menampilkan foto Ayahnya bersama Seo. “Gelang Ibumu adalah kunci menuju kepemilikan. Bukan Nomar. Seoul. Tetapi kita tidak akan bisa bergerak sampai semua data Matriark yang disembunyikan Ayahmu terekspos.”Atlas berusaha mencengkeram bahu Alana. “Kamu menyerahkan seluruh kekuasaan yang tersisa hanya karena satu rencana gila Ayahmu yang tidak masuk akal! Semua Matriks sedang dibanjiri! Aku lihat kode keamanan Hotel Anambas telah dimodifikasi!”Alana menghela napas panjang. Kepanikannya bukan berasal dari Datapad, tetapi dari sistem Nomar VII yang bergetar. Ia men

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 42 - Jeda Berdarah

    Kegelapan menelan kabin Nomar VII. Pistol di tangan Atlas Varma yang diarahkan padanya terasa berat, menantang semua kalkulasi digital Alana. Itu adalah bahasa lama Konsorsium, kekerasan emosional. Dan ini adalah bahasa yang harus ia taklukkan. “Turunkan senjatanya, Nomar,” kata Alana Varma, suaranya sedingin beton. Ia menyentuh laci di bawah kursinya—tempat Bi Inah menyimpan pistol beretta kecil. “Aku punya pilihan untuk tidak menunggumu melompat. Aku punya kode darurat untuk melepas landas pesawat tanpa awak. Kamu harus sadar, di antara kita, aku adalah satu-satunya yang tidak terikat secara emosional pada Kepulauan Riau.” Alana Varma melihat mata Atlas, mencari tanda-tanda rasionalitas yang telah direbut kepanikan Seroja dan pengkhianatan Julian. “Kamu bisa menembakku sekarang. Tapi begitu kamu melakukannya, Matriark akan mengklaim Seroja. Dan Collective akan menyentuh seluruh warisan Varma. Apa yang kamu pertaruhkan unt

  • The Mafia's Deceptive Bride   Bab 41 - Batasan Etika

    Aroma oli bekas dari mesin jet Nomar VII yang terpaksa di daratkan secara diam-diam bercampur dengan bau darah segar di ruang isolasi kedap suara. Tempat itu adalah bunker logistik Manila Varma yang lama, kini telah diubah oleh Atlas menjadi ruang interogasi darurat. Sekitar delapan sisa personel Collective yang tertangkap saat operasi Manila Gear Works terikat, dan satu unit kolektif yang berhasil Alana tembak di lutut sedang dihadapkan ke kursi logam. Nomar VII belum terbang, mesinnya masih bergetar rendah di apron tersembunyi. “Seroja sedang menuju Kepulauan Riau! Mereka harus membayarnya sekarang, Alana!” raung Atlas Varma. Dia tidak memakai jas mahalnya. Hanya kaus hitam tipis, dan otot lengannya menegang. Pistol terarah tepat ke kening sandera itu. Dia akan meledak jika tidak melampiaskan amarahnya. Alana masuk ke dalam ruang, menutup pintu kedap suara, wajahnya tanpa emosi. Rasa dingin strategi menutupi ketakutannya atas ledakan kekejia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status