ホーム / Historical / The Prince's Dead Mistress / Alunan Waltz di Medan Perang

共有

Alunan Waltz di Medan Perang

作者: Aster Chronos
last update 公開日: 2026-10-05 19:39:26
Panji biru berbordir naga emas berkibar di puncak menara Istana Valedron, menyerap pendar rembulan malam. Kereta kuda yang membawa Mara melambat, lalu berhenti di pelataran.

Pintu terkuak. Mara sedikit tertegun mendapati sosok tinggi tegap yang sudah berdiri di balik pintu, mengulurkan tangan beralas sarung tangan putih.

"Apakah dirimu berniat membuat tanganku patah, Lady?" ujar Aurelian.

Mara meragu sejenak sebelum menyambut uluran itu. Begitu kakinya memijak lantai pelataran, riuh rendah di ha
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Aqeela
Merinding bgt Mara dansa sama akik2
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • The Prince's Dead Mistress   Harga yang Harus Dibayar

    “Tadi seenaknya membuat keributan! Sekarang, kenapa tak ada satu pun dari kalian yang berani bersuara, hah?” bentak Marchioness Selena.Seluruh pihak yang terlibat dalam perkelahian, beserta beberapa saksi, kini telah dikumpulkan di ruang tengah kediaman keluarga Folkenstein. Mereka duduk berjajar di hadapan sang Marchioness.Di sisi kanan, Mara duduk di antara Emily dan Sarah. Sementara itu, di sisi kiri, Florencia duduk bersama Cedric dan Theon.Rambut Emily dan Florencia masih berantakan akibat perkelahian tadi. Keduanya enggan saling menatap, meski sesekali melirik dengan tatapan kesal.“Dan kau, Cedric!” Selena beralih kepada putra sulungnya. “Kau melihat adikmu kehilangan kendali, tetapi malah diam saja menonton!”Cedric mengangkat bahu. “Aku tidak suka keributan. Lagi pula, Emily sendiri yang memulainya.”“Ibu!” Emily langsung menyela. “Kalau Florencia tidak memprotes kemenangan kelompok kami, keributan tadi tidak akan terjadi. Dia juga yang lebih dulu menjambak rambutku! Sehar

  • The Prince's Dead Mistress   A Price to Pay

    “Tadi seenaknya membuat keributan! Sekarang, kenapa tak ada satu pun dari kalian yang berani bersuara, hah?” bentak Marchioness Selena.Seluruh pihak yang terlibat dalam perkelahian, beserta beberapa saksi, kini telah dikumpulkan di ruang tengah kediaman keluarga Folkenstein. Mereka duduk berjajar di hadapan sang Marchioness.Di sisi kanan, Mara duduk di antara Emily dan Sarah. Sementara itu, di sisi kiri, Florencia duduk bersama Cedric dan Theon.Rambut Emily dan Florencia masih berantakan akibat perkelahian tadi. Keduanya enggan saling menatap, meski sesekali melirik dengan tatapan kesal.“Dan kau, Cedric!” Selena beralih kepada putra sulungnya. “Kau melihat adikmu kehilangan kendali, tetapi malah diam saja menonton!”Cedric mengangkat bahu. “Aku tidak suka keributan. Lagi pula, Emily sendiri yang memulainya.”“Ibu!” Emily langsung menyela. “Kalau Florencia tidak memprotes kemenangan kelompok kami, keributan tadi tidak akan terjadi. Dia ju

  • The Prince's Dead Mistress   Perkelahian Dua Lady

    Peluit terakhir berbunyi, seluruh peserta menurunkan busur mereka.Butler yang memimpin kompetisi maju ke depan sambil membawa catatan perolehan poin. Ia berhenti sejenak, membiarkan para peserta menunggu dengan tegang.“Setelah menghitung seluruh poin dari setiap kelompok, kami telah mendapatkan hasil akhirnya!”Mara merapatkan jemarinya di sekitar busur. Di sampingnya, Emily tampak berusaha menahan senyum, sementara Cedric berdiri dengan kedua tangan bertumpu di pinggang.“Juara ketiga diraih oleh kelompok nomor dua!”Tepuk tangan terdengar dari salah satu sisi lapangan.“Juara kedua diraih oleh kelompok nomor lima!”Kini, hanya tersisa satu pengumuman. Mara menoleh kepada Sarah, yang balas menatapnya dengan mata membesar.“Dan juara pertama kompetisi panahan kali ini jatuh kepada kelompok nomor tujuh, dipimpin oleh Lady Emily!”Emily menjerit kegirangan, lalu melompat dan merengkuh Mara serta Sarah sekaligus.“Kita menang! Kita benar-benar menang!”Namun, sorak-sorai itu mendadak t

  • The Prince's Dead Mistress   Melesat di Udara

    Lidah Mara mendadak kelu saat melihat Theon berjalan ke arah mereka. Jantungnya berdegup lebih cepat, sementara jemarinya tanpa sadar mengerat pada busur yang dipegangnya.Pria berambut hitam legam itu mengenakan setelan biru tua yang membuat penampilannya tampak berkharisma.“Ah, kebetulan sekali, Tuan Muda Theon,” ujar Cedric. “Kami sedang mencari anggota kelima.”Emily menyilangkan tangan di depan dada dan membuang muka.Theon menatap Mara yang masih menatapnya sejak tadi. "Kita bertemu lagi, Lady Mara," sapanya meraih tangan Mara dan mengecup punggung tangan gadis itu.Mara sedikit tergagap. Sarah yang berada di sampingnya melongo, begitu juga Emily yang tak mampu menyembunyikan reaksi shocknya.Theon menyunggingkan senyum tipis sebelum melepaskan tangan Mara. Ia kemudian menoleh kepada Sarah dan Emily secara bergantian.“Jadi, bagaimana? Sepertinya kompetisi akan segera dimulai.”Emily melirik kelompok-kelompok lain yang mulai bersiap di garis batas. Dengan enggan, ia menghela na

  • The Prince's Dead Mistress   Kompetisi Memanah

    “Sarah!”Teriakan itu disusul bunyi langkah kaki yang tergesa-gesa. Seorang gadis menerobos di antara para tamu, sebelah tangannya sibuk mengangkat ujung gaun agar tidak terinjak. Beberapa lady menoleh ketika ia nyaris menyenggol seorang pelayan yang membawa nampan.Gadis itu sama sekali tidak tampak peduli. Begitu tiba di hadapan mereka, ia melepaskan ujung gaunnya dan mengembuskan napas panjang, seolah baru saja lolos dari hukuman yang melelahkan.“Emily!” Sarah menatapnya dengan campuran kesal dan tak percaya. “Sudah kubilang, jaga sikapmu kalau sedang mengenakan gaun!”“Aku muak memakai benda ini!” Emily menarik sedikit bagian kerahnya, berusaha mencari ruang untuk bernapas. “Bagaimana bisa kalian, para lady, tahan mengenakan pakaian yang menyiksa seperti ini? Ibuku bahkan tidak mengizinkanku berganti pakaian!”Mara menatap Sarah dengan bingung, tak yakin harus menanggapi keluhan itu atau berpura-pura tidak mendengarnya.Sarah segera menangkap tatapannya. “Ah, Lady Mara, perkenalka

  • The Prince's Dead Mistress   Belahan Jiwa

    Pada akhirnya, Mara memutuskan mengikuti Lady Sarah setelah Isolda mendorongnya untuk bergabung.Suasana di taman ternyata jauh lebih ramai daripada yang dibayangkannya. Beberapa kelompok lady bangsawan dan pemuda berkumpul di bawah naungan pepohonan, berbincang sambil menikmati minuman atau mengikuti berbagai permainan yang telah disiapkan.Sarah melirik Mara. “Sepertinya ini pertama kalinya kau menghadiri pesta teh seperti ini, ya?”“Benar, Lady Sarah.”“Kalau boleh jujur, sebenarnya aku mengajakmu karena penasaran.” Sarah menyunggingkan senyum tipis. “Namamu begitu terkenal di kalangan para pemuda maupun lady bangsawan. Bahkan, sampai diberitakan di surat kabar!”Mara mengangkat alis. “Cukup mengejutkan. Aku tidak menyangka Lady Sarah akan berbicara seblak-blak ini.”Sarah tersenyum. “Aku memang terbiasa mengatakan apa yang ada di pikiranku. Kuharap kau tidak mengira aku berpura-pura saat berbicara dengan Dowager Countess Isolda dan Dowager Marchioness Jane tadi.”“Tenang saja. Aku

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status