LOGIN"Apakah Countess dan Eron tahu soal ini?" tanya Alaric lagi, menuntut."Tidak. Mereka sama terkejutnya denganmu, kami belum sempat bicara."Alaric mengembuskan napas kasar. Hawa hangat napasnya berembus begitu dekat hingga menyentuh dahi Mara."Dalam waktu dekat, aku akan mengadakan pertemuan membahas rencana kita lagi, kuharap sampai detik itu, kau mengatakan motif dibalik ajakanmu ke Kaisar," tandas Alaric.Sebelum Mara membuka mulutnya, seketika telapak tangan Alaric meraup wajah Mara, membekap mulut gadis itu rapat-rapat sembari menyeret tubuh gadis itu mundur ke celah sempit di balik lemari pajangan.Ruang yang serba terbatas memaksa dada Alaric menekan tepat di hadapan Mara, mengunci punggung gadis itu rapat pada dinding kayu lemari.Detik berikutnya, engsel pintu ruang terluar berderit, disusul derap halus dua pasang sepatu porselen."Apa kau percaya gadis itu benar-benar kembaran Elara?""Aku merasa mereka orang yang sama. Mereka terlalu identik," sahut suara kedua. "Dan aku m
"Keputusan yang cerdas, Lady Maracelestia," ujar Duke Evan, menautkan jemarinya yang terawat rapi di depan dada sembari menyunggingkan senyum penuh arti. "Menjadi pasangan dansa Kaisar di malam debutante-mu sendiri... itu akan menempatkan namamu di setiap sudut ibu kota. Kau akan menjadi gadis yang paling dibicarakan musim ini.""Setelah semua yang terjadi," sahut Mara tenang, menatap lurus mata sang Duke, "jika ingin memperlihatkan bahwa hubungan Kekaisaran dan Rumah Veyne tetap utuh, bukankah itu cara paling nyata?"Di sisi Aurelian, senyum Gwen membeku. Geraham wanita itu mengatup rapat—begitu pelan, nyaris tak tertangkap mata—meski bibirnya berjuang mempertahankan raut keanggunan yang sempurna.Beberapa langkah di belakang mereka, Adelaide melirik suaminya. Alaric berdiri membatu. Rahangnya terkatup keras, sementara kedua tangannya mengepal kaku di balik punggung."Boleh," sahut Aurelian, mengangguk puas. "Saat malam debutante nanti, aku sendiri yang akan mengirim kereta kuda kekai
Aurelian mengangkat sebelah alisnya. Sesuatu di balik matanya tampak menggelitik geli saat menatap Isolda dengan senyum tak tertebak—entah terhibur, kagum, atau tengah menyembunyikan rencana.Duke Evan menepuk pelan telapak tangannya, seolah baru teringat sesuatu."Ah, aku hampir lupa mengucapkan belasungkawa pada Countess," ucapnya, menatap Isolda dalam-dalam sebelum berganti memandang Alaric. "Juga padamu, Alaric. Semoga kedamaian menyertai kalian setelah ini. Bagaimanapun, hal yang menimpa Elara memang harus terjadi—demi menjaga kehormatan mahkota."Hening. Tak ada balasan dari Alaric maupun Isolda. Mara hanya mendapati jemari Isolda mengepal kencang pada gagang kipasnya. Wajah wanita itu tetap dingin tak beriak, seolah kalimat beracun tadi angin lalu belaka."Benar," sahut Aurelian, suaranya tenang namun berat. "Aku pun berharap hubungan Kekaisaran dan Veyne tak terpengaruh oleh peristiwa itu."Ia melempar tatapan lurus ke arah Duke Evan."Ikatan kita dirajut ratusan tahun lalu ol
Aurelian mengangkat sebelah alisnya. Sesuatu di balik matanya tampak menggelitik geli saat menatap Isolda dengan senyum tak tertebak—entah terhibur, kagum, atau tengah menyembunyikan rencana.Duke Evan menepuk pelan telapak tangannya, seolah baru teringat sesuatu."Ah, aku hampir lupa mengucapkan belasungkawa pada Countess," ucapnya, menatap Isolda dalam-dalam sebelum berganti memandang Alaric. "Juga padamu, Alaric. Semoga kedamaian menyertai kalian setelah ini. Bagaimanapun, hal yang menimpa Elara memang harus terjadi—demi menjaga kehormatan mahkota."Hening. Tak ada balasan dari Alaric maupun Isolda. Mara hanya mendapati jemari Isolda mengepal kencang pada gagang kipasnya. Wajah wanita itu tetap dingin tak beriak, seolah kalimat beracun tadi angin lalu belaka."Benar," sahut Aurelian, suaranya tenang namun berat. "Aku pun berharap hubungan Kekaisaran dan Veyne tak terpengaruh oleh peristiwa itu."Ia melempar tatapan lurus ke arah Duke Evan."Ikatan kita dirajut ratusan tahun lalu ol
Mara menoleh mengikuti arah pandang semua orang.Alaric melangkah masuk. Raut wajahnya kembali terkunci dalam topeng dingin yang biasa ia kenakan di depan umum.Di sisinya, Adelaide berjalan dengan jemari terpaut erat di lengan Alaric, gaun merah marunnya mengembang anggun seiring langkahnya yang penuh percaya diri.Mata Alaric sempat bertemu sekilas dengan Mara. Tak ada lagi jejak kehangatan yang samar-samar pernah ia rasakan dari pria itu.Mara menegakkan punggungnya, menahan napas pelan. Sejak pelukan di kereta menuju Kuil Seraphine, pria itu mengunci diri rapat-rapat."Yang Mulia Putra Mahkota dan Putri Mahkota," Isolda membungkuk anggun.Alaric mengangguk singkat pada Countess dan Eron.Begitu tiba di hadapan Mara, tatapannya hanya menyapu sekilas—tak sampai sedetik—sebelum membuang muka dan berbalik penuh ke arah Adelaide.Adelaide tersenyum puas, melirik Mara dengan sorot mata penuh kemenangan yang terang-terangan.Mara tak merasa terganggu sama sekali dengan tatapan itu.Di za
"Nak, angkat dagumu! Jalan menunduk membuatmu terlihat tidak percaya diri," tegur Isolda seraya menaikkan dagu Mara menggunakan ujung gagang kipasnya.Mara mengembuskan napas kasar. Ia tak bisa membantah, meskipun kakinya terasa mau patah menopang tubuhnya sendiri. Gaun berlapis yang ia kenakan begitu berat, membuat setiap langkah terasa seperti menenteng karung gandum.Sudah tiga jam ia dipaksa menguasai tata cara berjalan ala bangsawan demi menghadiri undangan jamuan istana yang dikirim tadi malam."Nah tanganmu juga jangan lesu," kritik Isolda lagi, melihat tangan Mara bergelantungan tak tahu arah."Sulit sekali fokus menggerakan tubuh dan pandangan secara bersamaan Countess," gerutu Mara, goyah sesaat sebelum menyeimbangkan tubuhnya kembali.Isolda menjentikkan jari, meminta Mara melanjutkan latihannya tanpa banyak bicara. Namun, Mara seketika melepas sepatunya dan bersandar ke dinding."Apakah ini benar-benar harus dilakukan? Countess bisa bilang putrimu yang hilang ini belum semp







