LOGIN“Perkenalkan, saya Romero, putra Count Hartwell.” Ia membungkuk sopan. “Saya bertugas di bagian peralatan perang. Kalau Lady berkenan, saya bisa menjelaskan pedang pertama yang digunakan Rudiger.”“Pedang yang dipatahkan dalam Pertempuran Tiga Sungai?” tanya Mara spontan.Romero mengerjap, tampak terkejut. “Anda mengetahuinya?”“Aku pernah membaca sedikit tentang sejarahnya,” jawab Mara cepat.Sarah yang berdiri di sampingnya menahan tawa.Mara melirik ke arah Florencia. Sebenarnya setelah selesai mendengar penjelasan Sarah, Mara ingin mengunjungi gadis itu. Namun pria yang baru saja memperkenalkan diri padanya itu seketika menggiringnya ke meja pameran berikutnya.Dengan pasrah, Mara mengikutinya sebagai bentuk sopan santun, karena ucapan Lady Jane selalu berdengung di telinganya jika tak menerapkan etiket.Mara menyaksikan cap tanah liat, pecahan tembikar bergambar rusa, hingga kalung perunggu yang dahulu dikenakan para kepala suku.Hampir semua benda itu pernah Mara lihat.Sebagian
“Mara, kalau kau membutuhkan sesuatu, titipkan pesan kepada Daisy. Jangan berkeliling istana sendirian,” pesan Isolda sambil merapikan kerah gaun putrinya. “Aku tidak mau kau menghilang lagi seperti semalam, saat kau pergi ke istana bersama Eron.”“Baik, Ibu,” jawab Mara patuh.Di belakangnya, Daisy menunduk untuk menyembunyikan senyum.Isolda masih menatap putrinya sejenak, seolah hendak mengatakan sesuatu lagi. Namun, pada akhirnya ia hanya menghela napas kecil sebelum pergi menyusul Lady Jane yang sudah menunggu di ujung koridor.Aula utama istana hari itu menjelma jadi museum.Karpet merah yang biasanya membentang di lantai telah digulung dan digantikan deretan tiang kayu berbalut kain beledu biru.Sementara itu, meja-meja panjang yang dilapisi linen putih dipenuhi benda-benda bersejarah yang selama ini hanya Mara kenal melalui foto buram dan rekonstruksi digital.“Selamat datang di Pameran Peringatan Berdirinya Kekaisaran Valedron.”Suara itu berasal dari seorang gadis berambut c
Mara mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia menarik napas panjang, berusaha menjernihkan kepala dari rasa mabuk yang masih menderanya.Setelah beberapa saat, ia kembali mengangkat dagu dan menatap Alaric.“Jadi, apa sebenarnya tujuanmu bertindak begitu terang-terangan di panti asuhan?” tanyanya tanpa basa-basi.“Aku melihatmu di antara deretan pelayan tadi. Kau pasti sudah mendengar jalannya penyelidikan di sidang tadi.”“Soal penyelidikannya aku sudah paham,” sahut Mara cepat. “Yang tidak kumengerti adalah alasanmu bertindak sejauh itu. Cara seperti itu sama sekali bukan gaya Alaric yang kukenal.”Alaric menghela napas pelan. “Kita sedang buntu soal Elara. Bukti dan kesaksian memang mengarah pada Evan, tetapi belum cukup kuat untuk menjatuhkannya. Kasus itu sudah diputuskan secara resmi oleh Kaisar. Untuk membatalkan vonisnya, kita membutuhkan dasar yang jauh lebih kuat.”“Hilda sudah mengaku menjadi kurir afrodisiak itu. Lalu, apa hubungannya dengan caramu menyerang Kelua
Dada Mara masih terasa sesak ketika ia menuruni tangga penginapan Madam Elise. Beberapa gelas minuman beralkohol yang diteguknya mulai menunjukkan efek.Melihat kondisinya, Madam Elise tidak tega membiarkannya pulang sendirian. Ia pun memesankan kereta kuda sewaan dan meminta kusirnya mengantar Mara sampai ke kediamannya dengan selamat.Kereta itu akhirnya berhenti di depan gerbang megah Kediaman Keluarga Veyne.Kedatangan kereta kuda itu segera mengundang perhatian penghuni mansion. Isolda dan Eron pun keuar menghampiri Mara yang saat ini dibopong oleh kusir.Mara perlahan membuka mata. Pandangannya yang masih kabur menangkap wajah pria yang tengah menggendongnya. Ia mengangkat tangan dengan susah payah, lalu menepuk-nepuk pipi pria itu secara tidak beraturan.“Turunkan aku, Noah...” racaunya. “Terima kasih... sampaikan salamku kepada Madam Elise.”Noah menghentikan langkah tepat di depan tangga teras. Ia menurunkan Mara perlahan dan memastikan kedua kakinya menapak dengan benar.Beg
Mara menyusuri lorong-lorong sepi hingga tiba di area luar paviliun.Menyadari pintu utama dijaga ketat, ia mencari jalan lain dan menemukan jendela kamar Alaric yang kaitnya tidak tertutup sempurna. Ia pun memanjat dan menyelinap masuk.Baru saja kakinya menapak lantai, suara ketukan terdengar dari pintu depan.Mara sontak menoleh. Tak sempat berpikir panjang, ia buru-buru merunduk dan bersembunyi di kolong meja kerja besar di sudut ruangan.“Aku ingin masuk menemui Alaric!” Suara seorang wanita terdengar dari balik pintu.“Maaf, Yang Mulia Putri Mahkota. Putra Mahkota sedang tidak berada di tempat,” jawab pengawal yang berjaga.“Aku sedang mengandung anaknya. Apakah aku masih memerlukan izin untuk menunggu suamiku?” Suara Adelaide meninggi, tajam dan disengaja.“Mohon maaf, Yang Mulia. Perintah Putra Mahkota sangat jelas. Tidak seorang pun diizinkan memasuki ruangan ini tanpa izin langsung darinya.”“Yang Mulia, sebaiknya kit
Para pejabat mulai membalik lembar demi lembar perkamen yang telah dibagikan sebelum sidang dimulai.“Penyelidikan ini bermula sekitar satu bulan lalu. Saat itu, beredar laporan mengenai krisis air bersih di sekitar wilayah Panti Asuhan St. Seraphina. Pemerintah setempat hanya mengandalkan distribusi pasokan makanan dari luar, sementara kerusakan lingkungan sama sekali tidak ditelusuri,” papar Alaric langsung pada inti masalah.Mara mengangkat wajah sedikit.Penjelasan Alaric tentang pemerintah setempat yang hanya sibuk menyalurkan bantuan tanpa menyelidiki akar persoalan mendadak mengingatkannya pada cerita yang pernah dibagikan seniornya saat ekspedisi.Seniornya pernah berkata, meski data lengkapnya belum berhasil disusun, sebuah wabah besar menyerang Kekaisaran Valedron beberapa waktu setelah kudeta Alaric. Wabah itu bermula dari krisis kesehatan di wilayah terpencil yang diabaikan dan tidak diselidiki semestinya, hingga akhirnya mencapai ibu kota.Seorang pejabat kekaisaran kemud







