LOGIN(GORGEOUS MEN SERIES 18: Ryu Fujiro Stellan) WARNING: Some scenes may have graphic and explicit content. Viewer discretion is advised. ~♪~ Ryu Fujiro Stellan, a guy who you don't want to mess with. He may be calm, yes. But once you get to know him, he is a walking redflag. A gambler, an illegal seller, a fight starter, and an asshole. Everything you can hate on a guy, he has it as his persona. But what would happen if he stumbled upon a gorgeous beauty who did nothing but catch his attention and keep him mesmerized all the time? Can he change for the sake of this woman? Will he be able to catch her heart and take her breath away? Or, just let her be?
View MoreApa yang kau pikir ketika mendengar kata ibu? Seseorang yang mengandung dan melahirkanmu atau sosok tegar yang tetap membesarkanmu dengan kasih sayang meski hati tertoreh luka.
~~~
Gadis kecil itu terseok-seok. Beberapa kali kaki mungilnya tersandung dan hampir tersungkur. Namun, wanita bergaun hitam yang tengah menarik kasar tangannya seolah tak peduli, tetap berjalan dengan cepat. Bibir berlipstik merah darah tak sedikit pun menyungingkan senyum, membuat si gadis kecil memasang wajah muram.
Surtini, begitulah nama yang diberikan wanita bergaun hitam untuk si gadis berusia 5 tahun. Nama itu diberikan dengan asal setelah mendengar berita korban pembunuhan di televisi. Tega, kejam, mungkin kata-kata itu pantas disematkan kepadanya. Namun, dia tak peduli. Anak semata wayangnya itu memang tak pernah diharapkan.
"Bu ... pelan-pelan jalannya," lirih Surtini. Dia melirik takut-takut. Bukan sekali dua kali, tubuh mungilnya dihantam dengan ikat pinggang.
Wanita bergaun hitam tak menyahut, hanya netra indahnya yang melirik tajam. Surtini seketika mengkerut dan tak berani lagi bertanya. Dia pun pasrah mengikuti ke mana saja sang ibu melangkah.
Surtini diam-diam mengembuskan napas lega begitu langkah kaki ibunya terhenti. Kini, mereka berdiri di depan rumah mungil bercat abu-abu. Wanita bergaun hitam mengetuk pintu dengan kasar. Untunglah, keadaan sekitar tampak sepi, sehingga mereka tidak menjadi pusat perhatian.
"Tunggu sebentar!" Terdengar sahutan dari dalam rumah.
Surtini merasakan kehangatan dari suara itu. Meskipun setengah berteriak, nadanya masih lembut sangat berbeda dengan ocehan ibunya. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Wanita muda dengan daster bunga-bunga tampak terperanjat. Surtini seketika bersembunyi di balik punggung ibunya. Dia bisa melihat amarah di sorot mata perempuan pemilik rumah.
"Mau apa kamu ke sini! Tidak cukup kamu menghancurkan rumah tangga saya, hah! Mas Beno sudah lama tidak pulang! Percuma kamu cari ke sini!"
Wanita berdaster tampak mengepalkan tangan dengan air mata menuruni pipi. Surtini mencengkeram gaun ibunya. Perasaan gadis kecil itu bercampur aduk. Dia takut, tetapi juga merasa kasihan. Entah kenapa Surtini ingin sekali menyeka air mata wanita berdaster.
"Aku udah enggak perlu si Beno, kok. Aku udah dapat cowok baru. Emangnya kamu, lusuh begini sekali dibuang suami, ya, mana ada lagi yang mau."
"Kamu!"
Rukmini, wanita berdaster bunga-bunga hampir saja mendaratkan tamparan. Namun, dia menurunkan kembali tangan yang terangkat, berusaha keras mengendalikan emosi begitu menyadari ada anak kecil bersembunyi di belakang si perusak rumah tangganya.
"Pergilah! Jangan ganggu hidup kami lagi!"
"Tentu saja, aku juga mana betah lama-lama di sini. Aku cuma mau mengembalikan titipin si Beno."
Rukmini mengerutkan kening. Wanita bergaun hitam menarik tangan putrinya, sehingga si gadis kecil sedikit terseok, lalu terjatuh ke arah Rukmini.
"Ma-maaf, Tante." Suara Surtini terdengar gemetar.
"Dia anaknya Beno. Calon suami aku enggak bisa nerima keberadaan dia. Yah, enggak penting-penting amat juga, jadi ya, mau aku kembaliin aja ke sini."
Belum sempat Rukmini menyahut, wanita bergaun hitam sudah melenggang pergi. Surtini termangu. Gadis kecil itu tampak kebingungan. Hening merayap perlahan membuat suasana menjadi sedikit mencekam.
"Ibuuu ... Ibu ...."
Tangisan Surtini memecahkan keheningan. Dia baru menyadari telah ditinggalkan sang ibu. Gadis kecil itu hanya bisa terisak. Mau mengejar, tetapi ibunya sudah menghilang dari pandangan.
Tubuh mungil itu gemetaran. Tangannya memeluk lutut. Surtini tidak mengerti kenapa sang ibu meninggalkannya di tempat asing, padahal dia sudah berusaha menjadi anak yang baik.
Surtini tidak pernah protes setiap dipukuli. Dia juga tetap tersenyum meskipun selalu diejek anak-anak lain atau bahkan orang dewasa. Gadis kecil itu juga menolak saat ada orang-orang berseragam berjanji akan membawanya ke tempat yang lebih baik.
Tidak! Surtini tidak mau berpisah dengan sang ibu. Dia tidak akan bisa tidur kalau tidak dipeluk. Setiap malam, gadis kecil itu memang selalu meringkuk di dada ibunya, tak peduli bau menyengat kadang membuat perutnya mual. Tetangga-tetangga bilang itu karena ibunya suka mabuk.
"Masuklah!" perintah Rukmini.
Surtini mendongak. Wajah wanita berdaster bunga-bunga itu terlihat dingin, membuatnya sedikit takut. Namun, dia juga bisa melihat sepercik kehangatan di sorot mata Rukmini.
"Ayo masuk!" pinta Rukmini lagi.
Surtini bergeming. Dia tahu Rukmini membenci ibunya, sehingga sedikit takut. Surtini juga masih berharap ibunya tidak benar-benar pergi, hanya meninggalkan sebentar dan akan kembali untuk menjemput. Namun, hujan tiba-tiba turun dengan lebat. Gadis kecil itu seketika menggigil. Rukmini menghela napas berat.
"Masuklah, Nak! Kamu bisa sakit jika terus di luar!" Meskipun masih terdengar seperti perintah, suara wanita itu terdengar lebih lembut.
Surtini mulai goyah. Dia melirik ke dalam rumah takut-takut. Namun, belum sempat buka suara, gadis yang tampak lebih tua darinya tiba-tiba keluar.
"Mak! Kenapa harus disuruh masuk, sih? Biarkan saja anak pelakor ini sakit, kalo perlu mati sekalian!" gerutu gadis itu. Dia adalah Hastuti, putri semata wayang Rukmini.
"Tuti! Jangan ngomong sembarangan kamu! Emak memang sakit hati dengan kelakuan ibu dan bapaknya, tapi dia tidak salah apa-apa!" sergah Rukmini.
Hastuti mendecakkan lidah.
"Terserah Emak deh! Cape aku ngomong sama Emak!" ketusnya sebelum kembali masuk ke rumah sambil menghentakkan kaki.
Rukmini tak memedulikan ocehan putrinya. Dia kembali membujuk Surtini. Sebenarnya, Rukmini bisa saja menyerahkan gadis kecil itu ke panti asuhan atau dinas sosial. Namun, hati nurani seorang ibu terketuk saat melihat dua bola bening Surtini berkaca-kaca.
Rukmini telah memutuskan untuk memelihara Surtini. Meskipun dia tahu wajah mirip pelakor itu pasti akan selalu menoreh luka.
"Ayo masuk, Nak ...."
"Tapi, Ibu ...."
Rukmini menghela napas berat. Dengan tangan sedikit gemetar, dia mengusap kepala Surtini. Rambut sebahu milik gadis kecil itu sedikit basah karena terkena tempias hujan.
"Mulai sekarang, aku adalah ibumu, kamu bisa panggil Emak juga, seperti Mbak Tuti."
"Tapi, Tante ...."
"Sudahlah, ayo masuk. Ibumu tidak akan kembali ke sini."
Setelah berulang kali dibujuk, Surtini mau masuk ke rumah. Baru saja melangkah, tubuh mungilnya ambruk ke dalam pelukan Rukmini. Sebelum tak sadarkan diri, dia bisa merasakan kehangatan yang tidak biasa, juga tercium aroma menenangkan, jauh berbeda dengan bau menyengat ibunya.
Hastuti yang tengah duduk di sofa ruang tamu berdecih.
"Ck! Emak benar-benar deh! Anak pelakor malah dipeluk-peluk! Awas aja kamu, anak pelakor, aku akan pastikan hidupmu menderita!" desisnya tajam.
***
Surtini menyibak tirai jendela. Sinar mentari terasa hangat menyirami tubuh bongsornya. Ya, dia memang memiliki tinggi badan di atas rata-rata. Meskipun baru berusia 12 tahun, Surtini sudah terlihat seperti remaja 17 tahunan. Kadang, Hastuti yang kelas 3 SMA malah dikira adiknya karena bertubuh lebih mungil.
"Tanah airku tidak kulupakan. Kan terkenang selama hidupku. Biarpun saya pergi jauh. Tidak kan hilang dari kalbu. Tanahku yang kucintai. Engkau kuhargai."
Lagu nasional ciptaan Ibu Soed itu terus terlantun dari bibir Surtini. Besok, dia memang akan ada ujian praktik pelajaran kesenian. Oleh karena itu, Surtini mencoba latihan sambil mengerjakan tugas rumah tangga.Setelah seluruh tirai sudah dibuka, Surtini mengambil sapu dan mulai menyingkirkan debu-debu di lantai.
Sementara itu, Rukmini tengah sibuk di dapur, membuat kue-kue yang akan dititipkan di warung-warung. Sejak sang suami menghilang usai digondol pelakor, begitulah caranya mencukupi kebutuhan rumah tangga.
Waktu berlalu dengan cepat, Surtini sudah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Dia segera mandi karena akan mengantarkan kue-kue sang ibu tiri ke warung-warung. Rukmini juga telah usai menata aneka kue dalam keranjang. Saat itulah, Hastuti keluar dari kamar sambil mengucek mata.
"Ya ampun, Tuti! Kok, baru bangun? Ini sudah jam berapa? Kamu ini libur itu, ya, bantu Emak," omel Rukmini hampir tanpa jeda.
"Kan, sudah ada si anak pelakor, Mak."
"Berhenti memanggil dia anak pelakor, Tuti!"
Hastuti berdecih. Dia tak mengindahkan omelan ibunya dan pergi ke kamar mandi. Hastuti mendelik tajam saat berpapasan dengan Surtini yang tengah mengeringkan rambut. Untunglah, dia sedang tak berselera mengganggu sang adik dan langsung masuk kamar mandi.
"Kuenya udah siap, Mak?" tanya Surtini ketika berada di dapur.
"Iya. Tapi, kamu sarapan dulu."
"Iya, Mak."
Surtini mencomot pisang goreng hangat dan melahapnya dengan semangat. Dia mengacungkan jempol.
"Pisang goreng buatan Emak paling enak sedunia."
"Surti, Surti, seperti pernah makan pisang goreng dari seluruh dunia saja kamu ini."
Surtini menyengir lebar. Tak lama kemudian, dia telah selesai sarapan. Setelah mencium tangan Rukmini, gadis itu langsung tancap gas sembari membawa keranjang kue.
"Terima kasih, Bu!" seru Surtini riang setiap kali selesai menitipkan kue.
Sebenarnya, dia hanya berusaha ceria. Hatinya malah lebih sering terluka. Ibu-ibu yang berkumpul di warung selalu melakukan hal sama setiap kedatangan gadis itu, berbisik-bisik dengan suara cukup keras.
"Kesian Bu Rukmini harus melihara anak haram suaminya sama pelakor."
"Kalau aku, sudah kukasih ke panti asuhan. Amit-amit melihara anak pelakor!"
"Tapi, lumayan juga lho tenaganya bisa dipakai ha ha ha."
"Iya juga, ya, ha ha ha."
Surtini mengepalkan tangan dan pergi secepat mungkin dari sana. Untunglah, warung itu adalah warung terakhir. Dia tinggal pulang saja ke rumah. Namun, baru saja berjalan sepuluh langkah, Surtini melihat Karta, salah seorang tetangganya sedang menggandeng anak kecil yang tampak asing.
"Lho, adik kecil itu mau dibawa ke mana sama Pak Karta?"
Surtini mengelus dagu. Awalnya, dia ingin bersikap masa bodoh. Namun, hatinya tidak bisa tenang. Surtini pun memutuskan untuk mengikuti secara diam-diam. Ternyata, Karta membawa si gadis kecil ke dalam gudang tua.
"Kok perasaanku jadi enggak enak, nih," gumam Surtini.
"Huaaa! Lepas! Tolong! Paman, lepaskan saya!"
Teriakan dari dalam gudang membuat Surtini menelan ludah. Dia terjebak dilema, haruskah pergi seolah tak tahu apa pun atau menolong dengan resiko berurusan dengan Karta? Surtini mengigiti ujung jari.
***
-ZENAIDA RANE SINCLAIR POV--•-“Are you sure you're not hurt?” Ilang beses na itong nagtatanong sa akin at ulit ulit rin akong sumasagot rito na halos mabulol na ako kakasalita.“Sinabi ko na sa iyo, ayos lang ako.” Sagot ko sa kanya. “Hindi ko alam bakit nandito pa tayo sa clinic-”“We’re here to make sure you're not definitely hurt.” Giit niya habang nakasandal ito sa pader at nakahalukipkip ang mga braso.“Don't worry, Sir. She has no signs of injuries nor bruises.” Giit ng doktor."Did you check her properly?” Tanong niya muli at tumango na lang ang doktor rito.“I can assure you, she's fine, Mr. Stellan." At dahil lang sa sinabi ng doktor na iyon, namintig ang tenga ko.Ngunit, mas pinili ko na lang manahimik.Pinanood kong umalis ang doktor sa kwarto, at kaming dalawa na lang ni Jiro ang naiwan roon.Katahimikan ang pumalibot sa amin, at tiningnan ko ito— At nahuli siyang nakatingin din sa akin.“Ano?" Panimula ko nang lumapit ito sa akin.“I'm sorry about earlier." Sagot ni
-ZENAIDA RANE SINCLAIR POV-~♪~Pakiramdam ko hindi ako makagalaw dahil sa nakikita, kahit na naririnig ko na may kumakatok- hindi ko madala ang sarili kong sumagot ruon.“Rane!” Sigaw nila mula sa labas na naging dahilan upang ako'y lumingon at ipagbuksan agad sila.“Gauche.” Panimula ko.“Jiro wants to see you.” Saad niya. “Did you look at the balcony?”Tumango ako, at hindi ko mawari sa kanyang mukha ang ekspresyon nito.“Gauche, ano ang nangyari? Bakit may mga-” Naputol ang aking sasabihin nang sumagot ito.“Rane, all I want you to do is head to Jiro. Gusto ka niyang kausapin, at kung ano man ang nakita mo sa labas- wag na wag kang magsasalita.” Sagot nito na naging dahilan upang tumahimik ako.“Do you understand?” Wika niya muli.“Oo.” Sagot ko na lang.Umalis ito at saka ako sumunod, ngunit nasa isip ko pa rin ang nakita ko mula sa balkonahe, at kung bakit wala naman akong narinig na kahit na ano man.Dinala ako nito sa isang kwarto na tanging furniture lamang ay ang kama at isa
-RYU FUJIRO STELLAN POV- ~•~Kasalukuyan kaming kumakain, at ang tanging maririnig mo lang ay ang mga sumisigaw sa may basement, and to be honest, naiirita na ako."So, ano ang balak mo sa penthouse na ibinibigay ng Auntie mo sa iyo?" Tanong ni Dad sa akin.Placing my chopsticks down, I wiped the edge of my lips and looked at him."Tell Obasan I don't want it." Sagot ko. "But I can give it to someone else." "And who is that someone?" Tanong naman niya.Akmang sasagot naman ako nang biglang may tumawag sa akin.“Stellan!” Lumingon ako rito habang nakataas ang aking kilay. “Ano?”“I'm sorry, I meant Jiro.” Wika ni Clover at saka yumuko bilang paumanhin.“Get to the point, what do you want?” Tanong ni Dad.“Someone’s looking for your son, Sir.” Sagot nito.Sumenyales ako rito na umalis siya at mabuti na lamang ay sumunod ito.Dali-dali akong tumayo mula sa aking kinauupuan at nagtungo sa front porch, kung saan makikita mo itong nakadantay sa kanyang motor habang naghihintay.“Open the
-RYU FUJIRO STELLAN POV- ~•~“So, anong gagawin natin niyan??? Ire-raid ba natin ang teritoryo nila?” Tanong ni Azriel habang dinidiskusyo ko sa kanila ang plano ko.“Pwede rin, pero baka ma-outnumber tayo.” Sabat ni Gauche.“We should bombard them.” Lucio and Lucius said in unison.“You twins never know nothin better but bombard an enemy?” Sabat ni Aga bago humithit sa kanyang sigarilyo.“That's way common.” Giit ni Grian.“We need something better, like luring them into this exact location.” Wika ni Clover at saka tinuro ang remote na lugar sa mapa.Pinag-isipan ko nang mabuti ang sinabi ni Clover habang sila’y nag-aargue sa dapat na gawin, and maybe that is a potential to lure them.“Ano ang dapat nating gawin para kumagat sila?” Tanong ko na nakapag-patahimik sa kanila.“Kidnap Syle.” Sabat ng isang babae na ikinalingon naming lahat.“Zen, anong ginagawa mo dito?” Tanong ni Gauche sa kanya.“Ineexplore ko lang ang bahay, pero narinig ko kayong nag-uusap. At saka baka kilala niyo
Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviews