Share

BAB 13

Penulis: Ansaafh_
last update Tanggal publikasi: 2026-06-13 09:52:33

Kamar Suite Presidential di hotel berbintang lima diselimuti suasana temaram. Aroma Scotch yang kuat berbaur dengan Sillage parfum mahal, menciptakan aura kemewahan yang dingin. Di kamar itu, Dion dan wanita yang berstatus sebagai kekasih gelapnya selama hampir enam bulan sedang berbagi peluh. Keintiman fisik yang baru saja terjadi terasa kosong.

Bagi Dion, ini hanyalah rutinitas, sebuah pelepasan tanpa koneksi. Ia berdiri di tepi ranjang, mengambil boxer dan memakainya, gerakannya tenang dan b
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • The Wedding Agreement    BAB 15

    POV ARAAku terbangun dengan perasaan asing. Bukan pusing, bukan sakit kepala, melainkan rasa hangat yang tidak biasa, seolah malam tadi berakhir tanpa beban yang biasanya selalu ikut terbawa hingga pagi. Cahaya matahari menembus tirai kamar, jatuh lembut di lantai kayu dan ujung ranjangku.Aku mengerjap pelan.Kamar ini… kamarku.Aku sedikit mengernyit ketika menyadari satu hal, aku sudah mengenakan baju tidur. Sepatuku tidak ada. Gaun pesta yang kupakai semalam juga sudah tergantung rapi di kursi.Ingatan malam tadi datang perlahan, terpotong-potong.Aku duduk perlahan, menarik selimut hingga sebatas pinggang. Ingatanku berhenti di satu titik, aku duduk di kursi disebelah Elvano, lampu jalan berderet di luar jendela, lalu dia berbicara hanya beberapa patah kata dan… hening.Aku tertidur.Napas pelan keluar dari bibirku.“Bi Inah…” gumamku lirih.Seolah mendengar namanya dipanggil, pintu kamarku diketuk pelan.“Non Ara sudah bangun?” suara lembut Bi Inah terdengar.“Iya, Bi. Masuk.”

  • The Wedding Agreement    BAB 14

    Aula Ballroom hotel tempat acara Anniversary pernikahan orang tua Naya semakin ramai. Denting sendok dan garpu berpadu dengan alunan musik klasik yang lembut. Lampu kristal bergantung megah, memantulkan kilau di atas gaun-gaun mahal dan setelan jas eksklusif para tamu undangan.Ara berdiri di sisi Naya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Kehadiran Elvano beberapa meter dari sana seperti magnet yang mengacaukan seluruh fokusnya. Pria itu berbincang santai dengan Daddy Naya, sesekali tersenyum sopan, sesekali melirik ke arahnya. Lirikan singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Ara berdetak tak karuan.Aula Ballroom semakin ramai. Ara berdiri di samping Naya sambil memegang gelas minuman, bahunya sedikit tegang.Naya melirik Ara dari samping lalu nyengir.“Ra, lo keliatan kayak mau kabur.”Ara menghembuskan napas pelan.“Gue lebih nyaman ngadepin klien galak daripada acara ginian.”Nayara terkekeh.“Padahal ini pesta Elite. Makanan mahal, tamu penting, lampu kinclong. Kurang apalagi?

  • The Wedding Agreement    BAB 13

    Kamar Suite Presidential di hotel berbintang lima diselimuti suasana temaram. Aroma Scotch yang kuat berbaur dengan Sillage parfum mahal, menciptakan aura kemewahan yang dingin. Di kamar itu, Dion dan wanita yang berstatus sebagai kekasih gelapnya selama hampir enam bulan sedang berbagi peluh. Keintiman fisik yang baru saja terjadi terasa kosong.Bagi Dion, ini hanyalah rutinitas, sebuah pelepasan tanpa koneksi. Ia berdiri di tepi ranjang, mengambil boxer dan memakainya, gerakannya tenang dan berjarak. Clara, sebaliknya, masih duduk bersandar di bantal, memegang selimut hingga menutupi dadanya. Meskipun ia adalah partner tetap Dion, kebersamaan mereka selalu diwarnai oleh ketegangan, seperti dua orang yang terikat oleh kesepakatan bisnis yang tidak adil.Dion mengambil dompet kulitnya dari nakas, mengeluarkan segepok uang. Jumlahnya fantastis, jauh lebih besar dari sekadar bayaran jasa. Itu adalah tunjangan bulanan yang memastikan kesetiaan dan, yang paling penting, kebisuan Clara. Ia

  • The Wedding Agreement    BAB 12

    Naya tiba di mansion Ara dengan mobil sport-nya. Ara sudah bersiap mengenakan celana jins dan kaus sederhana."Non Naya, mau Bi Inah siapkan cemilan dulu?" tawar Bi Inah ramah."Terima kasih banyak, Bi Inah. Tapi kita harus pergi sekarang. Ayo, Ra!" seru Naya sambil menarik Ara keluar.Mereka pun berangkat menuju butik langganan keluarga Naya. Sesampainya di sana, mereka disambut hangat oleh pemilik butik, madam Jessie, seorang wanita paruh baya yang elegan. Ara telah mengenal Madam Jessie karena beberapa kali menemani Naya berbelanja. Madam Jessie dengan antusias merekomendasikan beberapa dress terbaik."Coba yang ini, Ara. Ini akan terlihat indah kalau lo pakai," kata Naya, menyodorkan gaun pertama.Ara heran."Kok gue? Lo sendiri nggak nyoba?""Gue udah pilih, Ra. My focus is you!" tukas Naya, mendorong Ara pelan ke ruang ganti.Ara pasrah. Ia mencoba dress pertama, kedua, dan kemudian yang ketiga.Ketika Ara keluar mengenakan dress ketiga, Naya dan madam Jessie kompak berseru kagu

  • The Wedding Agreement    BAB 11

    Ara tiba kembali di mansionnya. Keheningan segera menyambutnya. Mobil orang tuanya tidak ada di garasi, mereka jelas masih berada di luar kota. Kelegaan kecil menyelimuti dirinya, memberinya jeda dari drama keluarga, namun hal itu segera digantikan oleh bayangan Elvano yang kembali menghantuinya.Lelah setelah menghadapi permainan mental dan tantangan Elvano di lokasi pembangunan, Ara segera membersihkan diri. Ia mengganti pakaian kerjanya dengan kaus oversize katun dan hotpants yang nyaman. Rambut panjangnya ia cepol asal-asalan ke atas, membiarkan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang manis.Ia menjatuhkan diri ke sofa di ruang keluarga, menyalakan televisi tanpa benar-benar memperhatikan siaran di layar. Pikirannya melayang.Pertemuan pribadi minggu depan.Bagaimana ia akan menghadapi Elvano? Pria itu kini telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Ara telah mengakui dominasinya dengan memasukkan The Sanctuary of The Unseen ke dalam desain.Kini, Elvano akan menyerang di bente

  • The Wedding Agreement    BAB 10

    Ara berjalan cepat menyusuri koridor marmer kantor Adhitama Group, langkah kakinya berdetak kencang seirama dengan detak jantungnya yang bergemuruh. Ia tidak peduli jika terlihat tidak profesional. Yang ia rasakan hanyalah campuran rasa malu, marah, dan adrenalin yang membanjiri dirinya.Ketika mencapai pintu lift, ia menekan tombol berulang kali dengan ujung jarinya yang gemetar, seolah itu akan mempercepat kedatangan lift.Bajingan itu.Elvano tidak hanya menghinanya secara profesional, dia telah menelanjangi privasinya. Kata-katanya, bisikannya, cara dia menghubungkan proyek bernilai puluhan juta dolar dengan 'gairah' satu malam di Erop. Semuanya dirancang untuk meruntuhkan pertahanan Ara. Itu adalah serangan psikologis yang kejam.Ketika pintu lift terbuka, Ara masuk dan langsung bersandar ke dinding cermin dingin. Ia memejamkan mata, mengambil napas dalam-dalam. Aroma Cologne mahal Elvano masih melekat samar di blazernya, membuatnya mual.Tunjukkan bagaimana Anda akan memasukkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status