로그인Sejak pagi yang menghebohkan seluruh istana, banyak mata yang semakin memperhatikan gerak gerik sepasang pemeran utama dari rumor tersebut. Sarah dan Luzark.Mereka semua memperkirakan kemana arah politik dari kekaisaran Luminous."Bawa dia," ucap Luzark tegas."Itu.. sulit Luz, kaulah yang paling tahu. Dia bisa mengamuk seperti banteng kelaparan jika aku menyuruhnya pulang bersamaku," sesal Leonel."Kapan kau kembali?""Lusa, aku sudah terlalu lama meninggalkan kekaisaran.""Nah, bawa bantengmu itu sekalian. Jika tidak bisa baik-baik, bawa paksa saja," ujar Luzark, terlihat kantong mata di bawah matanya."Pfft.""Kau tertawa? Apa ini lucu bagimu?" Luzark mendengus, saat ini ia merasa sangat kesal."Tidak, hanya saja.. aku ingin memperingatkanmu. Ini bisa jadi senjata makan tuan.""Apa maksudmu? Sarah jadi berbalik membenci dan menyerangku?" Luzark menaikkan sebelah alisnya. "Yah.. itu lebih baik.""Dasar bodoh.""Kenapa tiba-tiba mengataiku bodoh, dasar pria tua.""Wah wah, lihatlah
Pelayan-pelayan lain menunduk, bahu mereka bergetar menahan tawa."Tuan Putri, tampaknya Tuan Morgan mencurahkan seluruh kasih sayangnya tadi malam," ujar salah satu dari mereka dengan nada polos. "Sekali lagi, selamat, Tuan Putri."Liora menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Dasar Morgan menyebalkan, aku sangat malu," gumam Liora."Jangan katakan pada siapa pun tentang ini ya," pinta Liora"Tentu saja, Tuan Putri."Namun, beberapa menit kemudian, kabar bahagia itu sudah menyebar secepat angin di seluruh Istana Luminous.Meski begitu, ternyata itu bukanlah hal yang paling menggemparkan pagi ini.Di sisi lain istana, Elbaf berjalan cepat menuju kamar Luzark sambil membawa setumpuk dokumen."Waktu pertemuan tinggal satu jam. Kalau Yang Mulia tidak segera bangun, bisa-bisa beliau terlambat."Tanpa banyak berpikir, ia membuka pintu kamar Luzark, berniat membangunkan tuannya itu, seperti yang selama ini ia lakukan.Tapi saat memasuki kamar yang berantakan itu, Elbaf seketika berdiri memat
Jari-jari Liora refleks mencengkeram bagian depan pakaian Morgan. Napasnya tercekat ketika ciuman itu semakin dalam.. membuat lututnya terasa lemas. Tubuhnya tersentak bagai terkena aliran listrik.Saat Morgan akhirnya memberi ruang, Liora terengah pelan, pipinya memerah sampai ke telinga."Morgan..." bisik Liora, ia protes di sela napasnya. "Aku... kehabisan napas."Morgan menatap Liora dengan wajah menyebalkannya dan tersenyum puas. Lalu mengusap lembut bibir Liora."Manis. Enak."Liora membelalak."Enak apanya?" sahutnya seraya memalingkan wajahnya malu."Mau coba sesuatu yang lebih menyenangkan?" bisik Morgan parau."Tidak mau.""Benarkah?" Morgan menyelipkan rambut Liora ke belakang telinganya. "Tapi..." jemarinya menelusuri garis wajah Liora.Liora sontak menutup matanya."...tubuhmu bereaksi sebaliknya tuh," goda Morgan."Kau itu serigala atau rubah?"Hal pertama yang Liora lihat saat membuka mata adalah wajah Morgan dengan sorot matanya yang sayu."Aku suamimu." Morgan mendeka
Liora melangkah mendekat, lalu menarik ujung lengan kakaknya seperti saat mereka kecil."Kakak... tolonglah, kabulkan permintaanku kali ini."Luzark menoleh dengan wajah kesal. "Kau curang, Lio. Jangan gunakan cara itu. Beraninya kau membujukku dengan wajah imut dan mata kucingmu itu.""Luz.. aku hanya bisa mengandalkanmu, kakakku satu-satunya.""Kau selalu bilang begitu jika menginginkan sesuatu, menyebalkan."Liora tersenyum kecil. "Itu karena aku tahu kakakku ini sangat menyayangiku, seperti aku menyayanginya."Kaisar agung yang ditakuti banyak negeri itu menutup wajahnya dengan telapak tangan."Aku benar-benar lemah terhadapmu."Luzark menghela napas panjang."Kalau sampai dia membuat masalah lagi, aku sendiri yang akan memburunya."Liora tersenyum lega. "Terima kasih, Kakak.""Hanya terima kasih?"Liora bangkit dan memeluk kakaknya.Luzark kembali memasang tampang konyolnya. "Kau jahat Lio. Apa kau hanya sudi mengakuiku sebagai kakak disaat terdesak seperti ini? Padahal aku hanya
Di tengah lautan rakyat yang bersorak dan melemparkan kelopak bunga ke udara, mata Liora menangkap satu sosok yang berdiri jauh di tepi jalan.Sendirian.Jubah hitam menutupi tubuhnya dari kepala hingga kaki, seakan ia ingin lenyap di antara kerumunan. Namun, Liora tetap mengenalinya. Bahkan dari kejauhan. Bahkan tanpa melihat wajahnya.Liora tersenyum tipis."Semoga kau menemukan kebahagiaanmu," gumamnya lirih.Morgan menoleh. "Apa kau mengatakan sesuatu?"Liora menggeleng pelan. "Tidak.""Sungguh? Lalu apa yang kau perhatikan dengan seksama, istriku?"Luzark memutar bola matanya malas. "Hei, bisa kau lanjutkan pembicaraanmu nanti? Aku tidak mau mendengar kemesraan adik kesayanganku ini. Aku bahkan belum sepenuhnya merelakan..""Luz.." potong Liora."Iya, Lioku?" jawab Luzark berbinar."Kau juga, hentikan. Rakyatmu sedang melihat. Kau harus menjaga wibawamu sebagai kaisar.""Lio.. kau sekarang membela serigala ini?" tanya Luzark mendramatisir."Pfft, tentu saja. Sekarang akulah suami
"Tidak Liora, itu isi hatiku yang sesungguhnya." ucapan Morgan terdengar lebih tegas dari sebelumnya.Morgan mundur satu langkah, memerhatikan Liora yang salah tingkah.Liora menunduk sesaat, kemudian mengangkat wajah lagi. Ia bingung harus bereaksi seperti apa. Jemarinya betaut gelisah di depan tubuhnya.Morgan menelan ludah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa sangat sulit mengendalikan dirinya sendiri.Sial. Liora terlalu cantik.Morgan memalingkan wajah, berusaha menenangkan isi kepalanya."Aku pergi saja," ucap Morgan tiba-tiba. Liora berkedip. "Pergi? Kenapa?"Morgan menarik napas panjang sebelum menjawab."Jangan tanya kenapa, Liora. Kau akan menyesal jika tahu apa yang kupikirkan saat ini.""Lalu kau mau kemana?" terlihat sedikit sesal di wajah Liora."Jangan memasang ekspresi seperti itu, Baby."Liora menahan rasa kesalnya, apa maunya pria di hadapannya ini."Ukh, aku bisa gila. Maaf, aku benar-benar harus pergi. Aku tidak boleh lebih lama di sini.""Kau seb
Hari pesta pun akhirnya tiba.Istana Luminous dipenuhi gemerlap cahaya dan alunan musik yang megah. Para bangsawan, perwakilan dari berbagai kerajaan, semuanya mulai berdatangan satu per satu mengenakan pakaian terbaik mereka.Acara yang diadakan setahun sekali oleh kekaisaran Luminous itu selalu m
Luzark langsung tertidur lelap begitu sampai di kasurnya, Liora lalu menyelimuti kakaknya. Dia juga mengalirkan energi sucinya untuk mengobati kelelahan dan rasa sakit di tubuh Luzark.Liora menyentuh dahi Luzark. "Sudah tidak demam." gumamnya. Liora segera keluar setelah mematikan penerangan di ka
"Luz!" Liora membuka pintu ruang makan dengan penuh semangat, terlalu semangat.. hingga membuat dua kesatria yang berjaga di samping pintu berjengit kaget."Ups, maafkan aku." sesal Liora dengan senyum tulus di wajahnya.Kedua kesatria itu menunduk hormat. "Kami tidak masalah Tuan Putri." jawab mer
Liora tidaklah sepolos yang Morgan pikirkan. Liora menyadari tatapan Morgan padanya yang terasa berbeda. Morgan sudah melakukannya sejak dia masih kecil, bahkan sebelum Morgan sendiri menyadarinya.Kini Morgan pasti sudah tahu apa itu dan selalu berusaha menahan diri. Liora tahu, Morgan seperti bin







