เข้าสู่ระบบRonan Blackthorne gets the same coffee every morning. Black, no sugar. From the same girl who doesn't even know he's worth billions. Annabelle thinks he's just another suit with good tips and a nice smile. She has no clue he owns half of Manhattan. Here's the thing though, Ronan's got a problem. His dead father just screwed him over big time. Turns out daddy had a secret daughter somewhere, and she owns 35% of everything Ronan thought was his. Now he's hunting this mystery girl down because his psychotic mother Victoria won't shut up about finding her and making the problem disappear. The barista he's falling for is the girl he's looking for.
ดูเพิ่มเติม“Turun, Rosella!” titah pria paruh baya sambil menarik tangan putri tirinya, memaksanya keluar dari mobil dengan kasar.
Rosella mempertahankan tubuhnya agar tidak keluar. “Aku tidak mau!” berontaknya, berusaha melepas cengkraman ayah tirinya. “Kita sudah sampai, kamu harus turun!” Teriaknya. “Katanya mau beli obat kenapa malah mengajak aku disini!” Rosella tetap kekeh dengan tubuhnya, dia tidak mau turun. Namun, tenaga Marcus jauh lebih kuat sehingga mampu menyeretnya keluar. Rosella memekik tertahan. Dia tidak tahu, setelah menginjakkan kaki di mansion mewah itu, dia harus melupakan segalanya, termasuk ibu dan masa depannya. Marcus berbicara pada seorang yang seumuran dengannya, lalu dia melenggang pergi meninggalkan Rosella tanpa berkata apa-apa. “Ayah, tunggu! Jangan tinggalkan aku!” Rosella segera mengejar pria itu, namun para pria berpakaian serba hitam segera menghalanginya. Dia meronta bahkan melakukan perlawanan. Tapi apalah daya, dia hanya gadis kecil yang tidak cukup kuat untuk menyaingi tenaga para bodyguard itu. “Menurutlah. Jangan melakukan hal yang sia-sia, semua pelayan yang telah masuk mansion itu tidak ada yang bisa keluar lagi.” Deg! Apa maksudnya? Kepala pelayan meminta Rosella untuk menurut, mengingatkan bahwa dia telah dijual. Saat ini, Rosella sudah menjadi milik keluarga Toretto. Dengan hati perih, Rosella merosot ke bawah, tangannya mengepal kuat. Dia tak menduga kalau Marcus benar-benar tega menjual dirinya. “Tapi ibuku sakit, aku juga masih kuliah. Tolong lepaskan aku.” Dia menangis memohon belas kasihan pria paruh baya itu. “Bukan urusan kami.” Sekeras apapun dia menangis, nyatanya tidak merubah keadaan. Ia diminta untuk ikut masuk ke dalam mansion. “Kamu sekarang jadi pelayan di sini, jadi jaga baik-baik sikapmu atau terima konsekuensinya,” ancam pria itu, membuat tubuh Rosella semakin menciut. Kepala pelayan itu menunjukkan kamar Rosella, kamar kecil di ujung koridor yang hanya ada single bed dan meja saja. Semalaman Rosella menangis memikirkan nasibnya yang buruk, hingga dia jatuh terlelap. Esok harinya, Rosella dibangunkan pagi sekali. Semua pelayan juga sudah bangun dan memakai seragam mereka. Rosella mendapatkan pekerjaan membersihkan halaman. Tentu dia sangat senang, siapa tahu ada celah untuk kabur. Tapi harapannya pupus sudah, meskipun masih pagi buta, nyatanya sudah banyak orang berpakaian serba hitam yang berjaga di seluruh sudut mansion. “Bahkan istana raja tidak seperti ini.” Rosella menghela nafas, niat kabur yang menggebu menguap entah ke mana. Dia merasa begitu putus asa. Tak terasa air matanya merembes keluar. Dia rindu ibunya. Dia ingin pulang dan kuliah. Siang itu semua pelayanan istirahat, sementara kepala pelayan mengecek satu persatu pekerjaan semua pelayan. Sama seperti sebelumnya, rumah sudah bersih, lantai berkilau tanaman di taman dipangkas rapi tapi masih banyak daun yang masih berserakan. “Siapa yang membersihkan halaman depan?” Semua pelayan menunjuk Rosella, dan kepala pelayan menasehati Rosella agar sungguh-sungguh dalam bekerja. Dia juga menjelaskan kalau pemilik mansion tidak suka ada yang kotor. Dari penjelasan kepala pelayan, Rosella justru memiliki ide agar dia didepak dari mansion ini. “Sepertinya bekerja seenaknya akan membuat aku didepak dari sini.” Wanita itu tersenyum lepas, senyum pertama dari semalam. …. Baru seminggu Rosella menjadi pelayan di rumah itu, tapi dia sudah berkali-kali membuat kesalahan. Pelayan lain mengingatkan Rosella agar bekerja dengan baik, tapi Rosella hanya tersenyum sebab semua itu sengaja. Pagi itu, Rosella diminta membantu koki di dapur. Ketika melihat ada bahan makanan yang habis, Rosella berpikir kalau dia bisa belanja keluar. “Biar aku saja yang membeli bahan makanan yang habis, aku bisa menyetir.” Dengan antusias dia menawarkan diri, tapi kepala pelayan bilang kalau akan ada orang supermarket yang datang untuk stok bahan-bahan mereka. Jawaban itu membuat Rosella bungkam, harapannya kembali terkikis. Sepertinya mansion ini adalah penjara yang berkedok rumah mewah. Kemudian kepala pelayan memerintahkan dia membersihkan tangga. Saat asik bersih-bersih, tiba-tiba semua pelayan berlari dan semuanya berbaris rapi. Rosella menjadi heran, apa ada upacara di mansion itu? Ketika menoleh lagi, alangkah terkejutnya dia melihat tiga pria dewasa masuk. Mereka tampak begitu gagah, dengan wajah aristokrat yang membuat siapapun sulit berpaling, termasuk Rosella. Gadis itu terpana sambil memegangi sapu, sepasang matanya masih mengikuti setiap gerakan ketiga pria tampan itu. Teguran dari salah satu pelayan membuyarkan lamunan Rosella, dia segera menunduk seperti yang dilakukan semua pelayan. Ketiga pria itu melewati Rosella yang berdiri di ujung tangga, tatapan mereka tajam, membuat Rosella yang menunduk dapat merasakan aura dinginnya. Perlahan dia menaikkan kepalanya tepat saat salah satu dari mereka menatap langsung ke arahnya. Deg! Hati Rosella mencelos, buru-buru dia menunduk, tak tahu kenapa tubuhnya bergetar hebat. Takut atau kagum? Entahlah, yang jelas setelah ketiga pria itu berlalu, dia masih saja deg-degan. “Rosella,” panggil kepala pelayan. “Ada apa, Pak?” tanyanya. “Saatnya bekerja, jangan melamun terus.” Sebelum kembali bekerja, Rosella mendapatkan wejangan tentang peraturan mansion. Jika para Tuan Muda datang, mereka semua harus berbaris untuk menyambut. Tidak ada yang boleh menaikkan kepala, semua harus menunduk. Mendengar itu, Rosella hanya bisa menghela nafas. Apa memang begini aturan keluarga kaya? Meskipun hatinya protes hebat, tapi dia tetap mengangguk. “Baik. Lain kali saya akan menunduk setiap ada para Tuan Muda,” cicitnya pelan. Karena para Tuan Muda sudah kembali dari liburan, kini saatnya para pelayan bekerja keras. Memastikan kamar para Tuan Muda harus bersih, sprei harus diganti setiap hari. Kamar mandi juga harus disikat dua kali sehari. Hingga malam Rosella masih bekerja, kepala pelayan benar-benar mengawasinya, menegur ketika dia berbuat kesalahan. Dia yang baru selesai menyikat kamar mandi para Tuan Muda, tanpa sadar duduk di sofa yang ada di balkon atas sambil memukul-mukul bahunya karena lelah. “Siapa yang mengizinkan kamu duduk di sofa kami?” Suara bariton salah satu Tuan Muda—Adrian—menggema, membuat Rosella segera bangkit. “Ma-maaf Tuan. Saya lelah, ja-jadi numpang duduk sebentar.” Buru-buru Rosella membersihkan sofa itu dengan tangannya, meski sebenarnya sofa itu juga tidak kotor. “Bekasmu masih ada!” ujar Adrian lagi. “Maafkan saya, Tuan,” pinta Rosella dengan tubuh gemetar. Dia tidak menduga hal ini akan membuat majikannya itu naik pitam. Mendengar ada keributan di lantai atas, kepala pelayan segera naik. Alangkah terkejutnya dia melihat Rosella di sana. Kepala pelayan sangat was-was mengingat Rosella selama ini terlalu banyak membuat kesalahan. “Maaf Tuan Muda, ada apa?” tanya kepala pelayan was-was. Selama ini jarang ada pelayan yang terlibat perbincangan dengan para Tuan Muda, karena memang para Tuan Muda enggan berbicara dengan pelayan. “Tidak ada apa-apa, suruh pelayan itu istirahat.” Suara lain terdengar. Dia adalah Lucas, Tuan Muda ketiga. Rosella terperangah, menatap Lucas dengan tatapan tak percaya. Wajah pria itu tampak tenang, tatapannya juga biasa. Sangat berbeda dengan tatapan kedua saudaranya yang tajam. Belum sempat Rosella mengucapkan terima kasih, suara bariton yang dalam lebih dulu menyela, “Malam ini juga ganti sofanya dengan yang baru!” Hah? Tatapan Rosella berganti ke Leon, Tuan Muda pertama. Pria itu tampak berdiri tegap, bahunya yang lebar serta tatapannya yang tajam membuat aura dominasinya begitu kuat. ‘Apa? Hanya karena tidak sengaja aku duduki, sofanya langsung diganti?!’Annabelle’s POV The ballroom of the Meridian Grand Hotel looked impossibly perfect, as if it belonged to someone else’s life. Crystal chandeliers shimmered overhead, sending fractured reflections across the polished marble floors. Everything was controlled, elegant, calm. Everything except what this really was. A war, dressed in velvet and gold. I stood behind the heavy curtains, staring at my reflection. Sharp charcoal suit. Hair pulled into a low bun. Posture deliberate. Eyes forced steady. The woman in the mirror looked capable. Like she could handle the storm I was about to walk into. But inside… I felt like a girl holding her breath in the eye of a hurricane. “You don’t have to do this today.” Ronan’s voice came from behind me, quiet and firm. I caught his reflection in the mirror. Hands tucked in his pockets, shoulders tense despite the calm façade. Every inch of him screamed watchfulness, and something else I didn’t allow myself to acknowledge. “Yes,” I said softly. “I do
Annabelle’s POVThe scandal broke at 6:12 a.m.I didn’t wake up gently. I woke up to chaos.My phone vibrated violently against the glass table beside the bed, over and over again, sharp enough to cut through sleep like something urgent—something wrong. I reached for it blindly, still half-asleep, until the screen lit up in my hand.Then my heart stopped.BLACKTHORNE HEIRESS LINKED TO ILLEGAL TRUST DIVERSIONEXCLUSIVE: SECRET PAYMENTS TRACE BACK TO ANNABELLE LAURENTIS THE INHERITANCE ALREADY BEING DRAINED?“No…” I whispered, sitting up instantly.I scrolled, faster and faster, my pulse climbing with every headline. Charts. Documents. Anonymous sources. Everything looked real—too real.And then I saw it.Sofia Martinez’s gallery linked to suspicious financial activity.My stomach dropped.Beside me, Ronan shifted. “Annabelle?” he murmured, his voice rough with sleep.I couldn’t speak. I just handed him the phone.The change in him was immediate. Sleep vanished. His expression hardened
Sofia’s POVArt had always been the one place I trusted completely.Paint didn’t lie to you. Canvas didn’t pretend to be something it wasn’t. And color… color had a way of telling the truth, even when you tried to hide from it. That was why I built this gallery, why I poured years of my life into something that felt real in a world that rarely was.But as I stood in the middle of my studio watching my phone light up over and over again, I realized something I had never prepared for.Even truth could be weaponized.“What do you mean they’re pulling out?”My voice came out sharper than I intended as I pressed the phone harder against my ear, pacing between canvases that suddenly felt unfinished in a way that had nothing to do with art. Sculptures cast long shadows across the floor, and for the first time, the space felt too big… too exposed.“I’m sorry, Sofia,” Lila said softly. “Three major investors withdrew funding this morning. They’re citing reputational risk.”I stopped moving.“R
Marcus’s POVDaniel was already losing the moment he stepped into the room, even if he didn’t know it yet. I watched the way he carried himself—too careful, too controlled, like a man rehearsing innocence instead of living in it. People like him always forget that control is loud when you’re trained to see it. Ronan stood behind him near the window, silent but suffocating, while Adam leaned against the wall, arms crossed, watching with that unsettling patience that made people unravel faster than any interrogation ever could.I didn’t greet Daniel or offer him comfort, because men in his position don’t deserve either. I simply slid the authorization log across the table and let it speak before I did. His fingers brushed the paper, and in that single second, his eyes betrayed him. It was quick, almost impressive, but not enough. Fear flickered, sharp and undeniable, before he buried it under whatever lie he had prepared.“Explain this.”He tried to sound calm, tried to sound like he be
ANNABELLE POVThe sun hadn’t even fully risen when I was already sitting at my desk in my living room, the city still quiet outside the window, oblivious to the war brewing inside these walls.Ronan was already there, leaning against the side of the desk, arms crossed. His eyes were dark, alert, re
ANNABELLE POVI’ve come to learn that power doesn’t announce itself instead it moves quietly and strategically like a shadow sliding across a wall before the storm hits.Even Alex confirmed it and now, sitting in a private conference room with the blinds drawn and the air thick with anticipation, I
ANNABELLE POVThe moment I walked into the office that morning, I knew something was off.The receptionist, normally calm and precise, avoided my eyes. The hum of computers felt sharper somehow, the air was thicker and my instincts, honed through months of fear and uncertainty, prickled with warnin
ANNABELLE POVI sit alone in my apartment, the city lights flickering against the window. Outside, life continues as if nothing has changed but inside, everything has shifted. Every lie Victoria Blackthorne told, every threat she made, every moment I’ve lived in fear—it all comes rushing back.I cl












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
ความคิดเห็นเพิ่มเติม