Share

Bab 4

Author: Grind
Meja kecil di atas ranjang pasien hancur berkeping-keping dalam sekejap.

"Ah!"

Virly menjerit panik sambil berguling jatuh dari ranjang pasien, tubuhnya masih terkena noda buah-buahan.

Di detik berikutnya, suaranya mendadak terhenti.

Tongkat bisbol di tangan Sinta mengarah tepat ke depan wajahnya dengan jarak sepuluh sentimeter.

"Virly, kamu pikir karena ada Ronald yang bela kamu, aku jadi nggak bisa ngapa-ngapain kamu, ya?"

Sambil berbicara, dia mengulurkan tangan dan mencengkeram dagu Virly, memaksanya untuk mendongak.

"Kamu jangan lupa, margaku Lioda!"

"Kamu mau merebut Ronald, aku nggak ada masalah, aku juga nggak minat rebutan sampah sama kamu, tapi kamu nggak seharusnya usik ibuku!"

Begitu kalimat itu selesai, tangan kanannya mendadak terangkat lalu mengayun keras.

Alat medis senilai miliaran berlubang besar di bagian tengah, serpihan yang berterbangan menancap ke dalam daging Virly, membuatnya menjerit kesakitan berulang kali.

Sudut bibir Sinta sedikit terangkat, dia mencekik leher Virly lalu berbisik di telinganya.

"Bukannya takut darah? Bukannya punya gangguan pembekuan darah?"

"Kenapa? Sekarang udah sembuh?"

Virly dicekik hingga tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

Sinta terkekeh dingin lalu melepaskannya, kemudian menghancurkan kamar rawat itu sampai berantakan.

Kerusakan alat medis mencapai puluhan miliar.

Virly meringkuk di sudut ruangan, menatap Sinta dengan pandangan penuh dendam.

"Kamu tamat, Ronald pasti bakal balasin dendam buat aku!"

Sinta mendadak tertawa.

Dia menjambak rambut Virly, mengambil jarum suntik lalu menancapkannya ke pembuluh darah tanpa ragu.

"Suruh ibuku donor darah buat kamu, muka kamu tebal banget, ya!"

Dia menarik keluar satu tabung darah dengan cepat, lalu menyiramkannya sembarangan.

Entah sudah berapa tabung darah yang ditarik keluar, sampai-sampai penglihatan Virly menggelap dan wajahnya memucat pasi.

Tepat pada saat itu, pintu kamar rawat didorong terbuka dengan keras.

Ronald datang membawa pengawal, tubuhnya memancarkan aura dingin.

"Sinta, kamu lagi menantang batas kesabaranku!"

Dia merangkul Virly yang memanfaatkan kesempatan itu untuk pingsan di pelukannya, lalu menatap Sinta dengan pandangan seperti ingin membunuh.

Sinta menatap matanya secara langsung tanpa mundur sedikit pun.

"Kamu yang lagi menantang batas kesabaranku!"

"Virly sama sekali nggak punya gangguan pembekuan darah, dia sengaja!"

Ronald menatapnya dengan ekspresi yang seolah menunjukkan, Sinta sudah tidak bisa ditolong lagi, matanya penuh kekecewaan.

"Bawa dia ke lapangan bisbol, suruh orang mengajarinya dengan benar gimana cara pakai tongkat bisbol!"

Virly terbangun dari pelukannya di waktu yang tepat.

Pria itu membujuknya dengan suara pelan, "Aku bawa kamu lihat pertunjukan bisbol yang seru."

Di dalam lapangan bisbol.

Sinta dikurung di dalam sebuah sangkar.

Ronald memanggil pemain bisbol profesional untuk terus-menerus melemparkan bola dari segala arah.

Bola-bola bisbol yang membawa tenaga besar akibat percepatan menghantam keras hidung, mulut, dada, tulang rusuk, dan kedua kakinya.

Dia berusaha keras untuk menghindar, tapi tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Benturan keras itu dengan mudah merobek bekas jahitan luka kecelakaan mobilnya.

Wajahnya juga dihantam hingga babak belur dan memar.

Tidak lama kemudian, dia berubah menjadi sosok yang bersimbah darah.

Darah membeku terus keluar dari rongga hidung dan mulutnya, seolah organ dalamnya sudah mengalami kerusakan yang sangat parah.

Penglihatannya makin kabur.

Namun, dia masih bisa melihat Ronald merangkul Virly dengan lembut, seolah sedang mengajarinya cara melemparkan bola bisbol.

Di detik berikutnya, Sinta melihat Virly menatapnya dengan raut wajah puas, lalu melemparkan bola bisbol di tangannya.

Bola itu mendarat tepat di tengah dahinya.

Setelah suara tawa gembira Virly terdengar di telinganya, dia benar-benar kehilangan kesadaran.

Air mata yang keluar akibat rasa sakit secara alami bercampur ke dalam genangan darah.

Ternyata meski 10 tahun sudah berlalu, dia masih bisa sakit hati karena Ronald.

Bagaimanapun juga, pria itu adalah pemuda hangat yang pernah membantunya keluar dari kesulitan!

Dalam ingatan 10 tahun itu, tidak peduli berapa kali pria itu bersikap dingin padanya, dia tetap percaya bahwa pria itu bersikap dingin di luar tapi hangat di dalam.

Asal dia bertahan, akan ada hari di mana es batu itu mencair.

Dari yang berkali-kali didorong menjauh oleh Ronald, hingga diizinkan berjalan di sampingnya, sampai akhirnya berhasil menyatakan cinta.

Dia jelas-jelas bisa merasakan bahwa pria itu bukan tidak punya perasaan padanya.

Sifatnya dingin dan sering disebut sombong oleh orang-orang, tapi dia ingat masa menstruasinya, mulutnya menolak tapi tubuhnya jujur menemaninya mendatangi tempat mi favoritnya, serta secara diam-diam membereskan para pengejar fanatiknya ....

Padahal mereka berdua mungkin saja bisa memiliki akhir yang baik ....

Antara sadar dan tidak, Sinta merasakan seseorang mengusap air mata di sudut matanya dengan lembut.

Tidak lama kemudian, tetesan air mata yang hangat jatuh ke wajahnya.

Dia seolah mendengar suara tangisan Merry secara samar-samar.

Dia berusaha keras ingin membuka mata, tapi tetap tidak sanggup.

Dia hanya bisa mendengar suara Merry yang terdengar serak karena menangis bergema di telinganya.

"Kasih tahu Ronald, aku setuju sama permintaannya."

"Syaratnya, dia harus cari dokter terbaik buat menyembuhkan Sinta!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 16

    Pupil mata Sinta menyusut drastis.Kemudian, dia menyadari kata "juga" yang khusus dalam ucapannya.Sebuah pemikiran yang menakutkan muncul di dalam benaknya.Jangan-jangan ....Julian juga terlahir kembali?Di detik berikutnya, dia mendengar pria itu melanjutkan perkataannya."Kamu batalkan pertunangan sama Ronald dan milih dijodohkan sama aku, karena kamu terlahir kembali, 'kan?"Dia menatap langsung ke matanya, di dalam sana ada sebuah kekuatan yang entah kenapa terasa menenangkan.Dia tidak ingin menyembunyikan apa pun darinya, lalu mengangguk."Iya, setelah mati, aku terlahir kembali ke masa 10 tahun lalu."Senyum tipis terulas di wajah Julian, lalu dia segera berkata."Sama seperti tebakanmu, aku juga terlahir kembali.""Di kehidupan sebelumnya saat mendengar kabar kematianmu, aku sangat menyesal nggak tepat waktu menahanmu.""Di kehidupan kali ini, aku udah pakai kecepatan tercepat buat beresin orang-orang Keluarga Jerico itu, tapi nggak nyangka, ternyata masih gagal melindungim

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 15

    Setelah itu, mereka berdua tidak lagi saling berbicara.Pada malam harinya, mereka membeli tiket pesawat menuju Kota Hariga.Saat tiba di Rumah Sakit Hariga, Merry sudah keluar dari ruang operasi.Dokter memberi tahu Sinta, kondisi Merry sudah stabil dan akan segera sadar setelah beberapa waktu.Sinta mengangguk penuh rasa syukur, lalu terus berjaga di kamar rawat Merry.Julian benar-benar sangat perhatian.Dia sudah menyiapkan seluruh kebutuhan harian untuk rawat inap terlebih dahulu, lalu menyerahkannya ke hadapan Sinta.Sinta sendiri tidak tahu sudah berapa kali dia mengucapkan terima kasih padanya.Pada sore hari berikutnya, Merry akhirnya sadar sepenuhnya.Sinta menangis bahagia dan memeluk Merry erat-erat tanpa mau melepaskannya.Merry yang baru bangun, tubuhnya masih sangat lemah, tapi dia langsung menanyakan kondisi Grup Lioda."Sinta, gimana keadaan Grup Lioda? Apa Keluarga Garga ada kasih bantuan?"Suara Sinta tertahan, dia tidak tahu harus menjawab apa.Dia sama sekali tidak

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 14

    Sambil berbicara, Ronald mencengkeram dagu Virly dengan satu tangan, sementara tangan lainnya langsung menempelkan puntung rokok yang bernyala di tangannya ke tulang selangka perempuan itu."Aaaagh!"Virly menjerit histeris kesakitan, tubuhnya mundur ke belakang secara kalap.Puntung rokok itu menyisakan bekas luka bakar di tulang selangkanya, lalu berguling jatuh ke lantai.Dia meringkuk dalam keadaan mengenaskan di lantai, menatap Ronald dengan tidak berdaya."Ronald, kamu omong apa? Aku nggak paham!""Nggak paham?"Ronald menatapnya dari atas dengan dingin."Kamu 'kan pintar banget, masa nggak paham?"Dia berlutut, menjambak rambut Virly dan memaksanya mendongak, jemarinya mengusap dagu perempuan itu seolah sedang bermesraan."Manfaatkan kesempatan saat aku nggak ada, buat nindas Sinta, rasanya puas banget, 'kan?""Melihat Nyonya Merry dan Sinta yang tadinya berada di posisi tinggi berlutut di hadapanmu sambil bersujud, menampar diri sendiri demi minta maaf, kamu pasti senang banget

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 13

    Ronald teringat kembali pada hari itu, saat Sinta menggertakkan gigi dan berteriak padanya."Ronald, aku mati pun nggak butuh diselamatkan sama kamu!"Pada saat itu, menghadapi sikap tidak percayanya, seberapa menderita hati Sinta!Namun, dia bukan cuma tidak tahu, melainkan masih merasa kalau Sinta sangat keras kepala!Dia bahkan memaksa Sinta untuk minta maaf pada Virly!Memaksa korban minta maaf pada pelaku, betapa konyolnya?Sikap Sinta yang menentang justru makin menyulut rasa jengkel di dalam hatinya.Dia memaksa Sinta masuk ke dalam saluran pembuangan air untuk mengambil kembali karya Virly.Kemudian dia pergi karena urusan pekerjaan.Virly yang memberi tahu padanya kalau Sinta sama sekali tidak mengambil kembali karyanya dan justru pergi begitu saja mengandalkan statusnya sebagai putri tunggal Keluarga Lioda.Demi menebus kesalahan itu, dia menyempatkan waktu pergi ke Jepang untuk membelikannya cokelat mentah matcha.Sekaligus membawakan satu kotak cokelat hitam buat Sinta.Dia

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 12

    Saat Ronald bergegas dari vila menuju Grup Garga, bagian luar gedung grup perusahaan sudah dipenuhi oleh wartawan yang berkerumun ketat.Melihatnya datang, para wartawan langsung merangsek maju, ingin mendapatkan berita yang jauh lebih gempar dari mulutnya."Tuan Ronald, apa rumor bahwa Anda sengaja melarang pengobatan calon ibu mertua demi seorang wanita itu benar?""Tuan Ronald, apa alasan pembatalan pertunangan Keluarga Garga dan Lioda karena Grup Lioda hampir bangkrut dan tidak dipandang lagi oleh Keluarga Garga?""Kabar burung menyebutkan, aksi raksasa barang mewah internasional mengincar Grup Lioda ada campur tangan Keluarga Garga, apa itu benar?"....Ronald memekakkan telinganya, hanya melangkah cepat menuju bagian dalam perusahaan.Para petugas keamanan di belakangnya menahan para wartawan dengan kuat.Di dalam ruangan kerja direktur.Saat dia mendorong pintu dan masuk, kursi khusus milik direktur perlahan memutar.Menampilkan sosok Alin.Dia melangkah langkah demi langkah men

  • Tiada Lagi Ombak Namamu   Bab 11

    Ronald duduk di dalam rumah pengantin mereka berdua sepanjang malam.Baru saat fajar menyingsing, ponselnya berdering.Dia berbaring di atas sofa, tapi sama sekali tidak bergerak.Setelah dering ponsel terhenti, suara itu kembali berbunyi.Hal itu berulang hingga belasan kali.Ronald yang akhirnya merasa terganggu dan tidak sabar, mengangkat ponselnya dengan suara emosi."Ada apa?"Di balik telepon menghening sejenak, lalu terdengar suara Alin yang dingin."Ronald! Kamu di mana?"Dia baru menjauhkan ponsel dari telinganya untuk melihat nama pemanggil."Ibu, aku lagi di rumah pengantin, ada masalah apa?""Rumah pengantin?"Suara Alin tidak menyiratkan kehangatan sedikit pun."Kamu masih punya muka buat pergi ke rumah pengantin?""Kerja sama Keluarga Garga sama Keluarga Lioda hancur total.""Kamu sebenarnya udah ngapain, sih?"Pertanyaan bernada keras itu membuat Ronald agak linglung."Ibu, Ibu lagi bicara apa?"Suara Alin terdengar sangat kecewa."Ronald, Ibu kira kamu setidaknya orang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status