Share

7-2 Menuju Pagi

last update Tanggal publikasi: 2026-06-13 10:52:26

Tiara melenguh panjang, jemarinya meremas seprai sutra di bawah tubuhnya saat ia merasakan sensasi panas yang menjalar. "Abang... pelan-pelan," rintihnya dengan napas yang mulai terputus-putus, membiarkan tubuhnya sepenuhnya pasrah.

"Siapa saja laki-laki yang pernah merasakan dadamu, Tiara?" tanyaku dengan mulut tersumpal daging kenyal yang mulai terangsang; ukurannya seolah naik satu tingkat lebih besar.

Tiara menggeleng cepat, matanya berkaca-kaca menahan gejol
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   12-2. Ranjang Berderit

    Rasa malu Tiara perlahan meleleh bersama kehangatan yang merayap naik ke tubuhnya. Setelah aku puas menandai bagian bawahnya, aku bangkit merangkak ke atas ranjang, menyejajarkan tubuh kekarku dengan tubuh moleknya yang kini gemetar halus. Targetku beralih, mengarah langsung pada dadanya yang naik turun berkejaran dengan napasnya yang kian pendek. Kubenamkan wajahku di tengah gundukan kenyal yang elok itu. Aroma tubuh istri mudaku—perpaduan antara sabun mandi murah, aroma bedak bayi, dan wangi alami kulitnya—masuk memenuhi rongga dadaku, memabukkan akal sehatku. Kedua tanganku merayap naik, meremas perlahan sebelum jemariku mulai memilin putingnya yang ternyata telah mengeras akibat sensasi dingin dan panas yang sedari tadi menerpanya. Aku tidak ingin tergesa-gesa. Aku mencicipinya secara adil, bergantian antara kanan dan kiri, menghisapnya dengan tekanan yang pas hingga meninggalkan jejak basah kemerahan yang kontras di atas kulitnya yang putih bersih. "Abang... hmmm... yang kemar

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   12-1. Ranjang Berderit

    Suara jangkrik malam itu terdengar saling bersahutan di luar dinding kayu gubuk. Pekatnya malam di tengah berhektar-hektar perkebunan sawit seolah mengisolasi tempat ini dari peradaban dunia luar. Hanya ada suara malam, angin yang berdesir di antara pelepah daun, dan penerangan remang dari lampu petromak di sudut kamar yang membuat bayang-bayang kami berdua menari panjang di dinding. Aku duduk di tepi ranjang kapuk, memandangi Tiara yang duduk mematung di hadapanku. Baju dalaman yang sederhana dan sepasang matanya yang bulat menatapku dengan campuran rasa segan, patuh, dan getaran gugup yang tidak bisa ia sembunyikan. Di tempat terpencil inilah, jauh dari bayang-bayang rumah utama dan tatapan dingin Sari, aku akhirnya bisa memiliki Tiara seutuhnya tanpa perlu berbagi ruang dengan rasa bersalah. Aku meraba tas kecil yang kubawa, menarik keluar sebungkus tisu basah. Aroma lidah buaya yang samar segera menguar saat lembaran basah itu tercabut. Aku ingin se

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   11. Gubug Tua

    Selesai urusan di KUA, aku tidak membawa Tiara pulang ke rumah utama. Aku justru mengarahkan kemudi masuk lebih dalam ke area perkebunan sawit yang luasnya mencapai ratusan hektar. ​"Kita tidak pulang ke rumah, Bang?" tanya Tiara sambil menatap deretan pohon sawit yang mulai rapat dan menggelapkan cahaya matahari. ​"Rumah itu untuk istri tua, Tiara. Di sini, di tengah hutan ini, kau hanya akan menjadi milikku seutuhnya," jawabku tenang. ​Aku menghentikan mobil di depan sebuah gubuk kayu tua yang berdiri terpencil di pinggir telaga sunyi. Gubuk itu adalah tempat pelarianku jika sedang muak dengan urusan bisnis. Di dalamnya hanya ada ranjang kayu tua dengan kasur kapuk tipis yang ditutupi kelambu kusam, tapi suasananya sangat tenang—hanya ada suara serangga malam dan gemericik air telaga. ​"Abang serius kita tidur di sini? Ini benar-benar di tengah hutan," gumam Tiara, ada nada ngeri s

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   10. Akhirnya, Sah

    Pagi itu, seorang MUA mendandani Tiara dengan sentuhan make up flawless dan kebaya yang simpel namun memancarkan keanggunan Tiara. Di sela merias, mulut usil perias pria gemulai itu mulai mengomentari Tiara. "Eh Tiara, aku nggak nyangka lho kamu diperistri Juragan Bonar, pria paling kaya di desa kita." Tiara hanya ingin menanggapi seperlunya supaya pria bermulut lemes itu diam. Namun nyatanya dia melanjutkan aksinya, membuat Tiara mengangkat alis. "Yah, walaupun istri kedua sih, tapi setidaknya lumayan daripada harus menari menggeal-geolkan perut di depan banyak laki-laki, sekarang cuma sama Juragan saja," ucapnya sambil terkikik dan merapikan sanggul Tiara. "Oya, kata Bang Bonar, jika aku jadi istrinya, siapa pun yang merendahkanku akan berhadapan dengan dia lho, Om Lia. Eh, Tante Lia," balas Tiara sengaja pura-pura bingung karena gendernya yang tidak jelas. Lia seketika pucat, tang

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   9. Masalah Nyamuk

    "Apa kau bilang? Aku disuruh kerja di kebunnya? Apa gunanya Tiara punya suami kaya kalau dia tidak bisa memberiku uang secara cuma-cuma?" Dikin mencebik kesal "Juragan tidak suka memelihara parasit. Kalau kau membangkang, Tiara mungkin tetap di kasurnya, tapi kau akan membusuk di dasar parit kebun. Selama ini apa kau mengurus Tiara dengan baik sebagai tanggung jawabmu, tidakkan? dan sakarang tanggung jawabmu telah diambil alih oleh Juragan. Dia tidak hanya menikahi tapi juga menyelesaikan masalahmu." "Jangan coba-coba merongrong putrimu. Jika tidak karena Juragan, Tiara sudah disantap Marbun, Asep, Togar dan Mahmud si tua bangka karena utangmu yang berceceran. Kerja yang benar, rumahmu akan direnovasi oleh Jurahan. Cepat bersiaplah, Rully." Dikin menyodorkan tas kertas berisi baju baru untuk pernikahan Tiara. **** Di ruang makan, Sari dan Bonar tengah sarapan. Seperti biasa, meski berengsek, Bonar

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   8. Cooling Down

    Setelah pergumulan panas itu, Tiara merasa tak perlu canggung lagi; toh, ia akan dinikahi besok. Bang Bonar bukan orang sembarangan, dia juragan sawit yang menguasai hampir 60% wilayah ini. Lagipula, fisiknya tidak buruk—masih muda dibanding kakek-kakek yang ingin melahapnya semalam. Pintu kamar mandi terbuka saat Tiara sedang duduk melamun di atas kloset. "Abang mengagetkan saja!" refleks ia menutupi dada dan bagian bawahnya dengan tangan. "Buruan, aku juga mau pakai. Minggir, Tiara," ucapku dengan gaya khas orang Sumatra. "Kenapa ditutup-tutupi? Kan, tadi aku sudah lihat semuanya," sambungku santai sambil memperhatikan Tiara membilas badannya. "Ya, belum biasa, Bang," jawabnya sambil melirik dengan bibir mengerucut. "Cepat tidur, Tiara. Besok bapakmu akan datang sebagai wali nikahmu. Seperti permintaanmu, aku akan memberi Rully pekerjaan dan inisiatifku sendiri untuk memperbaiki rumahmu yang sudah seperti kanda

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status