LOGINDi hari pernikahan, pacarku Hubert menyuruh orang mengusirku dari aula pernikahan, lalu masuk sambil bergandengan tangan dengan sahabat masa kecilnya. Aku terduduk di lantai dengan tak percaya, bunga pernikahan yang tadinya ada di tanganku hancur lebur di lantai, tapi dia bahkan tidak melirikku. "Anak Yuna butuh seorang ayah. Setelah situasi lebih tenang, aku akan menikahimu." Semua orang mengira aku yang begitu setia akan rela menunggunya sebulan lagi. Bagaimanapun juga, aku sudah menunggu pernikahan ini selama tujuh tahun. Tapi malam itu, aku melakukan sesuatu yang tak terbayangkan .... Aku menyetujui pernikahan yang diatur orang tuaku, lalu segera pergi ke luar negeri. Tiga tahun kemudian, aku pulang ke negara ini untuk menjenguk orang tua. Suamiku Leandro kini adalah presiden perusahaan multinasional. Karena mendadak ada rapat penting, dia khusus menyuruhku pergi ke kantor cabang dalam negeri dulu. Dia bahkan menyuruh bawahannya untuk menyambutku. Tak disangka, bawahan itu ternyata Hubert yang sudah tiga tahun tidak bertemu. Sekilas saja Hubert melihat cincin yang berkilauan di jari tanganku. "Itu 'kan model tiruan dari cincin yang dibeli Pak Leandro dengan harga 10 miliar untuk istrinya? Tak disangka setelah beberapa tahun tak jumpa, kamu malah jadi begitu mengejar gengsi." "Kamu sudah ngambek cukup lama, harusnya sudah puas. Pulanglah! Anak Yuna sudah masuk usia sekolah, pas sekali bisa kamu yang antar makanan tiap hari." Aku tidak mengatakan apa-apa, hanya mengusap cincin itu dengan perlahan. Hubert tidak tahu, ini adalah cincin dengan permata paling murah dari sekian banyak permata yang pernah Leandro berikan padaku.
View MoreThe night the twins were born, the moon bled for the first time in a hundred years.
The cries of wolves echoed in the distance, their howls trembling like warnings carried on the wind. Inside the Luna’s chamber, a storm of pain and prayer raged, and Luna Alara’s screams rose with the thunder. "Push, my lady, the child is coming!” the midwife cried, her hands slick with blood and fear.“Not tonight!” Alara’s voice cracked, desperate. “Not under this cursed moon, do you hear me, Aelina? Not tonight!”
The priestess beside her lifted her staff, gold eyes gleaming against the red light that bled through the window. “You cannot choose the hour of birth, Luna. The Goddess has spoken through your pain.”
“I never asked for her to speak to me!” Alara’s breath came in sobs, her silver hair plastered to her sweat-soaked face. “She’s already taken my mate, my Alpha died in her name, must she take my first child too?”
Another scream tore through her body. The midwife leaned forward, whispering broken prayers until, at last, a soft cry filled the room. A baby girl….small, beautiful, and wrinkled, gasped her first breath.
“She’s here,” the midwife said, smiling weakly. “A girl. The heir to SilverMist, your light, my lady.”
For a moment, the air softened. Alara’s trembling hand reached out for her daughter, her eyes shining with exhausted hope.
Then the room changed.
The air grew heavy, too still. The candles flickered, and the priestess’s chant stuttered into silence. Alara’s chest clenched as another wave of agony hit her deep, unnatural, burning through every nerve.
“No… no, it’s done,” she gasped. “It’s done!”
The midwife’s eyes widened. “Luna wait, there’s…..”
Her words broke into a cry. Another surge of blood, another scream, and from that silence came a second child. No cry followed. No sound. Only the slow, unnatural turn of her crimson eyes toward the window, toward the bleeding moon itself.
The midwife froze. “Goddess save us,” she whispered. “Another girl.”
The priestess stumbled back, fear striking through her voice. “Twins under the Blood Moon… it’s forbidden. This cannot be.”
Alara turned her head, horror and disbelief twisting her features. “Take her away. Take that thing away before the Goddess sees.”
“My lady, please….”
“I said take her!” Her scream tore through the chamber. “She is death itself, I can feel it, she shouldn’t exist!”
The priestess slammed her staff to the floor, her voice rising in fury. “Silence, Luna Alara! You dare curse what the Goddess has allowed to live? Kill her, and your pack will know ruin beyond death.”
Alara’s tears streamed down her cheeks. “I don’t want this curse in my arms. My mate is gone, my people bleed in war… why must I raise my own doom?”
The priestess stepped closer, eyes burning with divine rage. “Because destiny has already chosen her. You may call her cursed but one day, you will beg for her forgiveness.”
A sudden gust burst through the chamber, extinguishing every flame.
Then came the light. It wasn’t fire, it was presence. The midwife fell to her knees immediately she sensed it, clutching both infants to her chest. The priestess bowed, her lips trembling. A voice echoed….. fierce as thunder.“Luna Alara of SilverMist.”
The Goddess appeared. Tall, veiled in starlight, her eyes glowing with moons within them. “You name one child blessing and the other curse, yet both are bound to my will.”
“Please goddess…” Alara wept. “Take her, take the second one. Spare my pack. Spare my firstborn.”
Goddess Selune’s gaze fell upon the two infants, one asleep, the other awake and silent.
“You see only what the moon allows,” the Goddess said gently. “The first will bring light, the second will bring fire. Together, they will either save or destroy your world. It is not my curse Alara, it is your choice that will shape their fate.”
Luna Alara sobbed harder. “What does that mean?”
Selune’s light began to fade, her final words slipping into the wind.
“When love is bound by envy, even the moon will weep.”
The Goddess raised her hand over the silent child, her touch leaving a faint silver mark that pulsed once, like a heartbeat. “ I name them Seraphine and Selena,” she said and just like that, she was gone.
The silence that followed felt endless. Only the faint breaths of the two infants remained. One steady, one fragile.
The midwife’s voice trembled. “They are one soul, divided in two.”
Alara didn't say anything, she couldn't stop crying and regretting why she gave birth to a curse.
Outside, the Blood Moon watched…. red, sealing its own curse in silence.
Wajahnya bengkak parah, seperti bekas pukulan.Aku menatapnya dengan waspada. "Bagaimana kamu bisa menemukan tempat ini? Apa yang kamu inginkan?"Hubert bisa menghindari begitu banyak pengawal dan sampai ke sini, pasti sudah menghabiskan banyak upaya.Mengira-ingat ekspresi gila Yuna, hatiku segera mencelus.Hubert sepertinya menyadari ketakutanku, buru-buru berkata,"Vadya, jangan takut, aku nggak akan menyakitimu.""Aku hanya ...."Aku menjauh dua langkah darinya, lalu balik bertanya dengan kesal, "Hanya apa?""Vadya, aku sudah bilang, aku menikah dengan Yuna hanya untuk memberi status ayah di atas kertas pada anak Yuna ... sebenarnya, sejak awal aku selalu mencintaimu, sungguh."Ekspresinya penuh penderitaan. "Aku ... setiap kali membayangkan kamu menikah dengan pria lain dan bahkan punya anak, hatiku seperti disayat-sayat. Aku tahu, dulu aku sombong, nggak tahu menghargaimu, selalu membuatmu sedih. Tapi aku akan berubah, aku bisa berubah demi kamu!""Aku tahu kamu juga mencintaiku.
Meskipun di mata orang luar, Leandro tampak dingin, kejam, dan tegas, tapi aku tahu dia tidak akan pernah membiarkan aku dan putra kami terluka sedikit pun.Kali ini aku sampai terluka, pasti membuatnya sangat menyalahkan diri sendiri.Anna memang menggambarkan tindakan Leandro seolah-olah dirinya iblis, tapi aku sama sekali tidak merasa takut. Bagaimanapun semua ini adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Orang yang berbuat salah akhirnya akan mendapat balasan.Hanya saja aku khawatir, anakku yang masih kecil sudah harus mengalami hal-hal semacam ini, apakah itu akan berpengaruh pada dirinya secara psikologis?Ketika aku masih ingin berbincang dengan Anna, pintu kamar tiba-tiba terbuka keras. Sosok Leandro dan putraku segera muncul di hadapan, wajah mereka penuh kegembiraan.Putraku tanpa ragu menyingkirkan ibu angkatnya, menggenggam tanganku, lalu berkata,"Mama, bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah lebih baik?"Leandro juga bertanya dengan penuh perhatian,"Apa tubuhmu masih ada yan
Hubert tidak menyangka aku benar-benar tidak memedulikan kehadirannya. Dia menatap kami sekeluarga bertiga yang tampak harmonis, matanya memerah.Dia ingin mendekatiku, tapi putraku berdiri mengadang dan menatapnya dengan tajam."Jauhkan dirimu dari mamaku!""Beraninya kamu menyuruh mamaku jadi pembantu? Di rumah saja kami semua harus dengar kata Mama, apa pantas kamu menyainginya?""Aku tahu siapa dirimu. Kamu bukan hanya pria berengsek yang menyakiti hati mamaku, tapi juga punya anak haram!""Mama hanya punya aku dan adik perempuanku. Anakmu nggak pantas jadi anak Mama!""Lelaki sepertimu bahkan nggak pantas dibandingkan dengan papaku. Wajahmu tak setampan Papa, kamu tak sekaya Papa, dan kamu juga nggak sebaik Papa pada Mama."Putraku menatap Hubert dari atas ke bawah dengan jijik."Paman, apa kamu nggak punya sedikit kesadaran diri?"Hubert mengepalkan tinju, dadanya naik-turun hebat karena malu dan marah.Semua orang tahu, dirinya hanya bisa duduk di posisi tinggi berkat koneksi. K
Saat bertemu tatapan mereka, hatiku segera melunak."Dokter, aku nggak apa-apa, jangan hiraukan mereka."Setelah aku bicara, dokter merasa agak lega.Setelah memastikan tubuhku tak ada masalah lain, dokter dengan hormat berkata,"Pak Leandro, luka Nyonya lumayan parah, tapi untungnya waktu jatuh, langsung tertahan oleh tangan, jadi bayi dalam perutnya tidak terkena masalah.""Aku sudah memberikan obat pada luka di punggung tangan, nggak akan meninggalkan bekas."Leandro mengangguk tanpa ekspresi.Lalu tatapan matanya yang tampak menekan kemarahan itu menyapu semua orang.Sebagai dalang dari semua ini, Hubert menjadi risau melihat suasana tegang itu.Dia tak pernah menyangka suatu hari aku akan tiba-tiba menjadi istri Leandro.Mata Hubert memerah menatapku, dirinya dipenuhi rasa tidak terima, hasrat memilikinya yang tertahan meledak saat itu.Tapi dia tak mampu melawan pria yang berdiri di sampingku, hanya bisa mengepalkan tangan dengan erat sampai telapak memutih.Leandro memelukku, ta






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews