LOGINPagi berikutnya di penthouse Aaron Corp terasa steril dan dingin, kontras dengan kekacauan berdarah malam sebelumnya. Sinar matahari menembus jendela kaca raksasa dari lantai ke langit-langit, menerangi ruang kerja Nathan yang minimalis. Di meja mahoni hitamnya, tiga layar holografik melayang, menampilkan peta interaktif Eropa Timur. Garis-garis merah yang mewakili jaringan sindikat Volkov kini berubah menjadi abu-abu pudar—tanda kematian organisasi tersebut.Nathan duduk di kursi kulitnya, jari-jarinya menari di atas papan ketik virtual. Ia tidak terlihat lelah; sebaliknya, ada energi predator yang terfokus dalam setiap gerakannya. Nadine masuk membawa dua cangkir kopi hitam pekat, uapnya mengepul tipis di udara dingin ber-AC. Ia meletakkan salah satu cangkir di samping siku suaminya tanpa suara."Volkov hancur lebih cepat dari perkiraan," komentar Nadine, menarik kursi untuk duduk di seberangnya. "Tapi alam membenci kekosongan, Nathan. Dalam waktu 48 jam, serigala-serigala kecil aka
Hentakan roda helikopter di atas aspal landasan pacu terasa seperti palu godam yang mengakhiri simfoni ketegangan. Sebelum debu dari baling-baling sempat reda sepenuhnya, Nathan sudah melompat keluar, sepatu botnya menghantam tanah dengan mantap. MP5K-nya tetap terangkat, larasnya tidak pernah bergeser dari dada Julian yang gemetar hebat.Julian, yang biasanya tampil rapi dengan setelan jas Italia mahal, kini tampak menyedihkan. Keringat dingin membasahi kemeja putihnya yang kusut, dan matanya liar mencari-cari jalan keluar yang mustahil ada. Dua penjaganya, menyadari situasi yang telah berubah drastis, dengan bijak melemparkan senjata mereka ke tanah dan berlutut dengan tangan di belakang kepala."Jangan bergerak," perintah Nathan, suaranya rendah namun memiliki berat otoritas yang membuat udara di sekitarnya seolah membeku. "Satu langkah salah, dan kau akan menghabiskan sisa hidupmu—yang mungkin hanya tinggal beberapa menit lagi—dengan lubang di lutut."Nadine turun dari helikopter
Helikopter AgustaWestland AW109 milik pribadi mereka, yang dicat hitam matte tanpa tanda pengenal, sudah menunggu di helipad atap gedung pencakar langit Aaron Corp. Baling-balingnya berputar dengan dengungan rendah yang menggetarkan dada, membelah udara malam yang lembap.Nathan membantu Nadine naik ke kabin sebelum melompat masuk dan menutup pintu berat itu. Di dalam, aroma kulit baru bercampur dengan bau minyak mesin yang tajam. Pilot mereka, seorang mantan pilot tempur bernama Marcus, hanya memberikan anggukan singkat melalui interkom sebelum mesin menderu lebih keras, mengangkat mereka ke langit kota yang gemerlap."Ketinggian 2.000 kaki. Kecepatan 140 knot. ETA ke landasan udara swasta: delapan menit," lapor Marcus dengan suara datar.Nathan menyerahkan headset kepada Nadine sambil memasang miliknya sendiri. Ia menyalakan panel sensor termal dan radar taktis yang terintegrasi dengan sistem avionik helikopter. Layar kecil di depan mereka menampilkan peta topografi real-time. Sebua
Konvoi tiga SUV antipeluru itu membelah jalanan pesisir yang sunyi, meninggalkan Pelabuhan Lama dan segala kengeriannya di belakang. Di dalam kabin penumpang yang kedap suara, suasana terasa begitu kontras dengan kebrutalan setengah jam yang lalu. Alunan musik *jazz* klasik mengalun pelan dari sistem audio premium, berbaur dengan denting es batu di dalam gelas kristal. Nathan bersandar dengan santai di jok kulit *Nappa* berwarna krem. Ia memutar gelas berisi *Bourbon* perlahan, menikmati aroma *oak* dan karamel sebelum menyodorkannya ke bibir Nadine. Wanita itu menyesap cairan amber tersebut, membiarkan sensasi hangat membakar kerongkongannya. Ia telah membuang jaket kulitnya, menyisakan *tank top* hitam ketat yang kini mengekspos memar ungu kemerahan di bahu kirinya—sisa benturan saat ia menghindari tembakan Adrian. "Tato alamimu bertambah malam ini, Sayang," gumam Nathan, ibu jarinya mengusap lembut tepi memar itu. Alih-alih meringis, Nadine justru menyandarkan kepalanya ke ceru
Dengan dahi berkerut dan kewaspadaan yang memuncak, Adrian membuka sampul kulit buku tersebut menggunakan satu tangannya yang bebas. Matanya membelalak seketika, napasnya tercekat di tenggorokan. Di halaman pertama buku itu, tidak ada daftar nama politisi korup atau deretan sandi rekening bank Swiss rahasia milik mendiang ibu Nadine. Hanya ada sebuah cip pelacak GPS berkedip biru yang tertanam rapi di balik potongan kertas, dihiasi tulisan tangan Nadine menggunakan tinta merah darah: *Gotcha.* "Saat kelompok bayaranmu membobol brankas Aaron Corp, mereka tidak mencuri Buku Hitam ibuku. Mereka mencuri umpan busuk yang sengaja kusiapkan selama tiga tahun untuk memancingmu keluar dari lubang tikusmu," desis Nadine. Langkah kakinya mulai maju, memangkas jarak secara lambat namun penuh ancaman mematikan. "Dan soal bom C4 yang sangat kau banggakan itu..." *"Victor,"* panggil Nadine santai melalui komunikatornya. *"Sinyal detonator target telah di-jamming sepenuhnya sejak sepuluh meni
Dua jam sebelum tengah malam, ruang bawah tanah *penthouse* Aaron Corp telah berubah menjadi pusat komando taktis. Nadine berdiri di depan dinding baja yang perlahan bergeser terbuka, menampilkan deretan persenjataan kelas militer yang akan membuat iri sindikat mafia mana pun di daratan Eropa. Ia mengabaikan deretan senapan serbu otomatis maupun senapan runduk kaliber besar. Jemarinya yang lentik namun mematikan menari di atas meja kaca, lalu memilih dua buah belati *Karambit* hitam pekat. Senjata tajam melengkung itu diselipkannya ke dalam sarung khusus di kedua paha rampingnya. Sebagai pelengkap, sebuah pistol *Walther PPK* perak bertahtakan inisial namanya dimasukkan ke balik jaket kulit hitam yang membalut tubuhnya bagai kulit kedua. "Kau terlihat seperti malaikat maut yang bersiap turun ke bumi," suara bariton Nathan mengalihkan perhatiannya. Pria itu berdiri di ambang pintu. Ia telah berganti pakaian mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan tat
Sebelum Arsion menjawab, aku berkata lagi. “Dan kalau dia jatuh....” Aku menelan ludah dan melanjutkan dengan suara getir, “—dia akan menyeret banyak nama, termasuk aku.”Mendengar itu, Arsion menatapku tajam dan bertanya dengan kening berkerut. “Kamu lebih takut reputasimu rusak, atau lebih tak
Ia tidak menoleh ke arahku, tapi masih fokus memelototi para mahasiswa yang tadi menghinaku. “Kamu pikir adikku perempuan murahan?” katanya lagi, dengan mata merah karena marah. “Kamu tahu siapa dia? Dia ADIKKU! Dia tak butuh melakukan hal se menjijikkan itu hanya untuk sebuah nilai!"“Arsion…”
Gadis itu seolah sengaja membuat kata-katanya menggantung di udara, lalu cekikikan bertiga, sehingga ruangan mulai riuh oleh spekulasi. "Aku akan melaporkan ini! Kalian sudah melakukan pencemaran nama baik!" seruku, tak sanggup lagi menahan marah. Mendengar aku akan melapor, mereka malah salin
Aaron berdiri di balik kaca jendela mobil hitam yang terparkir di seberang gedung kampus.Tatapannya dingin, rahangnya mengeras dan tangannya terkepal erat seakan sedang mengendalikan kemarahan yang membara. Di layar tablet di tangannya, rekaman dari kamera Drake berhenti tepat pada detik ketika t







