Share

Bab 4

Author: Magnolia
Tak lama kemudian, Tommy keluar dari kamar itu. Wajahnya menunjukkan sedikit rasa bersalah saat berkata, "Niel demam. Biarkan dia tempati kamar itu dulu."

Claudia mengepalkan tangannya dengan erat. "Sonia barulah putrimu."

Tommy mengernyit. "Niel juga sudah kuanggap seperti putraku."

Claudia tidak berdebat seperti biasanya. Dia hanya tersenyum tipis dan getir, lalu menunduk untuk menyeka wajah Sonia dengan handuk.

Melihat Claudia hanya diam saja, Tommy sempat ragu sejenak. Dia melangkah maju perlahan dan hendak menggantikan Claudia menyeka wajah Sonia. Begitu ujung jarinya menyentuh punggung tangan Claudia, wanita itu segera menarik tangannya. "Jangan sentuh aku!"

Tommy tertegun sejenak. Dulu, setiap kali mereka bertengkar, dia akan menggunakan cara ini untuk mencairkan suasana. Claudia selalu menerima isyarat damai itu, lalu dengan patuh bersandar dalam pelukannya sambil berlinang air mata.

Sambil menahan lonjakan amarah yang tiba-tiba memenuhi hatinya, Tommy memperingatkan dengan nada dingin, "Jangan cari masalah dengan Giselle."

Seusai berbicara, Tommy berbalik dan melangkah masuk ke kamar. Dia bahkan tidak melirik Sonia sekali pun.

Sonia tak kuasa menahan air matanya. Dia bertanya sambil terisak, "Mama, apa aku ada salah? Kenapa Papa lebih sayang Niel daripada aku?"

Hati Claudia terasa perih dan sesak. Dia membungkuk dan memeluk Sonia erat-erat. Suaranya terdengar parau saat berkata dengan tegas, "Sonia, kamu nggak salah. Dia yang salah. Mama paling sayang sama kamu. Mulai sekarang, kamu hidup bareng Mama saja, ya?"

Sonia mengangguk dengan kuat. "Punya Mama saja sudah cukup bagi Sonia."

Selama beberapa hari berikutnya, Sonia terpaksa tinggal di koridor yang sempit. Orang-orang yang lewat menatapnya dengan pandangan penuh iba, tetapi dia hanya bisa meringkuk.

Hati Claudia terasa sangat perih. Mendengar tawa Giselle dan Niel yang terdengar dari dalam kamar, dia tak bisa lagi menahan diri dan menerobos masuk.

Niel sedang berbaring santai di ranjang rumah sakit sambil makan keripik kentang dan menonton TV. Bungkusan camilan yang kosong berserakan di lantai.

Sambil menahan amarah, Claudia mendorong ranjang Niel keluar ke koridor dan mendorong ranjang Sonia masuk.

Giselle berusaha mencegahnya sambil berteriak, "Apa yang kamu lakukan?"

Claudia mendorongnya dengan kuat, lalu menatapnya dengan dingin. "Sonia adalah segalanya bagiku. Kalau kamu berani macam-macam lagi padanya, aku nggak akan ampuni kamu!"

Giselle tertegun sejenak, lalu tersenyum sinis. "Adikku sayang, sekarang, kamu benar-benar sudah punya nyali, ya? Dulu, kamu cuma bisa kibaskan ekormu dan mohon pada orang. Sekarang, kamu sudah berani tunjukkan taringmu."

Claudia mengepalkan tangannya erat-erat. Dulu, dia begitu mendambakan kasih sayang keluarga, selalu tersenyum dan berusaha mengambil hati mereka. Sekarang, ada orang yang harus dia lindungi. Dia rela melakukan apa saja demi Sonia.

Giselle melangkah mendekati tepi tempat tidur. "Memangnya kenapa meski putrimu begitu unggul? Sekarang, dia cuma seorang anak cacat."

Sambil berbicara, Giselle tiba-tiba mengulurkan tangan dan menekan luka Sonia dengan kuat. Sonia tak bisa bergerak ataupun menghindar. Saking sakitnya, dia hanya bisa menggigit bibirnya kuat-kuat dan membiarkan air mata membasahi wajahnya.

Pikiran Claudia seketika kosong. Dia menerjang maju, lalu menekan Giselle ke lantai. Dia mencengkeram leher Giselle dengan kuat dan cengkeramannya makin erat. Akhirnya, rasa takut muncul di mata Giselle.

"Mama?"

Terdengar suara Sonia yang diiringi isak tangis. Claudia mendadak mematung dan kekuatannya seketika lenyap. Tiba-tiba, dia didorong ke samping dengan kasar. Dahinya membentur rangka tempat tidur yang terbuat dari besi. Rasa sakit yang hebat membuat pandangannya menjadi gelap.

Tommy mendekap Giselle dan menatap Claudia dengan dingin. "Claudia, beraninya kamu menyentuhnya ...."

Saat tiba, Anas melihat bekas cengkeraman di leher Giselle. Dia berbalik dan menatap Claudia yang tergeletak di lantai dengan penuh kebencian.

"Kalau Niel nggak telepon aku, lalu aku bawa Tommy kemari, apa kamu benar-benar berniat habisi kakakmu?"

Dengan wajah merah padam karena murka, Anas menjambak rambut Claudia dan membenturkan kepalanya ke sudut ranjang berulang kali.

Sonia berteriak sambil menangis, "Jangan pukul mamaku ...."

Sonia meronta dan terjatuh dari tempat tidur. Melihat hal itu, Claudia melepaskan diri dengan sekuat tenaga dan segera mendekap Sonia.

Anas mendengus dingin, lalu mendorong mereka berdua keluar. Dia juga melempar keluar barang-barang mereka dari dalam kamar.

"Keluar! Keluar! Kalian berdua cuma pembawa bencana!"

Claudia bersandar pada pintu sambil memeluk Sonia dengan hati-hati dan memejamkan mata dengan putus asa. Kemudian, dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. Suaranya terdengar lelah dan serak. "Kumohon, bantu aku. Aku benar-benar nggak tahu harus minta bantuan siapa lagi ...."

Pria di ujung telepon terdiam sejenak. "Aku akan bantu kamu. Apa pun itu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 20

    Hanya dalam tiga tahun bekerja di perusahaan Yansen, Claudia berhasil mencetak rekor baru dalam kinerja perusahaan dan menduduki posisi yang semakin tinggi.Yansen terus berada di sekitar Claudia dan Sonia. Selama tiga tahun ini, Yansen tidak pernah menyerah untuk mendekatinya.Semua orang di perusahaan tahu bahwa perempuan yang dicintai Yansen adalah Claudia. Bahkan, mulai beredar gosip entah kapan dia baru berhasil mendapatkan hati Claudia.Claudia sama sekali tidak memedulikan omongan orang. Baginya, kemampuan adalah bukti terbaik. Selama dia mampu membuktikan dirinya, tidak ada seorang pun yang bisa meragukannya.Ketika mendengar adanya penelitian baru mengenai kaki palsu di luar negeri, Claudia sengaja mengambil cuti untuk membawa Sonia ke sana.Yansen sudah terlanjur menerima undangan menghadiri sebuah acara bisnis, jadi tidak bisa menemani mereka. Dia pun sangat menyesal melewatkan kesempatan itu.Claudia hanya bisa tersenyum pasrah. "Kami akan pulang dalam waktu kurang dari sem

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 19

    Saat Claudia tiba di rumah, ternyata Anas sudah menunggunya di depan pintu. Rambut Anas telah memutih. Wajahnya tampak jauh lebih tua.Claudia mengernyitkan keningnya. "Tolong tinggalkan tempat ini."Begitu melihat putrinya, mata Anas langsung memerah, air mata pun mengalir."Putriku .…"Claudia mundur dua langkah dan berkata dengan tenang, "Putrimu itu Giselle, bukan aku."Anas menggeleng sambil menangis. "Claudia, Mama benar-benar nggak tahu kalau dia malah melakukan semua itu .…"Anas mengeluarkan buku harian itu dari belakang tubuhnya. "Mama sudah membacanya. Mama sudah tahu semuanya. Mama yang membuatmu menderita selama ini .…"Wajah Claudia tetap tanpa ekspresi. "Semuanya sudah berlalu. Tolong pergi dan jangan mengganggu kehidupanku."Tiba-tiba, Anas berlutut. Dia berkali-kali menampar pipinya sendiri. "Semua ini salah Mama. Mama yang salah menilai orang dan selalu pilih kasih .… Semua ini karena Mama sudah mengecewakanmu dan Sonia …."Entah sejak kapan, Yansen sudah berdiri di d

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 18

    Claudia duduk di depan meja kerjanya dan terdiam cukup lama. Dia berusaha memusatkan pikirannya, tetapi isi dokumen proyek itu tak kunjung bisa dia pahami.Saat itu, Sonia meneleponnya. Sonia berkata dengan nada ceria, "Mama, hari ini Bibi membuatkan kue yang enak untukku. Aku mau menunggu Mama pulang supaya kita bisa makan bersama."Kening Claudia yang sejak tadi berkerut tanpa sadar mengendur.Dia tersenyum. "Sonia makan dulu saja. Mama masih sedikit sibuk, mungkin pulangnya agak malam."Sonia menurut dan mengiyakan dengan patuh.Melihat kekecewaan di mata putrinya, hati Claudia menjadi luluh. Dia lalu berkata, "Tapi Mama sebenarnya ingin makan kue itu. Jadi Mama berubah pikiran. Tunggu kepulangan Mama ya."Sonia langsung tersenyum lebar. "Oke!"Setelah menutup telepon, Claudia mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang.Namun, seseorang sudah menunggunya di depan pintu kantor. Orang itu adalah Tommy.Tommy berdiri diam di sana seperti patung, entah sudah berapa lama dia menunggu. Beg

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 17

    Tommy berdiri diam, menatapnya tanpa ekspresi.Cahaya lampu kekuningan di atas kepala menerangi sisi wajah Tommy yang tegas, membuat aura membunuh di matanya semakin jelas.Giselle memegangi lututnya yang terluka akibat benturan dan bertanya dengan suara ketakutan, "Tommy, apa yang ingin kamu lakukan?"Tommy perlahan membuka mulut. Suaranya yang rendah menggema di dalam gudang, terdengar dingin dan mengancam seperti suara maut yang mendekat. "Kamu yang mengutus para perampok untuk menyandera Sonia. Kenapa?"Bahu Giselle bergetar. Wajahnya seketika pucat pasi. "Bukan aku. Aku nggak melakukannya .…"Sepertinya kesabaran Tommy sudah habis. Dia memberi isyarat kepada orang di sampingnya. Mulut Giselle langsung dibekap, lalu tangan kanannya dipukul dengan tongkat bisbol hingga patah.Jeritan Giselle tertahan di tenggorokannya. Dia terjatuh ke lantai, tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit.Beberapa saat kemudian, kain yang menyumbat mulut Giselle dilepas.Tommy kembali bertanya, "Kenapa?

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 16

    Alih-alih memapah, Claudia justru mendorong Yansen masuk ke dalam mobil.Yansen didorong masuk ke dalam mobil dengan kasar. Dia pun mengomel, "Aduh, sakit ... sakit ...."Claudia memasang wajah dingin dan menyuruh sopir menjalankan mobil.Melihat suasana hati Claudia yang sedang buruk, Yansen pun tidak berani banyak bicara. Dia menoleh ke belakang dan melihat Tommy masih berdiri di pinggir jalan. Wajahnya pucat dan muram, sementara tatapannya terus mengikuti mobil mereka hingga benar-benar menghilang dari pandangannya.Yansen mengatupkan bibir, lalu kembali menoleh ke depan.Tiba-tiba Claudia berkata, "Kalau kejadian seperti ini terulang lagi, aku nggak akan bekerja di perusahaanmu."Yansen merasa kaget. Dia buru-buru bertanya, "Kenapa?"Claudia menoleh dan menatapnya tanpa ekspresi. "Aku bukan benda yang bisa kalian perebutkan. Aku juga bukan alat yang bisa kamu gunakan untuk menghadapi Tommy."Yansen membuka mulut, tetapi tidak mampu berkata apa-apa. Dia merasa sedikit bersalah setel

  • Tiga Peluru Mengakhiri Cintaku pada Suamiku   Bab 15

    Tommy bangkit dari lantai dengan susah payah. Saat hendak mengejar Claudia, langkah Tommy terhalang oleh seseorang.Raut wajah Yansen tampak sangat muram. "Aku sudah pernah memperingatkanmu. Jangan ganggu Claudia!"Wajah Tommy ikut muram. "Apa kamu masih ingin bersama Claudia?"Tommy mengepalkan tinjunya, berusaha menahan amarah. "Jangan terus mengusik Claudia. Jauhi dia!"Yansen mencibir. "Jadi tentara sampai otakmu ikut rusak ya? Justru kamu yang seharusnya menjauhinya! Kalau saja aku tahu kamu akan memperlakukannya seperti ini, aku seharusnya membawanya pergi sejak tiga tahun lalu!"Tommy langsung mencengkeram kerah baju Yansen erat-erat. Wajah Tommy kelihatan gusar. "Apa katamu!"Tiga tahun lalu, setelah Claudia menyelamatkan Yansen, pria itu langsung jatuh cinta kepadanya pada pandangan pertama dan terus mengusiknya setiap hari.Pada akhirnya, Tommy menghajarnya sampai menyerah dan mengusirnya dari kesatuan militer.Yansen melepaskan cengkeraman Tommy, lalu melepas jasnya dan meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status