Home / Romansa / Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku / Bab 5. Perlindungan Arthur

Share

Bab 5. Perlindungan Arthur

last update publish date: 2026-03-03 13:39:46

Renata tersentak. Ia teringat ancaman Julian semalam yang tidak memperbolehkannya dekat dengan pria manapun, lalu saat tadi dia pamit ke toilet yang tidak boleh lama-lama. Juga soal map?

'Oh, tidak! Julian pasti marah besar!' batin Renata kacau.

"Pergilah," ucap Arthur sambil memberi kartu nama kecil ke tangan Renata yang terpaku melihat itu. "Hubungi aku saat kau menyadari menjadi istri Julian adalah malapetaka buatmu."

Renata berbalik dan berlari menuju ke dalam, meninggalkan Arthur yang masih berdiri di taman. Menatap kegelapan dengan senyuman yang kini tampak mengerikan. Namun saat Renata sampai, ia melihat Julian berdiri di sana dikelilingi oleh pengawal pribadinya. Wajah Julian lebih pucat dari biasanya dan kemarahannya begitu nyata hingga orang-orang di sekitarnya menyingkir ketakutan.

"Tu-Tuan Cooper ...," sebut Renata dengan kecemasan berlebih saat menyeret kakinya lebih dekat pada pria itu.

Mata Julian terkunci pada Renata. Ia mencengkeram lengan gadis itu dengan kuat.

"Kau dari mana saja?"

Cengkeraman Julian seperti borgol besi yang mengikis tulang. Di tengah keramaian itu, Renata justru merasa dunianya di sekelilingnya lenyap. Ia bahkan mampu mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar, serta napas Julian yang memburu di telinganya.

"Auw! Sa-sakit ... a-aku ...."

"Ikut aku, sekarang!" desis Julian dengan kilat tajam yang membuat Renata bergidik. Seolah menyiratkan bahwa pria itu mampu melakukan hal-hal mengerikan kalau mengabaikannya.

Julian menyeret Renata seperti domba yang patuh melalui pintu belakang, melewati lorong-lorong sepi kediaman Doe. Renata setengah berlari untuk menyamai langkah lebar suaminya. Gaun zamrudnya yang panjang menyapu lantai, sesekali tersangkut. Namun Julian tidak peduli dan baru berhenti setelah mereka sampai di perpustakaan pribadi yang gelap dan kedap suara.

"Gara-gara kau semuanya berantakan!" Julian menghempas lengan Renata dan mengunci pintu.

Klik.

"Aku sudah bilang. Jangan lama-lama ke toiletnya? Tapi kau malah tidak kembali, sampai aku harus beralasan konyol pada Wakil Presiden! Kau membuatku kehilangan muka, Renata!" bentak Julian, suaranya menggelegar seperti guntur di kejauhan.

Renata terjengit. Ia menyatukan tangannya ke depan dada sambil mundur hingga punggungnya menabrak rak buku kayu ek yang dingin. "Maafkan ... aku, Julian. Aku salah, tadi aku sakit perut."

"Jangan berbohong padaku!" Julian memukul meja di dekatnya, membuat tumpukan majalah berantakan. "Harusnya kau kirim seseorang untuk memberitahuku kalau kau benar sakit perut. Bukannya malah menghilang begitu saja?!"

Renata gemetaran, tak lagi berani membantah pria itu yang kesetanan. Tapi kenapa instingnya merasa luapan emosi Julian terlalu berlebihan? Dan soal keterlambatannya kembali hanyalah sebuah alasan.

Beberapa detik Renata berhasil mengontrol nyalinya, lalu ia pun bertanya, "Apa yang kau tanyakan soal map itu dan bukannya aku?"

Julian yang matanya terbelalak itu terkejut. "Bagus kalau kau tahu maksudku, jadi aku tidak perlu basa-basi lagi. Katakan, di mana kau menyembunyikan map itu?"

"Aku tidak tahu."

"Bohong lagi." Julian mendengkus, "laporan itu tidak mungkin menghilang dengan sendirinya. Kau membacanya dan kau tahu tentang ibumu. Kau tahu tentang proyek itu, bahkan kau tahu tujuanku menikahimu."

Renata menahan napasnya mendengar itu. Ia semakin penasaran, sebenarnya konspirasi apalagi yang dilakukan Julian dan ayahnya?

Kenapa waktu itu Renata ketahuan oleh Julian saat memegang map dan tidak sempat membacanya? Sekarang Renata berada di ambang jurang, jika ia mengaku telah berbohong dan tidak tahu keberadaan map itu, Julian bisa membunuhnya. Lebih baik pilihan sulit ini ia pilih. Ya, ia akan meneruskan kebohongannya demi menemukan jawaban itu dari mulut Julian sendiri.

"Ya, aku membacanya! Aku tahu kau menikahiku hanya untuk menjatuhkan ayahku." Renata sengaja memancing hal ini, berdoa supaya ucapannya tak meleset meski selalu was-was kalau salah. "Aku tahu, aku hanyalah kunci bagimu. Lalu apa kau ingin membunuhku sekarang? Silakan. Itu jauh lebih baik daripada aku menjadi pion di antara kalian semua!"

Julian terdiam sejenak. Tatapannya seperti predator yang sedang mengepung mangsanya ketika perlahan, ia mendekati Renata.

"Kau pikir mati itu mudah, Renata? Di dunia ini ada hal-hal yang jauh lebih menyakitkan dari kematian. Jika laporan itu jatuh ke tangan yang salah sebelum aku menyelesaikannya, bukan hanya aku yang hancur. Tapi kau, nenekmu dan semua orang yang kau kenal akan dihapus dari muka bumi ini."

"Apa?" Renata tersentak mundur, syok. Fakta itu tak siap ia terima.

Tangan Julian cepat terulur menjepit dagu Renata, memaksanya menatap kegelapan di matanya.

"Kembalikan map itu padaku."

"Aku tidak mengambilnya. Sumpah, aku tidak tahu," ucap Renata jujur, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Julian menyipitkan mata, mencari kebohongan di wajah Renata. Namun sebelum ia bisa menginterogasi lebih jauh, pintu perpustakaan diketuk keras.

"Tuan Cooper, apakah kau di dalam? Henry mencarimu untuk sesi foto bersama keluarga besar."

Itu suara Sandra yang terdengar di balik pintu. Julian memberi kode pada Renata dengan meletakkan telunjuk ke bibir, agar gadis itu diam.

"Ya, aku akan ke sana!"

Di luar Sandra tersenyum, langkah high heels nya mengetuk ubin dengan keras sebelum memelan dan semakin tak terdengar lagi. Julian melepaskan Renata dengan kasar, merapikan jasnya seolah tidak terjadi apa-apa.

"Urusan kita belum selesai, Renata. Jika aku sampai tahu kau memberikannya pada Devan atau siapapun ... aku sendiri yang akan mengantarmu ke peti mati."

Ancaman itu masih menyisakan hawa mencekam walau Julian sudah keluar dari perpustakaan. Tubuh Renata merosot ke lantai, ia memeluk lututnya sendiri dengan butiran bening yang menggantung di matanya.

Renata menyesal telah menerima tawaran Henry dan percaya Sandra, kalau ikut masuk ke keluarga Doe, neneknya akan disembuhkan. Kini ia merasa terancam dan sadar bahwa ia sama sekali tidak punya tempat untuk pulang. Rumah ayahnya adalah penjara dan rumah suaminya adalah medan perang.

"Menangis tidak akan mengubah segalanya, Sayang."

Suara itu membuat Renata sontak mendongak. Di sudut ruangan yang gelap, duduk seseorang yang sejak tadi tersembunyi bayangan rak buku besar. Ia keluar sambil mengibaskan jas nya ke depan, tampak sangat tenang seolah baru saja menonton pertunjukan drama.

"Paman Arthur? Sejak kapan ...."

"Sejak Julian menyeretmu seperti tahanan." Arthur dengan tatapan iba mengulurkan tangan.

Renata menerimanya. Arthur menariknya berdiri dengan kelembutan yang kontras dengan kasarnya Julian. Gadis itu berdebar, ketika sebuah sapu tangan dikeluarkan Arthur dari sakunya dan menggunakannya untuk mengusap air mata di pipi Renata.

"Julian pintar, tapi terlalu kasar untuk wanita sepertimu."

"Dia akan membunuhku, Paman," akui Renata putus asa. Dengan Arthur, ia tak segan bercerita seolah menemukan tempat mengadu yang dapat dipercaya. "Dia pikir aku mengambil dokumen itu," jelasnya lagi penuh ketakutan.

Arthur tersenyum kecil. Sebuah senyuman yang membuat Renata bergidik, namun di saat yang sama memberinya secercah harapan. "Julian benar, dokumen itu sangat berbahaya dan dia juga benar. Bahwa kau tidak seharusnya menyentuhnya."

Renata semakin panik, air matanya kembali tumpah tanpa disadari. "Lalu aku harus bagaimana?"

Arthur meraba saku jasnya lalu mengeluarkan secarik kertas yang terlipat rapi. Kertas itu sama dengan yang dicari Julian. Mata Renata membelalak melihat itu.

"Paman ... Paman Arthur yang mengambilnya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Madinah Ayyara
Oke kakak...
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Absen dulu ya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   72.

    "Tidak ke rumah sakit saja!" potong Julian tegas. Suaranya serak membisikkan kepastian. "Bawa aku ke aparteman Renata."Jun Chen tertegun sejenak. "Nona Renata? Tapi Sir ....""Kau tahu tempat tinggalnya sekarang, bukan?" tekan Julian mulai emosi karena pengaruh obat perangsang yang membuat otaknya sulit berpikir panjang. Dia hanya mau mengikuti apa yang ada dalam otaknya itu. Beberapa saat lalu ketika asistennya itu mengantarnya ke klub malam, dia sempat memberitahu sekilas bahwa dia tahu di mana apartemen Renata selama berada di London."T... Tahu, Sir," jawab Jun gemetar suaranya, kalau bosnya marah itu seperti mafia kelaparan. "Bawa aku ke sana!" perintahnya tak ingin dibantah.Tanpa banyak omong, Jun langsung mengikuti kemauan bosnya itu. Karena ia tahu kalau Julian seperti terkena obat perangsang dan bawaannya marah-marah terus. Namun di sini, Julian bahkan tak memikirkan atau menyadari fakta bahwa unit apartemen yang ditujunya saat ini adalah lokasi yang sama yang sempat ia

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   71.

    Dinding-dinding klub malam yang eksklusif itu terasa berguncang oleh dentuman bass yang berat. Namun bagi Julian, suara di sekitarnya mendadak surut bagai ditelan lautan. Kepala pria itu terasa seberat timah, penglihatannya berpendar oleh hawa panas abnormal yang membakar dari dalam pembuluh darahnya. Kesadarannya menipis secara drastis, walau begitu dia tetap berjuang agar tetap sadar. 'Pasti ada yang mengerjaiku!' batin Julian berpikir singkat. Di remang cahaya neon yang samar, sesosok wanita bergaun ketat merapat pada tubuhnya. Bibir wanita itu bergerak-gerak menyuarakan sesuatu, namun suara itu tak pernah sampai ke indra pendengaran Julian. "Apa kau baik-baik saja, Julian?" Julian tidak menjawab Frida. Ia berusaha keras memfokuskan pandangan, menatap wanita itu di tengah kabut yang kian pekat menguasai otaknya. Hanya saja, entah mengapa pandangannya sangat buram sekali. Bayangan di depannya membiaskan siluet yang samar-samar terasa begitu familiar. Setelah beberapa waktu

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   70.

    "Julian!" bentak Renata menyadari pria itu keterlaluan. Manik-manik coklat Renata berkilat marah saat menatap tajam pada Julian. Napasnya memburu. "Aku hanya meminta jatahku, Rene," balas Julian kalem, senyumnya nyaris menunjukkan sisi liarnya yang membuat Renata bergidik. "Jatah?!" sahut Renata geram. Namun ketika Renata nekat hendak mendorong kejantanan Julian dengan dengkulnya, Julian lebih dulu menarik kedua tangan wanita itu ke atas. Menguncinya seperti borgol sebelum menciumnya paksa. Bibir Renata dilumat kembali, kali ini ciuman Julian seperti mesin penyedot debu acapkali Renata menolak. Namun akhirnya permainan bibir Julian menggiring Renata untuk membalasnya. Julian ingat pertemuan terakhirnya dengan Renata sebelum pulang. Dia bersama Nate. Gemuruh di dadanya seketika meluap dan ia pun melampiaskannya buru-buru. Ciumannya turun ke leher Renata yang jenjang. Bibir hangat Julian merayap, mengecup sangat kuat dan meninggalkan bekas merah yang kentara. "Julian..." Suara

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   69.

    Saat Renata memposisikan dirinya, Julian tidak langsung mundur. Pria itu membungkuk tipis. Kehangatan napasnya menyapu daun telinga Renata ketika bibirnya berbisik dengan nada berat yang begitu intim."Kau selalu tahu cara membuat ruangan ini mendadak kehilangan udaranya, mi queruda," bisik Julian, suaranya halus namun sarat daya pikat yang pekat. "Gaun ini ... dan wajahmu yang semakin cantik siang ini, benar-benar menyiksaku pertahananku."Seketika bulu kuduk Renata berdiri. Panggilan mesra yang sudah lama tak didengarnya itu mengirimkan gelombang sengatan halus yang merambat dari tengkuk hingga ke dadanya. Renata mengetatkan jemarinya di atas pangkuan, berusaha keras menetralkan detak jantungnya yang mendadak tak beraturan."K... Kau sudah lama datang?" tanya Renata basa-basi, mengalihkan kikuk.Julian tersenyum sembari melangkah memutari meja lalu duduk di hadapannya. Manik matanya yang kelam menatap Renata tanpa berpaling sedikitpun. Seorang pelayan tak lama datang membawa

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   68.

    "Oh, tidak! Dia datang?" Renata yang panik langsung membalik tubuhnya membelakangi pintu. Ia tak jadi memutar gagang pintu, namun sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya dari nomor tak dikenal: >> Jangan buka pintunya, Renata. Pria di depan pintumu itu bukan mencari ibunya untuk diselamatkan ... tapi untuk memastikan rahasia pembunuhan lima tahun lalu tidak pernah terbongkar

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   67.

    Julian memandanginya dengan pandangan yang hening, tajam dan tanpa emosi. Tak ada satu patah kata yang terucap. Pria itu bahkan tidak menawarkan tumpangan, atau juga menyapa. Hanya tatapan mata kelamnya yang mengunci manik mata Renata selama beberapa detik yang terasa menyiksa. Sebelum Renata sempat merespon, Julian menaikkan kembali kaca jendelanya dan menekan pedal gas. Mobil maybach itu melesat cepat, meninggalkan genangan air yang terpercik ke arah trotoar. "Apa? Dia pergi begitu saja?" Renata menggeram pelan, kejengkelan membakar dadanya saat melihat lampu di belakang mobil itu menghilang di balik tikungan. Dua tangannya terangkat ke udara sambil menggeleng. 'Sudah kuduga. Es batu memang dingin!' batinnya sengit. Namun sedetik kemudian, rasa sesak yang familiar kembali menyenggol dadanya. Renata sadar, kejengkelan itu sebenarnya bersumber dari kekecewaannya sendiri. Renata memang berharap tadinya Julian menawarkan tumpangan di saat dia sulit mendapatkan taksi. Kalau s

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   50. Saingan

    "Jun, bagaimana dengan penampilanku?" tanya Julian penuh percaya diri sambil merapikan dasinya yang terasa mencekik, karena tiba-tiba ia merasa gugup.Kepala asisten pribadinya itu berputar, menoleh pada bosnya di belakang. Jun mengamati penampilan Julian secara menyeluruh dari atas hingga berhenti

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 37.

    Ponsel milik Julian berdering, suaranya membelah keheningan ruang tamu yang masih menyisakan aroma gairah mereka. Tanpa melepas pandangannya yang tajam dari Renata, tangan pria itu meraih perangkat dari saku celana dan menempelkannya ke telinga."Anda sudah di pengadilan?"Suara Julian datar, namun

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 36. Sarapan Berbahaya

    Ciuman Julian begitu menghanyutkan, kuat dan menelan akal sehat Renata seketika. Ia memejamkan mata, membiarkan seluruh tubuhnya pasrah terhanyut dalam arus panas yang dibawa oleh sentuhan pria itu. Rasanya seperti tenggelam dalam lautan api yang nyaman, namun berbahaya.Tapi detik berikutnya, real

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 35. Lebih Manis Bibirmu

    Aroma gandum yang terpanggang sempurna, berpadu dengan gurihnya mentega yang meleleh, merayap lembut memenuhi setiap sudut rumah pinggir kota itu. Bau semerbaknya bagaikan undangan tak kasat mata yang menggelitik indra penciuman Julian. Di dalam kamar, pria itu tengah merapikan simpul dasinya di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status