Home / Romansa / Tiga Pria Yang Memanjakanku / Bab 4. Godaan Kakak Tiri

Share

Bab 4. Godaan Kakak Tiri

last update Last Updated: 2026-03-02 13:02:04

Suara itu muncul dari bayang-bayang pilar putih. Renata menegang. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara serak dan penuh tekanan itu.

"Pergilah, Dev! Tinggalkan aku sendiri," ucap Renata yang tak ingin diganggu.

Devan tersenyum menatap siluet Renata yang seksi dari belakang sambil menimang gelas kristal berisi wiski yang tersisa separuh. "Padahal aku belum menunjukkan diri, tapi kau sudah tahu kalau itu aku," katanya dengan bangga. "Ini menandakan kalau kita sehati."

Renata tak mengindahkannya, malah bersiap untuk kabur kalau Devan macam-macam. "Jangan memancing keributan di sini!"

"Siapa yang memancing keributan?" Devan tertawa pendek yang terdengar pahit, hingga berhenti dan berdiri di belakang tubuh Renata. "Mungkin seluruh kota ini yang ribut membahas pernikahanmu. Soal Henry menjualmu pada pria impoten itu hanya demi jabatan dan kau ... menerimanya seperti kambing congek."

Renata diam, membenarkan hal itu dengan tersiksa. Tapi ia tak berdaya sama sekali dengan situasinya. Devan tidak akan tahu alasan di balik pilihannya, karena itu hanya menjadi rahasianya dengan Henry dan Sandra.

Setelah meletakkan gelasnya di sudut penopang pillar, dengan gerakan secepat kilat Devan mencengkeram bahu Renata dan memutar tubuh gadis itu berada di hadapannya. "Lihat aku!"

Renata terpaksa menatap mata Devan yang berkilat karena pengaruh alkohol dan obsesi. Jasnya tampak berantakan, dua kancing teratas kemejanya terbuka, menunjukkan sisi liarnya yang tak terkandali di balik topeng bangsawan. "Kau mabuk. Lepaskan aku!"

"Aku sangat sadar!" bentak Devan pelan, suaranya bergetar karena amarah yang dipendam. "Aku tidak bisa lupa perlakuan Julian padamu di gereja. Dia tidak mencintaimu, Renata."

Renata menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai basah karena mengingat perlakuan Julian yang membuat hatinya sakit. Alih-alih menciumnya saat pendeta menyuruh, Julian justru menyeretnya keluar dari altar.

"Lalu apa kau mau menghabiskan sisa hidupmu dengan pria jahat itu yang tidak pernah menyentuhmu dan tersiksa karena hanya menjadikanmu pajangan di rumahnya?"

"Cukup, Dev!" Renata tak ingin terprovokasi lagi. "Itu bukan urusanmu!" lanjutnya dengan mencoba mendorong dada pria itu.

Namun Devan justru menghimpitnya ke pilar. Tangannya yang kasar merayap naik, menarik tengkuk Renata dengan posesif.

"Itu urusanku! Karena sejak hari di mana kau menginjakkan kaki ke rumah ini dengan wajah polosmu itu. Aku sudah mengincarmu dan memutuskan bahwa kau adalah milikku. Tidak terkecuali si pengecut Julian!"

Renata terkejut Devan begitu terobsesi padanya. Ternyata yang dikatakan Devan benar. Hah, tapi apa bedanya mereka berdua sekarang?

Tiba-tiba Devan mencondongkan wajahnya, menghirup aroma napas Renata yang tersenggal. "Aku tahu kau takut padanya. Kau tidak bahagia. Aku bisa memberimu segalanya, Renata. Membawamu pergi jauh atau memberimu yang tidak bisa Julian berikan dan biarkan si brengsek itu saja yang memiliki statusmu ... sementara aku yang memiliki tubuhmu."

"Kau gila ...," bisik Renata horor.

Devan tertawa bak psikopat. "Ya, aku gila karenamu!" Tawanya lalu terhenti, Devan tiba-tiba menunduk, mencoba mencium bibir Renata dengan kasar.

"Jangan Dev!"

Renata panik memalingkan wajahnya ke samping, membuat ciuman Devan justru mendarat di lehernya. Ia merasa jijik, terhina. Namun kekuatan Devan jauh lebih besar.

"Ohm... Renata! Kenapa kau bisa selezat ini." Devan menciumi lehernya dengan ganas dan meninggalkan bekas merah yang menyakitkan. Gadis itu merasa dunianya runtuh, buliran beningnya mengalir turun ke wajah. Terperangkap antara suami dingin dan berbahaya, serta Kakak tiri yang terobsesi secara gila.

"Hentikan, Dev ... tolong ... hiks!" isak Renata, pukulannya di dada Devan mulai lemah.

Devan yang merasa gairahnya telah di puncak lalu mengangkat tubuh Renata dalam gendongan. "Si brengsek tidak akan tahu dan tidak peduli padamu, Renata. Mari kita lanjutkan di gazebo sana! Akan kuberikan kau kenikmatan sampai ke langit ketujuh."

"Tidak, Dev ... tolong! Julian ... tolong aku!" Renata berteriak sekuat tenaga, namun Devan membungkamnya dengan ciuman kasar.

Di saat Renata hampir putus asa, suara berat dan berwibawa memotong kegilaan Devan dari balik tanaman pagar pucuk merah. Ia pikir itu Julian, Renata pun merasa was-was.

"Sepertinya aku mengganggu reuni keluarga yang intim."

Devan membeku. Renata memanfaatkan itu segera mendorong Devan menjauh dan merapikan gaunnya yang kusut. Ternyata di sana berdiri Arthur—adik dari Sandra, Paman yang selalu netral tapi penuh misteri. Arthur berdiri dengan tangan terlipat di dada, senyum tipis tersungging di bibirnya. Namun matanya menatap Devan setajam pisau.

"Paman Arthur ...," suara Devan bergetar, ada ketakutan yang tersirat di sana.

Di keluarga Doe semua orang takut pada Henry, tapi mereka lebih takut menghadapi Arthur yang manipulatif.

"Masuklah ke dalam, Dev. Ibumu mencarimu. Dia bilang ada kolega bisnis yang ingin mengobrol penting dengan putra mahkota keluarga Doe," papar Arthur tenang, namun mengandung perintah mutlak.

Devan mendengus, tapi menatap Renata sekali lagi. Tatapannya penuh janji gelap yang belum selesai, sebelum akhirnya melangkah pergi melewati Arthur tanpa sepatah kata.

Kini tinggal Renata dan Arthur di belakang taman yang sunyi. Renata menunduk, mencoba menutupi tanda merah di lehernya dengan rambut panjangnya yang terurai. Ia merasa sangat kotor sekarang.

Melihat itu Arthur mendekat perlahan. Tidak seperti Devan yang liar, pergerakan Arthur sangat halus dan elegan. Ia berdiri di depan Renata, mengeluarkan sapu tangan sutra dari saku jasnya. Tanpa bicara, ia meraih tangan dingin gadis itu yang terluka karena duri mawar kemarin yang belum mengering dan mengusapnya lembut.

"Kau tidak seharusnya berada di sini sendirian Renata," ucapnya lembut. "Dunia ini penuh dengan serigala lapar dan kau ..." Ada jeda sejenak, menatap Renata yang sangat cantik dan polos. "Tampak seperti mangsa yang terlalu cantik untuk dilewatkan."

"Apa katamu?"

Dagu Renata diangkat, memaksa gadis itu menatap matanya yang berwarna coklat gelap—terlihat sangat pengertian, teduh, hangat. Namun menyimpan kegelapan yang jauh lebih dalam dari Julian dan Devan.

"Kau tahu Renata ...," bisik Arthur. Jarinya mengusap bibir bawah Renata yang gemetar. "Julian tidak akan pernah melindungimu. Devan hanya akan menghancurkanmu. Jika kau ingin bertahan hidup aman, kau butuh seseorang yang tahu cara menjinakkan serigala-serigala itu."

Renata yang merasa terhipnotis tatapan Arthur bertanya, "Kenapa Paman melakukan ini?"

Arthur tersenyum. "Karena aku benci melihat sesuatu yang indah dirusak oleh tangan-tangan kasar. Tapi ingat, Sayang. Perlindungan selalu memiliki harga."

Entah kenapa Renata merinding dengan penjelasan Arthur? Tepat saat itu juga, ponsel di saku jas Arthur bergetar. Ia melirik layar ponselnya sesaat lalu beralih kembali pada Renata.

"Suamimu sedang mencarimu, Renata. Dia tidak suka seseorang yang tidak menepati ucapan atau ancamannya ..." Arthur menatap kegelisahan di wajah cantik Renata yang memucat. "Kalau aku jadi kau, aku akan memikirkan alasan yang tepat untuk tanda merah di lehermu itu. Juga jawaban lain soal map yang sempat kau sentuh!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Aseeerk.......
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 5. Perlindungan Arthur

    Renata tersentak. Ia teringat ancaman Julian semalam yang tidak memperbolehkannya dekat dengan pria manapun, lalu saat tadi dia pamit ke toilet yang tidak boleh lama-lama. Juga soal map? 'Oh, tidak! Julian pasti marah besar!' batin Renata kacau. "Pergilah," ucap Arthur sambil memberi kartu nama kecil ke tangan Renata yang terpaku melihat itu. "Hubungi aku saat kau menyadari menjadi istri Julian adalah malapetaka buatmu." Renata berbalik dan berlari menuju ke dalam, meninggalkan Arthur yang masih berdiri di taman. Menatap kegelapan dengan senyuman yang kini tampak mengerikan. Namun saat Renata sampai, ia melihat Julian berdiri di sana dikelilingi oleh pengawal pribadinya. Wajah Julian lebih pucat dari biasanya dan kemarahannya begitu nyata hingga orang-orang di sekitarnya menyingkir ketakutan. "Tu-Tuan Cooper ...," sebut Renata dengan kecemasan berlebih saat menyeret kakinya lebih dekat pada pria itu. Mata Julian terkunci pada Renata. Ia mencengkeram lengan gadis itu dengan k

  • Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 4. Godaan Kakak Tiri

    Suara itu muncul dari bayang-bayang pilar putih. Renata menegang. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara serak dan penuh tekanan itu. "Pergilah, Dev! Tinggalkan aku sendiri," ucap Renata yang tak ingin diganggu. Devan tersenyum menatap siluet Renata yang seksi dari belakang sambil menimang gelas kristal berisi wiski yang tersisa separuh. "Padahal aku belum menunjukkan diri, tapi kau sudah tahu kalau itu aku," katanya dengan bangga. "Ini menandakan kalau kita sehati." Renata tak mengindahkannya, malah bersiap untuk kabur kalau Devan macam-macam. "Jangan memancing keributan di sini!" "Siapa yang memancing keributan?" Devan tertawa pendek yang terdengar pahit, hingga berhenti dan berdiri di belakang tubuh Renata. "Mungkin seluruh kota ini yang ribut membahas pernikahanmu. Soal Henry menjualmu pada pria impoten itu hanya demi jabatan dan kau ... menerimanya seperti kambing congek." Renata diam, membenarkan hal itu dengan tersiksa. Tapi ia tak berdaya sama sekal

  • Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 3. Perhatian Terselubung

    Satu malam panjang, berhasil Renata lewati dengan dingin dan mencekam. Ia menarik tubuhnya yang kaku di sofa tunggal itu, memijat lehernya dan menselonjorkan kakinya yang semalam terus menekuk. Kondisinya begitu kontras dengan si egois itu yang mungkin bangun kesiangan karena terlalu nyaman tidur di ranjang. Tapi Renata terkejut begitu ia tak mendapati Julian berada di sana. "Ke mana dia?" Tidak ada siapapun kecuali Renata sendiri, suasana kamar begitu lengang dan ranjang itu bahkan sudah rapi. Hingga timbul kecurigaan dalam benaknya, apakah semalam Julian pergi saat dirinya terlelap? Ini mungkin kesempatan baginya untuk kabur. Namun saat ia bangun dengan tergesa, ekor gaun pengantinnya tersangkut kaki meja kecil. "Auw!" desinya hampir saja roboh jika tak berhasil berpegangan pada meja tersebut untuk menyeimbangkan diri. Tangannya justru menyentuh sebuah map kulit yang setengah terbuka. Dengan penglihatan bangun tidur yang belum jelas, Renata menyipit saat mendapati secarik kert

  • Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 2. Malam Pengantin

    “Sampai kapan kau mau berdiri di sana seperti manekin?!” Suara tajam Julian merobek kesunyian. Renata yang berdiri di tengah ruangan dan masih mengenakan gaun pengantinnya yang berat saat tiba di kediaman pribadi Julian itu tersentak. “Aku … aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”Pandangannya yang menunduk lalu terlempar pada ranjang king size dengan sprei hitam berkilau di bawah lampu gantung kristal yang cahayanya diredupkan itu. Kamar utama di penthouse lantai teratas gedung yang tersiar bernilai belasan triliunan itu, malah lebih mirip sebuah galeri seni yang steril daripada kamar pengantin. Renata meringis kecut. Sementara Julian berdiri di dekat jendela kaca besar, yang menampilkan pemandangan lampu-lampu kota London yang gemerlap dari ketinggian. Namun terasa kontras“Jawabanmu terlalu munafik, Renata.” Julian melepas jas hitamnya, menyampirkan benda mahal itu di kursi kulit. Sebelum kemudian ia membuka kancing kemeja putihnya satu persatu.Renata menelan ludahny

  • Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 1. Mahkota Berduri

    Di depan cermin setinggi plafon yang berbingkai emas murni, Renata Lurian menatap bayangannya sendiri seolah sedang melihat orang asing. Gaun pengantin off shoulder berwarna putih gading itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lekuk lehernya yang jenjang dan tulang selangka yang rapuh. Ratusan kristal swarovski yang dijahit tangan pada kain lace Prancis itu berkilauan setiap kali dia bernapas. Namun bagi Renata, setiap kilauan itu seperti mata-mata yang mengawasinya. Tepat sebulan yang lalu, tangan Renata masih kasar karena pekerjaannya sebagai pemanen sayur di desa kecil—Brompton, asal mendiang ibunya. Sekarang jemarinya yang lentik dipoles kuteks bening mahal. Dia bukan lagi Renata si gadis yatim piatu yang miskin. Tapi Renata Doe, putri dari seorang politikus yang sedang naik daun, Henry Doe. Sebuah identitas yang dipaksakan, dia dibawa kembali setelah terpisah lama dari ayahnya. Tapi hanya dijadikan alat agar ayahnya bisa melunasi utang budi politik pada Julian Cooper.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status