Share

Bab 6. Tawaran Kenikmatan

last update publish date: 2026-03-05 21:50:02

Arthur melirik Renata yang tiba-tiba memangkas jarak. Ia dapat merasakan kecurigaan wanita itu yang mundur perlahan, memindai sekeliling dengan mata kecoklatannya yang liar untuk berjaga-jaga.

"Tenanglah Renata. Aku hanya mengamankannya sebelum Julian menyadari ada yang hilang," ucapnya meyakinkan.

"Kalau aku saja yang menyimpannya, bagaimana Paman ... Arthur?" tawar Renata mengajukan diri.

Gerakan Arthur saat melipat kembali kertas itu dan hendak menyimpan di balik jas seketika terhenti. Pria itu menatap Renata yang gelisah, setiap mata mereka berdua bertemu Renata selalu menghindar. Hingga ia bisa menebak apa penyebabnya.

"Di tangan Julian, kertas ini adalah senjata untuk menghancurkan ayahmu. Sementara di tanganku, kertas ini adalah jaminan keselamatanmu. Terserahmu mau pilih yang mana?"

Perlahan Renata kembali menatap Arthur, ia terlihat bingung kali ini.

"Kenapa Paman membantuku? Padalah kita ... um, kita baru bertemu beberapa kali."

Renata tak mendengar pria itu menjawab. Namun ia mendapati siluet pria itu yang mendekat ke arahnya, menggunting jarak di antara mereka hingga Renata dapat mencium aroma oud dan tembakau mahal dari tubuh pria itu.

Detak jantung Renata yang masih memburu kian kehilangan ritme, berdentum dua kali lebih cepat dalam keheningan yang menyesakkan. Desir halus merayap di permukaan kulitnya saat ia merasakan jemari Arthur mendarat di lekuk pinggangnya—sebuah sentuhan yang terasa lembut seperti sutra, namun menuntut dengan kepemilikan yang tak terbantahkan saat Arthur merapatkan jarak di antara mereka.

Arthur menunduk, membuat wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Renata. "Karena aku melihat potensi besar dalam dirimu, Renata. Kau berbeda dari wanita lain dan aku melihat mata ini ..."

Napas pria itu semakin tak beraturan, menyebar di permukaan wajah cantik Renata yang terasa hangat. Ketika ia mencubit dagu wanita itu dan mengangkatnya, mata mereka berdua sejajar. Arthur semakin memperdalam tatapannya yang intens, hingga Renata tidak bisa berpaling sedikitpun dari sorot mata Arthur yang menghipnotisnya.

"Mata indah yang menyimpan lara, kesendirian tanpa dukungan, keinginan untuk mencapai bahagia dan hidup tenang. Aku bisa memberimu kekuatan untuk membalas mereka semua. Sandra, Devan, bahkan Julian."

"Apa harganya?" Renata paham ke mana arah pembicaraan Arthur saat teringat kata-kata pria itu di taman belakang.

Arthur tambah mendekat, bibirnya nyaris menyentuh telinga Renata—membuat wanita menahan napas dan refleks memejamkan mata. "Jadilah mataku di dalam rumah Julian. Ceritakan padaku setiap langkah yang dia ambil dan siapapun yang dia temui. Sebagai imbalannya, aku akan memastikan Sandra tidak menyentuh nenekmu. Juga menjauhkan Devan darimu."

Renata terdiam. Ia merasa seperti sedang membuat kesepakatan dengan iblis demi lolos dari neraka. Namun saat ia membayangkan wajah neneknya yang sakit, lalu bertumpuk dengan ancaman Julian yang berbahaya. Ia tahu saat ini ia tidak punya pilihan.

"Oke," bisik Renata cukup lega, karena Arthur tak meminta tubuhnya seperti yang ia pikirkan. "Aku setuju syaratmu."

Arthur tersenyum puas. Renata tak menyangka jika pria itu melabuhkan kecupan di keningnya dengan lembut, sebuah ciuman yang terasa seperti segel kontrak yang mengikat. "Gadisku yang pintar. Sekarang, kembalilah ke pesta dan lakukan tugasmu dengan hati-hati."

Renata mengangguk patuh. Kali ini ia keluar dari perpustakaan dengan langkah yang lebih tegak. Namun saat ia berjalan di lorong menuju tempat pestanya berlangsung, ia justru berpapasan dengan Devan. Kakak tirinya itu tidak tampak mabuk. Ia menghadang kepergian Renata, bersedekap dan menatapnya dengan pandangan penuh kebencian sekaligus gairah.

"Minggir, Dev!"

"Kau pikir Arthur akan melindungimu secara cuma-cuma, Renata? Cuih!" Devan meludah ke lantai. "Dia bahkan lebih licik dan manipulatif dari Julian. Asal kau tahu, dia tidak menikah hingga sekarang. Karena dia hanya hobi mengumpulkan wanita sepertimu sebagai koleksi. Dinikmati lalu dibuang."

"Diam, Dev!" balas Renata dengan tajam.

"Aku punya sesuatu yang tidak dimiliki Arthur maupun Julian." Devan melangkah maju, sorot matanya yang liar mengunci Renata dan memojokkannya ke dinding lorong yang sepi.

"Kalau kau tidak membiarkanku pergi, Dev. Aku akan berteriak!" ancam Renata yang panik.

"Dan di detik kau berteriak ... aku akan menciummu sampai kau kewalahan."

Renata diam dengan wajah mengeras. Ia tak habis pikir dengan Devan yang selalu menghantuinya di mana pun ia berada.

"Aku punya bukti pernikahanmu dengan Julian tidak sah secara agama karena dokumen yang dipalsukan Henry. Jika aku sampai mengumumkannya ke publik ... statusmu bukan lagi istri seorang politikus dan kau hanya akan menjadi wanita simpanan yang bisa dibuang kapan saja."

Tubuh Renata membeku mendengar pernyataan Devan yang seperti hujaman peluru menembus jantungnya. Ia syok, kehilangan waspadanya sejenak lantaran setengah hatinya masih sulit mempercayai fakta sepihak itu.

Devan memanfaatkan kelengahan Renata, mencengkeram kedua bahunya dan memaksa gadis itu mendekat. "Pilihan dariku masih berlaku, Renata sayang."

"Lepaskan aku, Dev!"

Devan hanya peduli dengan keinginannya sendiri, ancamannya itu. "Datanglah ke kamarku malam Rabu nanti ... atau aku akan menghancurkan satu-satunya harga diri yang kau punya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   73.

    Selamat membaca.... "Kau masih istriku, Rene. Jadi aku berhak melakukan apapun padamu," dalih Julian tenang.Namun tatapan Julian yang seperti menggeledah kancing piyamanya itu membuat Renata langsung panik. Matanya memuncak, kepalanya menggeleng sambil berjalan mundur ke ambang pintu."Sekarang, urus saja dirimu sendiri!" kata Renata sebelum buru-buru meninggalkan Julian sendiri di luar kamarnya.Julian mendesah napas, tangannya memaku dinding dengan tubuh setengah condong ke depan, diam memperhatikan siluet Renata dari belakang. Pantatnya yang penuh itu bergoyang ke kiri kanan membuat ia susah payah menelan ludah menahan gejolak panas yang membakar seluruh tubuhnya yang terasa panas."Kau hanya milikku, Rene." Setelah menggumamkan itu dengan suara parau yang berat, Julian menyusul Renata ke dalam kamar. Ia berhenti saat mencium aroma vanila bercampur oksigen yang menguar di kamar itu. Ia menghirupnya dalam-dalam, hingga kepalanya terdongak ke atas. Anehnya, gejolak di dalam tubuhn

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   72.

    "Tidak ke rumah sakit saja!" potong Julian tegas. Suaranya serak membisikkan kepastian. "Bawa aku ke aparteman Renata."Jun Chen tertegun sejenak. "Nona Renata? Tapi Sir ....""Kau tahu tempat tinggalnya sekarang, bukan?" tekan Julian mulai emosi karena pengaruh obat perangsang yang membuat otaknya sulit berpikir panjang. Dia hanya mau mengikuti apa yang ada dalam otaknya itu. Beberapa saat lalu ketika asistennya itu mengantarnya ke klub malam, dia sempat memberitahu sekilas bahwa dia tahu di mana apartemen Renata selama berada di London."T... Tahu, Sir," jawab Jun gemetar suaranya, kalau bosnya marah itu seperti mafia kelaparan. "Bawa aku ke sana!" perintahnya tak ingin dibantah.Tanpa banyak omong, Jun langsung mengikuti kemauan bosnya itu. Karena ia tahu kalau Julian seperti terkena obat perangsang dan bawaannya marah-marah terus. Namun di sini, Julian bahkan tak memikirkan atau menyadari fakta bahwa unit apartemen yang ditujunya saat ini adalah lokasi yang sama yang sempat ia

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   71.

    Dinding-dinding klub malam yang eksklusif itu terasa berguncang oleh dentuman bass yang berat. Namun bagi Julian, suara di sekitarnya mendadak surut bagai ditelan lautan. Kepala pria itu terasa seberat timah, penglihatannya berpendar oleh hawa panas abnormal yang membakar dari dalam pembuluh darahnya. Kesadarannya menipis secara drastis, walau begitu dia tetap berjuang agar tetap sadar. 'Pasti ada yang mengerjaiku!' batin Julian berpikir singkat. Di remang cahaya neon yang samar, sesosok wanita bergaun ketat merapat pada tubuhnya. Bibir wanita itu bergerak-gerak menyuarakan sesuatu, namun suara itu tak pernah sampai ke indra pendengaran Julian. "Apa kau baik-baik saja, Julian?" Julian tidak menjawab Frida. Ia berusaha keras memfokuskan pandangan, menatap wanita itu di tengah kabut yang kian pekat menguasai otaknya. Hanya saja, entah mengapa pandangannya sangat buram sekali. Bayangan di depannya membiaskan siluet yang samar-samar terasa begitu familiar. Setelah beberapa waktu

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   70.

    "Julian!" bentak Renata menyadari pria itu keterlaluan. Manik-manik coklat Renata berkilat marah saat menatap tajam pada Julian. Napasnya memburu. "Aku hanya meminta jatahku, Rene," balas Julian kalem, senyumnya nyaris menunjukkan sisi liarnya yang membuat Renata bergidik. "Jatah?!" sahut Renata geram. Namun ketika Renata nekat hendak mendorong kejantanan Julian dengan dengkulnya, Julian lebih dulu menarik kedua tangan wanita itu ke atas. Menguncinya seperti borgol sebelum menciumnya paksa. Bibir Renata dilumat kembali, kali ini ciuman Julian seperti mesin penyedot debu acapkali Renata menolak. Namun akhirnya permainan bibir Julian menggiring Renata untuk membalasnya. Julian ingat pertemuan terakhirnya dengan Renata sebelum pulang. Dia bersama Nate. Gemuruh di dadanya seketika meluap dan ia pun melampiaskannya buru-buru. Ciumannya turun ke leher Renata yang jenjang. Bibir hangat Julian merayap, mengecup sangat kuat dan meninggalkan bekas merah yang kentara. "Julian..." Suara

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   69.

    Saat Renata memposisikan dirinya, Julian tidak langsung mundur. Pria itu membungkuk tipis. Kehangatan napasnya menyapu daun telinga Renata ketika bibirnya berbisik dengan nada berat yang begitu intim."Kau selalu tahu cara membuat ruangan ini mendadak kehilangan udaranya, mi queruda," bisik Julian, suaranya halus namun sarat daya pikat yang pekat. "Gaun ini ... dan wajahmu yang semakin cantik siang ini, benar-benar menyiksaku pertahananku."Seketika bulu kuduk Renata berdiri. Panggilan mesra yang sudah lama tak didengarnya itu mengirimkan gelombang sengatan halus yang merambat dari tengkuk hingga ke dadanya. Renata mengetatkan jemarinya di atas pangkuan, berusaha keras menetralkan detak jantungnya yang mendadak tak beraturan."K... Kau sudah lama datang?" tanya Renata basa-basi, mengalihkan kikuk.Julian tersenyum sembari melangkah memutari meja lalu duduk di hadapannya. Manik matanya yang kelam menatap Renata tanpa berpaling sedikitpun. Seorang pelayan tak lama datang membawa

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   68.

    "Oh, tidak! Dia datang?" Renata yang panik langsung membalik tubuhnya membelakangi pintu. Ia tak jadi memutar gagang pintu, namun sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya dari nomor tak dikenal: >> Jangan buka pintunya, Renata. Pria di depan pintumu itu bukan mencari ibunya untuk diselamatkan ... tapi untuk memastikan rahasia pembunuhan lima tahun lalu tidak pernah terbongkar

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 15. Telepon Misterius

    Saat tangan Julian sudah di dada Renata, tiba-tiba alarm sistem keamanan rumah berbunyi pelan. Julian melepaskan Renata dan melihat ke ponselnya dengan tatapan tak biasa, wajahnya yang dingin berubah memucat. "Ada apa?" tanya Renata cemas melihat ekspresi yang jarang terjadi pada pria sedingin sua

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 3. Perhatian Terselubung

    Satu malam panjang, berhasil Renata lewati dengan dingin dan mencekam. Ia menarik tubuhnya yang kaku di sofa tunggal itu, memijat lehernya dan menselonjorkan kakinya yang semalam terus menekuk. Kondisinya begitu kontras dengan si egois itu yang mungkin bangun kesiangan karena terlalu nyaman tidur d

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 2. Malam Pengantin

    “Sampai kapan kau mau berdiri di sana seperti manekin?!” Suara tajam Julian merobek kesunyian. Renata yang berdiri di tengah ruangan dan masih mengenakan gaun pengantinnya yang berat saat tiba di kediaman pribadi Julian itu tersentak. “Aku … aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”Pandangann

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 1. Mahkota Berduri

    Di depan cermin setinggi plafon yang berbingkai emas murni, Renata Lurian menatap bayangannya sendiri seolah sedang melihat orang asing. Gaun pengantin off shoulder berwarna putih gading itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lekuk lehernya yang jenjang dan tulang selangka yang rapuh. Rat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status