Share

Bab 26. Cemburu

Penulis: Madinah Ayyara
last update Tanggal publikasi: 2026-03-30 20:13:42

"Aku tidak akan lupa kalau hari ini adalah Rabu." Renata mengatakan itu dengan gelisah, wajahnya tampak kusut, rambut hitamnya yang terurai panjang seperti tinta tumpah di atas ranjang.

Pagi itu tak terasa sejuk seperti biasanya, awal dari semangat hari justru kini membuatnya malas beranjak ke manapun. Julian mungkin sedang menunggunya di meja makan. Tapi pria kasar itu tidak akan peduli juga padanya kalau tak datang.

Keberadaannya tak dianggap sama sekali, namun jika Renata melakukan sesua
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   66.

    Nyonya Cleda nyengir. Tapi senyum itu tampak tak bahagia, justru membuat Renata merinding."Julian sering cerita soal kamu.""Julian?" Renata tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Maksudmu Julian cooper atau Julian yang mana?""Itu... Yang memakai nama belakang, Cooper. Sebelum mereka---" Nyonya Cleda berhenti. Matanya liar ke arah pintu, dia seperti was-was.Mata Renata membulat seperti kelereng. Jantungnya berdetak sangat kencang saat Nyonya Cleda menyebutkan nama suaminya. Itu tidak mungkin sebuah kebetulan. Pasti ada sesuatu yang tidak diketahui selama ini.Banyak pertanyaan muncul dalam benaknya. Ada hubungan apa Julian dengan Nyonya Cleda? Siapa Nyonya Cleda sebenarnya? Mungkinkah Julian menyembunyikan sesuatu darinya? Ya, dia harus tahu. Bagaimana caranya dia harus mengetahuinya, itu hanya bisa lewat Nyonya Cleda sendiri."Sebelum apa?" Renata menahan napas saat menunggu kelanjutannya. Dia bertanya sangat hati-hati agar wanita paruh baya itu mau memberitahu."Sebelum mereka

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   65.

    Hari itu Renata harus mengambil laporan hasil test darah neneknya di bagian laboratorium di rumah sakit. Lorong menuju laboratorium harus melewati area IGD. Renata sudah hafal jalan itu karena belakangan sering bolak-balik semenjak Ruth kontrol. Suasana rumah sakit selalu punya bau yang khas. Campuran antiseptik, lantai yang dipel disinfektan.Tetapi pagi ini ada yang berbeda. Dari kejauhan, Renata mendengar suara roda brankar berderit cepat di atas lantai keramik putih. Suara napas terengah-engah dari paramedis yang mendorong. Renata menoleh, entah kenapa dia tak pernah seterlalu penasaran dengan pasien di atas brankar itu?Seorang wanita paruh baya terbaring di atas brankar yang meluncur cepat menuju pintu ruang IGD. Rambut hitamnya berkibar acak, basah oleh keringat. Wajahnya terlihat pucat seperti kertas HVS. Tapi bukan itu yang membuat Renata bergidik. Kedua tangan wanita itu diikat ke sisi ranjang. Bukan memakai tali medis biasa, melainkan semacam strap lebar warna hitam

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   64.

    Klik, klak, klik, klak!Sepatu hak pendek Renata bergema pelan di lantai marmer. Lobi Rumah Sakit Jiwa itu ternyata elegan, tidak seram seperti bayangannya. Ada sofa putih, meja resepsionis dengan vas bunga segar. Bahkan musik instrumental pelan mengalun dari speaker tersembunyi. Tapi ….Brak!!Suara pintu darurat di ujung lorong terbanting kasar. Teriakan menggema seperti bom yang meledak, keras.“Hey, jangan lari. Berhenti!”“Aku bilang berhenti!”Langkah kaki berat berlari seperti gempa. Renata cuma sempat menengok ke kiri sebelum dua sosok perawat laki-laki berpakaian seragam biru tua mengejar seseorang yang melesat seperti anak panah. Renata melihat sedikit pasien laki-laki itu yang rambutnya acak-acakan. Matanya liar, mengenakan jubah putih pasien yang berkibar-kibar ia melaju langsung ke arah dirinya. “Bu—!”Hampir. Tubuh Renata sudah oleng ke belakang, bersiap nyungsep ke lantai marmer yang dingin itu dengan tangan otomatis mengayun ke depan untuk menahan benturanNamun

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   63.

    Tubuh Renata dihempas ke ranjang, Julian merangkak naik ke atas tubuhnya. Kedua tangan Renata lalu diangkatnya ke atas kepala hingga wanita itu tidak bisa leluasa bergerak. "Aku tidak mengizinkanmu ke mana-mana selain dalam dekapanku, Rene." Mata Renata memicing menatap Julian sampai keningnya mengerut. Posesif sekali pria satu ini. Bisa-bisanya ia juga terlena saat dicium pria itu.Pasrah begitu saja, bahkan menikmati dan mengimbangi ciumannya yang seperti menyedot bibirnya sampai tak mau lepas. Apa pria itu sedang mengguna-gunanya agar Renata mau kembali? Tapi ketika ia membuka mulut, Julian yang tau gelagatnya seperti akan memprotes. Tiba-tiba pria itu menarik tengkuknya dan membekap mulutnya dengan lumatan yang sangat ganas. "Julian—hpphh!" Mata Renata membulat seperti kelereng, ciuman Julian sampai sulit ia imbangi. Namun Renata juga tak mampu menolaknya. Tubuhnya memanas akan gairah yang menjalar ke setiap nadi darahnya, tanpa sadar membiarkan tangan Julian menyingkap rok g

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   62.

    Julian seketika bangkit berdiri. Posturnya yang tinggi membuat orang-orang di sekitarnya merasa kecil. Wajahnya yang tadi lelah kini berubah menjadi topeng kemarahan yang dingin, wanita penggoda itu sampai ketakutan.“Aku tidak tertarik sedikitpun dengan hadiah yang kalian tawarkan!” geram pria itu mengepak jasnya sebagai ancaman, menyoroti tajam dengan matanya yang seperti mesin pemotong itu. “Tujuanku datang ke sini karena kau menyebutkan soal komite. Tapi jika ini yang kalian sebut sebagai strategi politik, menyuap dengan seks dan alkohol. Kalian salah besar. Aku keluar!!”Salah satu anggota dewan, seorang pria gemuk bernama Sterling tampak menyeringai sinis begitu Julian yang pergi lewat di depannya. “Jangan sok suci, Julian! Semua orang di ruagan ini bermain dengan aturan yang sama. Kami menawarkan kau kursi di Komite Infrastruktur yang posisinya strategis. Banyak uang mengalir di sana. Tapi sebagai gantinya, kami hanya meminta satu hal kecil padamu.”Sudut bibir Julian terangk

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   61.

    Wajah Renata langsung memanas. Rasa malu merambat cepat dari leher hingga ke ujung telinganya. Ia merasa seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen. Mulutnya terbuka, lalu tertutup lagi. Ia kehilangan kata-kata untuk membela diri di depan neneknya.Renata sulit menjelaskan sesuatu yang menariknya kali ini pada Julian. Bagaimana cara pria itu mengendalikan ribuan orang dengan hanya suara dan logika, tapi sudah membuatnya terlihat begitu ... berbahaya dan menonjol?"Rene," panggil Ruth karena Renata terus bergeming dan memilin jarinya dengan kuat."Tidak apa-apa. Minumlah jusnya," suruh Renata yang tampak salah tingkah."Oh, ya?" Ruth masih tak percaya."Aku... Aku hanya tak menyangka dia punya kemampuan berbicara yang luar biasa, Ruth, " bual Renata canggung, mengalihkan pandangan ke gelas jus stroberinya yang mulai mencair. "Itu saja."Jus yang diminumnya sedikit mendadak bikin serik di tenggorokannya. Renata tak nyaman dengan kondisi itu, ia sampai terburu-buru pergi dan menabra

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 8. Mengecup Bibirmu

    Sejenak Renata merasa jemawa berhasil menyudutkan suaminya itu. Namun ketika Julian membuka matanya, nyali Renata mengkerut. Kilatan di mata keabuan pria itu bukan lagi kemarahan, melainkan ketertarikan yang dingin. Ketika Julian menoleh ke arahnya dengan perlahan, Renata buru-buru mengalihkan wa

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 6. Tawaran Kenikmatan

    Arthur melirik Renata yang tiba-tiba memangkas jarak. Ia dapat merasakan kecurigaan wanita itu yang mundur perlahan, memindai sekeliling dengan mata kecoklatannya yang liar untuk berjaga-jaga."Tenanglah Renata. Aku hanya mengamankannya sebelum Julian menyadari ada yang hilang," ucapnya meyakinkan.

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 5. Perlindungan Arthur

    Renata tersentak. Ia teringat ancaman Julian semalam yang tidak memperbolehkannya dekat dengan pria manapun, lalu saat tadi dia pamit ke toilet yang tidak boleh lama-lama. Juga soal map? 'Oh, tidak! Julian pasti marah besar!' batin Renata kacau. "Pergilah," ucap Arthur sambil memberi kartu nama

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 4. Godaan Kakak Tiri

    Suara itu muncul dari bayang-bayang pilar putih. Renata menegang. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara serak dan penuh tekanan itu. "Pergilah, Dev! Tinggalkan aku sendiri," ucap Renata yang tak ingin diganggu. Devan tersenyum menatap siluet Renata yang seksi dari belakang samb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status