Share

Bab 74.

last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-28 15:52:11

Tok! Tok!

"Julian, apa kau masih mandi?" tanya Renata sambil mengetuk pintu kamar mandi itu. Suaranya menyimpan nada kekhawatiran mendalam. Juga rasa bersalah yang mulai mencengkeram dadanya.

Namun perasaan Renata semakin kacau saat dari dalam kamar mandi dia tak mendengar suara apapun kecuali suara jatuhnya air.

"Ke mana dia sebenarnya?" Renata berdiri tak tenang. kalau ada apa-apa dengannya, otomatis ia harus bertanggung jawab.

Setiap detik menyiksa Renata. Ia berharap Julian tidak melakukan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 74.

    Tok! Tok!"Julian, apa kau masih mandi?" tanya Renata sambil mengetuk pintu kamar mandi itu. Suaranya menyimpan nada kekhawatiran mendalam. Juga rasa bersalah yang mulai mencengkeram dadanya.Namun perasaan Renata semakin kacau saat dari dalam kamar mandi dia tak mendengar suara apapun kecuali suara jatuhnya air."Ke mana dia sebenarnya?" Renata berdiri tak tenang. kalau ada apa-apa dengannya, otomatis ia harus bertanggung jawab. Setiap detik menyiksa Renata. Ia berharap Julian tidak melakukan hal nekat. Misalnya, bunuh diri? "Jangan sampai kau sebodoh itu Julain!" Ia menatap pintu kamar mandi, menelan ludahnya kasar, kemudian mencoba mencari tahu dengan menempelkan telinganya ke daun pintu. Ia memeriksanya. "Kau akan mempermalukan dirimu sendiri dan menyusahkanku nanti."Keningnya mengerut, lagi-lagi ia hanya mendengar suara tetesan air. Tapi ... ia masih belum mendapati keberadaan Julian di sana."Jangan-jangan terjadi sesuatu padanya!" cetusnya tak sabaran. Kali ini tanpa pikir

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   73.

    Selamat membaca.... "Kau masih istriku, Rene. Jadi aku berhak melakukan apapun padamu," dalih Julian tenang.Namun tatapan Julian yang seperti menggeledah kancing piyamanya itu membuat Renata langsung panik. Matanya memuncak, kepalanya menggeleng sambil berjalan mundur ke ambang pintu."Sekarang, urus saja dirimu sendiri!" kata Renata sebelum buru-buru meninggalkan Julian sendiri di luar kamarnya.Julian mendesah napas, tangannya memaku dinding dengan tubuh setengah condong ke depan, diam memperhatikan siluet Renata dari belakang. Pantatnya yang penuh itu bergoyang ke kiri kanan membuat ia susah payah menelan ludah menahan gejolak panas yang membakar seluruh tubuhnya yang terasa panas."Kau hanya milikku, Rene." Setelah menggumamkan itu dengan suara parau yang berat, Julian menyusul Renata ke dalam kamar. Ia berhenti saat mencium aroma vanila bercampur oksigen yang menguar di kamar itu. Ia menghirupnya dalam-dalam, hingga kepalanya terdongak ke atas. Anehnya, gejolak di dalam tubuhn

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   72.

    "Tidak ke rumah sakit saja!" potong Julian tegas. Suaranya serak membisikkan kepastian. "Bawa aku ke aparteman Renata."Jun Chen tertegun sejenak. "Nona Renata? Tapi Sir ....""Kau tahu tempat tinggalnya sekarang, bukan?" tekan Julian mulai emosi karena pengaruh obat perangsang yang membuat otaknya sulit berpikir panjang. Dia hanya mau mengikuti apa yang ada dalam otaknya itu. Beberapa saat lalu ketika asistennya itu mengantarnya ke klub malam, dia sempat memberitahu sekilas bahwa dia tahu di mana apartemen Renata selama berada di London."T... Tahu, Sir," jawab Jun gemetar suaranya, kalau bosnya marah itu seperti mafia kelaparan. "Bawa aku ke sana!" perintahnya tak ingin dibantah.Tanpa banyak omong, Jun langsung mengikuti kemauan bosnya itu. Karena ia tahu kalau Julian seperti terkena obat perangsang dan bawaannya marah-marah terus. Namun di sini, Julian bahkan tak memikirkan atau menyadari fakta bahwa unit apartemen yang ditujunya saat ini adalah lokasi yang sama yang sempat ia

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   71.

    Dinding-dinding klub malam yang eksklusif itu terasa berguncang oleh dentuman bass yang berat. Namun bagi Julian, suara di sekitarnya mendadak surut bagai ditelan lautan. Kepala pria itu terasa seberat timah, penglihatannya berpendar oleh hawa panas abnormal yang membakar dari dalam pembuluh darahnya. Kesadarannya menipis secara drastis, walau begitu dia tetap berjuang agar tetap sadar. 'Pasti ada yang mengerjaiku!' batin Julian berpikir singkat. Di remang cahaya neon yang samar, sesosok wanita bergaun ketat merapat pada tubuhnya. Bibir wanita itu bergerak-gerak menyuarakan sesuatu, namun suara itu tak pernah sampai ke indra pendengaran Julian. "Apa kau baik-baik saja, Julian?" Julian tidak menjawab Frida. Ia berusaha keras memfokuskan pandangan, menatap wanita itu di tengah kabut yang kian pekat menguasai otaknya. Hanya saja, entah mengapa pandangannya sangat buram sekali. Bayangan di depannya membiaskan siluet yang samar-samar terasa begitu familiar. Setelah beberapa waktu

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   70.

    "Julian!" bentak Renata menyadari pria itu keterlaluan. Manik-manik coklat Renata berkilat marah saat menatap tajam pada Julian. Napasnya memburu. "Aku hanya meminta jatahku, Rene," balas Julian kalem, senyumnya nyaris menunjukkan sisi liarnya yang membuat Renata bergidik. "Jatah?!" sahut Renata geram. Namun ketika Renata nekat hendak mendorong kejantanan Julian dengan dengkulnya, Julian lebih dulu menarik kedua tangan wanita itu ke atas. Menguncinya seperti borgol sebelum menciumnya paksa. Bibir Renata dilumat kembali, kali ini ciuman Julian seperti mesin penyedot debu acapkali Renata menolak. Namun akhirnya permainan bibir Julian menggiring Renata untuk membalasnya. Julian ingat pertemuan terakhirnya dengan Renata sebelum pulang. Dia bersama Nate. Gemuruh di dadanya seketika meluap dan ia pun melampiaskannya buru-buru. Ciumannya turun ke leher Renata yang jenjang. Bibir hangat Julian merayap, mengecup sangat kuat dan meninggalkan bekas merah yang kentara. "Julian..." Suara

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   69.

    Saat Renata memposisikan dirinya, Julian tidak langsung mundur. Pria itu membungkuk tipis. Kehangatan napasnya menyapu daun telinga Renata ketika bibirnya berbisik dengan nada berat yang begitu intim."Kau selalu tahu cara membuat ruangan ini mendadak kehilangan udaranya, mi queruda," bisik Julian, suaranya halus namun sarat daya pikat yang pekat. "Gaun ini ... dan wajahmu yang semakin cantik siang ini, benar-benar menyiksaku pertahananku."Seketika bulu kuduk Renata berdiri. Panggilan mesra yang sudah lama tak didengarnya itu mengirimkan gelombang sengatan halus yang merambat dari tengkuk hingga ke dadanya. Renata mengetatkan jemarinya di atas pangkuan, berusaha keras menetralkan detak jantungnya yang mendadak tak beraturan."K... Kau sudah lama datang?" tanya Renata basa-basi, mengalihkan kikuk.Julian tersenyum sembari melangkah memutari meja lalu duduk di hadapannya. Manik matanya yang kelam menatap Renata tanpa berpaling sedikitpun. Seorang pelayan tak lama datang membawa

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 15. Telepon Misterius

    Saat tangan Julian sudah di dada Renata, tiba-tiba alarm sistem keamanan rumah berbunyi pelan. Julian melepaskan Renata dan melihat ke ponselnya dengan tatapan tak biasa, wajahnya yang dingin berubah memucat. "Ada apa?" tanya Renata cemas melihat ekspresi yang jarang terjadi pada pria sedingin sua

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 3. Perhatian Terselubung

    Satu malam panjang, berhasil Renata lewati dengan dingin dan mencekam. Ia menarik tubuhnya yang kaku di sofa tunggal itu, memijat lehernya dan menselonjorkan kakinya yang semalam terus menekuk. Kondisinya begitu kontras dengan si egois itu yang mungkin bangun kesiangan karena terlalu nyaman tidur d

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 2. Malam Pengantin

    “Sampai kapan kau mau berdiri di sana seperti manekin?!” Suara tajam Julian merobek kesunyian. Renata yang berdiri di tengah ruangan dan masih mengenakan gaun pengantinnya yang berat saat tiba di kediaman pribadi Julian itu tersentak. “Aku … aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”Pandangann

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 1. Mahkota Berduri

    Di depan cermin setinggi plafon yang berbingkai emas murni, Renata Lurian menatap bayangannya sendiri seolah sedang melihat orang asing. Gaun pengantin off shoulder berwarna putih gading itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lekuk lehernya yang jenjang dan tulang selangka yang rapuh. Rat

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status