Share

CHAPTER #2

Author: ALAYABU
last update Last Updated: 2025-10-06 04:06:35

Setelah meninggalkan dapur dan menerima pujian tak terduga dari Duchess Villon, aku kembali ke kamarku. Ketenangan yang baru kurasakan memberiku energi untuk menghadapi tantangan berikutnya adalah Duke Villon, Ayahku.

Aku duduk di meja tulisku. Aroma tinta dan kertas segera memenuhi indraku. Aku mengambil pena bulu angsa dan selembar perkamen bersih. Aku mulai menulis laporan singkat, rapi, dan terperinci mengenai kejadian di dapur. Aku mencantumkan nama Petugas Gerbang Thomas dan kesalahan Kepala Koki Jean dengan bahasa yang formal dan objektif.

Aku memastikan laporan ini tidak bernada keluhan, melainkan sebuah laporan administratif dari seorang pengawas rumah tangga yang efisien.

Setelah selesai, aku memanggil Seraphina. "Antarkan ini pada Ayah. Bilang padanya, aku akan menunggunya di Ruang Baca. Ada hal yang jauh lebih penting yang perlu kita diskusikan setelah dia menangani laporan ini."

Perintah ini adalah pembalasan dendam pertamaku pada masa lalu. Dulu, Ayah selalu mengabaikanku. Sekarang, aku akan memaksanya datang kepadaku.

灬♥ω♥灬

Aku menunggu Ayah di Ruang Baca. Aku hanya duduk di kursi samping, menunggu.

Krieeett...

Pintu Ruang Baca terbuka. Duke Villon masuk, jubahnya masih tersampir di bahu. Wajahnya keras dan lelah, tetapi rasa ingin tahu terlihat jelas karena laporan dapurku yang sangat rapi.

Eleanora," panggilnya, suaranya dalam dan tanpa kehangatan. "Aku sudah melihat laporanmu. Tindakan di dapur itu efisien. Namun, satu kali tindakan cerdas tidak menghapus dua puluh tahun kemalasan. Sekarang, katakan padaku, apa urusan yang jauh lebih penting hingga kau mengganggu pekerjaanku?"

Aku berdiri, membungkuk padanya sebentar, tetapi kembali berdiri tegak. Aku harus mengabaikan kekerasannya. "Terima kasih, Ayah. Masalah dapur hanyalah gejala. Aku ingin membahas penyebab kelemahan fondasi ekonomi Kediaman Villon."

Duke Villon kini duduk dikursi yang ada disebelah Eleanora.

Ia hanya mendongak sedikit dari mejanya. "Fondasi kita stabil. Jangan membuat asumsi berdasarkan insiden kecil, Eleanora. Kau tahu seberapa jauh pengetahuanmu tentang perdagangan dan administrasi?" Nadanya terdengar seperti sebuah fakta yang tak terbantahkan, bukan teguran emosional.

Tidak, Ayah," jawabku, suaraku dipenuhi keyakinan yang dingin, namun terukur. "Jika masalah sekecil di dapur bisa disebabkan oleh kelalaian logistik, aku curiga defisit Tambang Merah juga disebabkan oleh kelalaian tersembunyi. Aku yakin Duke Alistair Eiser menekan kita secara sistematis melalui pungutan logistik di jalur Utara."

Duke Villon meletakkan pena bulu angsanya yang tadi ia pegang sedari masuk di meja dengan presisi yang hati-hati.

Dia tidak marah, tetapi aura dingin di sekitarnya terasa menekan. "Tuduhanmu terlalu besar, Eleanora. Aku tidak mentoleransi omong kosong tanpa bukti. Aku yang bertanggung jawab atas beban ini, bukan kau. Buktikan tuduhanmu dengan data, atau jangan bicara."

Aku melangkah mendekat. "Selama ini, aku hanya menghabiskan uang, dan aku malu. Sekarang aku menyadari betapa rentannya posisi kita."

"Aku sadar, Ayah." kataku, nadaku sangat rendah, menunjukkan penyesalan yang tulus. "Aku telah membuang waktu Ayah dan sumber daya kastil selama bertahun-tahun. Masa lalu tidak akan kembali, tetapi aku mohon, berikan aku kesempatan untuk mengabdikan waktu yang tersisa untuk membuktikan bahwa aku bisa."

Duke Villon menatapku dingin. "Kalau begitu, bagaimana caramu belajar? Apa kau akan memilih gurumu sendiri, atau kau biarkan aku yang memilihkan guru yang layak untuk seorang putri yang baru sadar?"

Aku tahu ini adalah ujian dari kekakuannya. "Aku akan memilih guru terbaik, Ayah," jawabku tanpa ragu.

Aku harus memilih guru yang tepat. Di kehidupan sebelumnya, mereka adalah yang terbaik—otoritas yang membentuk kecerdasan Putra Mahkota.

Saat ini, nama-nama mereka mungkin asing atau hanya diketahui karena disiplin keras mereka, tetapi mereka adalah yang paling brilian.

Menggunakan mereka akan mempercepat tujuanku dan membuktikan kepada Ayah bahwa standarku kini setinggi Istana Kekaisaran. Aku hanya mencari alat, bukan koneksi emosional.

Aku melanjutkan permintaanku, menunjukkan strategi yang terperinci.

"Aku juga butuh bantuan, Ayah. Aku tidak bisa belajar sendiri. Aku butuh empat ahli terbaik di Kekaisaran."

"Pertama, aku membutuhkan Tuan Elron untuk mengajariku seluk-beluk Statistika Perdagangan dan Audit Keuangan dengan benar."

"Selain itu, aku perlu menguasai cara bicara dan menulis yang benar di istana. Aku butuh Nyonya Isolde untuk Negosiasi Diplomatik, dan Tuan Alaric untuk Tata Bahasa Resmi Kekaisaran."

"Dan yang paling penting, Ayah, aku harus tahu siapa musuh kita. Aku butuh seseorang yang ahli dalam Sejarah Kontemporer dan Geografi Politik wilayah Utara. Aku butuh Profesor Lysander."

Duke Villon menatapku. Kekakuan di wajahnya sedikit melunak, digantikan oleh kebingungan yang samar. "Tunggu sebentar," katanya, suaranya yang datar kini terdengar sedikit off-key. "Kau yakin dengan guru-guru ini? Profesor Lysander belum pernah mengajar bangsawan. Tuan Alaric baru lulus, dan Tuan Elron... kau tahu reputasi kejamnya. Kenapa kau memilih guru yang tidak dikenal, kecuali yang terkenal karena kekerasannya?"

"Aku tahu Ayah akan memeriksa latar belakang mereka," kataku, menjaga ketenangan. "Aku percaya pada keahlian mereka, bukan pada popularitas mereka saat ini. Aku akan membuktikan nilaiku sebagai pewaris, bukan hanya dengan ucapan, melainkan dengan data yang akan Ayah selidiki sendiri."

Aku menundukkan kepala. "Aku mohon padamu, Ayah. Aku butuh para ahli itu. Aku butuh pengetahuan."

Duke Villon menatapku lama, ekspresinya tidak berubah, kaku seperti patung. Aku tahu dia sedang memproses tuntutan yang melibatkan tutor-tutor terbaik Kekaisaran. Di balik kebekuannya, aku tahu ini adalah ujian yang muncul dari rasa sayangnya yang tersembunyi.

"Baiklah," kata Duke Villon, suaranya memotong keheningan dengan tajam dan final. "Aku akan mengizinkannya."

Dia mengambil pena dan mulai menulis catatan instruksi. "Aku akan memberikan akses penuh pada semua dokumen yang kau minta. Aku akan memanggil semua tutor yang kau sebutkan. Namun, jika ini adalah permainanmu lagi, akses ini akan kucabut dan kau tidak akan pernah melihat buku administrasi lagi seumur hidupmu. Aku akan menyelidiki klaimmu tentang jalur Utara—dan kau akan mempertanggungjawabkan setiap kata itu."

"Tidak akan, Ayah," jawabku.

灬♥ω♥灬

Minggu-minggu berikutnya adalah neraka yang manis. Aku harus mengimbangi dua puluh tahun kemalasan dalam hitungan minggu.

Para tutor mengambil waktu enam jam sehari untuk sesi formal, tetapi sisa delapan belas jam kujalani di bawah tekanan tugas yang tiada habisnya. Aku hidup dalam siklus konstan antara kopi pekat dan rasa sakit kepala.

Sesi bersama Tuan Elron, sang ahli Statistika Perdagangan, adalah yang paling brutal. Pria itu, dengan kacamata berbingkai perak dan pena yang tajam, tidak mengenal kompromi. Ia memaksaku langsung berhadapan dengan soal yang terasa terlalu spesifik.

"Lady Eleanora, lihat buku besar ini. Defisit $10,000 perak di Tambang Batu Giok 'Sungai Utara' sering kali tidak disebabkan oleh pajak, melainkan oleh biaya tenaga kerja yang lebih tinggi."

Ia menunjuk tumpukan laporan fiktif. "Kau telah menghitungnya salah lima kali. Coba kau hitung ulang. Kerjakan sampai selesai. Aku tidak peduli kau seorang putri, tidak ada air mata yang akan mengubah angka."

Tambang Batu Giok 'Sungai Utara'? kasus yang ia pilih... itu hampir mirip dengan situasi yang hadapi di Tambang Merah.

Setelah Tuan Elron pergi, aku terpaksa begadang. Cahaya lilin di kamarku sering padam saat fajar menyingsing. Otakku terasa seperti spesimen yang disiksa.

Aku harus memaksakan fokus pada tumpukan laporan yang tebal, mencium bau debu dan kertas tua yang menyengat.

Saat aku mencoba menerapkan teorinya pada data rahasia Ayah, kepala terasa berdenyut sakit.

Frustrasi memuncak. Aku mengambil perkamen yang kuisi dengan angka-angka yang salah dan merobeknya dengan suara geram.

Aku membenci kelemahan otak ini.

Kadang-kadang, aku hanya bisa menunduk, mengepalkan tangan di bawah meja, berusaha menahan diri agar tidak menangis keras. Kenapa ini begitu sulit?

Saat aku mencoba memahami alur kas, kepala terasa berdenyut sakit. Frustrasi seringkali memuncak; aku harus merobek perkamen yang kuisi dengan angka-angka yang salah berulang kali. Suara kertas robek itu memicu kemarahan.

Untuk setiap mata pelajaran—Statistik, Diplomasi, Sejarah—aku memaksakan diri minimal lima jam sehari dalam sesi formal, namun kewajiban tugasku mengisi sisa malam. Aku belajar tentang Tekanan Pajak di jalur Sungai Utara hingga mataku terasa kering dan perih. Setiap informasi baru yang kudapat harus dibayar dengan energi mental yang terkuras habis.

Setelah tiga minggu berjuang tanpa istirahat yang memadai, tubuhku mulai memberikan sinyal bahaya. Rasa sakit kepala yang konstan telah menjadi teman tidurku.

Suatu sore, aku memutuskan untuk mengambil istirahat sejenak dengan Elias. Aku ingin menghirup kepolosan sebentar, melupakan angka-angka.

Aku berlutut di samping Elias, membantunya membangun benteng. Aku tertawa lembut ketika dia menggunakan balok yang salah.

"Lihat, Kakak! Ini tinggi sekali!" seru Elias, matanya berbinar bangga.

Tiba-tiba, di tengah tawa kami, rasa sakit yang familier menyerang pangkal hidungku. Aku merasakan cairan hangat menetes. Mimisan kembali muncul, kali ini deras dan tiba-tiba.

Darah merah gelap segera menodai gaun creme yang kukenakan. Aku refleks menutup hidung dengan tangan.

Elias yang polos terkejut melihat darah di wajahku. Ia menjatuhkan baloknya dan berteriak panik.

"Kakak sakit! Kakak sakit!"

Elias tidak peduli pada darah yang menetes. Ia menangis sesenggukan, memeluk pinggangku erat-erat seolah takut aku akan menghilang. Pundaknya yang kecil bergetar hebat.

"Huhu... Kakak sakit ya? Kakak jangan kecapekan! Jangan sakit! Huhu, Kakak harus istirahat!" Suara anak-anaknya tulus dan penuh ketakutan. "Cuma Kakak yang Elias paling sayangi!"

Aku memeluk Elias kembali, darahku mengotori baju tidurnya, tetapi aku tidak peduli. Pelukan Elias adalah obat paling ampuh. "Aku tidak apa-apa, Elias. Kakak janji akan istirahat."

Kejadian mimisan ini tidak luput dari mata orang-orang. Nyonya Pengasuh yang berada di dekat sana langsung panik dan bergegas memanggil tabib.

Kabar segera tersebar cepat di Castle Villon, dari dapur hingga koridor bangsawan: Putri Eleanora jatuh sakit karena belajar terlalu keras.

Duchess Villon datang dengan wajah pucat dan memerintahkanku beristirahat total selama dua hari. Duke Villon bahkan mengirim surat tangan, memohonku untuk menunda pelajaran.

Para pelayan yang merawatku, termasuk Seraphina, kini menatapku dengan kekhawairan yang tulus. Mereka ingat bagaimana Eleanora yang sombong tiba-tiba memecahkan masalah busuk di dapur, dan sekarang, dia merusak dirinya sendiri demi keluarga. Momen ini menghapus sisa-sisa skeptisisme mereka.

Eleanora Villon tidak sedang bermain-main. Kelelahan, darah, dan air mata Elias telah mengesahkan perubahanku.

Namun, reaksi yang paling dramatis datang dari tempat yang paling tak terduga: Menara Sihir Kerajaan.

Alexandros de Villon, kakak laki-lakiku yang jauh lebih tua—seorang genius akademik yang menghabiskan seluruh hidupnya terkunci di antara buku-buku kuno dan formula sihir—tiba-tiba muncul di Castle Villon.

Alexandros dikenal sebagai kutu buku paling fanatik di Menara Sihir, sebuah institusi yang melarang anggotanya meninggalkan menara tanpa izin resmi selama masa studi. Dia telah menerobos menara sihir hanya karena mendengar kabar aku sakit dan mimisan.

Aku sedang berbaring di tempat tidur ketika pintu kamarku terbuka kasar. Alexandros berdiri di sana, rambut cokelatnya acak-acakan dan jubah akademiknya kusut—tanda jelas bahwa ia telah melakukan perjalanan darurat yang melanggar aturan.

"Eleanora!" Panggilnya, suaranya yang biasanya tenang kini dipenuhi kepanikan yang belum pernah kulihat.

Dia berlutut di samping tempat tidurku, menggenggam tanganku yang dingin. Sentuhannya kasar, namun penuh cinta yang terpendam.

"Kenapa kau begitu ceroboh? Aku mendengar kau mimisan! Kau harusnya hanya makan kue dan membaca novel, bukan menghitung statistik sialan itu!" omelnya, matanya merah karena kurang tidur dan kekhawatiran.

Aku tersenyum lembut padanya. Alexandros adalah satu-satunya anggota keluarga yang benar-benar menyayangiku tanpa syarat di kehidupan sebelumnya.

"Aku baik-baik saja, Kak Alex," bisikku. "Aku hanya sedang sibuk menyelamatkan kehormatan keluarga kita. Kau tidak perlu khawatir."

Alexandros mendengus, lalu menyentuh dahiku dengan punggung tangannya. "Aku akan tetap di sini sampai kau benar-benar pulih. Beri tahu aku guru mana yang membuatmu bekerja keras, akan kucampakkan dia ke kolam istana."

Kedatangan Alexandros menjadi segel terakhir yang mengukuhkan perubahan Eleanora. Ini menunjukkan kepada seluruh kastil bahwa tindakan Eleanora bukan hanya sandiwara, tetapi perubahan yang begitu besar hingga mampu menarik sang genius dari kuil akademiknya.

Setelah insiden mimisan di depan Elias, hidupku di Castle Villon sedikit melambat. Aku terpaksa mengikuti perintah Duke dan Duchess untuk beristirahat. Aku menghabiskan dua hari di tempat tidur, hanya ditemani Seraphina dan kunjungan singkat, penuh kekhawatiran dari Kak Alex (Alexandros).

Kak Alex, setelah melanggar aturan Menara Sihir, hanya bisa tinggal sebentar. Sebelum dia pergi, dia memberiku buku tebal yang terbuat dari kulit:

"Risalah Logika dan Analisis Strategis".

"Jangan terlalu keras pada dirimu," bisiknya, meletakkan buku itu di meja sampingku. "Tapi jika kau benar-benar ingin belajar, gunakanlah ini. Jangan buang waktumu pada buku teks dasar."

Aku tersenyum. Itu adalah hadiah yang paling tulus.

Meskipun beristirahat, pikiranku terus bekerja. Aku menggunakan waktu itu untuk membaca laporan-laporan awal yang Ayah berikan. Aku membandingkan pengeluaran rumah tangga Villon dengan rumah Duke lain, dan aku semakin yakin bahwa Duke Alistair Eiser sedang mencekik kami.

Setelah pulih, aku merasa sudah waktunya keluar. Aku membutuhkan informasi dan intuisi. Aku harus menganalisis pasar—tempat teori yang kudapat dari buku Tuan Elron diuji.

"Seraphina," kataku. "Siapkan gaun katun paling sederhana. Kita akan ke pasar kota. Dan siapkan tudung besar. Bawa buku catatan kecil dan pena."

Aku dan Seraphina berjalan di tengah keramaian pasar. Aku berusaha untuk tetap menjadi pengamat dan analis.

Aku tidak hanya melihat-lihat. Saat kami berjalan, mataku secara naluriah mengamati detail yang tidak akan dilihat Eleanora yang lama.

Harga Komoditas-Aku berhenti di stan gandum dan mencatat harga biji-bijian. Aku membandingkannya dengan data bulanan yang kulihat di laporan Ayah.

"Harga gandum seharusnya turun $0.05 perak pada minggu ini. Kenapa masih bertahan? Ada penimbunan di suatu tempat."Ucapku pelan hampir tak terdengar.

Jalur Pasokan-Aku mengamati truk dan gerobak. Aku mencatat pelat identitas dan logo pedagang.

Sembari menoreh tintan diatas kertasku. Aku berfikir. "Sebagian besar sayuran datang dari jalur Barat Daya, yang jauh. Pasokan dari Utara, yang seharusnya lebih cepat, hampir tidak ada. Klaimku tentang pungutan jalan Alistair mulai terbukti."

Daya Beli Rakyat-Aku melihat pakaian dan kondisi masyarakat yang berbelanja. Meskipun ada keramaian, sebagian besar hanya membeli sedikit atau menawar dengan sangat keras.

"Kekuasaan Duke Villon harusnya menjamin kesejahteraan ini, tapi kelihatannya tekanan ekonomi sangat terasa."Batinku melihat Rakyat yang berlalu lalang.

Aku mencatat semua pengamatan ini dalam buku kecilku. Bunyi goresan pena yang cepat di tengah keramaian adalah manifestasi dari studiku yang keras.

Saat melewati toko roti yang ramai, langkahku terhenti. Aku mendengar teriakan marah yang menusuk.

"Aku akan memukulmu, dasar pencuri kecil! Kembalikan rotiku!"

Seorang anak kecil yang kurus kering sedang bersujud di tanah. Di sampingnya, seorang Tukang Roti berotot dengan celemek bertepung sedang mengacungkan tangan, wajahnya merah padam.

Jantungku berdebar kencang. Aku ingat adegan ini. Dalam kehidupan sebelumnya, di titik yang sama persis, Lyra (putri Count) akan muncul dari kerumunan, memancarkan kebajikan, membayar rotinya, dan anak itu akan selamat. Aku ingin melihat apakah takdir akan berjalan sama. Aku bisa berdiri di sini, mengamati, dan menghindari keterlibatan yang akan menarik perhatian yang tidak kuinginkan.

Aku menunggu. Satu detik. Dua detik. Keheningan tegang menyelimuti area itu, tetapi tidak ada gaun sutra, tidak ada suara lembut, tidak ada Lyra.

Namun, semakin kutunggu, kejadiannya semakin memburuk dan menjijikkan. Anak itu terus bersujud, menundukkan kepalanya hingga debu jalanan menempel di rambutnya. Tukang Roti itu, Tuan Herran, justru semakin emosi.

"Aku tidak peduli kau lapar! Kau tahu betapa sialnya aku hari ini?!" bentaknya, suaranya memecah keheningan pasar. "Aku kehilangan dua roti, dan karena itu, Nyonya Saudagar Besar yang menjanjikan kontrak besar membatalkan semuanya! Rotiku! Keringatku! Pergi sebelum aku patahkan tangan kotormu!"

Anak itu hanya bisa menangis keras, sujudnya semakin dalam. Aku menyadari, takdir telah menyimpang. Tidak ada yang akan datang untuk menyelamatkan anak itu. Aku melangkah maju. "Cukup," suaraku rendah dan tegas. "Berapa kerugianmu?"

Aku mengangguk. Aku meraih dompet kecilku. Aku berlutut di hadapan anak itu, memberinya roti, lalu aku berbalik menghadap Tukang Roti.

"Tunggu sebentar, Tuan Herran. Sebelum saya membayar kerugian Anda," kataku. "Rotimu pasti enak sekali sampai seseorang rela mencurinya. Bolehkah saya mencobanya?"

Tuan Herran, masih terkejut, menyodorkan roti yang baru keluar dari oven.

Aku menggigitnya. Rasa mentega yang kaya dan ragi yang sempurna meledak di lidahku. Mataku membulat. Aku teringat. Tukang Roti Herran ini adalah aset emas.

"Tuan Herran," kataku, mataku kini bersinar dengan ambisi yang tersembunyi. "Rotimu tidak seharusnya hanya dijual di sini. Aku mau membelinya. Aku akan menjadi penyokong modalmu."

Tuan Herran terkesiap, celemeknya yang bertepung bergerak. "Lady? Modal? Saya hanya punya resep, Lady..."

"Aku akan memberimu modal yang cukup untuk menyewa toko yang lebih layak dan membeli oven yang lebih besar," potongku dengan nada tegas namun lembut. "Rotimu adalah emas, dan aku akan membantumu mengaturnya. Aku hanya ingin persentase keuntungan yang adil."

"Persentase?" Tuan Herran tampak bingung, ini jauh melampaui masalah dua roti yang dicuri.

"Ya. Tapi ada satu syarat lagi." Aku menunjuk anak yang masih berdiri gemetar di sudut. "Anak ini. Theo. Aku akan membayarmu untuk memberinya pekerjaan di toko barumu. Latih dia. Ajari dia cara bicara, etiket melayani pelanggan, dan bersikap jujur."

Aku menatap Tuan Herran dengan pandangan penuh perhitungan. "Dia akan menjadi pelayan di toko. Tidak ada gaji selama setahun pertama; sebagai gantinya, ia mendapat makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang layak. Setelah setahun, jika dia membuktikan dirinya, kau bayar dia sesuai standar. Apakah kau setuju?"

Tuan Herran menatapku, lalu menatap Theo yang kurus, kemudian menatap tas uang yang kupegang. Kebingungan, harapan, dan kejutan tumpang tindih di wajahnya. Itu adalah Kesepakatan yang tak terduga.

"Saya... saya setuju, Lady," jawabnya, suaranya tercekat oleh emosi.

Aku menyerahkan uang muka yang cukup besar dan kartu namaku. "Temui Kepala Pelayanku besok, Tuan Herran. Kita akan bahas rincian kontraknya secara resmi."

Aku menyerahkan sejumlah besar uang dan kartu namaku (yang aku dapatkan dari Seraphina). "Temui Kepala Pelayanku besok. Kita akan bahas kontraknya."

Tuan Herran, si Tukang Roti, menatapku dengan mata penuh rasa terima kasih dan kebingungan.

Tepat saat aku berbalik untuk pergi, angin kencang berhembus tiba-tiba melewati pasar yang sempit. Tudung katun besarku tersibak dengan paksa oleh angin.

Keheningan yang mematikan melanda pasar. Pedagang, pembeli, dan bahkan Seraphina sejenak terpaku. Wajahku terekspos. Aku segera menarik tudungku kembali. Perhatian yang tiba-tiba ini terasa mengganggu, seperti paparan yang tidak diinginkan, yang akan merusak strategiku untuk bergerak diam-diam.

Bisikan-bisikan segera meledak, bercampur dengan kekagetan, kekaguman, dan perdebatan sengit.

"Ya Tuhan... itu Lady Eleanora de Villon! Wajah itu memang tak nyata."

"Wah, itu Lady yang baru-baru ini sakit parah karena belajar? Aku yakin dia sandiwara! Lihat saja wajahnya yang memukau. Mana mungkin dia tiba-tiba peduli pada Tukang Roti miskin. Pasti ada maksud tersembunyi!"

Tiba-tiba, suara seorang tetangga pedagang sayur menyela dengan keras.

"Hei, diam! Jangan menuduh yang tidak-tidak tahu! Aku kenal Tuan Herran, itu pasti hal yang tidak akan ia buat-buat! Dia kemarin bekerja keras sekali. Aku bahkan ikut membantunya membuat roti! Aku bahkan ingin menangis menyiapkan pesanan itu kemarin, dan semuanya batal! Lady itu datang dan memperbaiki segalanya. Mana mungkin itu sandiwara!"

"Aku tidak pernah melihatnya melakukan kejahatan, kurasa dia memang baik. Mungkin semua cerita buruk itu hanya bualan wanita bangsawan lain yang iri pada kecantikannya? Mengerikan juga jika ada yang iri dengan kecantikan kita ya."

Aku merasakan gelombang pengamatan itu. setidaknya, aku telah menciptakan sekutu di antara rakyat yang akan membela keaslian perubahanku.

Kami tiba kembali di Castle Villon. Aku melepas tudungku dan duduk di sofa kamarku, merasakan kelelahan dan ketegangan yang bercampur aduk.

Seraphina mendekatiku, matanya berkaca-kaca, tetapi kali ini bukan karena ketakutan, melainkan kekaguman dan lega.

"Lady," katanya, suaranya bergetar halus. "Saya tidak pernah berpikir... tidak ada bangsawan yang akan turun ke jalan, apalagi melakukan investasi semacam itu. Anda... Anda benar-benar luar biasa hari ini."

Aku hanya tersenyum tipis. "Itu hanya masalah perhitungan, Seraphina. Dia seorang jenius roti, dan aku butuh uang darinya di masa depan."

"Bukan itu, Lady," bisik Seraphina, memegang erat gaun katunku. "Anda memberi harapan kepada anak kecil itu. Anda menyelamatkan kehormatan Tukang Roti itu. Anda melakukan hal yang benar."

Aku memejamkan mata. Kepuasan itu nyata. Aku telah mengubah nasib dua orang dan mengamankan sekutu bisnis yang berpotensi besar, sambil menepis rumor burukku.

Sesaat kemudian, aku bangkit dan berjalan ke meja tulis. Aku mengambil perkamen dan pena.

"Aku akan menemui Ayah besok," kataku pada Seraphina, suaraku kembali menjadi perencanaan strategis. "Kita tidak boleh menunda. Aku sudah punya data dari pasar."

Aku mulai menulis pesan resmi kepada Duke Villon.

Ayah yang terkasih,

Saya telah menyusun garis besar awal untuk strategi ekonomi baru Tambang Merah. Saya memerlukan waktu Anda besok pagi untuk menyajikan beberapa temuan. Selain itu, sehubungan dengan tekanan diplomatik saat ini, saya sarankan agar pengiriman hadiah formal kepada Duke Utara ditunda tanpa batas waktu. Kita harus menunjukkan ketegasan, bukan keputusasaan.

Hormat saya, Eleanora de Villon.

Aku menyegel surat itu dengan lilin berlambang Villon. Keputusan itu tenang, logis, dan tegas.

"Antarkan ini segera," perintahku, menatap Seraphina. "Aku ingin dia menerima ini malam ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #107

    Waktu merayap seolah enggan meninggalkan Kediaman Bintang Utara. Lima jam telah berlalu sejak surat dari Count Vilos dibalas, dan matahari kini tepat berada di puncak langit, membiarkan cahayanya yang paling terik menembus kaca jendela ruang kerja Eleanora. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa statis, seolah tersedot keluar oleh sebuah kehadiran yang luar biasa kuat sebelum sosoknya benar-benar muncul.Suara langkah kaki yang berat dan penuh wibawa terdengar mendekat. Tanpa ketukan, pintu jati yang kokoh itu terbuka lebar.Tanpa ketukan, pintu kayu ek yang berat itu terbuka lebar.Zepyr Kyrios Basileus berdiri di sana.Rambut emasnya yang mewah tampak sedikit berantakan, beberapa helainya jatuh menjuntai di dahi, membingkai wajahnya yang pucat porselen dengan cara yang justru terlihat liar.Ia mengenakan kemeja putih berenda yang elegan dengan rompi hitam yang membentuk lekuk tubuh tegapnya. Eleanora mendongak, dan seketika itu juga matanya tertuju pada tangan sang Putra Mahkota

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #106

    Malam di Kediaman Bintang Utara merayap dengan keanggunan yang menyakitkan, seolah waktu sendiri enggan beranjak dari sisi Eleanora de Villon.Di dalam kamarnya yang luas, lilin-lilin aromatik beraroma melati mulai memendek, meneteskan air mata lilin yang membeku di atas piringan perak. Eleanora duduk di depan meja riasnya, sebuah mahakarya dari kayu mawar yang dipenuhi dengan botol-botol kristal berisi ramuan kecantikan.Namun, matanya yang berwarna hijau zamrud tajam itu tidak menatap pada pantulan wajahnya yang rupawan, melainkan pada kehampaan di balik cermin.Ia teringat betapa dulu, sebelum maut menjemputnya di sel yang dingin, ia akan menghabiskan berjam-jam hanya untuk memastikan setiap helai rambut peraknya tertata sempurna demi menarik perhatian Zepyr.Dulu, ia adalah lambang keputusasaan; seorang putri Duke yang martabatnya luruh karena mengejar cinta seorang pria yang bahkan tidak sudi meliriknya. Bayangan dirinya yang menangis di koridor istana hanya karena Zepyr mengabai

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #105

    Count Vilos mengangguk mantap. Ia tidak pernah meragukan gadis di depannya ini. Ingatannya kembali ke beberapa bulan lalu, saat istrinya, Countess Vilos, menderita sakit misterius yang di kehidupan sebelumnya—yang hanya diketahui Eleanora—seharusnya berakhir dengan kematian. Namun, berkat saran medis yang "tidak sengaja" diberikan Eleanora, istrinya selamat. Belum lagi saat Elara, putrinya yang pemalu, nyaris dikucilkan oleh sekelompok Lady bangsawan di pesta teh. Eleanora berdiri di sana, melindungi Elara dengan wibawa yang luar biasa, membuat faksi Castillon terdiam.Eleanora bangkit berdiri, gaunnya yang berbahan linen halus berdesir saat ia berjalan mendekati Count Vilos."Sementara itu, saya ingin Anda memperketat pengawasan pada alur logistik aliansi kita. Terutama distribusi batu sihir dari tambang Elara yang dialokasikan untuk wilayah Barat. Kita akan membungkam mereka dengan hasil kerja yang nyata dan stabilitas ekonomi yang tidak bisa mereka bantah. Biarkan mereka sibuk deng

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #104

    Lembayung senja mulai merambat masuk melalui jendela kaca patri di Kediaman Bintang Utara, membiaskan warna jingga yang hangat sekaligus pilu di atas lantai marmer.Eleanora de Villon masih terpaku di kursi jatinya, jemarinya yang ramping gemetar halus saat ia meletakkan kembali pulpen bulu angsa yang tadi diambil paksa oleh kehangatan tangan Zepyr.Ruangan itu kini sunyi, namun aroma kayu cendana milik sang Putra Mahkota seolah tertinggal di udara, mencekik setiap sel saraf Eleanora dengan sisa-sisa ketegangan yang belum tuntas.Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan debar jantungnya yang masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan. Setiap detik yang ia habiskan bersama Zepyr di kehidupan kali ini terasa seperti berjalan di atas hamparan duri yang dibalut sutra.Indah, memabukkan, namun penuh dengan ancaman luka yang bisa menganga kapan saja.Malam di Kediaman Bintang Utara tidak pernah benar-benar sunyi sejak Zepyr menetapkan langkahnya di sana. Udara dingin yang me

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #103

    Matahari merayap naik, menyentuh tepian meja jati yang dipenuhi tumpukan dokumen perkamen. Eleanora de Villon masih terpaku di kursinya, jemarinya yang ramping mencengkeram pulpen bulu angsa hingga ujungnya sedikit melengkung. Di depannya, Zepyr tidak lagi berpura-pura membaca. Pria itu telah meletakkan bukunya, membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran kursi yang berat, sementara matanya yang tajam tidak pernah lepas dari sosok Eleanora.Keheningan di ruangan itu begitu tebal, hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti hantaman palu. Eleanora bisa merasakan tatapan itu—sebuah tatapan yang tidak hanya melihat, tapi seolah menguliti setiap lapisan pertahanannya. Ia tahu Zepyr sedang memperhatikannya, menghitung setiap helaan napasnya, dan itu membuatnya merasa sesak."Kau terlalu tegang, Eleanora," suara Zepyr memecah kesunyian, rendah dan bergetar, mengirimkan gelombang asing ke tulang belakang Eleanora.Eleanora tidak mengangkat kepalanya. Ia tetap menunduk, memfokuskan

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #102

    Eleanora de Villon menarik napas pendek, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang tidak terkontaminasi oleh aroma kayu cendana milik Zepyr. Jantungnya masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan—sebuah pemberontakan organ tubuh yang tidak bisa ia kendalikan. Sentuhan bibir Zepyr di pelipisnya tadi bukan sekadar kontak fisik; itu adalah sebuah segel yang membakar harga dirinya.Ia memaksakan jemarinya yang ramping untuk kembali menggenggam pulpen bulu angsa. Ujung logam pulpen itu mencium permukaan kertas perkamen dengan suara goresan yang kaku. Eleanora sedang menuliskan angka-angka alokasi batu bara untuk wilayah Barat, namun matanya terus-menerus melirik ke arah Zepyr yang kini kembali duduk di singgasana sementaranya di sudut ruangan.Zepyr tidak memandangnya. Pria itu tampak sibuk dengan buku tebal di tangannya, namun Eleanora bisa melihat bagaimana rahang Zepyr mengatup begitu rapat hingga otot-otot di sekitar wajahnya menegang. Zepyr seolah sedang berperang den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status