Share

CHAPTER #1

Author: ALAYABU
last update Last Updated: 2025-10-06 00:31:35

Cahaya fajar menyusup melalui tirai satin tebal kamarku, melukis bayangan emas tipis di lantai marmer.

Aku terbangun dengan rasa sakit yang tumpul di dada, bukan dari demam penjara, melainkan dari memori yang dingin.

Napasku bergetar saat aku menyentuh tulang rusukku, memastikan diriku utuh.

Aku kembali. Aku masih Eleanora de Villon, Putri Duke Villon.

Wajahku, yang di kehidupan lalu dipuji sebagai kecantikan porselen kini terasa seperti topeng yang harus kugunakan untuk bertahan hidup.

Kemewahan yang mengelilingiku—kasur beludru, dressing table perak, permadani Persia—kini terasa seperti ilusi yang rentan.

Aku telah melihat kekayaan ini runtuh, melihat kehormatan ini remuk. Aku tahu, tanpa strategi yang cerdas, kemewahan ini akan menjadi penjara.

Aku menekan bel panggilan di samping tempat tidur. Itu adalah tindakan otomatis, namun kini dilakukan dengan kesadaran penuh akan dampak tindakanku.

Aku tahu, tanpa strategi yang cerdas, tanpa ilmu yang kugadaikan demi pesta, kecantikan hanya akan menjadi kelemahan.

Tak lama, pintu terbuka, dan Seraphina masuk dengan langkah kecil, wajahnya menunduk dalam-dalam.

"Selamat pagi, Lady Eleanora," bisiknya, suaranya halus, seperti benang yang nyaris putus.

Melihatnya berdiri begitu rapuh, memori kematiannya kembali menghantamku, lebih tajam dari pisau.

Aku yang menyebabkan kematian tragis itu

Aku yang membuatnya kehilangan segalanya.

"Seraphina," panggilku.

Aku berusaha keras menjaga nada suaraku agar tetap netral, tidak terlalu manis yang akan membuatnya curiga ataupun terlalu kasar yang akan mengulang dosa lama.

"Tolong siapkan air mandiku."

Aku turun dari tempat tidur, melangkah pelan.

Aku bisa merasakan Seraphina sedikit tersentak saat aku tidak membentaknya atau melempar bantal ke lantai. Ini harus dibiasakan. Perubahan ini harus natural, dimulai dari tindakan kecil yang konsisten.

"Dan Seraphina," panggilku lagi, tepat sebelum aku masuk ke kamar mandi.

Dia berhenti, bahunya menegang.

"Setelah kau siapkan airnya," kataku. "Kau boleh sarapan dulu. Aku tidak butuh apa-apa saat mandi. Kau tidak perlu terburu-buru."

Keheningan melingkupi kamar. Seraphina mengangkat wajahnya sedikit. Matanya yang biasa dipenuhi kepasrahan, kini dipenuhi kebingungan dan harapan yang takut-takut.

Belum pernah Lady Eleanora mengizinkan pelayan sarapan sebelum dia selesai.

Selama bertahun-tahun, Seraphina terbiasa mendapat cacian karena berani terlambat satu detik. Perintah ini... terasa seperti jebakan baginya.

"Saya... Saya akan siapkan airnya dulu, Lady," ulangnya, suaranya tercekat. Aku mengangguk.

Tap

Tap

Tap

Setelahnya aku mendengar bunyi gemericik air mulai mengisi bak mandi di ruangan sebelah.

Setelah semuanya siap, aku merendam diri di bak mandi porselen yang dipenuhi air mawar hangat.

Aroma mawar dan minyak esensial yang kuat seharusnya menenangkan, tetapi yang kurasakan hanyalah kontras tajam dengan bau apek dan lembap dari jeruji besi.

Aku memejamkan mata, membiarkan aroma mawar menenangkan sarafku, sementara otakku menyusun rencana.

Aku membuka mata.

Air hangat telah mendingin, tetapi pikiranku terasa jernih. Aku harus bangkit dan mulai bertindak.

Kakiku berjalan keluar kamar mandi, dan masuk ke kamar.

Setelahnya aku mengenakan gaun pagi berbahan velvet tipis berwarna crème. 

Saat Seraphina membantuku mengencangkan korset.

Dari pantulan cermin aku melihat tangannya sedikit gemetar dan wajahnya terlihat pucat. Sambil mengenakan pakaian, aku memberikan perintah padanya.

"Seraphina, ambilkan aku sarapan ke kamar. Hanya teh herbal dan beberapa potong roti panggang dan keju. Aku ingin makan cepat."

Seraphina segera pergi dan kembali dengan nampan. Aku makan sarapanku dengan cepat dan diam.

Sementara aku makan, aku melihat Seraphina masih berdiri di dekat pintu, kakinya bergeser-geser gelisah.

Aku meletakkan cangkir teh. "Seraphina," kataku.

"Kau belum sarapan. Aku tahu kau hanya pura-pura melakukannya tadi. Wajahmu pucat."Suaraku sedikit memerintah, tetapi mataku lembut.

Seraphina tersentak, wajahnya pucat pasi karena ketahuan.

"Maafkan saya, Lady. Saya hanya... takut jika Lady tiba-tiba membutuhkan saya."

Aku menghela napas, rasa bersalah menghantamku lagi. Aku meraih keranjang buah di meja rias, mengambil sebuah apel merah berkilau, dan menyerahkannya padanya.

"Ini. Makanlah sekarang. Itu adalah perintah. Jangan pernah lagi mengabaikan kebutuhanmu demi diriku. Kesehatanmu lebih berharga dari sekadar gaun ini."

Seraphina membungkuk dalam, matanya berkaca -kaca, aku rasa dia terharu. "Terima kasih... Terima kasih banyak, Lady," bisiknya.

Ia meraih dan memegang apel itu dengan hati-hati. Itu adalah bukti izin dan perhatian yang selama ini hilang dari kehidupannya.

Setelah selesai sarapan pagi.

"Aku ingin menghirup udara segar diluar"

Aku perlu berfikir jernih sembari berjalan dipagi hari, ini akan membuat diriku jauh merasa segar.

Lalu, aku berdiri. Energi baru mengisi tubuhku.

"Seraphina," panggilku. "Temani aku. Aku akan berkeliling  Castle Villon sebentar. Aku ingin melihat-lihat."

Kakiku mulai melangkah keluar dari kamarku. Langkahku pelan, tidak lupa juga dengan keanggunan sekaligus penuh perhitungan. Yah, dulu aku menjunjung itu. Mana mungkin aku lupa, dan itu sudah menjadi kebiasaanku. 

Aku sengaja mengamati koridor Timur, memperhatikan debu di ukiran kayu, pola di permadani, dan melihat raut wajah para pelayan yang kebetulan berpapasan, mereka segera menunduk dalam-dalam.

Saat melewati koridor yang menuju sayap pribadi keluarga, aku mendengar suara tawa riang yang teredam—suara yang jarang kudengar.

Aku ingin melihatnya.

Tapi aku merasa gugup untuk bertemu.

Aku ragu.

Dengan kehati-hatian tanganku mulai membuka pintu.

Krietttt

Mataku melihat Elias yang duduk di karpet tebal.

Anak laki-laki itu sibuk dengan balok kayunya.

Disaat itu juga aku mengabaikan Nyonya Pengasuh yang terkejut, yang nyaris terjungkal karena melihatku tiba-tiba.

Kemudian, kakiku melangkah mendekat, berlutut perlahan di samping Elias.

Aku tidak langsung menyentuhnya. Aku hanya mengamati.

Wajah itu, wajah yang bahkan aku tidak ingan sama sekali. Di ingatanku bahkan hanya ada tangisan ketakutan darinya.

Rupanya wajahnya sangat halus. Lihatlah pipi itu, pipinya sangat cubby. Sepertinya sangat kenyal jika disentuh. Lucunya.

Sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku.

Kemudian aku berfikir.

Kenapa aku mengabaikan makhluk segemas ini, ya?.

Bahkan aku tidak ingat kenapa? Dan, apa sebabnya aku seperti itu? Apa karena aku terlalu fokus mengejar Putra Mahkota? Hmm..

"Apa yang sedang kau buat, Elias?" bisikku, suaraku selembut yang kuingat.

Elias mendongak.

Mata birunya yang besar menatapku, penuh rasa ingin tahu, tetapi ada garis samar ketakutan yang refleksif.

Bagi Elias, Kakak perempuannya adalah badai yang tak terduga.

Aku tahu, aku sudah pernah memberinya rasa ketakutan diwaktu ini. Dan aku ingin menghilangkannya segera.

Aku ingat, dimasa lalu kehidupan kedua ini. Aku pernah memarahinya dan membentaknya. Alasannya, karena waktu itu aku berfikir dia sangat menggangguku.

Ah, sekarang aku sadar. Aku-lah Sang Pengganggu itu.

"Ini... ini benteng," jawabnya pelan. "Tapi dia jatuh terus." Wajahnya cemberut sambil melihat bentengnya.

Aku tersenyum tulus. Dalam hatiku berisik, tolong wajahku jangan menakutkan didepannya.

Tanganku mulai mengambil balok yang jatuh itu dan meletakkannya kembali dengan hati-hati. Kemudian, membantunya membangun.

Aku menunjukan bagaimana membuat benteng yang tidak akan jatuh dengan fondasi yang lebih lebar.

Tak!

Tak!

Bunyi balok beradu menjadi melodi yang menyenangkan.

Aku membenarkan balok dasarnya.

"Oh, itu masalahnya!" Ujarnya terkejut. Kemudian, ia tertertawa.

Aku juga tertawa dengan kecil karena reaksinya. Suara asing di Castle Villon itu menggema.

Dia sangat menggemaskan sekali...

"Benteng harus punya dasar yang lebar, Elias. Kalau dasarnya kuat, dia tidak akan jatuh." Ucapku penuh dengan senyum ketulusan.

Elias terdiam sejenak, lalu matanya berbinar. Dia menatap fondasi yang sekarang lebih stabil.

"Jadi, kalau aku buat dasar yang semakin lebar," kata Elias dengan suara kecil penuh harapan, "Dia bisa tinggi sekali?"

"Tentu saja," kataku, mengangguk.

Tanganku bergerak menyentuh lembut rambut halusnya. Sentuhan itu terasa hangat dan menyembuhkan di tanganku.

"Kalau dasarnya kuat, bentengmu akan tetap berdiri, bahkan kalau Kakak tidak ada di sini, kan?"

Elias mengacungkan jari kelingkingnya.

"Eum! Janji, Kakak Eleanora! Fondasinya akan kuat!" Suara anak-anaknya tulus dan penuh percaya diri.

Elias benar-benar anak yang sangat polos. Bahkan ketakutannya tidak terlihat dengan sekejap. Fikirannya masih se-sederhana itu.

Aku tertawa melihat kelucuannya, kemudian Elias juga tertawa.

Tawa kami yang lembut mengisi ruangan lagi. Hah, Aku jadi memeluknya. Perasaanku mulai  campur aduk antara penyesalan dan kebahagian.

Dari kejauhan, sedari tadi Nyonya Pengasuh mengawasi kami dengan perasaan kebingungan dan harapan. Kini berubah dengan senyuman tipis.

Setelah itu, aku pamit dengan Elias. Lalu berdiri dan berbalik.

Seraphina, yang melihatku langsung mengikuti di belakang.

Aku dan Seraphina berjalan menyusuri koridor.

Keheningan Castle Villon yang biasanya damai tiba-tiba robek oleh teriakan amarah dan suara gaduh yang menggelegar dari sayap servis.

"Apa itu?" bisik Seraphina, langkahnya terhenti karena takut.

"Suara itu datang dari Dapur Utama," kataku, raut wajahku berubah serius. "Suara itu tidak seharusnya ada di rumah Duke Villon."

Aku mempercepat langkah menuju dapur. Suara bising dari wajan dan obrolan pedagang kini berubah menjadi argumen sengit.

Saat aku mendorong pintu Dapur Utama, suasana seketika hening mencekam. Bau busuk dan amis tercium kuat.

Dua orang pria—Kepala Koki (berkeringat, wajah merah padam) dan seorang Pemasok—saling berhadapan.

Di lantai, terhampar kotak-kotak sayuran segar yang sebagian besar sudah layu dan bernoda hitam, serta beberapa potongan daging yang mulai mengeluarkan bau tidak sedap.

Kepala Koki — Tuan Jean, menatapku dengan tatapan sangat meremehkan. Dia mendengus, seolah kehadiranku di sini hanya akan membuang waktu.

Beberapa pelayan dapur bahkan berani saling pandang dengan tatapan geli, berpikir, ("Gadis manja itu tahu apa tentang sayur busuk?")

"Ada masalah apa di sini?" tuntutku, suaraku rendah dan tajam, penuh otoritas yang tak terbantahkan.

Tuan Jean maju dengan gusar. "Lady Eleanora, ini urusan dapur!"

Yah, apa boleh buat. Aku akan mengandalkan keuasaanku. "Aku anak pemilik kediaman ini. Kenapa aku tidak perlu tahu?"

Koki itu terdiam. Aku tahu dia kesal dengan perkataanku. Tapi, bagaimana bisa dia melarangku ikut campur di Kediaman Duke.

Ia lalu berbicara dan menjelaskan dengan suara ketus. "Pemasok ini membawa bahan makanan busuk. Lalu, Daging dan sayurannya tidak layak untuk diolah."

Pemasok itu, seorang pria berjanggut lebat, bersikeras. "Itu bukan salahku, Lady! Bahan dari kami pasti selalu segar! Saya jamin, saat kami serahkan di gerbang, semua masih segar! Ini pasti karena penyimpanan yang salah dari gudang Castle Villon!"

Di kehidupan lalu, adegan ini terjadi sama persis.

Koki Jean ngotot menyalahkan Pemasok. Karena ketidakhadiran Ayah. Pemasok itu merasa dilecehkan, menarik kontraknya, dan bersumpah tidak akan pernah berdagang di kediaman Duke lagi. Ia merasa difitnah saat itu.

Setelah itu, pedagang-pedagang licik lainnya mulai berdatangan, menjual bahan makanan yang jauh lebih buruk.

Castle Villon kehilangan akses ke bahan segar terbaik selama bertahun-tahun. Bahkan dengan kekuasaan dan koneksi Duke itu tidak membantu sama sekali.

Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang membuat kami kelaparan dalam kemewahan. Aku harus memecahkan mata rantai masalah, bukan sekadar menunjuk siapa yang salah.

Aku melangkah maju. Aku berlutut sejenak di dekat kotak, jari telunjukku menyentuh daun selada yang berlendir. Aku mencium aroma busuk itu.

"Tuan Pemasok," kataku, suaraku tenang. "Bahan ini dikirim pada pukul berapa?"

"Pukul enam pagi, Lady. Empat jam yang lalu."

"Dan Tuan Jean," aku menoleh ke Kepala Koki. "Biasanya, berapa lama bahan-bahan ini disimpan sebelum diolah?"

"Tergantung, Lady. Tapi maksimal harus diolah dalam satu jam setelah masuk, kalau tidak segera dimasukkan ke ruang pendingin." jawabnya, mencoba membela diri.

Aku berdiri. Mataku tajam, mengamati keseluruhan dapur. "Seraphina, ambilkan logistik bahan masuk tiga hari terakhir."

Seraphina bergegas kembali dengan buku catatan tebal.

Aku membuka buku itu. Aku tidak mencari nama, tetapi mencari pola yang terulang.

"Lihat, Tuan Jean," kataku, menunjuk tiga entri berdekatan.

"Perhatikan dua entri sebelumnya, yang dikirim pada hari yang berbeda. Gaya tulisan dan inisialnya seragam, dicatat dengan tinta biru tua. Ini adalah pola yang berulang dari Petugas Logistik yang bertugas di Pintu Servis."

Aku lalu menunjuk entri hari ini. "Sekarang lihat entri yang bermasalah hari ini. Gaya tulisan berbeda. Tintanya hitam. Dan inisialnya juga berbeda dari dua entri sebelumnya."

Kepala Koki dan Pemasok saling pandang, raut wajah mereka berubah dari marah menjadi kaget. Mereka tertangkap.

Aku menatap Pemasok. "Siapa yang menerima barang Anda hari ini? Bukan orang yang biasa? Apakah Anda yakin barang Anda diterima oleh Petugas Gerbang?""

Pemasok itu, seorang pria berjanggut lebat, terpojok oleh bukti tertulis dan otoritas suaraku. Ia tidak bisa lagi berbohong.

Pemasok itu menunduk. "Ya, Lady. Saya menyerahkannya ke Petugas Gerbang bernama Thomas di pos kecil Gerbang Utama. Saya kira itu sudah diatur."

Aku menoleh pada kerumunan pelayan dan petugas logistik yang tegang. "Tuan Jean, inisial di sini berbeda, dan Pemasok bersaksi diterima oleh Petugas Gerbang. Apakah Petugas Gerbang punya otoritas untuk menandatangani penerimaan logistik di buku ini?"

Tiba-tiba, seorang petugas Logistik rendahan yang biasanya pendiam menyahut. "Tidak, Lady! Itu tidak pernah terjadi! Itu adalah inisial pengawas gerbang! Mereka punya buku mereka sendiri!"

Titik terang!

Aku menutup buku logistik itu dengan bunyi dentuman keras. " Tuan Jean, Petugas Gerbang Thomas bertugas di Gerbang Utama. Tapi, bahan makanan harus cepat diterima di Pintu Dapur Utama dan dicatat langsung oleh Petugas Logistik, yang memiliki pendindingin makanan. Kalian berdua tahu aturannya."

Aku menunjuk tumpukan sayuran busuk itu. "Tuan Pemasok, Anda melanggar aturan pengiriman, menyerahkan bahan cepat busuk ke orang yang tidak bertanggung jawab, hanya untuk kemudahan Anda. Bahan ini busuk karena ditinggalkan di pos Thomas selama empat jam di bawah sinar matahari pagi. Dan Tuan Jean, Anda melanggar tugas pengawasan, membiarkan alur penerimaan logistik berubah sembarangan karena kemalasan."

Aku menarik napas dalam-dalam, menjaga ketenangan suaraku, tetapi kata-kataku membawa bobot yang luar biasa.

"Dengarkan baik-baik. Sebagai Putri Duke Villon, yang bertanggung jawab atas kehormatan dan efisiensi rumah ini. Jadi pertama, Tuan Pemasok akan membayar ganti rugi penuh untuk bahan hari ini. Kedua, Tuan Jean, Anda bertanggung jawab atas kelalaian pengawasan dan harus mencari bahan segar sebelum makan siang, dengan biaya operasional normal. Ketiga, Petugas Gerbang Thomas akan saya laporkan kepada Ayah (Duke Villon) untuk tindakan disipliner segera. Dan mengenai kejanggalan pencatatan ini, saya akan laporkan kepada Ayah dengan bukti perbandingan pola inisial ini dan kesaksian Tuan Pemasok, agar Ayah dapat memverifikasi secara resmi inisial Thomas dan petugas Logistik yang seharusnya bertugas."

"Dan terakhir, mulai hari ini, setiap bahan harus diterima di Pintu Servis oleh petugas yang ditunjuk! Keputusan ini final dan akan segera saya sampaikan kepada Kepala Pelayan dan Ayah."

Aku tidak menunggu jawaban. Tatapanku penuh otoritas. Tuan Jean dan para pelayan kini menatapku dengan campuran rasa takut dan hormat yang membingungkan. Mereka terbiasa melihat kemarahan, tetapi bukan efisiensi.

Tiba-tiba, dari ambang pintu, terdengar suara tarikan napas terkejut.

Duchess Villon (Ibunda Eleanora) berdiri di sana, gaun sutranya berkilauan. Mata Duchess berkaca-kaca, bukan karena marah, tetapi karena kebanggaan yang tersembunyi.

"Eleanora..." bisiknya, terkejut melihat putrinya—yang ia kira hanya tahu cara menghamburkan uang—menyelesaikan krisis logistik dengan ketajaman yang luar biasa.

Aku berbalik sepenuhnya, menghadap Ibuku. Aku membungkuk dengan elegan dan hormat.

"Maafkan saya membuat kegaduhan di dapur, Ibu," kataku, suaraku lembut. "Saya hanya membereskan sedikit masalah logistik yang akan memengaruhi efisiensi rumah tangga Duke."

Duchess Villon melangkah maju, tangannya terangkat seolah ingin menyentuhku, tetapi ia menahan diri. Keheningan di antara kami jauh lebih kencang daripada keributan di dapur tadi.

"Tidak, sayangku," kata Duchess Villon, senyum hangat yang tulus muncul di wajahnya. "Kau... kau melakukan pekerjaan yang luar biasa. Aku bangga padamu..."

Aku merasakan kehangatan yang asing dari pujian itu. Aku mengangguk, mempertahankan martabatku.

"Terima kasih, Ibu. Saya permisi sekarang."

Aku kembali ke Seraphina. "Kita kembali, Seraphina."

Aku meninggalkan dapur, meninggalkan Tuan Jean dan Pemasok yang terdiam kaku, serta Ibuku yang menatapku dengan mata penuh rasa bangga dan cinta yang baru bersemi.

Setelah keluar dari sana, ia menuju kamarnya untuk beristirahat. Tapi ia ingat ia harus cepat menyelesaikan masalahnya.

Lalu kemudian, Eleanora kini mendiktekan instruksi disipliner dan melaporkannya kepada Duke, yang merupakan jalur kekuasaan yang benar bagi seorang Putri. Ini menunjukkan kecerdasannya dalam manajemen tanpa melangkahi otoritas Ayahnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #107

    Waktu merayap seolah enggan meninggalkan Kediaman Bintang Utara. Lima jam telah berlalu sejak surat dari Count Vilos dibalas, dan matahari kini tepat berada di puncak langit, membiarkan cahayanya yang paling terik menembus kaca jendela ruang kerja Eleanora. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa statis, seolah tersedot keluar oleh sebuah kehadiran yang luar biasa kuat sebelum sosoknya benar-benar muncul.Suara langkah kaki yang berat dan penuh wibawa terdengar mendekat. Tanpa ketukan, pintu jati yang kokoh itu terbuka lebar.Tanpa ketukan, pintu kayu ek yang berat itu terbuka lebar.Zepyr Kyrios Basileus berdiri di sana.Rambut emasnya yang mewah tampak sedikit berantakan, beberapa helainya jatuh menjuntai di dahi, membingkai wajahnya yang pucat porselen dengan cara yang justru terlihat liar.Ia mengenakan kemeja putih berenda yang elegan dengan rompi hitam yang membentuk lekuk tubuh tegapnya. Eleanora mendongak, dan seketika itu juga matanya tertuju pada tangan sang Putra Mahkota

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #106

    Malam di Kediaman Bintang Utara merayap dengan keanggunan yang menyakitkan, seolah waktu sendiri enggan beranjak dari sisi Eleanora de Villon.Di dalam kamarnya yang luas, lilin-lilin aromatik beraroma melati mulai memendek, meneteskan air mata lilin yang membeku di atas piringan perak. Eleanora duduk di depan meja riasnya, sebuah mahakarya dari kayu mawar yang dipenuhi dengan botol-botol kristal berisi ramuan kecantikan.Namun, matanya yang berwarna hijau zamrud tajam itu tidak menatap pada pantulan wajahnya yang rupawan, melainkan pada kehampaan di balik cermin.Ia teringat betapa dulu, sebelum maut menjemputnya di sel yang dingin, ia akan menghabiskan berjam-jam hanya untuk memastikan setiap helai rambut peraknya tertata sempurna demi menarik perhatian Zepyr.Dulu, ia adalah lambang keputusasaan; seorang putri Duke yang martabatnya luruh karena mengejar cinta seorang pria yang bahkan tidak sudi meliriknya. Bayangan dirinya yang menangis di koridor istana hanya karena Zepyr mengabai

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #105

    Count Vilos mengangguk mantap. Ia tidak pernah meragukan gadis di depannya ini. Ingatannya kembali ke beberapa bulan lalu, saat istrinya, Countess Vilos, menderita sakit misterius yang di kehidupan sebelumnya—yang hanya diketahui Eleanora—seharusnya berakhir dengan kematian. Namun, berkat saran medis yang "tidak sengaja" diberikan Eleanora, istrinya selamat. Belum lagi saat Elara, putrinya yang pemalu, nyaris dikucilkan oleh sekelompok Lady bangsawan di pesta teh. Eleanora berdiri di sana, melindungi Elara dengan wibawa yang luar biasa, membuat faksi Castillon terdiam.Eleanora bangkit berdiri, gaunnya yang berbahan linen halus berdesir saat ia berjalan mendekati Count Vilos."Sementara itu, saya ingin Anda memperketat pengawasan pada alur logistik aliansi kita. Terutama distribusi batu sihir dari tambang Elara yang dialokasikan untuk wilayah Barat. Kita akan membungkam mereka dengan hasil kerja yang nyata dan stabilitas ekonomi yang tidak bisa mereka bantah. Biarkan mereka sibuk deng

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #104

    Lembayung senja mulai merambat masuk melalui jendela kaca patri di Kediaman Bintang Utara, membiaskan warna jingga yang hangat sekaligus pilu di atas lantai marmer.Eleanora de Villon masih terpaku di kursi jatinya, jemarinya yang ramping gemetar halus saat ia meletakkan kembali pulpen bulu angsa yang tadi diambil paksa oleh kehangatan tangan Zepyr.Ruangan itu kini sunyi, namun aroma kayu cendana milik sang Putra Mahkota seolah tertinggal di udara, mencekik setiap sel saraf Eleanora dengan sisa-sisa ketegangan yang belum tuntas.Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan debar jantungnya yang masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan. Setiap detik yang ia habiskan bersama Zepyr di kehidupan kali ini terasa seperti berjalan di atas hamparan duri yang dibalut sutra.Indah, memabukkan, namun penuh dengan ancaman luka yang bisa menganga kapan saja.Malam di Kediaman Bintang Utara tidak pernah benar-benar sunyi sejak Zepyr menetapkan langkahnya di sana. Udara dingin yang me

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #103

    Matahari merayap naik, menyentuh tepian meja jati yang dipenuhi tumpukan dokumen perkamen. Eleanora de Villon masih terpaku di kursinya, jemarinya yang ramping mencengkeram pulpen bulu angsa hingga ujungnya sedikit melengkung. Di depannya, Zepyr tidak lagi berpura-pura membaca. Pria itu telah meletakkan bukunya, membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran kursi yang berat, sementara matanya yang tajam tidak pernah lepas dari sosok Eleanora.Keheningan di ruangan itu begitu tebal, hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti hantaman palu. Eleanora bisa merasakan tatapan itu—sebuah tatapan yang tidak hanya melihat, tapi seolah menguliti setiap lapisan pertahanannya. Ia tahu Zepyr sedang memperhatikannya, menghitung setiap helaan napasnya, dan itu membuatnya merasa sesak."Kau terlalu tegang, Eleanora," suara Zepyr memecah kesunyian, rendah dan bergetar, mengirimkan gelombang asing ke tulang belakang Eleanora.Eleanora tidak mengangkat kepalanya. Ia tetap menunduk, memfokuskan

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #102

    Eleanora de Villon menarik napas pendek, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang tidak terkontaminasi oleh aroma kayu cendana milik Zepyr. Jantungnya masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan—sebuah pemberontakan organ tubuh yang tidak bisa ia kendalikan. Sentuhan bibir Zepyr di pelipisnya tadi bukan sekadar kontak fisik; itu adalah sebuah segel yang membakar harga dirinya.Ia memaksakan jemarinya yang ramping untuk kembali menggenggam pulpen bulu angsa. Ujung logam pulpen itu mencium permukaan kertas perkamen dengan suara goresan yang kaku. Eleanora sedang menuliskan angka-angka alokasi batu bara untuk wilayah Barat, namun matanya terus-menerus melirik ke arah Zepyr yang kini kembali duduk di singgasana sementaranya di sudut ruangan.Zepyr tidak memandangnya. Pria itu tampak sibuk dengan buku tebal di tangannya, namun Eleanora bisa melihat bagaimana rahang Zepyr mengatup begitu rapat hingga otot-otot di sekitar wajahnya menegang. Zepyr seolah sedang berperang den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status