共有

CHAPTER #96

作者: ALAYABU
last update 公開日: 2025-12-08 02:13:42

Sore tiba. Eleanora mulai merasa jenuh, pikiran logisnya tidak berfungsi baik tanpa aktivitas yang lain. "Aku butuh udara luar, Seraphina," kata Eleanora. "Temani aku berjalan-jalan di koridor saja."

Eleanora dan Seraphina berjalan di koridor Kediaman Bintang Utara. Kediaman itu, hadiah dari Zepyr, terasa sempurna, elegan, tetapi kini juga terasa seperti sangkar yang terbuat dari marmer dan reputasi.

Saat mereka baru berjalan beberapa langkah, Eleanora melihat sosok tinggi Zepyr datang dari ara
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Fi Tri
kenapa belum update Kak?
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #107

    Waktu merayap seolah enggan meninggalkan Kediaman Bintang Utara. Lima jam telah berlalu sejak surat dari Count Vilos dibalas, dan matahari kini tepat berada di puncak langit, membiarkan cahayanya yang paling terik menembus kaca jendela ruang kerja Eleanora. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa statis, seolah tersedot keluar oleh sebuah kehadiran yang luar biasa kuat sebelum sosoknya benar-benar muncul.Suara langkah kaki yang berat dan penuh wibawa terdengar mendekat. Tanpa ketukan, pintu jati yang kokoh itu terbuka lebar.Tanpa ketukan, pintu kayu ek yang berat itu terbuka lebar.Zepyr Kyrios Basileus berdiri di sana.Rambut emasnya yang mewah tampak sedikit berantakan, beberapa helainya jatuh menjuntai di dahi, membingkai wajahnya yang pucat porselen dengan cara yang justru terlihat liar.Ia mengenakan kemeja putih berenda yang elegan dengan rompi hitam yang membentuk lekuk tubuh tegapnya. Eleanora mendongak, dan seketika itu juga matanya tertuju pada tangan sang Putra Mahkota

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #106

    Malam di Kediaman Bintang Utara merayap dengan keanggunan yang menyakitkan, seolah waktu sendiri enggan beranjak dari sisi Eleanora de Villon.Di dalam kamarnya yang luas, lilin-lilin aromatik beraroma melati mulai memendek, meneteskan air mata lilin yang membeku di atas piringan perak. Eleanora duduk di depan meja riasnya, sebuah mahakarya dari kayu mawar yang dipenuhi dengan botol-botol kristal berisi ramuan kecantikan.Namun, matanya yang berwarna hijau zamrud tajam itu tidak menatap pada pantulan wajahnya yang rupawan, melainkan pada kehampaan di balik cermin.Ia teringat betapa dulu, sebelum maut menjemputnya di sel yang dingin, ia akan menghabiskan berjam-jam hanya untuk memastikan setiap helai rambut peraknya tertata sempurna demi menarik perhatian Zepyr.Dulu, ia adalah lambang keputusasaan; seorang putri Duke yang martabatnya luruh karena mengejar cinta seorang pria yang bahkan tidak sudi meliriknya. Bayangan dirinya yang menangis di koridor istana hanya karena Zepyr mengabai

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #105

    Count Vilos mengangguk mantap. Ia tidak pernah meragukan gadis di depannya ini. Ingatannya kembali ke beberapa bulan lalu, saat istrinya, Countess Vilos, menderita sakit misterius yang di kehidupan sebelumnya—yang hanya diketahui Eleanora—seharusnya berakhir dengan kematian. Namun, berkat saran medis yang "tidak sengaja" diberikan Eleanora, istrinya selamat. Belum lagi saat Elara, putrinya yang pemalu, nyaris dikucilkan oleh sekelompok Lady bangsawan di pesta teh. Eleanora berdiri di sana, melindungi Elara dengan wibawa yang luar biasa, membuat faksi Castillon terdiam.Eleanora bangkit berdiri, gaunnya yang berbahan linen halus berdesir saat ia berjalan mendekati Count Vilos."Sementara itu, saya ingin Anda memperketat pengawasan pada alur logistik aliansi kita. Terutama distribusi batu sihir dari tambang Elara yang dialokasikan untuk wilayah Barat. Kita akan membungkam mereka dengan hasil kerja yang nyata dan stabilitas ekonomi yang tidak bisa mereka bantah. Biarkan mereka sibuk deng

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #104

    Lembayung senja mulai merambat masuk melalui jendela kaca patri di Kediaman Bintang Utara, membiaskan warna jingga yang hangat sekaligus pilu di atas lantai marmer.Eleanora de Villon masih terpaku di kursi jatinya, jemarinya yang ramping gemetar halus saat ia meletakkan kembali pulpen bulu angsa yang tadi diambil paksa oleh kehangatan tangan Zepyr.Ruangan itu kini sunyi, namun aroma kayu cendana milik sang Putra Mahkota seolah tertinggal di udara, mencekik setiap sel saraf Eleanora dengan sisa-sisa ketegangan yang belum tuntas.Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan debar jantungnya yang masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan. Setiap detik yang ia habiskan bersama Zepyr di kehidupan kali ini terasa seperti berjalan di atas hamparan duri yang dibalut sutra.Indah, memabukkan, namun penuh dengan ancaman luka yang bisa menganga kapan saja.Malam di Kediaman Bintang Utara tidak pernah benar-benar sunyi sejak Zepyr menetapkan langkahnya di sana. Udara dingin yang me

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #103

    Matahari merayap naik, menyentuh tepian meja jati yang dipenuhi tumpukan dokumen perkamen. Eleanora de Villon masih terpaku di kursinya, jemarinya yang ramping mencengkeram pulpen bulu angsa hingga ujungnya sedikit melengkung. Di depannya, Zepyr tidak lagi berpura-pura membaca. Pria itu telah meletakkan bukunya, membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran kursi yang berat, sementara matanya yang tajam tidak pernah lepas dari sosok Eleanora.Keheningan di ruangan itu begitu tebal, hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti hantaman palu. Eleanora bisa merasakan tatapan itu—sebuah tatapan yang tidak hanya melihat, tapi seolah menguliti setiap lapisan pertahanannya. Ia tahu Zepyr sedang memperhatikannya, menghitung setiap helaan napasnya, dan itu membuatnya merasa sesak."Kau terlalu tegang, Eleanora," suara Zepyr memecah kesunyian, rendah dan bergetar, mengirimkan gelombang asing ke tulang belakang Eleanora.Eleanora tidak mengangkat kepalanya. Ia tetap menunduk, memfokuskan

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #102

    Eleanora de Villon menarik napas pendek, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang tidak terkontaminasi oleh aroma kayu cendana milik Zepyr. Jantungnya masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan—sebuah pemberontakan organ tubuh yang tidak bisa ia kendalikan. Sentuhan bibir Zepyr di pelipisnya tadi bukan sekadar kontak fisik; itu adalah sebuah segel yang membakar harga dirinya.Ia memaksakan jemarinya yang ramping untuk kembali menggenggam pulpen bulu angsa. Ujung logam pulpen itu mencium permukaan kertas perkamen dengan suara goresan yang kaku. Eleanora sedang menuliskan angka-angka alokasi batu bara untuk wilayah Barat, namun matanya terus-menerus melirik ke arah Zepyr yang kini kembali duduk di singgasana sementaranya di sudut ruangan.Zepyr tidak memandangnya. Pria itu tampak sibuk dengan buku tebal di tangannya, namun Eleanora bisa melihat bagaimana rahang Zepyr mengatup begitu rapat hingga otot-otot di sekitar wajahnya menegang. Zepyr seolah sedang berperang den

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #1

    Cahaya fajar menyusup melalui tirai satin tebal kamarku, melukis bayangan emas tipis di lantai marmer. Aku terbangun dengan rasa sakit yang tumpul di dada, bukan dari demam penjara, melainkan dari memori yang dingin.Napasku bergetar saat aku menyentuh tulang rusukku, memastikan diriku utuh. Aku

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   PROLOGUE 0# "Tinta Merah di Atas Lantai Dansa"

    Lampu kristal yang tergantung megah di aula Istana Kekaisaran terasa berputar. Dentuman musik yang harusnya meriah kini bergema mematikan di telingaku. Aku, Eleanora de Villon, Putri Duke yang berkuasa, berdiri tertegun di tengah lantai marmer, dikelilingi oleh bisikan dan tatapan menghakimi. Gau

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #101

    Pukul setengah dua belas siang. Matahari kini berada di titik tertinggi, sinarnya yang hangat membuat ruangan kerja itu terasa lebih nyaman daripada seharusnya. Eleanora de Villon sudah selesai minum teh, ia kembali duduk di mejanya. Zepyr masih tersembunyi di balik bukunya, membaca dengan kehening

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #99

    Zepyr tersenyum lembut, tiba-tiba, dan tanpa peringatan. Senyum yang lembut namun penuh kemenangan terselubung. Ia mengabaikan protes Eleanora yang tersisa."Aku tahu," ujar Zepyr. Nada suaranya kini kembali ke kekakuan yang ia gunakan untuk menyembunyikan kekacauan emosionalnya. Ia beranjak dari d

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status