Home / Romansa / Tinta Merah Takdir yang Terhapus / PROLOGUE 0# "Tinta Merah di Atas Lantai Dansa"

Share

Tinta Merah Takdir yang Terhapus
Tinta Merah Takdir yang Terhapus
Author: ALAYABU

PROLOGUE 0# "Tinta Merah di Atas Lantai Dansa"

Author: ALAYABU
last update Last Updated: 2025-10-05 18:23:05

Lampu kristal yang tergantung megah di aula Istana Kekaisaran terasa berputar. Dentuman musik yang harusnya meriah kini bergema mematikan di telingaku.

Aku, Eleanora de Villon, Putri Duke yang berkuasa, berdiri tertegun di tengah lantai marmer, dikelilingi oleh bisikan dan tatapan menghakimi.

Gaun satin merah anggur yang kukenakan—gaun favorit yang selalu membuatku merasa superior—kini terasa seperti kain kafan yang basah.

Tepat di depanku, Putra Mahkota, pria yang kucintai di atas segalanya, menatapku dengan mata yang dingin, tanpa setitik pun kehangatan yang pernah kukhayalkan.

"Kau telah menghukum dirimu sendiri." Bisik Putra Mahkota.

"Dengan kejahatanmu ini. Lady Eleanora dari keturunan Duke Villon, telah melampaui batas yang bisa ditoleransi oleh Kekaisaran." ucapnya.

Suaranya datar, namun setiap kata terasa seperti es beku yang membelah dadaku.

Aku berusaha membantah, untuk menjelaskan, untuk memohon. Tapi, untuk apa?

Ribuan mata yang menatapku bahkan terasa seperti pisau pelati yang siap menusuk dadaku.

Jika dilihat akan menjadi cermin yang memantulkan satu kebenaran yang mengerikan.

Aku adalah monster.

Aku telah menghancurkan hidup orang-orang, memanipulasi, dan menggunakan kekuasaanku untuk menyakiti semua bangsawan yang tidak aku sukai, cara yang mengerikan untuk meraih posisi ini.

Di saat itulah, kesadaran itu datang, menyakitkan dan terlambat.

Tinta Merah Takdir yang selama ini kubuat, bukan hanya ada tercatat di Kekaisaran, tapi juga di jiwaku.

Aku baru sadar betapa kejamnya aku, betapa pantasnya aku mendapatkan semua kebencian ini.

Tapi nasi sudah menjadi bubur.

Penyesalan terbesarku—bahwa aku terlalu kejam untuk seorang wanita.

"Bawa dia pergi. Segel dia di penjara bawah tanah Kekaisaran. Biarkan dia merenungkan perbuatannya hingga akhir."

Perintah Putra Mahkota terdengar menusuk di tengah keheningan.

Aku diseret oleh Ksatria Kekaisaran, harga diriku hancur berkeping-keping di lantai dansa yang penuh kebohongan.

Bruk!

Di jeruji besi yang dingin dan lembap, pengawalan tidak menunjukkan belas kasihannya.

Makanan yang datang hanya dua hari sekali, dan air bersih hanya sesekali.

Dalam kegelapan yang pekat, tubuh bangsawan yang dulu kujaga dengan bangga kini kurus kering, dipenuhi penyakit.

Aku mati  bukan karena pedang, melainkan karena siksaan kelaparan, kedinginan, dan kesunyian yang memilukan.

Namun, yang paling menyakitkan adalah suara yang terbawa angin lembap dari luar jeruji.

Beberapa malam sebelum aku mengembuskan napas terakhir, aku mendengar bisikan para penjaga di koridor.

"Kau dengar? Akhirnya, Putra Mahkota sudah bertunangan."

"Tentu saja aku mendengarnya. Siapa sangka, setelah insiden Lady Eleanora, dia malah memilih Lady Lyra de Castillon dari keluarga Count itu haha. Katanya Lady Lyra adalah wanita yang sangat sederhana, lembut, dan murni..."

Lady Lyra.

Nama itu terasa seperti belati yang menusuk hatiku.

Wanita yang muncul di Pesta Dansa Kedua.

Wanita yang dicintai oleh Putra Mahkota. Wanita yang pantas untuk mendapatkan kebahagian. 

 Tidak sepertiku....

Kematian yang wajar bagi wanita penjahat—mati mengenaskan tanpa tahu bahwa perasaanku telah hangus menjadi jiwa yang hampa.

Aku mati.

Dalam keadaan sendiri dan terlupakan.

Di saat dunia luar sedang merayakan pertunangan Putra Mahkota dan wanita itu, seseorang yang kini mengisi tempat yang selalu kucita-citakan. Kini hangus ditelan penyesalan.

Hahaha

Saat itu aku pertama kalinya bagiku menangis, menyesali perbuatanku disaat keadaan ku sekarat.

Hawa dingin mulai masuk dengan kejam bahkan menusuk jasadku.

Akhir yang mengenaskan.

Ting!

Suara dentingan sendok perak yang beradu dengan piring porselen membawaku kembali.

Napas yang sebelumnya terenggah kini kuhela perlahan.

Aroma sup asparagus dan daging steak yang mewah memenuhi ruang makan keluarga Villon.

Aku tidak lagi berada di jeruji besi, tapi di kursi megah di meja makan panjang—empat tahun sebelum kematianku.

Tanganku yang memegang pisau steak gemetar. Bukan karena porselen yang dingin, tapi karena memori kematian yang masih sangat nyata.

Di seberang meja, Duke Villon— Ayah dan Duchess Villon— Ibu duduk diam, menatapku dengan pandangan campur aduk antara lelah dan kecewa.

"Eleanora," suara Ayah memecah keheningan yang mencekam.

"Tolong, kendalikan tingkah lakumu." Ucap Duke sembari memijat keningnya.

"Kau adalah Putri Duke Villon. Jangan membuat kami harus terus-menerus menutupi skandalmu, ini demi menjelang Pesta Dansa Keduamu di Perayaan Hari Kelahiran Kekaisaran."

Aku merasakan tenggorokanku tercekat.

Ini bukan lagi soal mempertahankan citra, ini soal memperbaiki kesalahan.

Aku meletakkan sendok dengan sangat hati-hati, menundukkan kepala sedalam-dalamnya, menatap piring di hadapanku, mengambil napas dalam-dalam.

Berbeda dengan dikehidupan sebelumnya, dimana seorang Lady yang akan membantah atau melempar garpu dengan arogan, kali ini aku berbicara dengan suara pelan dan mantap.

"Saya mengerti, Ayah. Maafkan saya karena telah membuat Ayah dan Ibu kecewa. Mulai saat ini, saya akan berubah. Saya akan membuktikannya bahwa saya bisa menjadi lebih baik. Sekali lagi, mohon maafkan saya, Ayah... Ibu..."

Keheningan melingkupi ruang makan. Duke dan Duchess Villon terdiam lama.

Di mata mereka, aku melihat dengan campuran kejutan dan keraguan yang menyakitkan. Bertahun-tahun penuh kekecewaan tidak bisa dihapus hanya dengan satu kalimat.

Mereka jelas tidak percaya.

Rasa sakit kini menusukku, tapi itu pantas kuterima. Aku harus menerima ketidakpercayaan ini dan membuktikan janji itu melalui waktu, bukan kata-kata.

Setelah makan malam yang terasa lambat itu usai, aku berdiri dan membungkuk sebentar pada orang tuaku—sebuah tindakan sederhana yang juga tak pernah kulakukan dulu.

Saat berjalan menaiki tangga menuju kamarku, aku melirik ke ruang tunggu di ujung koridor.

Di sana, Adikku—Elias yang berusia lima tahun, sedang bermain dengan kereta kayu di bawah pengawasan ketat Nyonya Pengasuh. 

Dia tersenyum dengan polosnya, sudah lama aku tidak melihat raut wajah itu.

Beda dengan kehidupan sebelumnya, anak laki-laki itu akan sangat takut dan lari dariku.

Jika diingat lagi, seperti ada batu yang langsung menghantam dadaku. Mataku memanas. Aku tidak akan pernah lagi merusak kepolosan itu.

Aku terus berjalan, memikirkan langkah selanjutnya. Aku harus mulai dari hal terkecil.

Krieeeett...

Tanganku menarik kenop pintu kamar yang terbuat dari emas berukir itu, mengeluarkan derit halus khas pintu kayu mahal yang berat, dan melangkah masuk.

Di kamar, Seraphina— Pelayan pribadi yang paling sering kurendahkan dan siksa, kini sedang merapikan tempat tidur dengan wajah menunduk.

Melihatnya, tenggorokanku tercekat.

Di kehidupan lalu, Seraphina mati karena kebodohanku.

Saat itu, Ayahku—Sang Duke, memang sudah tidak bisa memberi pengawalan lagi, alhasil ia hanya bisa menyediakan  pengawal biasa- Alasannya karena satu pun dari para Ksatria militer tingkat tinggi itu tidak mau menghadapi tingkah lakuku yang memuakkan.

Pada saat itu, aku tidak peduli. Aku hanya ingin pergi ke Toko Elite yang ada di pertengahan kota dan ingin membeli Bros Mahal Khusus untuk Putra Mahkota.

Karena terlalu senang, tanganku terus memandangi tas belanja.

Lalu, tiba-tiba seseorang merampasnya dari tanganku yang sedang memegangnya.

Itu sangat cepat. Aku panik saat itu.

Aku yang merasa berhak atas Bros itu, dengan rasa tidak mau tahu, menyuruh Seraphina mengambil kembali perhiasan berharga itu.

Pencuri itu lari dan dikejar oleh Seraphine.

Di gang sempit dia berhenti. Aku langsung menyuruhnya untuk mengambil Bros. Tapi, tiba-tiba sekelompok orang datang. Aku ingat, mereka adalah teman-teman pencuri itu.

Walau dengan tangan yang gemetaran, Seraphine harus dan ingin mengambilnya kembali.

Saat itu aku sadar, kami kalah jumlah dan kekuatan. Aku lari, tapi Serphine terlanjur dipukuli hingga mati- mengenaskan.

Kini, di hadapanku, dia hidup.

Aku menarik napas panjang, menenangkan gejolak penyesalan di dada.

Ada banyak hal besar yang harus ku ubah, tapi semua harus dimulai dari tempat yang paling kuingkari.

Berhenti menyakiti, dan mulai menghargai.

Tindakan kecil yang tulus, sehalus embusan napas, adalah awal dari segalanya.

Aku mengulang waktu.

Aku membawa beban dosa, namun kini aku juga memiliki pengetahuan.

Aku akan menggunakannya untuk menghindari takdir kematian, melindungi keluargaku—termasuk Kakakku, si jenius Menara Sihir— kutu buku yang mencari kedamaian.

Tinta Merah Takdir memang terhapus sesaat oleh waktu, tapi jejaknya masih melekat kuat di jiwaku.

Dengan hati yang penuh penyesalan dan harapan baru, aku ingin menempuh Takdir yang berbeda.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #107

    Waktu merayap seolah enggan meninggalkan Kediaman Bintang Utara. Lima jam telah berlalu sejak surat dari Count Vilos dibalas, dan matahari kini tepat berada di puncak langit, membiarkan cahayanya yang paling terik menembus kaca jendela ruang kerja Eleanora. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa statis, seolah tersedot keluar oleh sebuah kehadiran yang luar biasa kuat sebelum sosoknya benar-benar muncul.Suara langkah kaki yang berat dan penuh wibawa terdengar mendekat. Tanpa ketukan, pintu jati yang kokoh itu terbuka lebar.Tanpa ketukan, pintu kayu ek yang berat itu terbuka lebar.Zepyr Kyrios Basileus berdiri di sana.Rambut emasnya yang mewah tampak sedikit berantakan, beberapa helainya jatuh menjuntai di dahi, membingkai wajahnya yang pucat porselen dengan cara yang justru terlihat liar.Ia mengenakan kemeja putih berenda yang elegan dengan rompi hitam yang membentuk lekuk tubuh tegapnya. Eleanora mendongak, dan seketika itu juga matanya tertuju pada tangan sang Putra Mahkota

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #106

    Malam di Kediaman Bintang Utara merayap dengan keanggunan yang menyakitkan, seolah waktu sendiri enggan beranjak dari sisi Eleanora de Villon.Di dalam kamarnya yang luas, lilin-lilin aromatik beraroma melati mulai memendek, meneteskan air mata lilin yang membeku di atas piringan perak. Eleanora duduk di depan meja riasnya, sebuah mahakarya dari kayu mawar yang dipenuhi dengan botol-botol kristal berisi ramuan kecantikan.Namun, matanya yang berwarna hijau zamrud tajam itu tidak menatap pada pantulan wajahnya yang rupawan, melainkan pada kehampaan di balik cermin.Ia teringat betapa dulu, sebelum maut menjemputnya di sel yang dingin, ia akan menghabiskan berjam-jam hanya untuk memastikan setiap helai rambut peraknya tertata sempurna demi menarik perhatian Zepyr.Dulu, ia adalah lambang keputusasaan; seorang putri Duke yang martabatnya luruh karena mengejar cinta seorang pria yang bahkan tidak sudi meliriknya. Bayangan dirinya yang menangis di koridor istana hanya karena Zepyr mengabai

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #105

    Count Vilos mengangguk mantap. Ia tidak pernah meragukan gadis di depannya ini. Ingatannya kembali ke beberapa bulan lalu, saat istrinya, Countess Vilos, menderita sakit misterius yang di kehidupan sebelumnya—yang hanya diketahui Eleanora—seharusnya berakhir dengan kematian. Namun, berkat saran medis yang "tidak sengaja" diberikan Eleanora, istrinya selamat. Belum lagi saat Elara, putrinya yang pemalu, nyaris dikucilkan oleh sekelompok Lady bangsawan di pesta teh. Eleanora berdiri di sana, melindungi Elara dengan wibawa yang luar biasa, membuat faksi Castillon terdiam.Eleanora bangkit berdiri, gaunnya yang berbahan linen halus berdesir saat ia berjalan mendekati Count Vilos."Sementara itu, saya ingin Anda memperketat pengawasan pada alur logistik aliansi kita. Terutama distribusi batu sihir dari tambang Elara yang dialokasikan untuk wilayah Barat. Kita akan membungkam mereka dengan hasil kerja yang nyata dan stabilitas ekonomi yang tidak bisa mereka bantah. Biarkan mereka sibuk deng

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #104

    Lembayung senja mulai merambat masuk melalui jendela kaca patri di Kediaman Bintang Utara, membiaskan warna jingga yang hangat sekaligus pilu di atas lantai marmer.Eleanora de Villon masih terpaku di kursi jatinya, jemarinya yang ramping gemetar halus saat ia meletakkan kembali pulpen bulu angsa yang tadi diambil paksa oleh kehangatan tangan Zepyr.Ruangan itu kini sunyi, namun aroma kayu cendana milik sang Putra Mahkota seolah tertinggal di udara, mencekik setiap sel saraf Eleanora dengan sisa-sisa ketegangan yang belum tuntas.Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan debar jantungnya yang masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan. Setiap detik yang ia habiskan bersama Zepyr di kehidupan kali ini terasa seperti berjalan di atas hamparan duri yang dibalut sutra.Indah, memabukkan, namun penuh dengan ancaman luka yang bisa menganga kapan saja.Malam di Kediaman Bintang Utara tidak pernah benar-benar sunyi sejak Zepyr menetapkan langkahnya di sana. Udara dingin yang me

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #103

    Matahari merayap naik, menyentuh tepian meja jati yang dipenuhi tumpukan dokumen perkamen. Eleanora de Villon masih terpaku di kursinya, jemarinya yang ramping mencengkeram pulpen bulu angsa hingga ujungnya sedikit melengkung. Di depannya, Zepyr tidak lagi berpura-pura membaca. Pria itu telah meletakkan bukunya, membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran kursi yang berat, sementara matanya yang tajam tidak pernah lepas dari sosok Eleanora.Keheningan di ruangan itu begitu tebal, hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti hantaman palu. Eleanora bisa merasakan tatapan itu—sebuah tatapan yang tidak hanya melihat, tapi seolah menguliti setiap lapisan pertahanannya. Ia tahu Zepyr sedang memperhatikannya, menghitung setiap helaan napasnya, dan itu membuatnya merasa sesak."Kau terlalu tegang, Eleanora," suara Zepyr memecah kesunyian, rendah dan bergetar, mengirimkan gelombang asing ke tulang belakang Eleanora.Eleanora tidak mengangkat kepalanya. Ia tetap menunduk, memfokuskan

  • Tinta Merah Takdir yang Terhapus   CHAPTER #102

    Eleanora de Villon menarik napas pendek, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang tidak terkontaminasi oleh aroma kayu cendana milik Zepyr. Jantungnya masih memukul dinding dada dengan ritme yang berantakan—sebuah pemberontakan organ tubuh yang tidak bisa ia kendalikan. Sentuhan bibir Zepyr di pelipisnya tadi bukan sekadar kontak fisik; itu adalah sebuah segel yang membakar harga dirinya.Ia memaksakan jemarinya yang ramping untuk kembali menggenggam pulpen bulu angsa. Ujung logam pulpen itu mencium permukaan kertas perkamen dengan suara goresan yang kaku. Eleanora sedang menuliskan angka-angka alokasi batu bara untuk wilayah Barat, namun matanya terus-menerus melirik ke arah Zepyr yang kini kembali duduk di singgasana sementaranya di sudut ruangan.Zepyr tidak memandangnya. Pria itu tampak sibuk dengan buku tebal di tangannya, namun Eleanora bisa melihat bagaimana rahang Zepyr mengatup begitu rapat hingga otot-otot di sekitar wajahnya menegang. Zepyr seolah sedang berperang den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status