Share

Bab 4

Author: Santari Kirani
Amara mencengkeram ujung bajunya dengan tegang, lalu tanpa sadar melihat sekeliling.

Banyak mata yang sejak tadi terus mengikuti Aryan, yang secara tidak langsung juga menimbulkan rasa penasaran yang besar terhadap dirinya.

Untungnya, jarak mereka cukup jauh, sehingga sepertinya tidak ada yang mendengar kata-kata Aryan.

Amara menundukkan kepalanya. Dia sama sekali tidak berani melihat ekspresi orang-orang di sekitarnya. "Aku mengerti. Terima kasih, Dokter Aryan."

Di belakangnya, suara sepatu hak tinggi yang menginjak lantai kayu terdengar berderit.

Dosen wali yang sedang memeluk setumpuk dokumen tebal, langsung berbinar matanya saat melihat Amara.

Dia langsung memberi perintah pada Amara, "Amara, kebetulan sekali kamu ada di sini. Ini pertama kalinya Dokter Aryan datang ke sini. Kamu ikut dengan Dokter Aryan, ya. Kalau ada yang dia butuhkan, tolong dibantu."

Ikut … Dokter Aryan?

Amara diam-diam mengangkat pandangannya dan melirik sekilas ke arah Aryan.

Alis tebal yang tegas, mata hitam yang jernih, hidung yang mancung, sampai garis rahang yang sempurna tanpa cela. Paras Aryan merupakan paras kekasih impian bagi banyak orang.

Namun, saat ini, Amara hanya ingin melarikan diri darinya.

Melihat wajah Aryan, atau bahkan sekadar mendengar namanya saja, membuat Amara tidak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan semua hal yang terjadi semalam.

Perpaduan antara kenikmatan dan rasa sakit yang begitu nyata sekaligus semu, mengingatkan Amara tentang betapa konyolnya perbuatan yang sudah dia lakukan.

Amara memberanikan diri dan bertanya, "Dok … Dokter Aryan, apa ada hal lain yang Anda butuhkan?"

Amara mengalihkan pandangannya dan kini menatap lekat-lekat ujung sepatunya sendiri, berusaha menghindari kontak mata dengan Aryan.

Aryan memperhatikan kantong di tangan Amara yang sudah kusut akibat diremas terlalu kuat. Entah apakah salep di dalamnya masih bisa digunakan atau tidak.

Bagaimana bisa Amara begitu tidak bertanggung jawab pada dirinya sendiri?

Usia Amara masih sangat muda, terlebih lagi dia sama sekali buta dalam urusan pria dan wanita. Melihat penampilannya, Amara sepertinya juga sangat minim pengetahuannya tentang penyakit menular seksual.

"Untung Bu Liana sangat perhatian. Aku memang butuh seorang asisten."

Aryan tersenyum tipis, sama sekali tidak memberi kesempatan bagi Amara untuk menolak.

Bu Liana sedang terburu-buru mengantarkan berkas kepada rektor. Setelah memberikan isyarat mata kepada Amara agar menjaga Aryan dengan baik, Bu Liana pun segera melangkah pergi.

Amara meremas-remas ujung bajunya dengan gelisah. Bahkan, napasnya juga menjadi tidak teratur.

Tiba-tiba, pandangan di depannya terasa sedikit lebih terang.

Saat Amara kembali menengadah, ternyata Aryan sudah berjalan masuk ke ruang istirahat sementara yang ada di dalam gedung itu.

Amara berdiri mematung di tempatnya, tidak tahu apakah dia harus ikut masuk atau tidak.

Di saat Amara sedang ragu-ragu, Aryan kembali keluar dan berdiri di depan Amara sambil membawa sebotol air.

Dengan santainya, Aryan membuka tutup botol itu, lalu menyodorkan air mineral itu kepada Amara.

Amara tidak berani menerimanya. "Untukku?"

Aryan mengeluarkan obat kontrasepsi dari tasnya, membukanya, lalu meletakkannya di telapak tangan Amara, sambil berkata dengan suara yang dalam, "Ini obat baru, nggak ada efek samping bagi tubuh."

Aryan terdiam sejenak, lalu menambahkan, "Dengarkan seminar nanti dengan baik."

Amara menerima obat itu dan langsung menelannya dengan cepat. Wajahnya makin memerah, tampak seperti apel yang sudah matang.

Setelah melihat sendiri Amara sudah meminum obatnya, barulah hati Aryan merasa tenang.

Semalam, seharusnya dia menggunakan pengaman. Namun, karena dibutakan nafsu, Aryan malah terpikat pada gadis yang masih polos dan belia itu, sampai benar-benar melupakan hal itu.

Memikirkan hal itu, Aryan pun kembali mengingatkan, "Setelah pulang nanti, jangan lupa untuk mengoleskan salepnya. Meski cuaca sudah mulai dingin, kalau nggak diperhatikan, bisa tetap memicu peradangan dan infeksi."

Amara benar-benar ingin menghilang ke dalam tanah.

Sebelum kemarin, Amara tidak pernah bersinggungan dengan hal-hal seperti ini. Membicarakan masalah yang begitu intim secara terang-terangan di tempat umum dengan seorang lawan jenis adalah sesuatu yang sangat memalukan bagi Amara.

Namun, setelah dipikir-pikir kembali, Aryan adalah seorang dokter. Hal-hal seperti ini merupakan bidang keahlian akademis dan kebutuhan profesinya. Jadi, ini adalah hal yang sangat lumrah bagi pria itu.

Saat seminar dimulai, Aryan mengajak Amara ikut naik ke atas panggung, lalu memperkenalkan Amara kepada semua orang sebagai asisten sementara dirinya.

Amara yang sudah terbiasa menjadi orang yang tidak pernah diperhatikan, tiba-tiba harus berdiri di tengah podium. Perasaan menjadi pusat perhatian seperti ini membuat Amara merasa sangat tidak nyaman.

Amara memberanikan diri untuk duduk di samping Aryan, berusaha tetap tersenyum sopan, sambil mendengarkan pria itu mulai berbicara perlahan.

"Hari ini, kita akan membahas tentang pengetahuan fisiologi, serta pencegahan dan penanganan penyakit menular seksual. Kalian jangan malu-malu, hubungan antara pria dan wanita itu alamiah dan belajar bagaimana melindungi diri sendiri itu sangat penting."

Suara lembut Aryan bergema di dalam ruang kelas tersebut.

Di tengah-tengah pelajaran, sudut mata Aryan melirik ke arah Amara. Gadis itu sedang menatap layar dengan tatapan kosong, jelas dia tidak memperhatikan.

"Ehem."

Aryan berdeham, menyadarkan kembali Amara dari lamunannya.

Aryan pun mengajukan pertanyaan, "Bu Amara, aku baru saja menjelaskan tentang HPV. Tolong sebutkan, melalui jalur apa saja HPV bisa menular?"

Wajah Amara langsung memerah. Dia menggigit bibirnya, merasa agak malu untuk berbicara.

Namun, saat bertatapan dengan mata Aryan yang terasa mengintimidasi, Amara pun menjawab dengan suara bergetar, "Melalui hubungan seksual, penularan dari ibu ke bayi, kontak nggak langsung dan infeksi silang dari tindakan medis."

Aryan masih terus mengejarnya. "Bagus, coba jelaskan lebih lanjut."

Napas Amara menjadi sedikit memburu. Dia mencoba mengingat-ingat kembali. Semua hal ini baru saja dijelaskan oleh Aryan.

"Penularan melalui hubungan seksual dan dari ibu ke bayi relatif lebih mudah dipahami. Sementara, penularan melalui kontak nggak langsung meliputi, tapi nggak terbatas pada, menyentuh barang-barang pribadi yang pernah digunakan oleh pasien pembawa virus HPV. Tapi, jalur penularan seperti ini jarang terjadi."

"Sementara, infeksi silang dari tindakan medis merujuk pada standar sterilisasi rumah sakit yang nggak memenuhi kriteria, sehingga memicu terjadinya infeksi silang."

Amara menjawab dengan sangat lambat. Namun, untungnya dia berhasil mengulangi kembali semua kata yang baru saja disampaikan Aryan.

Pria di sampingnya itu mengangguk dan merasa cukup puas. "Sepertinya Bu Amara mendengarkan dengan sangat serius. Aku harap kalian semua juga bisa seperti Bu Amara, mengingat dengan baik semua yang kusampaikan."

Di sisa paruh kedua seminar tersebut, Amara mendengarkan dengan sangat serius dan tidak berani lagi melamun.

Setelah acara selesai, para mahasiswa mulai membubarkan diri satu per satu. Amara pun bersiap untuk pergi. Namun, sentuhan hangat di tangannya menghentikan Amara.

Aryan menahannya. "Setelah pulang kuliah nanti, aku akan menjemputmu untuk pergi ke rumah sakit, untuk mengambil barang-barangmu."

Amara sudah terlalu banyak merepotkan Aryan, sehingga tidak ingin kembali merepotkannya.

Terlebih lagi, setiap menit dan detik yang dihabiskannya bersama Aryan rasanya benar-benar menyiksa.

Keberadaan Aryan di sisinya terus-menerus mengingatkan Amara agar tidak melupakan apa yang sudah dia lakukan.

Amara membuka mulutnya, ingin menolaknya. Namun, Aryan sudah berjalan menjauh.

Saat jam istirahat makan siang selama satu setengah jam, Amara kembali ke asramanya.

Beberapa teman sekamar Amara juga ada di sana. Mereka membawa makan siang ke dalam kamar, sehingga membuat aroma berbagai macam makanan itu bercampur dan tercium tidak sedap.

Amara sudah terbiasa dengan hal itu. Dia tidak ingin menimbulkan masalah bagi keluarganya. Jadi, untuk hal-hal yang masih bisa ditahan, Amara tidak ingin mempermasalahkan.

Namun, secara kebetulan, ada orang yang sengaja datang mencari gara-gara dengannya.

"Wah, asisten kita, Bu Amara, sudah pulang nih. Kenapa? Dokter Aryan nggak ngajak kamu makan siang bareng, ya?" celetuk Kezia Madira, ketua asrama mereka, dengan nada yang sinis.

Kezia adalah gadis dari keluarga paling kaya di asrama itu, sehingga teman-teman sekamar lainnya mengikuti semua perintahnya.

Begitu Kezia memulai, yang lain pun tidak mau kalah.

"Begitu melihat Dokter Aryan yang tampan langsung mendekat, benar-benar nggak tahu malu!"

"Tadi malam, ada yang nggak pulang semalaman. Katanya sih pergi ke rumah sakit, tapi nggak tahu deh aslinya pergi ke mana!"

Kata-kata sindiran yang menusuk itu itu tidak mampu membuat hati Amara terusik sedikit pun, sampai akhirnya Tasya Rianda mencoba merebut kantong yang ada di tangan Amara.

Tasya dan Kezia langsung mengepung Amara dari depan dan belakang. Amara sama sekali tidak berdaya untuk melawan, hingga akhirnya kantong tersebut jatuh ke tangan mereka berdua.

Barang-barang di dalamnya pun ikut berjatuhan.

Sebuah tabung salep berwarna putih dan satu kotak obat kontrasepsi yang sudah terbuka, kini terpampang begitu saja di hadapan semua orang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 100

    Pak Zamri bukan hanya Kepala Dokter Bedah Jantung, tetapi juga pernah membimbing Aryan selama beberapa waktu dan merupakan dosen Aryan di kampus.Hingga saat ini, Aryan tetap memanggilnya "Profesor", yang menunjukkan jika hubungan mereka sangat dekat dan istimewa."Bukankah permohonannya sudah disetujui? Kenapa tiba-tiba ada masalah?"Aryan merasa agak gugup.Selama beberapa kali rotasi sebelumnya, dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk berada di bagian bedah jantung. Yang terakhir ini adalah atas inisiatif dan permohonannya sendiri.Sejak di kampus, prestasi Aryan selalu unggul. Setelah lulus, baik selama masa magang maupun pendidikan residen, kinerjanya sangat bagus. Hingga saat ini, Aryan menjadi wakil kepala ruang operasi."Kamu tahu sendiri, bedah jantung selalu menjadi departemen yang sangat diminati. Terlalu banyak dokter yang ingin menjalani rotasi di sini."Pak Zamri menghela napas. "Ini juga akibat kesalahan administratif rumah sakit. Mereka keliru menambahkan satu kuo

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 99

    Yoga tidak mengerti di mana letak kesalahannya kali ini. Apa jangan-jangan Amara tidak ingin menjadi adiknya, melainkan ingin menjadi istri kakaknya?"Kak Yoga, Amara memang agak pemalu. Jangan diambil hati."Kezia tidak rela melewatkan kesempatan langka ini, sehingga dia tidak ikut pergi. Dengan sikap manja, dia mendekati Yoga untuk menghiburnya."Bagaimana mungkin Kak Yoga bisa memahami perasaan seorang gadis? Gimana kalau kita bertukar nomor WhatsApp? Jadi, nanti kalau ada perlu, akan lebih mudah untuk menghubungi."Tasya memberanikan diri membantu Kezia untuk meminta nomor WhatsApp.Awalnya, Yoga berniat menolaknya.Namun, Kezia menambahkan, "Benar banget. Kalau Amara merasa malu atau sungkan menghubungi Kak Yoga, kami bisa bantu menyampaikannya. Selain itu, kalau Kak Yoga sulit menghubungi Amara, Kakak juga bisa cari kami."Mendengar penjelasan itu, Yoga merasa jika hal itu ada benarnya juga.Bagaimanapun, mereka satu kamar asrama. Jadi, akan lebih mudah untuk berkomunikasi."Oke,

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 98

    "Nggak, nggak kok. Rasanya enak banget."Kezia merasa agak bingung. Namun, dengan memujinya pasti tidak akan salah.Yoga mengangkat kedua tangannya dengan cuek. "Kalau begitu, kenapa kalian masih nggak bisa menjaga mulut kalian?"Kalimat itu langsung berhasil membuat ekspresi kedua gadis cantik itu menjadi muram.Terutama Kezia, yang memiliki harga diri yang sangat tinggi. Wajahnya langsung terlihat begitu muram.Tasya masih bisa bersikap tenang. Lagi pula, dia datang hanya untuk mendukung Kezia, meski harus menghadapi sikap dingin. Namun, Kezia ini ….Tasya pun membuka mulutnya dan berkata, "Kak Yoga, kata-katamu terlalu kasar …. Kezia cuma mengagumimu, apa salahnya?"Pernah membaca novel cinta zaman dahulu dengan tokoh protagonis yang tingkahnya konyol?Dialog seperti inilah yang biasanya mereka ucapkan.Amara memegangi dahinya dengan putus asa. Dia benar-benar ingin mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak kenal Kezia dan Tasya!"Aku cuma menyetujuinya karena menghormati Amara. Ka

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 97

    "Kamu aja yang pesan."Amara merasa agak terpukul melihat harganya.Yoga pun tidak sungkan-sungkan. Dia langsung memesan lebih dari sepuluh hidangan sekaligus."Aku dengar kamu ikut serta dalam kompetisi antar kampus. Gimana? Kamu sekelompok sama siapa?"Setelah selesai memesan, Yoga bersikap layaknya seorang ayah yang khawatir terhadap anak perempuannya dan mulai menanyakan kehidupan Amara.Sikap Yoga membuat Amara merasa bingung.Apa Yoga ini sudah gila?Meski dalam hati penuh tanya, ada pepatah yang mengatakan, "Jangan bersikap buruk pada orang yang bersikap ramah."Amara pun menceritakan situasinya apa adanya dan menjelaskan anggota timnya secara singkat.Ketika Amara menyebut nama Andre, Kezia dan Tasya tanpa sadar langsung terkesiap karena kaget.Astaga! Beruntung sekali Amara!Kezia dan Tasya merasa sangat iri. Mereka juga ingin satu tim dengan Andre."Amara, kamu benar-benar beruntung," kata Kezia dengan nada sinis."Aku beruntung atau nggak, itu masih belum diketahui."Amara m

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 96

    Yoga bukanlah orang yang mudah diajak bicara. Jika dia menolak, Amara sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa.Bagaimanapun, dia sudah janji pada Yoga, sehingga dialah yang terlebih dahulu ingkar janji.Yoga kembali membalas pesan dengan begitu cepat, seakan dia selalu menunggu di depan ponsel setiap saat.[Boleh saja. Nggak perlu ganti tempat, kan udah kubilang, aku yang traktir!]Melihat balasan Yoga, Amara merasa seperti salah baca. Sejak kapan Yoga menjadi begitu baik hati?Yang penting Yoga sudah setuju.Mengenai apa yang akan terjadi di restoran nanti, hanya bisa dihadapi sesuai keadaan."Kak Yoga sudah setuju. Cukup kita beberapa orang aja, jangan ajak orang lain lagi."Amara tadi diam saja, sehingga membuat Kezia berpikir keras mencari cara untuk membujuknya. Namun, ketika tiba-tiba mendengar kata-kata itu, ekspresi Kezia pun langsung berubah.Ternyata, Amara diam-diam menghubungi Yoga. Kezia merasa senang sekaligus kesal.Kezia senang karena tujuannya tercapai. Namun, saat m

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 95

    Lihat dulu situasinya."Oke, setelah kamu menyelesaikan tugas kelompok, jangan pergi ke tempat yang terlalu terpencil lagi, apalagi di malam hari."Aryan memberikan pesan singkat itu sebelum mengakhiri panggilan karena ada pasien yang datang menemuinya.Yoga langsung membalas pesannya. Amara melirik lokasi restoran yang dikirimkan Yoga dan tidak bisa menahan diri untuk tidak mendecakkan lidah.Ternyata benar, orang-orang dalam satu keluarga memang memiliki selera yang sama. Restoran ini begitu mewah, hingga untuk memesan sepiring buah saja Amara harus berpikir berkali-kali.Saat Amara hendak menyimpan ponselnya, muncul sebuah pesan di grup obrolan tim kompetisi antar kampus itu.Seseorang dengan nama di WhatsApp "Gadis Sangat Lapar" mengirimkan dua pesan.[Karena ini pertama kalinya kita semua ketemu, gimana kalau kita makan bareng biar lebih akrab? Ke depannya, kita bakalan sering ketemu untuk waktu yang cukup lama!][Lagian, susah payah aku bisa datang ke Avari. Kakak-kakak senior, b

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 5

    Amara bergerak dengan cepat dan sigap. Sebelum mereka bisa melihatnya dengan jelas, dia langsung menginjak kotak pil kontrasepsi itu dengan kakinya, lalu segera memungutnya."Memangnya aku mengizinkan kalian mengacak-acak barang-barangku?" kata Amara dengan penuh amarah.Melihat Amara yang biasanya

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 3

    Tubuh Aryan tiba-tiba menjadi tegang.Setelah beberapa saat, Aryan bergeser ke samping untuk membiarkan Amara masuk. Setelah menutup pintu, Aryan menatap Amara dengan tatapan merendahkan. "Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?"Ditatap mata Aryan yang dalam itu, Amara pun menjadi makin gugup.Apaka

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 1

    "Buka kakimu, kalau begitu terus nggak akan bisa masuk."Amara Atmaja berbaring di atas ranjang periksa, napasnya agak terengah-engah.Roknya sudah disingkap sampai pangkal paha, memperlihatkan celana dalamnya yang berwarna putih bersih. Ini pertama kalinya Amara berada dalam posisi seperti ini di d

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 2

    Aryan menutup teleponnya, wajahnya tampak begitu masam.Dia mungkin benar-benar sudah gila.Berapa memangnya umur gadis itu?Sembilan belas tahun dan masih usia kuliah. Dia malah berpikir untuk membayar demi bisa menidurinya.Tahun ini, Aryan berusia 26 tahun. Sebagai putra Keluarga Devara, Aryan ti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status