Share

Bab 2

Author: Santari Kirani
Aryan menutup teleponnya, wajahnya tampak begitu masam.

Dia mungkin benar-benar sudah gila.

Berapa memangnya umur gadis itu?

Sembilan belas tahun dan masih usia kuliah. Dia malah berpikir untuk membayar demi bisa menidurinya.

Tahun ini, Aryan berusia 26 tahun. Sebagai putra Keluarga Devara, Aryan tidak pernah kekurangan wanita yang ingin tidur dengannya. Namun, hatinya tidak pernah tergerak.

Hanya karena seorang gadis yang baru ditemuinya sekali, dia malah bisa-bisanya memiliki pikiran kotor seperti itu.

Aryan yang biasanya selalu bersikap dingin dan bisa mengendalikan diri itu, akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengumpat.

Setelah menjejalkan brosur sialan itu ke dalam tas kanvas merah muda milik si gadis, yang warnanya sudah agak memudar itu, Aryan melepas jas putihnya, lalu keluar dari kantornya dengan wajah tanpa ekspresi.

Begitu sampai di luar pintu, teman masa kecil Aryan, Angga Pratama, menelepon. Angga mengatakan jika ada acara kumpul-kumpul malam itu.

Aryan selalu membenci acara-acara seperti itu. Namun, hari ini, hatinya terasa seperti sedang menahan amarah dan dia benar-benar ingin minum.

Setibanya di ruang VIP bar, di sana sudah ada sekelompok wanita cantik.

Angga bersulang dengannya. "Lagi kesal?"

Aryan menjawab singkat. "Nggak."

Setelah berteman selama 27 tahun, Angga tentu saja bisa melihat jika sahabatnya itu sedang tidak fokus. Dengan wajah jahil, Angga pun mendekat. "Ada apa nih? Lagi jatuh cinta, ya?"

Tangan Aryan yang sedang memegang gelas langsung mengencang. Tiba-tiba saja, bayangan wajah yang lembut dan mungil itu muncul di benaknya, lengkap dengan sepasang kakinya yang jenjang dan ramping.

"Pergi."

Aryan membentak pelan, lalu meneguk minumannya di gelasnya. Namun, hatinya malah terasa makin gelisah.

Angga tidak mengerti mengapa sahabatnya itu menjadi kesal. Melihat wajah Aryan yang dingin dan muram, Angga pun tidak berani bertanya lebih lanjut. Dia hanya tertawa kecil dan menyuruh Aryan minum.

Setelah minuman keras itu masuk ke tenggorokannya, Aryan pun akhirnya merasa kegelisahan di hatinya mereda.

Sementara itu, Amara baru saja terlelap di asramanya ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Itu telepon dari dokter spesialis yang merawat ibunya.

Jantung Amara langsung mencelos. Dia pun buru-buru mengangkat telepon itu. "Dokter Ardi, ada apa?"

"Amara, kondisi ibumu sangat buruk. Kami sedang berusaha menyelamatkannya sekarang."

Di ujung telepon, suara Dokter Ardi terdengar sangat serius, "Sebaiknya kamu segera datang ke sini sekarang juga."

Tangan Amara yang memegang ponsel langsung menjadi dingin.

"Aku … aku akan segera ke rumah sakit sekarang."

Amara menjawabnya dengan susah payah. Suaranya sudah begitu serak, menahan tangis. Dia langsung menyambar jaketnya dan berlari keluar dari asrama.

Di luar sedang hujan lebat.

Lantaran sudah lewat jam malam, ibu penjaga asrama awalnya menolak untuk mengizinkannya keluar. Namun, setelah menjelaskan situasinya sambil menangis, Amara pun akhirnya diizinkan pergi.

Saat tiba di rumah sakit dalam keadaan pikiran kacau, proses penyelamatan ibu Amara masih belum selesai.

Amara berdiri di luar, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar.

Dokter Ardi menghampirinya dan menjelaskan situasi ibunya secara singkat. Dokter Ardi terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Amara, pihak rumah sakit sebenarnya memahami kesulitan yang sedang kalian hadapi. Tapi, biaya pengobatan ini benar-benar nggak bisa ditunda lagi. Kalau belum bisa dilunasi juga, takutnya kelanjutan pengobatannya …."

"Aku cuma bisa membantumu menundanya sampai besok pagi jam sembilan. Kalau masih belum bisa juga, ibumu terpaksa harus dipulangkan."

Wajah Amara langsung menjadi pucat.

Besok pagi jam sembilan, laporan hasil tes kesehatannya baru keluar. Bagaimanapun, semuanya sudah terlambat untuk dikejar.

Namun, melihat raut wajah Dokter Ardi yang begitu serius, Amara tidak berani lagi meminta perpanjangan waktu.

Pihak rumah sakit sebenarnya sudah banyak membantu mereka. Sebagian besar biaya pengobatan di awal bahkan berasal dari hasil donasi pihak rumah sakit sendiri.

"Baik, aku pasti akan melunasinya … Terima kasih, Dokter Ardi."

Amara membungkuk dalam-dalam kepada dokter itu, lalu menuruni tangga dengan terhuyung-huyung.

Hujan masih turun dan angin malam membuat tubuh Amara menggigil.

Amara mencengkeram ponselnya. Dia merasa begitu kedinginan hingga mati rasa.

Setelah beberapa lama, Amara mengeluarkan ponselnya dengan gemetar dan menghubungi nomor itu.

Saat itu, Aryan masih berada di bar.

Saat ponselnya berdering, Aryan melihat nomor tidak dikenal tertera di layar. Ketika mengangkatnya, nada suaranya terdengar begitu tidak sabar, "Halo?"

Amara tersentak kaget, untuk sesaat dia tidak tahu harus berkata apa.

Aryan mengira itu hanya telepon iseng. Dengan wajah dingin, dia berniat untuk langsung menutupnya. Namun, tiba-tiba Aryan mendengar suara isak tangis yang tertahan dari ujung telepon, "Dokter Aryan, apa kata-kata Anda tadi masih berlaku?"

Aryan tertegun sejenak. Untuk sesaat, otaknya bahkan tidak bisa langsung mencerna pertanyaan itu, sehingga Aryan pun tanpa sadar balik bertanya. "Apa?"

Wajah Amara langsung menjadi pucat. Samar-samar, dia bisa mendengar suara tawa manja seorang gadis dari ujung telepon.

Wajar saja, dokter itu sangat tampan dan tidak terlihat seperti orang yang kekurangan uang. Bagaimanapun, dia pasti juga tidak kekurangan wanita.

Jadi, apakah yang dikatakannya padanya hanyalah sekadar asal bicara saja?

Amara benar-benar ingin langsung menutup teleponnya. Namun, saat ini, ibunya masih berada di ruang ICU dan menunggunya membayar biaya pengobatan. Jadi, harga dirinya yang menyedihkan itu benar-benar tidak berarti apa-apa.

Amara mengepalkan kedua tangannya erat-erat, hingga kuku-kukunya hampir menancap ke dalam telapak tangannya. Setelah beberapa lama, barulah Amara bisa mengumpulkan keberanian. "Anda tadi bilang bisa membeli … keperawananku."

Aryan pun akhirnya tersadar.

Sebenarnya, Aryan sama sekali tidak menyangka jika gadis itu akan meneleponnya. Ditambah lagi, kata-katanya tadi murni karena impulsif belaka.

Oleh karena itulah, saat ini Aryan malah tidak tahu harus menjawab apa.

Di ujung telepon, Amara merasa cemas.

Mengapa Aryan diam saja? Apa dia mendadak berubah pikiran dan tidak lagi menginginkannya?

Harga dirinya yang memang sudah tidak seberapa itu kini terasa seperti diinjak-injak dan dihancurkan. Namun, Amara tetap tidak menutup teleponnya. Sambil mati-matian menahan rasa terhinanya, Amara merendahkan diri dan memohon dengan suara pelan, "Dokter Aryan, aku benar-benar sangat butuh uang. Aku juga bersih … Anda, apa pun yang ingin Anda lakukan, akan kuturuti."

"Aku cuma butuh 200 juta. Aku mohon, terimalah aku, ya?"

Suara lembut yang bercampur isak tangis itu terdengar seperti suara anak kucing yang malang, sehingga membuat tenggorokan Aryan terasa makin kering.

Mengapa dia bisa-bisanya melontarkan kata-kata bodoh seperti itu? Amara itu masih kecil!

Akal sehat dan moralitasnya mengatakan agar dia segera menolaknya saat ini juga, lalu memberi tahu gadis itu dengan tegas tentang betapa berbahayanya hal semacam ini dan betapa Amara sudah merendahkan harga dirinya sendiri. Namun, begitu memikirkan wajah cantiknya, Aryan malah tidak mampu menolaknya.

Sambil mencengkeram ponselnya, Aryan mendengar suaranya sendiri bertanya dengan serak, "Sekarang?"

Amara langsung menggigit bibir bawahnya erat-erat.

Apakah Aryan setuju?

Amara menghela napas lega. Matanya tampak memerah. "Iya, tapi … setelah Anda selesai melakukannya, apa Anda akan langsung membayarku?"

Aryan terdiam untuk sesaat. "Tambahkan WhatsApp-ku, pakai nomor yang ini."

Setelah itu, telepon langsung terputus.

Amara pun tersadar dan buru-buru melakukan apa yang diminta.

Foto profil pria itu hanyalah gambar pohon. Nama akunnya dikosongkan dan tidak ada keterangan apa pun, benar-benar mirip seperti akun penipu ….

Namun, begitu pesan pertamanya dikirim, Aryan langsung membalasnya.

Tak lama setelah itu, transfer sebesar 400 juta langsung masuk, diikuti dengan sebuah alamat yang terletak di salah satu kawasan apartemen elite di pusat kota, tipe hunian mewah yang bahkan sulit dibeli meski punya banyak uang.

Amara sama sekali tidak menyangka jika pria itu akan langsung mentransfer uangnya. Bahkan, jumlahnya juga dua kali lipat. Untuk sesaat, Amara benar-benar merasa bingung.

Setelah merasa ragu untuk sesaat, Amara bergegas kembali untuk membayar tagihan rumah sakit, sambil menggenggam ponselnya. Setelah selesai, Amara menguatkan hatinya, menghentikan taksi dan bergegas ke sana.

Setelah mentransfer uang, Aryan langsung meninggalkan bar.

Aryan memesan kendaraan melalui aplikasi untuk mengantarnya pulang. Begitu tiba di depan pintu, Aryan melihat seorang gadis yang basah kuyup sedang berjongkok di sana. Gadis itu tampak menggigil kedinginan.

Alis Aryan berkedut. Dia turun dari mobil dan mendekat. Gadis itu menengadah dengan panik sambil berbisik, "Dokter Aryan."

Jakun Aryan bergerak-gerak. Dia hanya berdeham pelan, lalu membuka pintu dan memberi isyarat agar gadis itu masuk.

Melihat karpet wol yang bersih tanpa noda serta dekorasi mewah di dalamnya, Amara pun menjadi makin gugup.

Amara menunduk dan menatap sepatu kanvasnya yang kotor. Sambil mengatupkan bibirnya, Amara pun melepas sepatu dan kaus kakinya terlebih dahulu, lalu melangkah masuk dengan kaki telanjang.

Menatap jari-jari kaki Amara yang kemerahan itu, Aryan pun sempat tertegun untuk beberapa saat.

"Kamar mandinya di sebelah sana, silakan dipakai."

Setelah berkata seperti itu, Aryan langsung naik ke lantai atas. Rasa gelisah di hatinya justru makin menjadi-jadi.

Setengah jam kemudian, terdengar suara langkah kaki di luar kamar.

Terdengar suara yang lembut seperti kucing, "Dokter Aryan, bolehkah aku masuk?"

Aryan tanpa sadar langsung bangkit berdiri dan membuka pintu. Detik itu juga, dia langsung mengepalkan tangannya erat-erat.

Gadis itu hanya mengenakan handuk mandi. Rambutnya yang basah masih meneteskan sisa air dan tercium aroma kayu cendana.

Amara mencengkeram ujung handuknya dengan gugup, sementara wajahnya terlihat tegang. "Kita … melakukannya di sini? Atau, Anda mau mandi dulu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 50

    Aryan langsung tersadar. Dia baru ingat jika belum sempat memberi tahu tujuannya menyuruh Amara datang ke sini.Pantas saja Amara salah paham dengan niatnya. Namun, kenapa wajah gadis itu malah merona?Jangan-jangan, dia mengira ….Dengan kaki menyilang dan tubuh setengah bersandar di dinding, Aryan menatap punggung Amara dengan tatapan menggoda.Meja di ruang tamu tampak begitu bersih, hanya ada sekotak tisu dan sebuah kantong plastik di atasnya.Kantong plastik yang tampak penuh menggembung itu dibuka Amara dengan wajah yang masih merona.Di dalamnya, menyembul sebuah sudut benda. Ternyata, itu adalah palet lukis.Amara sempat tertegun untuk sesaat. Dia baru menyadari jika isi kantong itu semuanya adalah peralatan melukis, mulai dari kuas, papan sketsa, hingga cat warna.Namun, bahkan, setelah mengubek-ubeknya sampai ke bagian paling bawah, Amara tetap tidak menemukan barang yang sempat ada dalam bayangannya itu.Amara benar-benar dibuat melongo. Jadi, Aryan membeli semua ini?"Kenap

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 49

    Sementara risikonya? Jika sampai ada yang sedang sial dan mendapat tiga rekan tim yang payah, itu bisa jadi bencana.Namun, Amara tetap merasa senang. Setidaknya, dia tidak perlu satu tim dengan orang-orang di kamar asramanya.Tanpa ragu lagi, Amara langsung mengirimkan formulir pendaftaran kompetisi. Begitu mendapat notifikasi jika pendaftarannya berhasil, Amara segera mempelajari jadwal perlombaan dengan saksama.Kompetisi ini benar-benar penting bagi masa depannya. Jadi, Amara harus mencurahkan seluruh perhatiannya ke kompetisi tersebut. Amara perlu memahami jadwal acara sejak awal agar bisa meluangkan waktu untuk bersiap-siap.Jika sudah seperti ini, artinya Amara harus izin libur dahulu dari beberapa kerja paruh waktunya.Untungnya, selama ini performa kerja Amara selalu bagus. Begitu Amara meminta izin, para bos di beberapa tempat kerjanya langsung setuju tanpa ragu. Bahkan, mereka menyuruh Amara untuk fokus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi.Setelah itu, Amara sempat mampi

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 48

    Amara sudah bisa menebak jika Yoga akan bertanya seperti itu."Kami cuma kebetulan kenal. Dokter Aryan orang yang baik."Amara sengaja menjawabnya secara tidak langsung, berputar-putar demi menghindari inti pertanyaannya.Akan tetapi, wajah Yoga langsung terlihat masam.Apa-apaan sih?Aryan dibilang orang baik?Amara pasti belum pernah melihat sisi iblis pria itu."Kakakku nggak naksir kamu, 'kan?"Yoga jauh lebih memedulikan pertanyaan yang satu ini.Itu karena, jawabannya menentukan apakah Amara akan menjadi kakak iparnya di masa depan atau tidak.Amara memikirkannya baik-baik, sepertinya memang tidak ada.Sejak awal, hubungannya dengan Aryan hanya murni transaksi bisnis, sama sekali tidak melibatkan perasaan."Nggak ada."Yoga merasa agak lega di dalam hati. Baguslah jika kakaknya memang tidak ada rasa.Jika sampai Aryan tahu dia pernah menyatakan cinta pada orang yang disukainya, ditambah juga sempat merundungnya, Yoga pasti akan langsung berakhir di kolom berita pembunuhan besok p

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 47

    Setelah menahan amarah sekian lama, hanya kalimat itu yang akhirnya bisa keluar dari mulut Yoga.Amara menengadah untuk menatap Yoga dan gerombolan sahabatnya. Tanpa terburu-buru, Amara menggigit rotinya, lalu kembali menyesap susu kedelainya."Bukan aku yang merusak kunci pintunya."Ucapan Amara terdengar datar, diiikuti dengan ekspresi wajah yang seakan menyuruh Yoga untuk menyimpulkannya sendiri.Yoga tertegun untuk sesaat. Sebuah jawaban mendadak terlintas di benaknya, tetapi Yoga langsung merasa hal itu sama sekali tidak mungkin.Lagi pula, sepupunya itu bukan orang sembarangan.Selama 20 tahun lebih hidup di dunia, selain ibunya sendiri, tidak ada satu pun perempuan yang bisa berada dekat-dekat dengan sepupunya itu.Zaman sekolah dahulu, ada banyak sekali gadis yang menulis surat cinta untuk Aryan, tetapi tidak pernah dilirik oleh Aryan.Setelah bekerja sekalipun, banyak perempuan yang terang-terangan mengejar dan menyerahkan diri pada Aryan. Namun, tidak peduli seberapa cantikny

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 46

    Amara mengupas telur rebusnya dengan santai dan pelan-pelan, berpura-pura tidak melihat mereka yang sedang saling bertukar pandang.Jujur saja, akting mereka terlalu payah.Berharap Amara tidak menyadari kejanggalannya, itu benar-benar mustahil.Sambil menunduk dan menyesap susu kedelainya, tiba-tiba saja Amara teringat sesuatu."Sarapannya habis berapa? Sini, aku transfer ke kalian."Amara mengeluarkan ponselnya, lalu membuka grup obrolan asrama yang sudah lama tidak dibuka.Riwayat obrolan di sana masih tertahan di musim penghujan tahun lalu, tepatnya saat Amara mengirimkan rincian tagihan listrik asrama.Amara tahu betul jika Kezia dan yang lainnya punya beberapa grup obrolan asrama lain yang sengaja tidak mengajak dirinya.Sehari-hari, mereka memang selalu mengobrol di grup-grup terpisah itu.Cuma berenam, tetapi punya tujuh sampai delapan grup obrolan.Kelihatannya pertemanan mereka tidak sekompak itu, tetapi apa urusannya dengan Amara?Kezia sama sekali tidak ambil pusing soal ua

  • Transaksi Manis dengan Dokter Dingin   Bab 45

    Dalam kegelapan, Kezia menyibak tirai ranjangnya.Seketika itu juga, beberapa tirai ranjang lainnya ikut terbuka secara bersamaan. Teman-teman sekamarnya melongokkan kepala dan melihat ke arah Kezia."Kok bisa sih? Amara itu bebal banget, nggak mempan diapa-apain!"Salah satu dari mereka angkat bicara.Tasya sedikit mengerutkan kening. "Apa kita ketahuan, atau Amara sudah dengar desas-desus?"Setelah berkata seperti itu, Tasya menatap curiga ke arah gadis-gadis lain di kamar asrama itu.Meski sebenarnya, dalam kegelapan seperti ini, Tasya tidak bisa melihat apa-apa."Mana mungkin! Nggak bakalan aku bocorin info ke dia!""Iya, bener! Menurutku, jangan-jangan sikap kalian yang kurang natural, makanya bikin dia curiga?"Kamar asrama itu langsung riuh saat gadis-gadis itu mulai menyahut dan berebut untuk bicara.Meski mereka sudah merendahkan suara, Amara tetap bisa mendengarnya.Awalnya, Amara tidak mendengar dengan jelas. Namun, kamar asrama yang tadinya sunyi itu tiba-tiba dipenuhi suar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status