FAZER LOGINPak Zamri bukan hanya Kepala Dokter Bedah Jantung, tetapi juga pernah membimbing Aryan selama beberapa waktu dan merupakan dosen Aryan di kampus.Hingga saat ini, Aryan tetap memanggilnya "Profesor", yang menunjukkan jika hubungan mereka sangat dekat dan istimewa."Bukankah permohonannya sudah disetujui? Kenapa tiba-tiba ada masalah?"Aryan merasa agak gugup.Selama beberapa kali rotasi sebelumnya, dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk berada di bagian bedah jantung. Yang terakhir ini adalah atas inisiatif dan permohonannya sendiri.Sejak di kampus, prestasi Aryan selalu unggul. Setelah lulus, baik selama masa magang maupun pendidikan residen, kinerjanya sangat bagus. Hingga saat ini, Aryan menjadi wakil kepala ruang operasi."Kamu tahu sendiri, bedah jantung selalu menjadi departemen yang sangat diminati. Terlalu banyak dokter yang ingin menjalani rotasi di sini."Pak Zamri menghela napas. "Ini juga akibat kesalahan administratif rumah sakit. Mereka keliru menambahkan satu kuo
Yoga tidak mengerti di mana letak kesalahannya kali ini. Apa jangan-jangan Amara tidak ingin menjadi adiknya, melainkan ingin menjadi istri kakaknya?"Kak Yoga, Amara memang agak pemalu. Jangan diambil hati."Kezia tidak rela melewatkan kesempatan langka ini, sehingga dia tidak ikut pergi. Dengan sikap manja, dia mendekati Yoga untuk menghiburnya."Bagaimana mungkin Kak Yoga bisa memahami perasaan seorang gadis? Gimana kalau kita bertukar nomor WhatsApp? Jadi, nanti kalau ada perlu, akan lebih mudah untuk menghubungi."Tasya memberanikan diri membantu Kezia untuk meminta nomor WhatsApp.Awalnya, Yoga berniat menolaknya.Namun, Kezia menambahkan, "Benar banget. Kalau Amara merasa malu atau sungkan menghubungi Kak Yoga, kami bisa bantu menyampaikannya. Selain itu, kalau Kak Yoga sulit menghubungi Amara, Kakak juga bisa cari kami."Mendengar penjelasan itu, Yoga merasa jika hal itu ada benarnya juga.Bagaimanapun, mereka satu kamar asrama. Jadi, akan lebih mudah untuk berkomunikasi."Oke,
"Nggak, nggak kok. Rasanya enak banget."Kezia merasa agak bingung. Namun, dengan memujinya pasti tidak akan salah.Yoga mengangkat kedua tangannya dengan cuek. "Kalau begitu, kenapa kalian masih nggak bisa menjaga mulut kalian?"Kalimat itu langsung berhasil membuat ekspresi kedua gadis cantik itu menjadi muram.Terutama Kezia, yang memiliki harga diri yang sangat tinggi. Wajahnya langsung terlihat begitu muram.Tasya masih bisa bersikap tenang. Lagi pula, dia datang hanya untuk mendukung Kezia, meski harus menghadapi sikap dingin. Namun, Kezia ini ….Tasya pun membuka mulutnya dan berkata, "Kak Yoga, kata-katamu terlalu kasar …. Kezia cuma mengagumimu, apa salahnya?"Pernah membaca novel cinta zaman dahulu dengan tokoh protagonis yang tingkahnya konyol?Dialog seperti inilah yang biasanya mereka ucapkan.Amara memegangi dahinya dengan putus asa. Dia benar-benar ingin mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak kenal Kezia dan Tasya!"Aku cuma menyetujuinya karena menghormati Amara. Ka
"Kamu aja yang pesan."Amara merasa agak terpukul melihat harganya.Yoga pun tidak sungkan-sungkan. Dia langsung memesan lebih dari sepuluh hidangan sekaligus."Aku dengar kamu ikut serta dalam kompetisi antar kampus. Gimana? Kamu sekelompok sama siapa?"Setelah selesai memesan, Yoga bersikap layaknya seorang ayah yang khawatir terhadap anak perempuannya dan mulai menanyakan kehidupan Amara.Sikap Yoga membuat Amara merasa bingung.Apa Yoga ini sudah gila?Meski dalam hati penuh tanya, ada pepatah yang mengatakan, "Jangan bersikap buruk pada orang yang bersikap ramah."Amara pun menceritakan situasinya apa adanya dan menjelaskan anggota timnya secara singkat.Ketika Amara menyebut nama Andre, Kezia dan Tasya tanpa sadar langsung terkesiap karena kaget.Astaga! Beruntung sekali Amara!Kezia dan Tasya merasa sangat iri. Mereka juga ingin satu tim dengan Andre."Amara, kamu benar-benar beruntung," kata Kezia dengan nada sinis."Aku beruntung atau nggak, itu masih belum diketahui."Amara m
Yoga bukanlah orang yang mudah diajak bicara. Jika dia menolak, Amara sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa.Bagaimanapun, dia sudah janji pada Yoga, sehingga dialah yang terlebih dahulu ingkar janji.Yoga kembali membalas pesan dengan begitu cepat, seakan dia selalu menunggu di depan ponsel setiap saat.[Boleh saja. Nggak perlu ganti tempat, kan udah kubilang, aku yang traktir!]Melihat balasan Yoga, Amara merasa seperti salah baca. Sejak kapan Yoga menjadi begitu baik hati?Yang penting Yoga sudah setuju.Mengenai apa yang akan terjadi di restoran nanti, hanya bisa dihadapi sesuai keadaan."Kak Yoga sudah setuju. Cukup kita beberapa orang aja, jangan ajak orang lain lagi."Amara tadi diam saja, sehingga membuat Kezia berpikir keras mencari cara untuk membujuknya. Namun, ketika tiba-tiba mendengar kata-kata itu, ekspresi Kezia pun langsung berubah.Ternyata, Amara diam-diam menghubungi Yoga. Kezia merasa senang sekaligus kesal.Kezia senang karena tujuannya tercapai. Namun, saat m
Lihat dulu situasinya."Oke, setelah kamu menyelesaikan tugas kelompok, jangan pergi ke tempat yang terlalu terpencil lagi, apalagi di malam hari."Aryan memberikan pesan singkat itu sebelum mengakhiri panggilan karena ada pasien yang datang menemuinya.Yoga langsung membalas pesannya. Amara melirik lokasi restoran yang dikirimkan Yoga dan tidak bisa menahan diri untuk tidak mendecakkan lidah.Ternyata benar, orang-orang dalam satu keluarga memang memiliki selera yang sama. Restoran ini begitu mewah, hingga untuk memesan sepiring buah saja Amara harus berpikir berkali-kali.Saat Amara hendak menyimpan ponselnya, muncul sebuah pesan di grup obrolan tim kompetisi antar kampus itu.Seseorang dengan nama di WhatsApp "Gadis Sangat Lapar" mengirimkan dua pesan.[Karena ini pertama kalinya kita semua ketemu, gimana kalau kita makan bareng biar lebih akrab? Ke depannya, kita bakalan sering ketemu untuk waktu yang cukup lama!][Lagian, susah payah aku bisa datang ke Avari. Kakak-kakak senior, b
Amara bergerak dengan cepat dan sigap. Sebelum mereka bisa melihatnya dengan jelas, dia langsung menginjak kotak pil kontrasepsi itu dengan kakinya, lalu segera memungutnya."Memangnya aku mengizinkan kalian mengacak-acak barang-barangku?" kata Amara dengan penuh amarah.Melihat Amara yang biasanya
Amara mencengkeram ujung bajunya dengan tegang, lalu tanpa sadar melihat sekeliling.Banyak mata yang sejak tadi terus mengikuti Aryan, yang secara tidak langsung juga menimbulkan rasa penasaran yang besar terhadap dirinya.Untungnya, jarak mereka cukup jauh, sehingga sepertinya tidak ada yang mende
Tubuh Aryan tiba-tiba menjadi tegang.Setelah beberapa saat, Aryan bergeser ke samping untuk membiarkan Amara masuk. Setelah menutup pintu, Aryan menatap Amara dengan tatapan merendahkan. "Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?"Ditatap mata Aryan yang dalam itu, Amara pun menjadi makin gugup.Apaka
Aryan menutup teleponnya, wajahnya tampak begitu masam.Dia mungkin benar-benar sudah gila.Berapa memangnya umur gadis itu?Sembilan belas tahun dan masih usia kuliah. Dia malah berpikir untuk membayar demi bisa menidurinya.Tahun ini, Aryan berusia 26 tahun. Sebagai putra Keluarga Devara, Aryan ti







